NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Belas

Pagi itu, Felicia melangkah masuk ke ruangan Pak Han dengan mata yang masih sedikit lengket karena bangun kesiangan. Tangannya sibuk menggulir layar ponsel, baru saja membaca pesan "kesepian" dari Pak Han yang masuk semalam. Jantungnya sempat mencelos, tapi rasa kantuk dan keterkejutan lebih mendominasi.

Ia bahkan tidak sadar kalau sosok tinggi tegap yang seharusnya berada di Semarang itu kini sudah duduk manis di balik meja kebesarannya, menatapnya dengan tatapan tajam yang sanggup membekukan aliran darah.

"Asik banget kelihatannya. Di kantor masih sempat main HP, tapi pesan saya dari semalam cuma dibaca aja."

Suara bariton yang dingin itu menyambar telinga Felicia. Gadis itu tersentak kaget sampai ponselnya hampir meluncur dari genggaman. Matanya membulat sempurna melihat Pak Han sudah ada di depannya dengan setelan jas abu-abu yang rapi, meski gurat kelelahan masih membayang di matanya.

"Bapak?! Kapan baliknya? Kok nggak kasih tahu?" seru Felicia panik.

Pak Han menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada dengan gaya otoriter. "Kalau saya kasih tahu, nanti saya nggak bisa lihat asisten saya ini ternyata aslinya suka main hape di jam kerja tapi pas diluar jam kerja malah slow respon."

Felicia buru-buru mendekat ke meja, wajahnya memerah karena malu sekaligus merasa bersalah. "Bukan gitu, Pak! Semalam saya beneran udah tepar banget, nggak sempat buka WhatsApp lagi."

"Tepar atau sengaja nggak mau balas karena lagi sibuk sama yang lain?" sindir Pak Han lagi, jelas-jelas masih membawa sisa cemburu dari kejadian sembilan hari lalu.

"Ini saya baru mau balas, Pak! Beneran!" Felicia langsung menyodorkan ponselnya, menunjukkan layar percakapan mereka yang masih terbuka. "Lihat nih, saya baru mau ketik 'Bapak jangan sedih, ini saya kasih semangat'. Tuh, beneran kan?"

Pak Han tertegun sejenak melihat layar ponsel itu. Di sana terlihat draf pesan Felicia yang belum terkirim. Matanya yang tadi dingin mendadak melembut, meski bibirnya masih berusaha tetap datar.

"Semangat? Saya nggak butuh semangat dalam bentuk teks, Felicia," ucap Pak Han pelan sambil berdiri dari kursinya. Ia melangkah memutari meja, menghampiri Felicia yang masih mematung.

"Terus Bapak butuhnya apa?" tanya Felicia polos, mendongak menatap wajah bosnya yang kini jaraknya sangat dekat.

Pak Han menunduk, menatap bibir Felicia yang hari ini dipulas warna pink alami yang lembut. "Saya butuh asisten saya kembali ke mode fokus. Karena seminggu saya tinggal, sepertinya kamu makin berani menjawab omongan saya."

Ia mengulurkan tangan, kali ini tidak di pundak, melainkan dengan berani merapikan satu helai rambut Felicia yang keluar dari ikatannya. "Simpan HP kamu. Kita punya banyak waktu buat bahas 'kesepian' itu nanti. Sekarang, buatkan saya kopi. Yang pahit, biar saya sadar kalau saya sudah kembali ke kenyataan."

Felicia hanya bisa mengangguk kaku, jantungnya kembali melakukan maraton tanpa henti. Saat ia berbalik pergi, ia bisa mendengar Pak Han bergumam pelan di belakangnya.

"Lain kali, kalau kamu udah ngantuk, cukup balas satu emoji aja. Biar saya nggak ngerasa seperti bicara sama layar HP."

Menjelang jam dua belas, Felicia merapikan meja kerjanya dengan gerakan yang sedikit buru-buru. Ia sudah sangat lapar karena tenaganya habis diperas Pak Han sejak pagi tadi.

"Pak, saya izin makan siang dulu ya," pamit Felicia sambil menyampirkan tasnya.

Pak Han yang tadinya sibuk menandatangani berkas, mendadak menghentikan bolpoinnya. Ia mendongak, menatap Felicia dengan dahi berkerut. "Tumben kamu nggak nanya saya mau makan apa?"

Felicia bengong di ambang pintu. "Lho, kan terakhir sebelum Bapak berangkat, saya tanya Bapak mau makan apa, Bapak jawabnya: 'Saya mau makan katering kantor aja selamanya, jangan tanya-tanya lagi soal menu'." Felicia menirukan suara berat Pak Han dengan nada yang agak dilebih-lebihkan.

Pak Han berdehem canggung, membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak miring. "Itu kan sebelum saya pergi ke luar kota. Sekarang seleranya sudah berubah."

Ia bangkit, mengambil jasnya, lalu berjalan mendekati Felicia. "Sekarang saya mau makan siang sama kamu. Ada rekomendasi tempat enak nggak?"

"Eh? Makan di luar, Pak?" Felicia mengerjap. "Ada sih, bakso yang kemarin saya makan bareng Mbak Maria. Tapi Bapak kan nggak suka tempat yang gerah..."

"Ya kamu cari tempat yang bikin saya nggak gerah dong," potong Pak Han cepat, membuat Felicia hanya bisa menghela napas.

Begitu masuk ke dalam mobil, Felicia kesulitan menaruh kakinya. Di jok belakang dan sebagian jok depan, bertumpuk kantung belanja dan kardus-kardus khas oleh-oleh Semarang—mulai dari Wingko Babat, Bandeng Presto, sampai bungkusan dari butik ternama.

"Pak... ini Bapak mau buka cabang toko oleh-oleh di kantor?" tanya Felicia takjub.

Pak Han menghidupkan mesin mobil, wajahnya sedikit memerah. "Itu punya kamu semua. Ambil aja."

Felicia melongo. "Semua ini? Buat saya? Pak, ini mah bisa buat makan orang sekantor!"

"Saya nggak tahu kamu suka apa," gumam Pak Han sambil mulai menjalankan mobilnya keluar dari parkiran. "Jadi, daripada saya bingung dan bolak-balik mikir di depan toko, saya beli saja semuanya yang kelihatan enak. Ada beberapa baju dan tas juga di kantung yang hitam. Saya rasa warnanya cocok buat kamu."

Felicia mengintip ke dalam salah satu kantung belanja. Isinya bukan main-main. "Pak, ini harganya pasti mahal banget. Saya nggak enak nerimanya..."

"Anggap aja itu bonus karena kamu udah menjaga operasional kantor selama saya pergi," ucap Pak Han dengan cepat.

Ia melirik Felicia dari sudut matanya, melihat binar bahagia di wajah asistennya itu. "Lagipula, saya nggak mau lihat kamu pakai sandal jepit pinjaman lagi. Di dalam sana ada flatshoes yang lebih sopan. Pakai itu kalau kaki kamu capek."

Felicia tertawa kecil, hatinya terasa jauh lebih hangat daripada cuaca siang itu. "Terima kasih ya, Pak. Ternyata Bapak kalau kesepian di luar kota jadinya malah hobi belanja ya?"

"Bukan hobi belanja," sahut Pak Han pelan, hampir tak terdengar di antara deru mesin mobil. "Tapi, setiap saya lihat sesuatu yang bagus, saya langsung kepikiran kamu."

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!