Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRAUMA
02:15 AM. Kamar Utama, Analogue Heart.
Musim gugur yang hangat telah menyerah sepenuhnya pada angin utara yang menggigit. Malam itu, suhu di pesisir Yunani merosot tajam, dan suara angin yang menderu di celah-celah jendela batu terdengar seperti raungan serigala yang kelaparan. Di dalam kamar, meskipun perapian kecil di sudut ruangan masih menyisakan bara api, udara terasa sangat tipis.
Raka terbangun karena sebuah sentakan. Bukan karena suara langkah kaki, melainkan karena suhu tubuh Liana yang tiba-tiba merosot drastis di sampingnya.
Liana sedang berada di sana, tetapi jiwanya tertinggal di tempat lain. Tubuhnya gemetar hebat di bawah selimut wol tebal. Napasnya pendek, tersengal-sengal, dan jemarinya mencengkeram sprei hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin membasahi pelipisnya, namun ia menggigil seolah sedang dipaksa berbaring di atas es abadi.
"Tidak... jangan tinggalkan aku di sana... Raka, gelap... terlalu dingin..." igauan Liana terdengar seperti rintihan anak kecil yang ketakutan.
Raka segera bangkit, menyalakan lampu tidur yang temaram. Ia melihat wajah Liana pucat pasi, bibirnya sedikit membiru. Trauma itu kembali bukan sebagai memori, tapi sebagai flashback sensorik dari hari-hari terakhir mereka di pangkalan apung Cocytus.
"Li? Liana, bangun!" Raka mengguncang bahu istrinya dengan lembut namun tegas. "Kau di rumah. Kau di Yunani. Buka matamu, Li!"
Liana tersentak bangun dengan teriakan yang tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak, liar dan tidak fokus, menatap langit-langit seolah-olah plafon kayu itu adalah baja dingin yang akan runtuh menimpanya. Saat matanya bertemu dengan mata Raka, ia tidak langsung mengenalnya. Ia melihat Raka yang bersimbah darah di lorong pangkalan, bukan Raka yang mengenakan kaus katun lembut di hadapannya.
"Esnya... esnya masuk ke paru-paruku, Raka..." Liana terisak, suaranya parau. Ia langsung menghambur ke pelukan Raka, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. Tubuhnya masih bergetar hebat.
Raka memeluk Liana erat, sangat erat, seolah-olah tekanan fisiknya bisa mengusir dingin yang merasuki jiwa istrinya. Ia menyelimuti punggung Liana dengan tangannya yang hangat, mengusapnya dengan gerakan melingkar yang konstan.
"Dengar suaraku, Liana. Fokus pada detak jantungku," bisik Raka, suaranya berat dan penuh otoritas yang menenangkan. "Satu... dua... tiga... rasakan itu. Itu nyata. Kita tidak di Arktik. Tidak ada es di sini. Hanya ada aku, kau, dan bau kayu terbakar dari perapian kita."
Liana mulai terisak lebih keras, melepaskan beban ketakutan yang ia pendam sejak musim dingin pertama ini menyapa mereka. "Tadi sangat nyata, Raka. Aku melihatmu tertinggal di palka pelarian. Aku melihat ledakan itu menelanmu, dan aku... aku sendirian di tengah samudra putih itu selamanya. Aku takut jika aku menutup mata, aku akan kembali ke sana."
Raka menjauhkan sedikit tubuh Liana, memegang kedua pipinya agar wanita itu menatapnya. Matanya yang tajam kini dipenuhi oleh cinta yang begitu dalam hingga terasa menyakitkan.
"Li, dengarkan aku baik-baik," kata Raka emosional. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu di sana. Tidak dalam kenyataan, tidak juga dalam mimpimu. Jika kau terjebak di samudra es itu lagi, cari cahayaku. Aku akan selalu ada di sana untuk menarikmu keluar. Kau mengerti?"
Liana mengangguk pelan, air matanya membasahi tangan Raka. "Kenapa ingatan itu tidak mau pergi, Raka? Kita sudah bahagia. Kita punya toko buku. Kenapa hantu-hantu itu masih mengejar?"
"Karena kita manusia, Li," Raka menghela napas, menyandarkan keningnya pada kening Liana. "Mesin bisa menghapus data dengan satu perintah delete. Tapi kita... kita harus belajar hidup dengan bekas lukanya. Tapi ingat, bekas luka hanya membuktikan bahwa kita pernah terluka, bukan bahwa kita masih dalam bahaya."
Suasana menjadi sangat sunyi. Hanya suara angin di luar yang masih sesekali menghantam dinding rumah. Raka tahu, malam ini Liana tidak butuh kata-kata motivasi lebih lanjut. Ia butuh sesuatu yang jauh lebih primitif untuk meyakinkan sistem sarafnya bahwa ia masih hidup.
Raka mulai mencium kening Liana, lalu turun ke kelopak matanya, menghapus sisa air mata dengan bibirnya. Ciuman itu berpindah ke pipi, ke cuping telinga, hingga ke bibir Liana yang masih dingin.
Awalnya, Liana hanya pasif, namun saat ia merasakan panas tubuh Raka yang menjalar melalui sentuhan tersebut, ia mulai merespons. Ia membutuhkan panas ini. Ia membutuhkan gairah ini sebagai bukti bahwa darahnya masih mengalir, bahwa ia bukan lagi "Ratu Data" yang beku, melainkan wanita yang dicintai.
"Buat aku merasa hangat, Raka..." bisik Liana di sela ciuman mereka. "Buat aku lupa pada Arktik."
Raka memenuhi permintaan itu dengan pengabdian yang murni. Ia menanggalkan kaosnya, membiarkan kulit dada mereka bersentuhan langsung panas bertemu dingin yang perlahan mencair. Sentuhan Raka malam ini tidak memiliki sedikit pun sisa kekakuan militer. Setiap gerakannya adalah pemujaan. Ia menciumi bahu Liana, lengan tangannya, hingga ke ujung jemari yang tadi mencengkeram sprei karena ketakutan.
Di bawah remang lampu tidur, mereka menyatu dalam sebuah tarian yang lambat dan emosional. Gairah mereka kali ini bukan tentang eksplorasi nakal seperti biasanya, melainkan tentang penyembuhan. Setiap desahan Liana yang kini terdengar lebih stabil adalah kemenangan kecil bagi Raka atas trauma masa lalu mereka.
Raka bergerak dengan kelembutan yang luar biasa, memastikan Liana merasa aman di setiap detik. Ia membisikkan kata-kata manis janji-janji masa depan, rencana tentang kebun zaitun mereka, tentang buku-buku yang ingin mereka baca bersama tepat di telinga Liana saat mereka mencapai puncak.
Dingin Arktik itu akhirnya kalah. Ia menguap, terusir oleh panasnya dua jiwa yang saling mendekap dalam kegelapan.
Beberapa jam kemudian, cahaya biru pucat dari fajar mulai menyelinap masuk melalui celah gorden. Suhu di luar masih dingin, namun di dalam pelukan Raka, Liana merasa seolah-olah musim panas tidak pernah pergi.
Liana terbangun dan melihat Raka masih terjaga, menjaganya. Raka sedang mengelus rambutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menjadi bantal bagi kepala Liana.
"Kau tidak tidur?" tanya Liana dengan suara serak yang manis.
"Aku sudah tidur cukup selama bertahun-tahun di pengasingan, Li. Menjagamu jauh lebih penting," jawab Raka sambil memberikan senyum tipis.
Liana bangkit sedikit, mencium rahang Raka yang kasar karena mulai ditumbuhi jenggot tipis. "Mimpi buruknya sudah pergi. Terima kasih sudah menjemputku kembali, Kapten."
Raka menarik selimut hingga menutupi bahu mereka berdua. "Selalu, Ratu-ku. Selalu."
Tiba-tiba, dari arah luar kamar, terdengar suara gaduh.
Prang!
Gedebuk!
"Aduh! Sialan, kenapa lantai ini licin sekali!" suara Bimo menggelegar dari lantai bawah.
Liana dan Raka saling pandang, lalu tertawa bersama. Tawa yang melepaskan sisa-sisa ketegangan malam itu.
"Sepertinya si pengganggu sudah bangun," kata Raka sambil menghela napas pura-pura jengkel.
"Biarkan saja," Liana menarik Raka kembali ke bawah selimut. "Bimo bisa mengurus dirinya sendiri. Aku masih butuh terapi kehangatan lima menit lagi sebelum kita membuka toko."
Raka tidak membantah. Ia mendekap Liana lebih erat, menikmati keheningan pagi yang kini terasa sangat berharga. Arktik mungkin akan selalu ada di peta, dan memori tentangnya mungkin akan sesekali kembali mengetuk pintu, tapi selama mereka memiliki satu sama lain dan sebuah rumah di tepi laut ini, tidak ada badai es mana pun yang akan sanggup membekukan hati mereka lagi.