akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 – Celah di Dalam Kesempurnaan
Ruang dimensi tidak pernah benar-benar sunyi.
Namun malam itu, kesunyian terasa berat—seperti ada sesuatu yang menekan dari luar. Langit di portal dimensi Rey berdenyut pelan, warna birunya memudar sesaat, lalu kembali normal.
Rey berdiri di tengah lapangan markas Tim Cosmic yang berdiri kokoh di dalam portal dimensinya, menatap peta kosmik yang terus berubah. Garis-garis cahaya menandai wilayah dunia nyata yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali Arsitek.
“Mereka mulai menyempurnakan pengawasan,” kata Leoni sambil memindai data.
“Bukan hanya kota besar. Desa terpencil pun dipetakan.”
Sila mengepalkan tangan.
“Hebat, mereka dengan cepat menguasai hampir seluruh dunia.”
“Setelah dunia nyata, mereka pasti sedang mencari cara untuk menembus portal dimensi ini” jawab Rey tenang.
“Mereka sudah tahu ruang dimensi ini ada. Mereka hanya menunggu.”
Boy mendengus.
“Menunggu apa?”
Rey menatap Deva.
“Menunggu kita membuat kesalahan.”
Di dunia nyata, kehidupan berjalan… rapi, tenang dan kepatuhan atas aturan ditegakkan.
Lampu lalu lintas diperbaiki.
Gedung-gedung mulai dirapikan.
Cuaca stabil, walau udara masih jauh dari sehat.
Kejahatan menurun hingga nyaris nol.
Mereka melakukan sensus penduduk, mencatat dan menandai manusia agar mudah dikenali.
Namun ada sesuatu yang hilang.
Di sebuah kota yang telah dibangun ulang, seorang anak berdiri di depan etalase toko mainan. Ada sedikit harapan yang tersisa dari sorot matanya.
“Aku mau yang ini,” katanya datar.
Ibunya mengangguk tanpa emosi.
“Itu pilihan optimal.”
Tidak ada senyuman tulus.
Tidak ada teriakan gembira.
Tidak ada pelukan.
Mereka diawasi dan terlihat waspada.
Di sekolah, guru tidak lagi bertanya, “Apa cita-citamu?”
Mereka bertanya,
“Peran apa yang paling efisien bagimu?”
Sebagian manusia mulai merasa… salah.
Namun setiap kali perasaan itu muncul, sistem Arsitek meredamnya—bukan dengan hukuman, melainkan dengan kontrol psikologis.
Di ruang dimensi, Leo memperhatikan laporan medis yang dikumpulkan secara diam-diam dari dunia nyata.
“Pola pikir manusia berubah,” katanya.
“Gelombang otak mereka… diseragamkan.”
Leoni menoleh.
“Mereka tidak menyadarinya.”
“Persis,” jawab Leo.
“Mereka tidak dikendalikan secara langsung. Mereka… diarahkan.”
Deva tiba-tiba terhuyung.
Sila segera menangkapnya.
“Deva!”
Deva memegangi kepalanya, napasnya cepat.
“Waktu di luar… bergelombang.”
“Bukan rusak. Bukan berhenti. Tapi… dimanipulasi.”
Rey mendekat.
“Dimanipulasi bagaimana?”
Deva menelan ludah.
“Semua kemungkinan yang tidak diinginkan Arsitek… diubah.”
“Yang tersisa hanya mengikuti arahan Arsitek.”
Hening menyelimuti ruangan.
“Jadi,” kata Boy pelan,
“manusia hidup di satu masa depan yang sudah ditentukan sejak awal oleh Arsitek.”
Deva mengangguk.
“Itu sebabnya dunia terasa damai,” tambah Rey.
“Tidak ada konflik… karena tidak ada pilihan.”
Sementara itu, di lapisan realitas yang tidak bisa diakses manusia, para Arsitek berkumpul.
“Kita kehilangan efisiensi,” kata salah satu.
“Anomali ruang dimensi Rey mengganggu prediksi.”
“Kemungkinan perlawanan meningkat 4%,” tambah yang lain.
Sosok utama—lebih tinggi, lebih terang—berdiri di tengah.
“Anomali harus dieliminasi,” katanya.
“Namun… tidak dengan cara konvensional.”
Ia memproyeksikan citra Tim Cosmic.
“Mereka adalah simbol,” lanjutnya.
“Menghancurkan mereka secara langsung akan menciptakan gelombang ketidakstabilan.”
“Lalu?” tanya Arsitek lain.
“Kita akan membuktikan bahwa perlawanan tidak diperlukan.”
Keesokan harinya, sebuah kota kecil yang pernah menjadi basis regu resmi lama mengalami kejadian aneh.
Tidak ada Arsitek muncul.
Tidak ada perintah.
Namun satu per satu, penduduknya mulai… menghilang dari ingatan.
Nama mereka masih tercatat.
Rumah mereka masih berdiri.
Tapi tak ada satu pun yang mengingat wajah mereka.
“Ini lebih buruk dari penghapusan,” kata Leoni setelah menerima laporan.
“Mereka ada… tapi tidak diakui.”
Sila menggertakkan gigi.
“Mereka mencuri eksistensi.”
Rey menatap layar dengan wajah keras.
“Itu pesan untuk kita.”
Tim Cosmic berkumpul di ruang strategi.
“Kita tidak bisa terus bersembunyi,” kata Boy.
“Dunia pelan-pelan mati, meski kelihatannya hidup.”
“Tapi keluar sekarang berarti bunuh diri,” balas Leoni.
“Arsitek menunggu itu.”
Rey terdiam lama.
“Kalau kita menyerang mereka… kita jadi ancaman.”
“Kalau kita diam… kita jadi penonton kehancuran yang rapi.”
Deva mengangkat tangan kecilnya.
“Ada celah.”
Semua menoleh.
“Waktu,” lanjut Deva.
“Arsitek tidak bisa menghancurkan waktu. Mereka hanya memanipulasinya.”
Rey menyipit.
“Maksudmu?”
“Mereka menyaring kemungkinan seakan waktu yang mereka sudah tentukan adalah kepastian dimasa depan,” jawab Deva.
“Tapi penyaringan itu terjadi sebelum waktu berjalan.”
“Ada momen singkat… sebelum waktu itu.”
Sila menahan napas.
“Seperti jeda.”
Deva mengangguk.
“Jeda yang sangat kecil. Tapi… ada.”
Sejak hari itu, latihan Tim Cosmic berubah.
Bukan lagi soal kekuatan.
Melainkan sinkronisasi dengan jeda waktu.
Deva berdiri di tengah arena, memejamkan mata.
“Sekarang.”
Waktu berhenti sepersekian detik.
Tidak cukup untuk serangan besar—hanya cukup untuk bergerak satu langkah.
Rey mencoba membuka tameng.
Tetapi ia masih ketinggalan waktu.
Leoni menembak, bukan dengan peluru logam.. Tetapi peluru Energi padatan udara.
Peluru itu berbelok—bukan diarahkan Arsitek, tapi oleh Rey.
Kecepatan peluru dan waktu yang diatur Deva saat peluru melesat harus tepat, begitupun posisi tameng Rey untuk bisa membelokkan peluru itu.
“Kita bisa bertindak,” kata Rey pelan.
“Tapi harus… sangat presisi.”
Leo menambahkan,
“Kesalahan sedikit saja, dan realitas akan mengoreksi kita.”
Boy tersenyum miring.
“Jadi ini bukan perang brute force.”
“Bukan,” jawab Rey.
“Ini perang cerdas mereka ingin mengatur waktu dimasa depan, tapi kita akan mengubahnya.”
Di dunia nyata, bisikan mulai menyebar.
Bukan teriakan.
Bukan pemberontakan.
Pertanyaan kecil.
“Kenapa aku memilih ini?”
“Kenapa semua terasa… sama?”
Arsitek mendeteksi peningkatan deviasi kecil.
“Anomali meningkat,” lapor satu Arsitek.
“Sumber tidak terdeteksi.”
Sosok utama menoleh ke peta kosmik.
“Ruang dimensi Rey,” katanya.
“Mereka sedang merencanakan sesuatu.”
Suatu malam, satu Arsitek muncul di tepi ruang dimensi, diperbatasan antara dunia nyata.
Tidak menyerang.
Hanya berdiri, mengamati batas realitas.
Rey melangkah maju, tameng setengah aktif.
“Kalian sudah menemukan kami,” katanya.
“Kami selalu tahu,” jawab Arsitek.
“Kami hanya ingin melihat… apakah kalian layak dihapus.”
Deva melangkah ke samping Rey.
“Kami tidak ingin perang.”
“Kami tahu,” balas Arsitek.
“Itulah sebabnya kami mengambil alih.”
Ia menghilang.
Namun sebelum pergi, satu kalimat tertinggal di benak semua anggota Tim Cosmic.
“Jika manusia memilih kebebasan…
maka kosmic akan memilih konsekuensi.”
Di ruang dimensi, Rey berdiri di depan timnya.
“Kita tidak bisa menyelamatkan dunia dengan cara lama,” katanya.
“Kita juga tidak bisa membiarkan Arsitek melakukan apapun yang mereka anggap benar.”
Ia menatap Deva.
“Celah itu adalah mesin yang mereka bawa… satu-satunya harapan kita.”
Deva mengangguk, wajahnya pucat tapi tekadnya kuat.
Di kejauhan, langit ruang dimensi berdenyut lebih cepat.
Arsitek bersiap.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka turun ke dunia…
Kesempurnaan mereka mulai retak.