NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Masa Lalu

Udara di ruang jenazah lama itu terasa berat, seolah dipenuhi oleh ribuan napas yang tertahan selama puluhan tahun. Lampu tabung di langit-langit berkedip lemah, melemparkan bayangan panjang yang menari-nari liar di dinding keramik yang retak dan berlumut. Elara Senja berdiri mematung, tangannya mencengkeram erat senter taktis yang cahayanya kini menjadi satu-satunya pertahanan melawan kegelapan yang merayap dari sudut ruangan.

Di hadapannya, Pak Darto bukan lagi sosok satpam tua yang ramah dan sering membagi kopi di pos jaga. Tubuhnya tampak membungkuk dalam sudut yang tidak wajar, dan suara napasnya terdengar seperti geraman mesin uap tua yang rusak. Aroma formalin yang menyengat bercampur dengan bau tanah basah menguar tajam dari arah pria itu berdiri, menandakan bahwa ada sesuatu yang 'lain' yang kini mengendalikan raga rentanya.

"Kalian pikir kalian bisa mengubah apa yang sudah tertulis di tanah ini?" suara itu keluar dari tenggorokan Pak Darto, namun nadanya ganda, seolah ada suara lain yang lebih berat dan parau menumpang di pita suaranya. "Tanah Cakra Buana meminta darah, bukan doa."

Elara menelan ludah, berusaha menekan rasa takut yang menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuknya. Ia melirik sekilas ke arah bayangan di balik pilar beton besar di sebelah kiri, tempat Dr. Arisandi sedang berlutut sambil meraba-raba lantai dengan putus asa. Pria itu sedang mencari titik pasak—sebuah paku bumi mistis yang menurut jurnal tua direktur rumah sakit pertama, ditanam untuk menekan energi negatif di lokasi ini.

"Kami tidak datang untuk berdoa, Pak Darto," sahut Elara dengan suara yang ia paksa agar terdengar tegas, meski getarannya masih terasa. "Kami datang untuk mengakhiri kontrak sepihak ini. RSU Cakra Buana adalah tempat penyembuhan, bukan ladang pembantaian bagi entitas yang kelaparan."

Pak Darto tertawa, sebuah suara kering yang terdengar seperti gesekan dua batu nisan. Ia melangkah maju, menyeret kaki kirinya dengan bunyi *srek* yang menyakitkan telinga di atas lantai ubin yang lembap. Gerakannya lambat namun penuh ancaman, seolah ia menikmati setiap detik ketakutan yang terpancar dari wajah Elara.

"Penyembuhan?" cemooh sosok itu sambil memiringkan kepalanya hingga terdengar bunyi *krak* yang mengerikan. "Setiap nyawa yang gagal diselamatkan di meja operasi adalah persembahan bagi kami. Dan malam ini, kalian berdua akan menjadi hidangan penutup yang manis."

Elara tahu ia harus bertindak cepat untuk mengalihkan perhatian makhluk itu dari Arisandi. Ia mengarahkan sorot senternya tepat ke wajah Pak Darto, membuat sosok itu mendesis kesakitan dan mengangkat tangan untuk menutupi matanya yang kini sepenuhnya hitam tanpa bagian putih. Elara memanfaatkan momen itu untuk mundur selangkah, memancing Darto agar semakin menjauh dari pilar.

"Arisandi, sekarang!" teriak Elara dalam hati, berharap dokter muda itu mengerti isyarat diamnya. Ia kemudian mengambil sebuah nampan besi berkarat dari meja otopsi di dekatnya dan melemparkannya ke sudut ruangan yang berlawanan. Bunyi *klang* yang nyaring menggema, memantul di dinding-dinding beton yang dingin.

Makhluk di dalam tubuh Pak Darto meraung marah, kepalanya berputar cepat ke arah suara gaduh tersebut. "Tipuan murahan!" bentaknya, namun tubuhnya secara refleks bergerak ke arah suara itu sebelum ia menyadari kesalahannya. Elara tidak menyia-nyiakan kesempatan itu; ia berlari memutar, mencoba memposisikan dirinya di antara Darto dan pintu keluar, memblokir akses sekaligus menjadi umpan.

Sementara itu, di balik pilar, Dr. Arisandi merasakan jari-jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan logam di balik lapisan semen yang gempil. Itu adalah kepala sebuah pasak besi tua yang tertanam dalam, terukir dengan simbol-simbol kuno yang tidak ia kenali. Keringat dingin mengucur di pelipisnya saat ia mengeluarkan linggis kecil dari tas peralatannya.

"Bertahanlah, Elara," bisik Arisandi dengan napas memburu, tangannya gemetar saat menyelipkan ujung linggis ke celah sempit di sekitar pasak itu. Ia menekan sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih di telapak tangannya yang tergores serpihan beton tajam.

Di tengah ruangan, Pak Darto kembali memusatkan perhatiannya pada Elara. Kali ini, ia tidak berjalan, melainkan menerjang dengan kecepatan yang mustahil bagi seorang pria berusia enam puluhan. Elara terpekik dan menjatuhkan diri ke samping, berguling di atas lantai yang licin oleh genangan air kotor.

Cakar tangan Pak Darto menghantam meja otopsi tempat Elara berdiri tadi, meninggalkan goresan dalam pada permukaan logam tebal itu. "Kau lincah seperti tikus," geramnya, "tapi tikus selalu berakhir di perangkap."

Elara bangkit dengan susah payah, lututnya terasa nyeri akibat benturan dengan lantai keras. Ia bisa melihat urat-urat hitam menonjol di leher Pak Darto, berdenyut seiring dengan detak jantung yang memompa kebencian murni. Ia sadar, fisik Pak Darto tidak akan bertahan lama menampung energi sebesar itu; jika mereka tidak segera mengusir entitas ini, Pak Darto akan mati karena kelelahan organ.

"Keluarlah dari tubuhnya!" teriak Elara, kali ini dengan nada memohon. "Dia tidak bersalah! Ambil aku jika kau mau, tapi lepaskan orang tua itu!"

"Pengorbanan sukarela?" Pak Darto berhenti sejenak, seringai lebar yang mengerikan menghiasi wajahnya, memperlihatkan gigi-giginya yang tampak membusuk. "Itu... sangat jarang terjadi. Tapi sayangnya, kami menginginkan semuanya."

Saat itulah terdengar bunyi retakan keras dari arah pilar. *KRAK!* Arisandi berhasil mengungkit pasak besi itu hingga terangkat beberapa sentimeter dari lantai. Seketika, ruangan itu bergetar hebat seolah diguncang gempa lokal. Debu dan serpihan cat rontok dari langit-langit, dan lampu tabung di atas mereka meledak satu per satu, menyisakan kegelapan total.

"TIDAK!" Jeritan Pak Darto terdengar bukan seperti suara manusia, melainkan seperti paduan suara ribuan jiwa yang tersiksa. Tubuhnya mengejang hebat, terlempar ke belakang seolah ditampar oleh tangan tak kasat mata.

"Arisandi! Nyalakan *flare*!" teriak Elara dalam kegelapan, meraba-raba saku celananya untuk mencari sumber cahaya cadangan. Suasana menjadi kacau balau; suara angin menderu di dalam ruangan tertutup itu, membawa serta bisikan-bisikan asing yang menusuk langsung ke dalam pikiran.

Cahaya merah menyala tiba-tiba, menerangi ruangan dengan warna darah. Arisandi berdiri memegang suar darurat, wajahnya pucat pasi namun matanya menyiratkan tekad. Di tangannya yang lain, ia menggenggam pasak besi berkarat yang berhasil ia cabut. Benda itu bergetar hebat, panas dan memancarkan asap tipis.

"Satu pasak tercabut!" seru Arisandi, suaranya serak. "Masih ada tiga lagi di sudut lain!"

Pak Darto tergeletak di lantai, tubuhnya berasap. Namun, sebelum Elara bisa mendekat untuk memeriksa keadaannya, bayangan hitam pekat mulai merembes keluar dari pori-pori kulit satpam tua itu. Bayangan itu menggumpal di udara, membentuk siluet tinggi besar tanpa wajah yang melayang di atas tubuh inangnya yang tak sadarkan diri.

Entitas itu telah terlepas, namun belum hancur. Ia kini bermanifestasi dalam bentuk murninya, terganggu oleh tercabutnya pasak penahan. Suhu ruangan anjlok drastis hingga napas mereka mengepul putih di udara merah yang diterangi suar.

"Lari, Elara! Menuju pintu timur!" perintah Arisandi sambil melemparkan pasak panas itu ke arah bayangan tersebut. Benda itu menembus kabut hitam, menciptakan lubang sementara yang mendesis seperti daging terbakar.

Elara tidak membantah. Ia menyambar lengan Arisandi saat mereka berpapasan, dan keduanya berlari sekuat tenaga menuju pintu ganda berkarat di ujung lorong jenazah. Di belakang mereka, raungan kemarahan mengguncang fondasi RSU Cakra Buana, sebuah janji bahwa malam ini masih jauh dari kata usai. Mereka telah membangunkan penjaga sebenarnya dari Lantai B4, dan kini perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!