NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Oohhh ... Jen...

POV Erick.

Aku membawanya ke apartemenku, tidak jauh dari kantor.

"Babe ini tempat favorit aku, aku beli ini dengan membayangkan kamu akan menyukai tempat ini, akhirnya kesampaian juga bawa kamu kesini."

"Apa pemandangannya sangat bagus?", tanyaku sambil melihat kearah pintu kaca yang menghadap jalanan, gedung-gedung serta mall.

Kemudian alu memeluk pinggangnya dari belakang, "Iya, kamu pernah bilang kamu suka langit senja bukan, aku ingat kata-katamu, langit terindah adalah 1 jam sebelum matahari terbenam, karena warnanya yang indah berwarna oranye."

"Kamu ingat itu?", tanyanya takjub.

"Tentu saja.", ucapku sambil mengesampingkan rambutnya dan mencium lehernya.

"Aku ingat mama yang suka memandangi langit senja melalui jendela rumah sakit, katanya langit senja memberikan kehangatan. Setelah mama ga ada, langit itu yang menyalurkan kehangatan mama dari atas sana kepadaku."

"Sini, kita bisa melihatnya dari kamarku juga", aku menariknya masuk kamar, diatas tempat tidur, aku melumat bibirnya lagi, kemudian kami saling berpelukan dalam waktu yang lama, berdiam diri melihat langit senja.

Salah satu khayalanku tentang Jeny, adalah seperti saat ini, berpelukan menikmati langit senja. Khayalanku selanjutnya adalah bercinta mengaguminya dengan langit ini sebagai latarnya.

"Babe ayo kita pesan makan.", aku berusaha mengalihkan pikiranku dari khayalanku. Aku mengajaknya duduk di sofa, lalu sibuk mencari makanan. Setengah dari otakku benar-benar mencari makanan, setengahnya lagi, memaki diriku sendiri menahan tanganku agar tidak menarik Jeny duduk dipangkuanku, karena jika itu terjadi maka mataku hanya akan melihat Jeny dan aku akan menggila karenanya.

"Kamu mau makan apa Jen?"

"Aku juga bingung, banyak makanan yang aku kangenin, ini aku juga lagi lihat-lihat."

"Sego sambal?", tanyanya sambil memperlihatkan layar ponselnya.

"Ok."

"Kamu pilih duluan babe.", ucapnya menyerahkan ponselnya.

Selesai aku memilih makananku, aku menyerahkan kembali ponselnya, lalu aku menyenderkan kepalaku pada pundaknya sambil melihat menu pilihannya.

"Koper kamu dimana babe?"

"Di rumah, tadi aku ke rumah dulu sebelum ke kantor.", ucapnya sambil jemarinya sibuk melihat-lihat menu.

"Tidur di apartemenku ya malam ini.", sial otak mesumku lolos keluar dari pikiranku.

"Cuma tidur biasa, seperti kalau kita di Jakarta.", ucapku menutupi kegilaanku.

1 jarinya menoyor pelan dahiku, lalu sibuk lagi memilih makanan.

"Babe aku mandi dulu ya.".

"Mmm... ", jawabnya singkat.

Selesai mandi, aku melihat makanan pesanan kami sudah datang.

"Ayo makan kak, aku lapar.", aku tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan, lalu menyiapkan alat makan untuk kami.

"Kamu kaya orang ga makan berapa hari babe."

"Aku kangen, udah lama ga makan ini."

"Mau pesan lagi ga?"

"Masih ada hari esok.", ucapnya memainkan alisnya dengan menaik turunkannya sambil tersenyum.

"Aku siap jadi supir penuhin wishlist kamu.", sambil merapikan rambutnya agar tidak terkena makanan.

Selesai makan ia berdiri hendak merapikan piring-piring kami.

"Kamu mandi aja babe, ini aku yang beresin."

"Aku kan ga bawa baju ganti."

"Buka aja lemari aku, pakai baju aku dulu."

"Kamu sengaja ya, suruh aku mandi supaya aku tidur disini.", ucapnya sambil 1 jarinya menggelitik pinggangku.

"Jangan goda aku babe, nanti aku minta cium gimana, mau ciuman bibir lagi kepedasan begini?"

"Iya iya aku mandi."

"Sikat gigi baru juga ada di lemari kamar mandi. Handuk cari aja di lemari."

"Ok", lalu ia masuk kedalam kamarku.

Aku sudah membereskan piring kotor, mengelap meja, bahkan membalas beberapa pesan urusan pekerjaan, tapi Jeny masih belum keluar kamar.

"Babe kamu sudah selesai mandi kan? Udah pakai baju?"

"Sudah, buka aja."

Kulihat ia duduk menatap isi lemariku yang terbuka.

"Kamu lagi apa sih babe?"

"Aku bingung, ga ada yang pas, aku tau pasti baju kamu kegedean semua, mangkanya aku cari yang paling memungkinkan."

"Memang yang sekarang kamu pakai kenapa?"

"Iya ini aku jadi pilih yang paling besar, jadi ga terlalu mini jatuhnya.", ucapnya sambil berdiri memperlihatkannya padaku.

"Babe kamu seksi banget."

"Ga usah bercanda, bantu cari kenapa?", sesungguhnya aku ga bercanda saat itu.

"Udah pakai ini aja.", aku menariknya keluar agar pikiranku juga lebih terkendali.

"Kamu lagi nonton apa?", tanyanya saat kami duduk di sofa depan TV.

"Ga ada, cuma nyalain biar ga sepi aja."

Ia lalu mencari-cari tontonan menarik di Netflix, sambil menyandarkan kepalanya pada bahuku. Harum sabun maskulin tercium dari tubuhnya, aku sungguh ingin menciumnya. Aku mengangkat tubuhnya memindahkan posisinya agar duduk menghadapku diatas pangkuanku. Aku melumat bibirnya dengan penuh nafsu. Dengan posisinya saat ini, ditambah bajunya yang longgar tapi juga mini, membuat pahanya terekspos dihadapanku, dan tanganku dengan mudahnya bergerilya mengelus kulitnya yang lembut. Ciumanku turun ke lehernya, satu tanganku mulai naik kedadanya. Aku bisa merasakan kalau Jeny juga kehilangan kontrol atas dirinya saat ini.

Aku menggendongnya seperti koala, membawanya keatas tempat tidur. Saat aku mengungkungnya dibawahku, aku melihat matanya sayu karena nafsu. Aku membuka bajunya kemudian bajuku, menciuminya mulai dari lehernya, lalu perutnya sambil membuka penutup dadanya. Aku memainkan dadanya, lalu menciumnya, desahan kecil keluar dari mulutnya. Saat tanganku hendak menurunkan celana dalamnya ia berkata, "jangan sejauh itu babe, aku belum siap, aku pakai cara lain dulu untuk memuaskan kamu ya."

Ia menggunakan tangannya untuk memuaskanku, bisa kurasakan ini pertama kali untuknya, aku membantunya mengarahkannya sesuai keinginanku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!