NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cowok di Halte Itu

Pagi itu… kelihatannya biasa saja.

Matahari terbit seperti biasa. Udara masih menyisakan dingin malam. Jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang sibuk mengejar mimpi masing-masing.

Semua terlihat normal.

Tapi bagi Siska…

pagi itu adalah awal dari sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.

Siska berdiri di halte kecil pinggir jalan. Tangannya memeluk tas kain cokelat tuanya—tas yang sudah menemaninya bertahun-tahun.

Isinya sederhana.

Dompet tipis.

HP lama dengan layar retak di sudut.

Botol minum.

Dan buku catatan kecil yang selalu ia bawa ke mana pun.

Penampilannya pun tak istimewa.

Kemeja krem polos. Celana hitam yang warnanya mulai pudar. Rambut diikat rapi. Tanpa makeup—hanya lip balm tipis.

Siska memang bukan tipe gadis yang suka jadi pusat perhatian.

Sejak kecil hidupnya biasa saja. Orang tuanya tidak kaya, tapi cukup terpandang di lingkungan rumah.

Dan ada satu kalimat yang terus terngiang di telinganya sejak remaja:

“Kalau cari pasangan, pilih yang jelas masa depannya.”

Kalimat itu seperti rekaman rusak. Terus berputar.

Siska melirik jam di ponselnya.

“Ya ampun… jangan sampai telat lagi,” gumamnya.

Kalau terlambat, ia harus siap menerima tatapan dingin atasannya. Tatapan tanpa omelan… tapi cukup membuat siapa pun ingin menghilang.

“Permisi.”

Siska menoleh.

Di sampingnya berdiri seorang pria dengan kardus kecil di tangan. Ia tampak sedikit kikuk. Kaos abu-abu dan jaket hitam tipis yang terlihat sering dicuci. Wajahnya bersih, rahangnya tegas… tapi ada lelah yang tak bisa disembunyikan dari matanya.

“Iya?” jawab Siska sopan.

“Ini sepertinya jatuh dari tas Mbak.”

Buku catatan kecilnya.

Siska langsung membelalak.

“Eh?! Ya ampun! Terima kasih! Aku nggak sadar…”

Pria itu hanya mengangguk kecil.

“Tadi waktu Mbak geser.”

Siska tersenyum canggung. “Untung Mas lihat. Kalau nggak, aku bisa panik seharian.”

Harusnya selesai di situ.

Dua orang asing. Saling membantu. Lalu kembali jadi orang asing.

Tapi entah kenapa… Siska merasa ingin berbicara lebih lama.

“Mas juga nunggu bus ke pusat kota?”

“Iya.”

“Sama,” Siska tersenyum.

Mereka berdiri berdampingan. Tidak banyak bicara. Hanya sesekali melirik jalan atau menatap layar ponsel.

Anehnya… tidak canggung.

Bus datang. Penuh seperti biasa.

Mereka berdiri berpegangan pada tiang yang sama. Bus berjalan pelan menembus kemacetan.

Beberapa menit hening.

“Nama saya Kevin,” ucap pria itu tiba-tiba.

Siska menoleh, sedikit terkejut.

“Siska.”

Kevin tersenyum tipis. Tidak dibuat-buat.

Dan tanpa mereka sadari… semuanya mulai dari sana.

Awalnya hanya kebetulan.

Bertemu lagi keesokan harinya. Lalu lusa. Lalu hari-hari berikutnya.

Seperti jadwal tak tertulis.

“Tumben nggak bawa buku hari ini?” tanya Kevin suatu pagi.

“Lagi malas nulis,” jawab Siska. “Mas sendiri? Kardus terus. Isinya apa sih?”

Kevin tertawa pelan.

“Kadang sparepart. Kadang pesanan orang. Tergantung lagi dapat kerjaan apa.”

Siska bekerja sebagai staf admin di kantor kecil. Mengurus data dan laporan yang tak ada habisnya.

Kevin?

Ia bekerja apa saja yang bisa dikerjakan.

Gudang. Bengkel. Angkut barang.

Capek? Pasti.

Mengeluh? Tidak pernah.

Suatu sore, wajah Kevin terlihat lebih kusut dari biasanya.

“Capek banget ya?” tanya Siska.

Kevin tersenyum. “Lumayan. Tapi ya… masih hidup.”

Siska tertawa kecil.

Dan entah sejak kapan… pagi bukan lagi soal berangkat kerja.

Tapi soal kemungkinan bertemu Kevin.

Ia hafal suara langkahnya. Cara Kevin memanggil namanya. Senyumnya yang setengah malu.

Dan Kevin pun merasakan hal yang sama.

Siska berbeda.

Ia tidak pernah bertanya gaji.

Tidak pernah membandingkan dengan pria mapan.

Tidak pernah membuatnya merasa kecil.

Bersama Siska… Kevin merasa cukup.

Padahal dunia sering mengatakan ia kurang.

Suatu sore, hujan turun deras.

Mereka berteduh di bawah atap kecil dekat halte. Air memercik ke mana-mana.

“Sepertinya lama ini,” kata Kevin menatap langit.

“Sekali-kali pulang malam nggak apa-apa,” jawab Siska santai.

Hening.

Hanya suara hujan.

Kevin menarik napas panjang.

“Sis… aku mau ngomong serius.”

Jantung Siska berdebar.

“Aku nggak punya apa-apa,” ucap Kevin pelan. “Hidupku biasa saja. Kadang bahkan kurang. Tapi kalau kamu nggak keberatan… aku ingin lebih dari teman.”

Siska terdiam.

Ini bukan hanya soal perasaan.

Ini soal masa depan.

“Kamu bisa kasih apa?” tanyanya pelan.

Kevin menatapnya lurus.

“Usaha. Kejujuran. Kesetiaan. Aku nggak bisa janji hidup mewah. Tapi aku akan kerja sekeras mungkin.”

Sederhana.

Tapi tulus.

Siska tersenyum. Matanya terasa hangat.

“Itu sudah cukup.”

Kevin membeku. “Serius?”

“Kamu kira aku cari sultan?” Siska tersenyum.

Kevin tertawa kecil.

Dan di bawah hujan deras itu… mereka resmi bersama.

Tak ada makan malam mahal.

Tak ada hadiah bermerek.

Kencan mereka? Jajan kaki lima. Duduk di taman. Mengobrol sampai lupa waktu.

Sederhana.

Tapi bahagia.

Sampai akhirnya… orang tua Siska tahu.

“Dia kerja apa?” tanya ibunya dingin suatu malam.

“Dia kerja keras, Bu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Serabutan… kadang di gudang, kadang di bengkel.”

Ibunya menghela napas panjang.

“Kami cuma ingin kamu hidup layak,” ujar ayahnya pelan.

“Layar menurut siapa?” balas Siska tanpa sadar.

“Menurut kenyataan,” jawab ibunya tegas.

“Cinta saja tidak cukup.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.

Sejak malam itu, rumah tak lagi terasa sama. Perbandingan mulai muncul. Tekanan semakin berat.

Siska menangis diam-diam.

Kevin tahu semuanya.

Suatu malam mereka duduk di bangku taman.

“Kalau kamu capek… dan mau mundur… aku nggak akan menahanmu,” kata Kevin.

Siska langsung menoleh.

“Kamu menyuruhku pergi?”

“Aku cuma nggak mau kamu menderita karena aku.”

Siska menggeleng.

“Aku memilih kamu.”

Kevin menatapnya lama.

“Yakin?”

“Yakin. Jangan suruh aku memilih lagi.”

Mereka tahu jalan di depan tidak mudah. Restu belum ada. Uang belum stabil. Masa depan masih abu-abu.

Tapi malam itu… mereka tetap saling menggenggam.

Tanpa tahu…

keputusan sederhana itu akan membawa luka, penyesalan, dan rahasia besar yang belum pernah mereka bayangkan.

Dan semuanya…

berawal dari halte kecil itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!