Adven Mahardhika Alkhatiri, seorang lelaki yang penuh rahasia dalam hidupnya. Bahkan keberadaan anaknya juga menjadi rahasia dan teka teki tersendiri untuk keluarga Alkhatiri yang begitu terpandang.
Rahasia besar apakah yang selama ini dia simpan? dan mampukah dia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya terhadap seorang perempuan bernama Sukma Paramitha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02 ( Pertemuan )
Semangat Sukma, kamu pasti bisa!" ucap Sukma yang sedang menyemangati dirinya sendiri di depan sebuah gedung yang akan jadi tempat dia melakukan wawancara kerja.
Dia melangkah masuk dan bertanya pada resepsionis kantor tentang wawancara kerja hari itu dan Sukma di minta untuk ke lantai tiga, tempat di mana wawancara itu dilakukan. Sukma yang gugup terus saja menghela nafasnya, bahkan sesekali dia memeriksa kembali penampilannya di handphone jadul yang dia punya agar terlihat rapi.
Beberapa orang yang juga ikut wawancara terus cekikikan karena melihat Sukma yang memakai handphone jadul, bahkan penampilan Sukma yang bisa di bilang pendek juga membuat mereka mengira kalau Sukma adalah lulusan SMA yang ingin langsung kerja.
"SMA nya di mana dek?" tanya seorang lelaki yang akan melamar jadi office boy
"Di SMA Chandra Mukti kak" jawab Sukma
"Jauh juga ya dari sini, kamu tinggal di mana?" tanyanya
"Aku tinggal di gang dekat toko roti Safira, pernah kerja di sana juga tapi terpaksa berhenti karena orang tua sakit, pas mau masuk lagi lowongannya sudah terisi" jawab Sukma
"Tidak apa apa, semoga di sini diterima ya, kakak juga butuh pekerjaan ini untuk biaya kuliah adik kakak" ucapnya
"Aamiin, adik kakak kuliah di mana?" tanya Sukma
"Dia dapat beasiswa pendidikan, tapi tidak secara penuh karena uang transportasi dan uang jajan tetap harus kakak tanggung, dia kuliah di universitas Smith" jawabnya
"Saya juga lulusan dari sana tahun lalu" ucap Sukma membuat orang itu terkejut bahkan yang lain yang mendengarkan percakapan mereka.
"Yang benar?" tanyanya tak percaya
"Iya, ini semuanya ada di map ini, ijazah, KK, KTP, surat keterangan berkelakuan baik juga ada di dalam" jawab Sukma
"Usia kamu berapa tahun?" tanyanya
"Dua puluh dua tahun" jawab Sukma
"Nama kakak siapa?" tanya Sukma
"Arifin" jawabnya terlihat senang karena ternyata Sukma tidak terlalu jauh usianya dengan dirinya.
"Saya Sukma" balas Sukma menjabat tangan Arifin.
Satu persatu orang sudah di panggil, bahkan Sukma sudah di wawancara juga dan semua pertanyaan bisa di jawab dengan baik oleh Sukma. Dia juga di tes membuat kopi dengan mesin, ada beberapa orang yang tidak biasa menggunakan itu, tapi karena Sukma pernah bekerja sebagai barista juga di sebuah kafe yang juga menyediakan makanan manis, jadi Sukma bisa membuatnya dengan mudah.
"Kamu pernah bekerja sebagai barista ternyata" ucap salah satu tim HRD
"Iya pak, di sebuah kafe dan toko roti" jawab Sukma
"Kenapa mengundurkan diri?" tanyanya sambil terus meriksa riwayat kerja Sukma
Dia juga sempat terkejut karena Sukma seorang lulusan S1 jurusan administrasi perkantoran, tapi jika melihat tinggi Sukma, dia tidak cocok menjadi seorang sekertaris. Karena kantor itu juga membutuhkan sekertaris baru untuk sang direktur setelah kemarin sekretarisnya di pecat karena salah memberikan jadwal kerja direktur yang terkenal perfeksionis di perusahaan itu.
"Saat itu kedua orang tua saya kecelakaan dan sakit cukup lama, jadi saya merawat keduanya, tapi mereka meninggal setelah dua bulan di rawat di rumah sakit pak" jawab Sukma
"Kecelakaan?"
"Tabrak lari pak" jawab Sukma menunduk
"Saya turut berdukacita" Ucapnya dan Sukma mengangguk
"Kamu boleh keluar, wawancara sudah selesai dan nanti akan di beritahukan kalau kamu diterima atau tidaknya, melalui nomor yang sudah tercatat di formulir kamu" ucapnya
"Sekali lagi terima kasih pak" ungkap Sukma sopan menjabat tiga orang yang mewawancarainya.
"Dia cukup kompeten untuk posisi sekertaris pak direktur, tapi melihat direktur kita yang perfeksionis, apa dia mau menerima Sukma?" tanya salah seorang dari mereka ketika Sukma sudah keluar.
"Iya, kamu benar, direktur kita sedikit aneh, tapi kinerja dia juga bagus, kemarin saja dia kehilangan proyek karena ulah sekertaris yang di pilih orang tuanya" jawab yang lain
"Simpan saja di tumpukan pelamar sekertaris, kalau di tolak jadi sekertaris, biar saya yang terima dia jadi office girl di sini, dia sepertinya cekatan juga" ucap satu lagi dan mereka setuju.
Di luar gedung Alkatiri konstruksi, Sukma bertemu lagi dengan Arifin, dia mengajak Sukma untuk pulang bersama tapi Sukma mengatakan kalau dia membawa motor miliknya, sekalian akan membeli beberapa perlengkapan mandi di mini market.
"Hei kakak, tolong ambilkan mainan Axel di atas sana" panggil seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun yang sedang melompat lompat ingin mengambil layangan miliknya yang tersangkut di atas pos satpam.
"Loh ko kamu bisa ke sini? Orang tua kamu di mana? Kenapa main layangan di sini" ucap Sukma menghampiri anak itu.
"Mau main layangan tapi nyangkut" jawabnya memelas.
"Aduh kakak juga tidak sampai, badan kakak pendek, tunggu kakak cari tangga dulu" ucap Sukma dan anak bernama Axel itu mengangguk.
"Kamu duduk saja di dalam pos ya supaya tidak panas, ini ada camilan, titip tas kakak sekalian ya" ucap Sukma lagi dan Axel mengangguk lagi.
Dia duduk di dalam pos satpam dengan anteng sambil memakan cemilan yang di berikan Sukma, tak lama satpam datang bersama Sukma sambil membawa tangga untuk mengambil mainan Axel dan Axel terlihat senang.
"Om Doyok, ambilkan layangan Axel tadi nyangkut di genteng, kakak ini tidak bisa karena dia juga masih kecil" celetuk Axel
"Eehhh.. Kakak sudah besar ya" gerutu Sukma
"Anak ini memang usil non, harap di maklum, biar saya ambilkan mainannya" ucap Doyok
"Habis ini kamu pulang ya, nanti orang tua kamu khawatir" ucap Sukma membuat Axel menunduk
"Kenapa? Cemilannya habis?" tanya Sukma
"Axel itu nggak punya mama sejak kecil Axel nggak tahu siapa mama Axel" jawab Axel
"Ya ampun, maafin kakak ya, kakak tidak bermaksud membuat kamu sedih" ungkap Sukma merasa tidak enak hati
"Hiks... Hiks.. Huaaaaa"
Axel malah menangis kencang karena dia jadi ingat dengan ibunya, membuat Sukma panik begitupun Doyok yang baru turun mengambil layangan Axel.
"Aduh neng, den Axel kenapa nangis?" tanya Doyok
"Saya tidak tahu pak, tadi saya cuma minta anak ini untuk pulang karena takut orang tuanya cari dia, tapi ternyata Axel ibunya sudah meninggal" jawab Sukma menggendong Axel agar dia tidak menangis lagi
"Maafkan Tante ya, Tante tidak tahu kalau mama kamu sudah tidak ada, kamu jangan menangis, kamu masih punya banyak orang yang menyayangi kamu" bujuk Sukma mengusap punggung Axel yang masih bergetar
"Hiks.. Axel suka di peluk seperti ini, tapi Daddy tidak pernah peluk Axel" adu Axel
"Kasihan sekali kamu nak, tidak apa apa, kamu bisa peluk kakak" ucap Sukma
"Gimana caranya?" tanya Axel yang sudah berhenti menangis
"Hehe... Iya juga ya, gimana caranya" jawab Sukma cengengesan
"Non kerja di sini?" tanya Doyok
"Saya baru wawancara jadi Office girl di sini pak, kalau di terima Kita bisa bertemu di sini pas istirahat makan siang, tapi kamu jangan kabur ya, bilang Daddy kamu itu dulu" ucap Sukma yang mengira mungkin Axel adalah anak dari salah seorang pemilik kafe yang ada di dekat gedung perusahaan itu.
"Besok ada?" tanya Axel
"Sepertinya di hubungi setelah satu minggu, tapi kalau kakak tidak di terima, hari Senin depan, kakak akan titipkan kue bolu untuk kamu di pos pak Doyok ya" jawab Sukma
"Lama, tapi tidak apa-apa Axel akan tunggu kakak di sini Senin depan" jawab Axel
"Bagus, kamu jangan lari ke jalan raya, jangan panas panasan juga supaya tidak sakit, dan ijin dulu kalau mau main ke sini ya" ucap Sukma dan Axel mengangguk
Sukma pamit pergi, tapi sebelum pergi Axel meminta Sukma untuk memeluknya lagi karena dia sangat suka di peluk perempuan bertubuh mungil itu yang lebih mirip anak SMP di banding seorang perempuan dewasa.
"Dadah kakak"
"Loh den, ini map non yang tadi ketinggalan" ucap Doyok hendak menyusul Sukma tapi di tahan Axel.
"Ish.. Pak Doyok jangan kasih lagi, itu punya Axel bukan punya kakak.... Yah... Axel lupa tanya namanya tadi" keluh Axel menepuk jidatnya.
"Oh, pak Doyok pikir ini punya den Axel, ayo kalau begitu saya antar ke ruangan pak Adven" ucap Doyok menuntun Axel dan memegang layangan Axel.
"Daddy belum kembali dari meeting, bawa Axel ke ruangan Om Adam saja pak" ucap Axel masih memeluk map milik Sukma dengan erat.
"Baik kalau begitu den" jawab Doyok
Sampai di depan lift khusus direktur, Doyok langsung masuk sambil menggendong Axel ke ruangan Adam yang merupakan kakak dari Adven dan menjabat sebagai manager keuangan perusahaan tersebut.
Brak.
"Astaga Axel, kanapa kamu membuka pintunya dengan kasar nak" keluh Adam dan Axel masuk dengan wajah cemberut dan langsung duduk di pangkuan Adam.
"Saya pamit kembali ke pos pak" pamit Doyok
"Iya pak, terima kasih sudah menjaga Axel" jawab Adam dan Doyok mengangguk.
"Kenapa hmm?" tanya Adam mengusap rambut ikal Axel
"Daddy lama, padahal Axel mau memperlihatkan nilai Axel yang seratus pada Daddy" jawab Axel
"Ya ampun Om lupa, Daddy kamu langsung pulang karena tadi katanya bertemu Tante Monica di kafe tempat mereka meeting, jadi Daddy kamu mengantar Tante Monica pulang sekalian" jawab Adam dan Axel hanya bisa menghela nafasnya panjang.