Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.
Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.
Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Latihan dan Rivalitas
Hari-hari berikutnya adalah siksaan yang terstruktur. Lin Xia tidak membuang waktu. Jadwal Kaelen sekarang:
· Fajar hingga matahari terbit: Meditasi Qi intensif di Ruang Energi Berdensitas Tinggi Menara Formasi.
· Pagi: Kelas teori tentang teknik lanjutan dan sejarah sekte dengan murid luar lainnya.
· Siang: Latihan fisik dan sparing di bawah pengawasan pelatih terberat sekte, Master Borin.
· Sore: Studi dan praktik formasi dengan Lin Xia di Menara Formasi.
· Malam: Latihan pribadi dan kultivasi di asrama.
Lin Xia juga memberinya ramuan khusus—"Elixir Akar Bintang"—yang mempercepat penyerapan Qi tetapi datang dengan efek samping: rasa sakit seperti tulang terbakar selama proses penyerapan. Kaelen menahannya, menggunakan rasa sakit itu untuk mempertajam fokusnya.
Di Ruang Energi Berdensitas Tinggi, Kaelen membuat terobosan. Ruangan itu adalah ruang tertutup dengan formasi yang mengumpulkan energi langit bumi sepuluh kali lebih padat daripada di luar. Di sana, dia tidak hanya menyerap Qi; dia bereksperimen. Dengan pemahaman Hukum Dasar, dia mencoba menyerap energi tidak hanya melalui meridian, tetapi langsung melalui setiap sel tubuhnya. Prosesnya lebih efisien, meski lebih menyakitkan. Dalam dua minggu, dia mencapai puncak Lapis Kedua dan menembus Lapis Ketiga Qi Gathering.
Master Borin, pelatih fisik, adalah mantan prajurit dengan bekas luka di wajah dan kesabaran yang tipis. "Kau lemah, lambat, dan tidak terkoordinasi!" teriaknya saat Kaelen gagal melakukan serangkaian gerakan senam dengan sempurna. Tapi di balik kekasaran itu, ada keahlian sejati. Borin mengajarinya "Seni Baja Menari", teknik tubuh yang mengubah kekuatan fisik menjadi gerakan yang efisien dan mematikan.
Sparing dengan murid lain adalah tantangan tersendiri. Arlan, yang masih berusaha membuktikan dirinya, sering meminta Kaelen sebagai lawan. Dalam satu pertarungan, Arlan menggunakan teknik keluarga yang dia sembunyikan sebelumnya—"Cakar Elang Berapi"—serangan yang menggabungkan kecepatan dan kekuatan api.
Kaelen nyaris kalah, tetapi dalam keadaan terdesak, naluri dari fragmen kedua (es) muncul. Tanpa sadar, dia mengeluarkan lapisan udara dingin yang memperlambat serangan Arlan, memberinya waktu untuk menghindar. Itu hanya bertahan sepersekian detik, tapi cukup bagi Kaelen untuk membalikkan keadaan dan menjatuhkan Arlan.
Ruang latihan menjadi sunyi. Semua orang tertegun—termasuk Kaelen sendiri. Dia tidak bermaksud menggunakan elemen es; itu muncul begitu saja.
Master Borin mendekat, matanya menyipit. "Apa yang baru saja kau lakukan?"
"Aku... aku tidak yakin," kata Kaelen dengan jujur. "Itu seperti naluri."
Borin mengangguk pelan. "Beberapa orang memiliki bakat elemen bawaan. Mungkin kau memiliki afinitas dengan es. Tapi berhati-hatilah—mengungkapkan bakat elemen terlalu dini bisa membuatmu menjadi target."
Arlan bangkit, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Jadi kau menyembunyikan kekuatanmu selama ini."
"Tidak," kata Kaelen. "Aku benar-benar tidak tahu aku bisa melakukan itu."
Tapi Arlan tidak percaya. Dari hari itu, persaingan mereka berubah menjadi permusuhan diam-diam.
Di Menara Formasi, Lin Xia semakin tertarik dengan bakat Kaelen. "Afinitas elemen adalah langka. Jika kau benar-benar memiliki afinitas es, itu bisa menjadi aset besar. Tapi kau harus belajar mengendalikannya." Dia mulai mengajarinya dasar-dasar manipulasi elemen es, meski Lin Xia sendiri adalah spesialis angin.
Kaelen belajar dengan cepat. Dalam sebulan, dia bisa membuat lapisan es tipis di tangannya, dan dalam dua bulan, dia bisa membentuk paku es kecil untuk serangan jarak jauh. Tapi yang lebih penting, dia belajar menyembunyikan kemampuan ini—menggunakan teknik penyamaran yang dia kembangkan sendiri.
Suatu sore, saat mereka sedang mengerjakan formasi pendingin, Lin Xia tiba-tiba bertanya, "Apa yang kau ketahui tentang 'Matahari Terbit dan Bulan Sabit'?"
Kaelen hampir menjatuhkan kristal yang dipegangnya. Itu adalah simbol di medali Alaric yang diberikan Lio. "Tidak banyak. Mengapa?"
"Itu adalah simbol dari organisasi kuno yang disebut 'Liga Penjaga Portal'. Mereka ada sebelum sekte ini berdiri, dan mereka adalah penjaga portal antar-dunia yang pertama. Legenda mengatakan mereka menghilang ribuan tahun yang lalu, tapi beberapa orang percaya mereka masih ada, bersembunyi." Lin Xia memandangnya. "Aku melihatmu memakai liontin dengan simbol itu."
Kaelen menyentuh liontin di bawah bajunya—hadiah perpisahan dari Lio. Dia tidak menyadari Lin Xia memperhatikannya. "Ini peninggalan keluarga. Aku tidak tahu artinya."
"Mungkin," kata Lin Xia, tidak sepenuhnya percaya. "Tapi berhati-hatilah. Beberapa elder sekte memiliki pendapat negatif tentang Liga. Mereka percaya Liga bertanggung jawab atas beberapa bencana portal di masa lalu."
Pertanyaan baru muncul di benak Kaelen. Apa hubungan Lio dengan Liga Penjaga Portal? Apakah Lio adalah anggota? Dan apa hubungannya dengan fragmen Jiwa Primordial?
Dua bulan berlalu. Kaelen sekarang stabil di Lapis Ketiga tengah, dan kemampuan formasi serta elemen es-nya berkembang pesat. Dia juga mulai mendapatkan pengakuan dari beberapa murid lain—tidak sebagai "beruntung", tetapi sebagai pekerja keras yang berbakat.
Tapi kemudian, insiden lain terjadi.
Suatu malam, saat Kaelen sedang berlatih sendirian di hutan dekat sekte, dia diserang. Bukan oleh manusia, tapi oleh sebuah konstruk—boneka tempur kayu yang diaktifkan oleh formasi, diprogram untuk menyerang. Konstruk itu kuat, setara dengan Lapis Keempat, dan menyerang dengan presisi mematikan.
Kaelen bertarung sekuat tenaga, menggunakan semua yang telah dipelajarinya. Tapi konstruk itu terlalu kuat. Saat dia terpojok, seseorang turun dari pohon—seorang murid inti yang tidak dikenal, dengan senyuman dingin.
"Murid luar seharusnya tahu tempatnya," kata murid itu. "Berhenti menarik perhatian Senior Lin, atau serangan berikutnya tidak akan menggunakan boneka latihan."
"Kau siapa?" tanya Kaelen, napasnya terengah.
"Penyampai pesan. Ada orang yang tidak suka melihat sampah naik terlalu cepat." Murid itu mengumpulkan konstruknya dan pergi, meninggalkan Kaelen yang terluka.
Kaelen kembali ke asrama dengan luka memar dan pesan yang jelas: ada yang mengawasinya, dan tidak semua orang senang dengan kemajuannya. Mungkin Arlan, mungkin rival Lin Xia, mungkin seseorang yang terkait dengan Ordo.
Dia melaporkan insiden itu kepada Lin Xia keesokan harinya. Wajah Lin Xia menjadi gelap. "Itu pasti faksi Elder Kwan. Dia dan aku bersaing untuk posisi kepala departemen formasi. Dia mungkin melihatmu sebagai asetku dan ingin melemahkanmu."
"Jadi apa yang harus kulakukan?"
"Kau harus lebih kuat lagi," kata Lin Xia. "Dan kau harus menunjukkan nilaimu secara terbuka, sehingga menyerangmu akan terlalu berisiko. Kompetisi kecil akan diadakan bulan depan—'Turnamen Bulan'. Itu untuk semua murid, luar dan inti. Jika kau bisa menonjol di sana, statusmu akan lebih aman."
Kaelen mengangguk. Satu bulan lagi. Dia harus mencapai Lapis Keempat sebelum itu.