Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Kecemburuan
Dengan pikiran yang berbeda, mereka berjalan beriringan menuju toko sepatu yang tak terlalu jauh—masih satu lantai yang sama. Begitu masuk, kehangatan ruangan dan aroma khas yang sulit digambarkan menyambut mereka.
Semua sepatu tertata rapi di rak, beberapa digantung dengan apik. Namun Mawar berhenti di langkah pertamanya. Dengan ragu, ia menoleh. “Kakak mau beli sepatu yang seperti apa?” tanyanya, masih belum menangkap maksud di balik ajakan Gerard.
Pertanyaan itu memantik ide dalam pikiran Gerard. Ia berhenti sejenak, merangkai jawaban yang dapat menyamarkan niat aslinya. “Oh, kamu bisa kasih rekomendasi nggak? Aku mau beliin adik perempuan. Dia itu cantik, sih, jadi apa pun pasti cocok. Tapi mungkin kamu tahu kriteria yang pas buat perempuan?” ujarnya dengan nada ringan.
Alasan itu terdengar masuk akal dan mudah diterima. Dengan polosnya, Mawar mengangguk mantap. Tanpa ragu, ia memandu Gerard menjelajahi toko, beberapa kali berhenti untuk melihat-lihat, lalu menggeleng pelan, dan kembali berjalan tanpa sepatah kata pun.
Gerard tak benar-benar paham, ia hanya mengikuti langkah Mawar tanpa mengerti sepenuhnya tujuan pencariannya. Tapi di situlah ia melihat sesuatu yang lebih dari sekadar mencari barang—Mawar memilih dengan penuh perhatian, seolah sangat menghargai permintaan yang sebenarnya tak sepenuhnya tulus.
Mungkin Gerard memang punya adik, tapi itu laki-laki, bukan perempuan. Dan mereka sudah lama tak berhubungan karena suatu hal yang tak terucap. Namun yang pasti, sepatu ini adalah hadiah khusus untuk Mawar—tanpa sepengetahuannya.
Masih jelas dalam ingatan Gerard, saat mereka membeli ponsel tadi, Mawar dengan halus menolak ketika ia tawarkan untuk membelikannya sesuatu. Padahal, Mawar telah membantunya dengan tulus. Baginya, ini bukan sekadar balas budi, melainkan keinginan tulus untuk memberi—dan soal uang, ia sama sekali tak mempersoalkannya.
Setelah beberapa saat berkeliling tanpa kepastian, Gerard memberanikan diri bertanya. “Ngomong-ngomong, kamu lagi cari sepatu yang seperti apa? Dari tadi kita sudah lewati banyak model, kan?” tanyanya dengan hati-hati, memperhatikan betapa fokusnya Mawar dalam memilih.
Tanpa menoleh sedikit pun, Mawar menjawab dengan suara yang rendah namun jelas. “Karena adik kakak cocok dengan apa pun, kita bisa anggap dia tipe yang stylish. Di pikiranku, ada satu jenis sepatu yang bisa dipakai kapan saja, dengan gaya apa pun, dan tetap terlihat bagus. Jadi, aku lagi cari sejenis sneakers…” penjelasannya terhenti, dan tiba-tiba matanya terbelalak.
Senyum lebar merekah di wajah Mawar. Dengan cekatan, ia meraih sepasang sepatu dari rak, memandanginya seperti sedang memilih permata. Dari reaksinya yang begitu antusias, Gerard mengira pencarian akhirnya usai. Ia pun tak ingin mengganggu momen itu, hanya diam mengamati.
Dengan tangan yang sedikit bergetar penuh semangat, Mawar memegang sepatu itu dengan mata berbinar. Sepasang sneakers berwarna putih bersih, dengan sentuhan pastel lembut di sisi dan tumit—kombinasi yang terlihat begitu pas, seolah memang didesain untuknya.
Gerard mengangguk pelan, gambaran yang muncul di pikirannya semakin jelas. Sepatu itu tampak sederhana namun elegan, material luarnya halus, garis desainnya rapi tanpa berlebihan, memberikan kesan sporty namun tetap modern.
Pada momen itu, Mawar menoleh perlahan ke arah Gerard. Pria itu sudah mengacungkan jempol, satu matanya berkedip, memberikan tanda “setuju” yang langsung disambut dengan senyum cerah Mawar. Ia tampak begitu puas.
Akhirnya, itulah keputusan terakhir. Pencarian pun berakhir dengan damai, dan satu barang belanjaan lagi bertambah di tangan mereka. Dengan perasaan yang jauh lebih ringan, mereka memutuskan untuk pulang.
“Pulang, yuk?” ajak Gerard lembut.
Mawar mengangguk kecil. “Ayok!”
Namun di tengah perjalanan, tanpa sengaja tubuh Gerard bersenggolan dengan seorang pria. Tanpa benar-benar memperhatikan wajahnya, ia buru-buru meminta maaf. “Maaf, Mas!” lalu kembali melangkah bersama Mawar yang tiba-tiba mengernyit, matanya beralih dari Gerard ke pria itu, lalu kembali lagi.
Menyadari langkah Mawar terhenti, Gerard memanggil namanya. “Hey, Mawar!” Panggilan itu cukup untuk menyadarkannya dari lamunan. Ia tampak linglung sejenak, sebelum akhirnya kembali ke dirinya yang biasa dan tersenyum kikuk.
“Maaf, kak! Tadi aku cuma kaget aja… kalian mirip banget kayak doppelganger!” celetuknya, lalu kembali berjalan.
Istilah asing itu sempat membuat Gerard berpikir sejenak, tapi ia memutuskan untuk tidak memperdulikannya. Lagipula, itu bukan hal yang penting untuk dipusingkan… ‘kan?
*•*•*
Di sudut lain kota yang ramai, Andy membiarkan jasnya dirapikan oleh Linda, istrinya, sambil memperhatikan wajahnya yang tak pernah kehilangan pesona. Tapi ia menyimpan pikiran itu jauh di dalam, hanya menunjukkan senyum tipis yang terasa aneh di mata Linda.
Setelah momen itu berlalu, Andy menatap sekeliling, ekspresinya berubah sedikit sebelum menoleh ke istrinya. "Ma, Mawar ke mana? Ayah lihat dia belum muncul lagi. Biasanya kan suka minta jajan," tanyanya dengan nada heran.
Linda yang mendengar itu tersenyum tipis, hampir terkekeh, mengingat apa yang terjadi sebelumnya. "Oh, itu tadi dia sibuk mikirin gebetannya, jadi Mama bilang: 'Kalau kepikiran seseorang, gerakin aja badanmu! Biar pikiran juga ikut jernih. Sekalian olahraga.' Terus dia milih lari pagi, deh," ujar Linda tanpa menyembunyikan apa pun.
Andy mengangguk paham, rasa cemburu kecil membuncah tapi berhasil ia tekan. Syukurlah, lebih baik dia jangan ketemu cowok dulu sekarang. Ngapain juga masih pagi udah sama orang yang nggak dikenal! pikirnya sambil merasa lega.
Sayang sekali, Andy. Anakmu sudah pergi bersama pria yang selalu kau kutuk dalam hati. Andai itu terjadi di depan matamu, pasti kepala terasa disambar petir, meledak, lalu kau berubah jadi singa yang siap mengaum seumur hidup pada orang yang tak bersalah.
Namun di sisi lain, ini justru kabar baik bagi Mawar karena ia bisa menghabiskan waktu bersama orang yang dikaguminya. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus mencuri pandang melalui spion motor, membekaskan wajah Gerard dalam ingatannya.
Untung banget bisa habiskan waktu sama Kakak! Semoga dia juga ngerasain hal yang sama! gumam Mawar di dalam hati yang sudah berbunga-bunga.
Setelah mereka tiba di kompleks—Andy sudah berangkat lebih awal—Gerard menghentikan motornya tepat di depan pagar. Namun di sana, pagar sudah terbuka lebar, memperlihatkan sosok wanita paruh baya yang sedang berusaha menutupnya.
Ketika tatapannya menangkap anaknya, lalu juga Gerard, ia tersenyum simpul. Sorot matanya menyiratkan sesuatu yang membuat kedua muda-mudi itu membeku, merasakan merinding yang didasari oleh ketakutan yang berbeda.
Inilah akhirnya… Gerard merasakan dadanya berdebar kencang.
Di belakangnya, wajah Mawar memucat. Aduh… Kenapa Mama ada di sini? Ayah… Ayah di mana?