Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Penangkapan.
"Julian pasti akan sangat murka saat melihat markasnya hancur," ucap Andre seraya menggeleng-gelengkan kepala merasa kasihan sekaligus senang.
"Cih, bukannya tadi kau yang paling bersemangat membantai mereka semua?!" desis Damian dengan kesal.
"Hahahaha, iyah juga sih!" kelakar Andre yang membuat Damian langsung mengumpatnya. "Lagian kenapa mereka cari gara-gara sih? Padahal sudah diberi peringatan sama tuan muda." katanya dengan tidak habis pikir.
Damian mengendikkan bahu merasa tidak peduli, dia segera masuk ke dalam mobil dengan diikuti oleh Andre yang terus bicara ke sana sini. Mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu, bersamaan dengan kedatangan siempunya tempat yang mendapat kabar dari salah satu bawahannya jika ada yang menyerang markas mereka.
Beberapa saat yang lalu...
Setelah semua pekerjaannya selesai, Kenzo berniat untuk pergi ke apartemen Rania. Namun, di tengah perjalanan, ada dua buah mobil yang menghadang jalannya. Dia terpaksa turun karena tiba-tiba ada mobil lain yang berhenti tepat di belakang mobilnya.
Setelah Kenzo turun, beberapa orang keluar dari dalam mobil itu dan langsung menyerangnya. Tentu saja dia melakukan perlawanan, hingga membuat beberapa orang yang sedang melintas di tempat itu juga menjadi korban karena di jadikan sandera oleh mereka.
"Kalau kau tidak menurut, maka aku akan membunuh anak ini," ancam salah satu dari orang-orang yang menyerang Kenzo, dia menekan pisaunya ke leher seorang anak yang tidak sengaja berada di tempat itu.
Kenzo menggertakkan gigi, rahangnya mengeras, wajahnya merah padam walau ekspresinya tetap datar.
"Baiklah," ucap Kenzo, matanya berkilat penuh kemarahan saat pisau itu benar-benar menggores leher anak tersebut hingga anak itu berteriak histeris.
Beberapa orang yang ada di sana juga berteriak, memohon agar anak itu dilepaskan. Mau tidak mau Kenzo terpaksa menuruti perintah mereka untuk masuk ke dalam mobil, lalu mereka membawanya pergi dengan tangan terikat.
Kenzo di bawa ke sebuah rumah yang lumayan jauh dari keramaian, rumah itu tampak seperti sebuah markas rahasia.
"Sekarang cepat katakan di mana wanita itu!" perintah seorang lelaki bertubuh tambun dengan banyak tato.
Kenzo menyeringai, tatapannya bahkan jauh lebih tajam ketimbang laki-laki itu. Tentu saja hal itu membuat laki-laki itu murka dan langsung menendang kakinya.
"Cepat katakan, brengs*ek!" bentak laki-laki itu kembali.
Kenzo hanya diam tanpa bergerak sedikit pun dari tempat itu, dia melirik ke arah orang-orang yang ada di sana. Sepertinya ada sekitar 10 orang bahkan lebih yang harus dia hadapi.
"Bajing*an ini!" Laki-laki itu segera mengeluarkan pisau dari saku celananya dan menyodorkannya tepat ke leher Kenzo.
"Jawab aku atau kubunuh kau!" ancamnya kembali.
Sudut bibir Kenzo tertarik dan kembali membentuk sebuah seringai. "Kau akan mati kalau aku menjawab." katanya datar.
"Apa? Hahahahah." Laki-laki itu langsung tertawa saat mendengar ucapan Kenzo, begitu juga dengan semua orang yang ada di sana. "Beraninya kau mengatakan itu!" bentaknya lagi. Dia lalu menoleh ke arah belakang. "Apa dia benar-benar laki-laki yang bersama wanita bernama Rania itu?" tanyanya pada dua orang lelaki yang sempat mengikuti Rania.
Kedua lelaki itu mengangguk. "Benar, dialah orangnya. Aku sudah memperhatikannya sejak di dalam supermarket." jawabnya.
Laki-laki bertubuh tambun itu tersenyum licik, lalu mencondongkan tubuhnya ke hadapan Kenzo. "Tapi dilihat-lihat wajahmu sangat tampan, ya. Tubuhmu juga bagus, bagaimana kalau kau menjadi mainan kami saja di sini?" katanya sembari menjulurkan lidah, merasa sangat berg*irah melihat bentuk tubuh Kenzo.
Darah Kenzo langsung mendidih saat mendengar ucapan kotor laki-laki itu, rahangnya mengeras dan wajahnya seketika berubah merah padam.
"Kalau kau mengatakan di mana Rania, maka aku akan bicara pada bos julian agar mengampuni-
Duakh!
"Aargh!" Laki-laki itu langsung menjerit kesakitan saat asetnya di tendang dengan sangat kuat oleh Kenzo, seketika tubuhnya tumbang ke lantai dengan wajah pucat dan keringat dingin yang mengucur ke sekujur tubuh.
"Bajing*an!" teriak lelaki lain saat melihat apa yang Kenzo lakukan, sementara Kenzo sendiri sudah berdiri dan berhasil melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya.
Kenzo kemudian mengambil sepasang sarung tangan berwarna hitam dari dalam saku celana, lalu memakainya dengan santai tanpa peduli dengan kemarahan semua orang yang ada di tempat itu.
"Habisi dia!" teriak salah satu dari mereka.
Semua orang yang ada di tempat itu langsung mengeluarkan pisau mereka dan menyerang Kenzo. Namun, dengan cepat Kenzo menghindar dan melompat ke atas meja, lalu memutar tubuhnya sembari melayangkan tendangan hingga mengenai kepala mereka semua yang seketika membuat tubuh mereka terpelanting.
Bruak!
Suara benturan yang cukup keras menggema di tempat itu bersamaan dengan jatuhnya tubuh mereka. Tidak mau membuang-buang waktu, Kenzo kembali melompat turun dan menghajar mereka satu persatu.
Kenzo juga mengambil beberapa pisau yang ada di atas lantai, melempar pisau itu ke arah orang-orang yang hendak menyerangnya dari arah belakang.
"Aargh!" Beberapa orang berteriak saat pisau-pisau itu menancap tepat ditubuh mereka, sementara yang lainnya terus menyerang Kenzo dengan membabi buta.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Damian dan Andre sedang berada di dalam mobil yang tengah melaju dengan sangat kencang. Beberapa saat yang lalu, Damian mendapat pesan singkat dari Kenzo, sebuah kode yang memiliki arti jika tuan mudanya itu sedang terlibat sesuatu yang berbahaya. Itu sebabnya mereka segera tancap gas menuju tempat di mana Kenzo berada saat ini.
Tidak berselang lama, sampailah mereka ke tempat tujuan. Damian dan Andre bergegas keluar dari mobil dan berlari untuk masuk ke dalam rumah saat melihat mobil tuan mereka terparkir di sana.
"Tuan muda!" teriak Damian dan Andre secara bersamaan saat sudah berada di dalam rumah, mereka lalu segera naik ke lantai 2 di mana terdengar suara berisik dan teriakan orang-orang.
Brak!
Damian membuka paksa pintu yang sedang terkunci, lalu kedua matanya membelalak lebar saat melihat semua orang terkapar di atas lantai.
"Tuan muda!" panggil Damian seraya mendekati Kenzo yang langsung menoleh ke belakang saat mendengar suaranya. "Maafkan saya, Tuan muda." Dia menunduk, merasa bersalah karena terlambat datang, sementara Andre yang baru selesai memeriksa ruangan lain juga langsung menundukkan kepala.
Kenzo yang akan bicara mengurungkan niat saat mendengar dering ponsel Andre, apalagi saat mengetahui jika yang menelepon adalah Rania.
"No-nona Rania?" ucap Andre, spontan matanya langsung melihat ke arah Kenzo yang menatap dengan tajam, dia jadi merasa ragu untuk menjawab panggilan dari wanita itu.
"Berikan padaku." Kenzo mengulurkan tangan yang langsung membuat Andre menyerahkan ponselnya. Dia lalu mengangkat panggilan dari Rania. Namun, belum sempat mengeluarkan suara, tiba-tiba ada yang mencoba untuk kembali menyerang membuat Damian dan Andre sigap melindungi sang tuan.
"Beraninya kau menganggu waktu meneleponku!"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda