kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Jejak Kekosongan dan Misi Rahasia
Malam yang dilanda badai perlahan memudar, digantikan oleh fajar yang suram namun penuh harapan baru. Di seluruh Aethelgard, berita tentang kembalinya Pangeran Ryo dari pengasingan menyebar seperti api, namun kali ini bukan dengan bisikan ketakutan, melainkan dengan campuran kekhawatiran dan rasa ingin tahu. Raja telah mengumumkan secara resmi penugasan Ryo dan Lyra untuk bekerja sama dalam memahami dan melawan Kekosongan. Sebuah langkah berani, yang secara terang-terangan mengakui keberadaan kekuatan Dalang Jiwa di tengah-tengah istana. Bagi sebagian orang, ini adalah tanda keputusasaan. Bagi yang lain, ini adalah harapan terakhir mereka.
Di pagi buta, Lyra sudah berada di menara Ryo, gulungan-gulungan kuno "Chronica Animarum" tergeletak rapi di meja kerja Ryo. Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca mozaik menerangi debu-debu halus yang menari di udara, seolah setiap partikel membawa rahasia yang menunggu untuk diungkap. Ryo duduk di salah satu kursi berlapis beludru, boneka kayu di tangannya, matanya masih sedikit cekung akibat kurang tidur. Namun, ada kilatan tekad baru di kedalaman mata merahnya, sebuah resolusi yang menggantikan keputusasaan semalam.
"Ini adalah beberapa gulungan tambahan yang saya temukan," Lyra menjelaskan, menunjuk pada beberapa perkamen yang detail. "Mereka merinci metode Dalang terdahulu dalam memproyeksikan kesadaran, serta batasan-batasan kekuatan. Beberapa di antaranya bahkan membahas tentang entitas yang tidak memiliki benang eterik, atau bagaimana benang itu bisa dicabut."
Ryo mengangguk, jari-jarinya menelusuri tulisan kuno di gulungan. "Malam ini, ketika saya merasakan Kekosongan, itu terasa seperti Dalang lain, tapi yang tidak hanya mengendalikan, melainkan juga melahap."
"Gulungan ini juga menyebutkan hal serupa," Lyra membalas, membuka gulungan lain. "Ada legenda tentang 'Bayangan Pemutus Jiwa', sebuah entitas purba yang muncul dari 'kekosongan' antara alam, yang tidak memiliki jiwa sendiri, melainkan mengambil dari yang lain. Ia adalah antitesis dari Dalang Jiwa, karena ia memutuskan benang eterik alih-alih mengikatnya."
"Bayangan Pemutus Jiwa," gumam Ryo, mencoba merasakan resonansi nama itu di dalam benang-benang yang tak terlihat. "Jika itu benar, maka dia menguatkan dirinya dengan menghancurkan, sementara Dalang Jiwa menguatkan diri dengan mengikat."
"Persis," kata Lyra. "Ini berarti Kekosongan bukan sekadar kekuatan alam. Ia adalah kehendak. Sebuah entitas yang terorganisir, yang tumbuh dan belajar. Dan itu menjelaskan mengapa ia selalu bergerak dengan pola, selalu menemukan kelemahan dalam pertahanan kita."
"Kita perlu tahu lebih banyak tentang dia," kata Ryo, bangkit dari kursinya. "Saya perlu melihatnya dari dekat. Tidak hanya melalui mata orang lain, tapi dengan kesadaran saya sendiri."
"Itu terlalu berbahaya, Ryo," Lyra memperingatkan. "Gulungan itu juga mencatat bahwa Dalang yang terlalu dekat dengan entitas pemutus jiwa bisa kehilangan benang jiwanya sendiri, terhisap ke dalam kehampaan."
"Dan apa pilihan lain kita?" Ryo bertanya, matanya menatap tajam ke luar jendela, ke arah utara. "Setiap hari yang kita sia-siakan, Kekosongan itu semakin kuat. Kita tidak bisa hanya bereaksi. Kita harus memahami. Dan untuk memahami, saya harus mengambil risiko."
Lyra menghela napas, menyadari bahwa Ryo telah mengambil keputusan. Dia melihat tekad yang terpancar dari Ryo, tekad untuk melindungi Aethelgard, dan untuk menebus kesalahan masa lalunya. "Baiklah. Tapi kita akan melakukannya dengan rencana. Dan saya akan ikut."
Ryo menoleh, sedikit terkejut. "Ikut? Anda tahu bahayanya."
"Tugas saya adalah membantu Anda, Pangeran," Lyra membalas, suaranya tenang dan tegas. "Dan juga melindungi Anda dari bahaya kekuatan Anda sendiri. Gulungan ini tidak hanya tentang Kekosongan, tetapi juga tentang bagaimana Dalang dapat mempertahankan jiwanya. Ada ritual kuno, meditasi yang mendalam, dan bahkan penggunaan artefak tertentu yang dapat memperkuat benang jiwa."
"Itu mungkin tidak cukup," Ryo sanggah. "Benang eterik Kekosongan sangat dingin. Ia mencoba menarik kesadaran saya setiap kali saya terlalu dekat."
"Maka kita perlu cara untuk mendekat tanpa benar-benar mendekat," Lyra berpikir keras, jari-jarinya mengetuk bibirnya. "Bagaimana jika... Anda memproyeksikan kesadaran Anda melalui orang yang lain, tetapi kali ini, saya akan menjadi penghubung Anda. Semacam jangkar mental, yang akan menarik Anda kembali jika Anda terlalu jauh."
Ryo mengerutkan kening. "Itu berisiko bagi Anda. Jika saya ditarik ke dalam Kekosongan, ada kemungkinan Anda akan ikut."
"Saya tahu," Lyra membalas, bahunya terangkat. "Tapi kita tidak punya pilihan lain. Anda membutuhkan mata dan telinga di garis depan, seseorang yang bisa Anda percayai penuh. Dan saya... saya percaya pada Anda, Ryo. Saya percaya Anda tidak akan membiarkan saya celaka."
Sebuah keheningan menggantung di antara mereka. Ryo menatap Lyra, dan di mata Lyra, ia melihat bukan hanya keberanian, tetapi juga empati yang mendalam. Ia melihat Lyra tidak takut padanya, bahkan setelah mengetahui rahasia Dalang Jiwa. Ini adalah sebuah kepercayaan yang sangat berharga, sesuatu yang telah lama ia rindukan.
"Baiklah," Ryo akhirnya setuju. "Kita akan melakukannya. Tapi kita perlu orang ketiga yang bisa kita kendalikan secara tidak langsung. Seseorang yang kuat secara fisik dan mental, tetapi tidak terlalu mencolok."
"Kapten Kael," Lyra segera mengusulkan. "Dia memimpin pasukan di garis depan. Saya merasakan dia memiliki keberanian dan tekad yang kuat, meskipun ia juga merasakan ketakutan. Dia adalah prajurit yang setia."
Ryo mengangguk. "Saya telah memanipulasi benang kecilnya selama beberapa hari terakhir, mendorongnya untuk membuat keputusan yang tepat. Dia cocok. Tapi kali ini, saya harus memproyeksikan kesadaran saya lebih dalam, menggunakan dia sebagai kapal untuk kesadaran saya, sementara Anda menjadi jangkar saya."
Rencana itu pun disusun. Mereka akan menunggu malam tiba, ketika Kekosongan paling aktif. Ryo akan memproyeksikan kesadarannya ke dalam Kapten Kael, menggunakan dia sebagai mata-mata dan pembawa informasi. Lyra akan duduk di samping Ryo, memegang tangannya, menjadi jangkar yang akan menarik Ryo kembali jika ia tersesat dalam lautan kehampaan.
Malam itu, dingin dan berangin, Ryo dan Lyra duduk di menara Ryo. Lyra memegang tangan Ryo, merasakan jari-jari Ryo yang dingin dan panjang. Ryo memegang erat boneka kayunya di tangan yang lain. Ia menutup matanya, berkonsentrasi. Ia merasakan benang eterik Kapten Kael, yang berjarak ratusan mil di utara, di garis pertahanan terakhir. Kael sedang berpatroli, wajahnya tegang, matanya waspada.
Dengan satu tarikan napas dalam, Ryo melompat. Kesadarannya melesat keluar dari tubuhnya, menelusuri benang eterik, menyatu dengan benang Kael. Ia tidak mengambil alih kendali penuh, melainkan hanya menjadi pengamat, seorang penumpang di dalam pikiran Kael. Namun, bahkan sebagai pengamat, ia merasakan sensasi yang luar biasa: dinginnya malam di perbatasan, suara angin menderu, bau tanah basah dan ketakutan yang samar dari para prajurit di sekitar Kael.
"Aku ada di dalam dirinya," bisik Ryo, tubuhnya sedikit gemetar.
Lyra meremas tangannya. "Aku akan memegangmu, Ryo. Jangan lepaskan benangku."
Melalui mata Kael, Ryo melihat Kekosongan itu. Sebuah dinding kabut hitam raksasa, merayap perlahan namun tak terhentikan di cakrawala. Ia tidak hanya gelap, ia melahap cahaya, menciptakan sebuah zona kematian di mana bintang-bintang pun enggan bersinar. Saat Kael mendekat ke garis pertahanan, Ryo merasakan gelombang energi dingin yang mengerikan dari Kekosongan itu. Ia bukan hanya dingin secara fisik, ia dingin secara spiritual, menarik kehangatan dari jiwa.
Ryo mendorong kesadarannya lebih dalam, mencoba menembus kabut itu. Melalui mata Kael, ia melihat ilusi. Bentuk-bentuk samar menari-menari di tepi Kekosongan: bayangan orang-orang yang dicintai, musuh yang menakutkan, keinginan tersembunyi yang muncul untuk menggoda atau menakuti. Ryo tahu ini adalah bagaimana Kekosongan itu menguras pikiran, memecah-belah jiwa. Ia memproyeksikan tekadnya ke dalam Kael, membuat sang kapten tetap fokus, tidak tergoda oleh ilusi.
Namun, yang paling mengerikan adalah ketika Ryo merasakan "tarikan". Tarikan yang dingin dan hampa, mencoba menarik kesadarannya, tidak hanya dari tubuh Kael, tapi dari benang eterik yang terhubung dengannya, mencoba memutusnya. Ia merasakan benang jiwanya sendiri bergetar, terancam. Ini adalah ancaman yang Elara alami, hanya saja jauh lebih kuat dan disengaja.
"Tarikan!" Ryo mengerang, tubuhnya bergetar hebat. "Ia mencoba menarikku!"
Lyra merasakan tarikan itu juga, melalui tangan Ryo yang kini terasa membeku. Rasa dingin menusuk hingga ke tulangnya, namun ia mengeratkan genggamannya. "Fokus padaku, Ryo!" ia berseru, menyalurkan kehangatan dan kekuatannya sendiri melalui genggaman mereka. "Fokus pada benang kita! Jangan lepaskan!"
Ryo bertarung. Ia menggunakan semua tekadnya untuk menahan tarikan Kekosongan itu, untuk tidak membiarkannya mencabut benang kesadarannya. Ia mengingat Elara, kesalahan masa lalunya. Ia tidak boleh mengulangi kegagalan itu. Ia tidak boleh hancur. Ia mengingat janji pada ayahnya, pada Lyra. Ia harus menyelamatkan Aethelgard.
Perlahan, tarikan itu mereda. Ryo menarik napas dalam-dalam, kesadarannya mulai kembali ke tubuhnya sendiri, namun tetap terhubung dengan Kael. Ia melihat Kabut itu bergerak, bukan secara acak, melainkan dengan tujuan. Ia bergerak menuju titik-titik kekuatan di Aethelgard, mencoba mencari simpul-simpul benang eterik yang paling kuat untuk dicabut.
"Ia menuju ke Lembah Cahaya," bisik Ryo, suaranya lemah. "Di sana ada kuil-kuil kuno, tempat benang-benang spiritual berlimpah."
Lyra mengangguk. "Kita harus memperingatkan Raja. Kita harus menghentikannya sebelum ia mencapai Lembah Cahaya."
Ryo membuka matanya, terengah-engah. Tubuhnya dipenuhi keringat dingin, dan ia merasa sangat lelah, seolah jiwanya baru saja melewati badai dahsyat. Namun, ada kepuasan yang aneh. Ia telah melihat Kekosongan itu, ia telah merasakannya, dan ia tidak hancur. Ia bahkan mendapatkan informasi krusial.
"Kita akan melapor pada Raja," kata Lyra, membantu Ryo berdiri. "Tapi Ryo, ini baru permulaan. Kita harus mencari tahu bagaimana menghentikannya tanpa harus bertarung dengan kekuatan yang sepertinya tak terkalahkan ini."
Ryo menatap boneka kayunya, lalu ke Lyra. "Kita akan menemukan caranya. Kita harus."
Malam itu, di tengah kegelapan yang pekat, dua jiwa yang berbeda—satu yang terbiasa mengendalikan dan satu yang terbiasa menyembuhkan—telah menyatukan tekad mereka. Mereka telah melihat wajah Kekosongan, dan mereka tidak gentar. Perjalanan mereka untuk menyelamatkan Aethelgard baru saja dimulai, sebuah perjalanan yang akan menguji batas-batas kekuatan, kepercayaan, dan bahkan esensi jiwa mereka sendiri.