Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Apartemen Astrid
Kemal tak langsung menjawab. Dia sempat terdiam dalam beberapa saat, sampai akhirnya berucap, "Masalah? Aku rasa tidak. Dia hanya merindukanmu seperti orang gila."
"A-apa? Merindukanku?" Rangga sontak tercengang.
"Iya, dia selalu memandangi fotomu setiap malam. Dia juga menceritakan sedikit hal tentangmu. Aku merasa hubungan kalian tidak sekedar adik dan kakak ipar," sahut Kemal.
"Sebenarnya kami memang punya hubungan spesial. Tapi Kak Dita enggan melanjutkannya. Entah kenapa aku merasa dia berusaha menyembunyikan sesuatu dariku."
"Jadi karena itu kau mengajakku bertemu sekarang?"
"Benar." Rangga langsung mengangguk. "Oh iya, mengenai hutang, apa benar kau dan Kak Dita berhutang ke rentenir untuk membeli rumah?"
"Apa?! Siapa yang bilang begitu? Tentu saja tidak! Aku paling anti dengan yang namanya hutang. Apa Dita yang mengatakannya?"
"Kemarin aku memergokinya sedang dikejar rentenir."
Kemal mendengus kasar. Dia sebenarnya tahu apa yang dirahasiakan Dita. Akan tetapi Kemal merasa kalau dirinya tidak bisa bertindak kelewat batas. Kemal hanya berusaha memperbaiki kesalahpahaman yang tak seharusnya. Dia berniat akan bicara pada Dita nanti.
"Dita memang punya hutang besar dari yang aku tahu. Dan karena itu pula dia bekerja padaku. Mengenai alasannya, aku rasa kau harusnya mendengar jawabannya langsung dari Dita," tutur Kemal.
Rangga mengangguk pelan. Pertemuannya dan Kemal setelah pembicaraan itu berakhir. Rangga memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Terlalu banyak hal yang mengejutkan hari ini, dia butuh istirahat.
Setibanya di rumah, Rangga memarkirkan motor terlebih dahulu. Namun tiba-tiba Septi menyapa. Wanita itu mendekat dan memberitahu kalau Astrid telah pergi.
"Benarkah? Kapan dia pergi?" tanya Rangga.
"Siang tadi. Dia terlihat sedih sekali. Katanya dia akan kembali ke apartemennya," jawab Septi.
Rangga mengangguk lemah. Dia lantas masuk ke dalam rumah. Hatinya merasa tidak enak atas apa yang sudah dia ucapkan pada Astrid. Memang dirinya menganggap Astrid berbohong, tapi di sisi lain Rangga juga merasa cemas. Bagaimana jika Astrid tidak berbohong? Jika iya, keadaannya mungkin masih terancam akan penguntitnya.
Rangga berusaha melupakan kekhawatirannya dengan mandi dan telentang. Namun tetap saja rasa cemasnya terus muncul.
"Argh! Sialan! Gini nih kalau punya hati nggak enakan," gumam Rangga sembari beranjak dari ranjang. Dia mengambil jaketnya dan segera pergi menggunakan motor.
Rangga berniat pergi menemui Astrid ke apartemen. Setibanya di sana, dia segera mengetuk pintu unit apartemen Astrid. Tak lama pintu dibuka oleh Astrid.
Wajah Astrid tampak sembab. Dia terlihat hanya mengenakan celana pendek sepangkal paha dan tanktop putih.
Rangga sempat terkesiap. Dengan penampilan Astrid yang apa adanya begitu, dia justru terpana. Kecantikan Astrid terlihat lebih alami.
"Ngapain ke sini?!" timpal Astrid yang langsung cemberut saat melihat Rangga.
"Aku mau minta maaf dengan ucapanku tadi pagi. Aku terlalu buru-buru menyimpulkan," ungkap Rangga.
"Aku memang senang bertemu denganmu, Ga. Tapi bukan berarti aku tega melakukan sesuatu hal yang membahayakanku," jelas Astrid.
"Sekali lagi maaf... Kau baik-baik saja kan? Apa penguntit itu muncul lagi?" tanggap Rangga.
"Selama dua hari ini aku nggak pernah melihatnya. Mau masuk dulu?" tawar Astrid seraya membuka pintu lebih lebar.
Rangga mengangguk dan melangkah masuk. Dia merasa harus menerima tawaran Astrid karena merasa bersalah sudah menuduhnya berbohong.
"Kau mau teh? Kopi?" ujar Astrid.
"Apa saja," sahut Rangga. Dia duduk ke sofa sambil memperhatikan keadaan apartemen Astrid. Dia melihat ada tiga foto dengan figura di atas nakas. Satu foto Astrid dengan ayahnya, satu foto Astrid dengan keluarga pamannya, dan terakhir foto Astrid dengan Rangga, Ifan, dan Junaidi saat SMA.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄