Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah foto
Malam hari di kediaman Zahrin.
"Syad, Arsyad." Panggil pelan Arsyla kepada Arsyad.
"Hem." Jawab Arsyad malas karena Arsyla selalu begitu. Matanya sudah mengantuk tapi Arsyla masih saja mengajaknya bercerita.
"Tunggu, tunggu, Syad. Aku mencium aroma-aroma aneh." Arsyla yang mulai ngawur bicaranya.
"Aroma aneh?" Arsyad yang mencoba mengendus aroma memakai hidungnya. "Nggak ada."
"Bukan aroma beginian, Syad. Maksud aku, akhir-akhir ini semenjak mommy ditinggal Daddy. Aku tidak pernah melihat mommy marah-marah sama papa A. Sebentar-sebentar, aku ingat sesuatu." Arsyla yang mengambil beberapa foto dari laci meja nakas nya. "Lihat ini, Syad." Arsyla yang menunjukkan foto-foto Zahrin dengan Akhyar terdahulu.
"Dari mana kamu dapat album foto ini?" Tanya Arsyad terkejut.
"Dari rumah papa A."
Flashback on.
Ya, Arsyla tidak sengaja menemukan album foto yang tergeletak diatas meja saat keduanya menginap di rumah Akhyar. "Apa itu? Album foto?" Arsyla yang kemudian hendak membuka nya. Namun menutupnya kembali dan dengan segera lari ke bedroom karena Akhyar sepertinya terbangun malam itu.
Akhyar yang menuju bedroom Arsyad dan Arsyla. Menyelimuti Arsyla dan mengecup kening keduanya. Mematikan lampu dan kembali ke bedroom nya. Sementara Arsyla segera menyembunyikan album foto dalam tasnya dan sampai sekarang dia sendiri lupa ingin melihat isi didalamnya.
Flashback off.
"Yuk kita lihat, Syad! Aku juga lupa kalau aku simpan album ini." Arsyla yang kemudian membuka nya.
"Hah?" Keduanya sontak terkejut, karena melihat foto mommy nya dan papa A dalam satu frame dan tampak mesra.
"Ini kan mommy?" Arsyla menunjuk gambar mommy nya.
"Iya, ini juga papa A." Arsyad gantian menunjuk gambar Akhyar.
Arsyla mulai garuk-garuk pelipisnya. Melihat lebih dekat gambar tersebut dan sepertinya benar-benar itu adalah mommy Zahrin dan papa A.
"Kita nggak salah kan, Syad?" Arsyla meyakinkan dirinya kembali.
Arsyad yang mengangguk bahwa apa yang keduanya lihat itu adalah gambar Zahrin dan Akhyar.
Arsyla lalu melihat halaman berikutnya. Mulutnya menganga lebar karena bukan cuma satu, dua, atau tiga gambar saja. Tapi seluruh isi album foto itu adalah gambar Zahrin dan Akhyar sewaktu keduanya masih muda hingga berumah tangga. "Hah, mommy dan papa A semua." Semakin menambah pertanyaan di kepala Arsyla.
Baik Arsyad dan Arsyla saling bertatapan. Melihat satu per satu gambar Akhyar dan Zahrin yang mulai dia bandingkan dengan album foto di rumah nya yang baru diambil oleh Arsyla. "Kalau sama Daddy, semua di album itu setelah mommy menikah dengan Daddy. Nggak ada sama sekali di album ini foto mommy dan Daddy waktu masih muda." Arsyla yang tidak henti-hentinya memandangi satu persatu foto-foto dalam album tersebut.
"Iya." Jawab Arsyad yang setelahnya mengingatkan foto masa kecil keduanya. Karena keduanya menjumpai banyak foto masa kecilnya di album foto tersebut.
Arsyla hendak menyimpan album foto itu. Namun tidak sengaja satu foto terjatuh tengkurap di lantai. Arsyad yang mengingatkan kepada Arsyla jika ada foto yang terjatuh dan Arsyla mengambilnya. Sesaat kemudian Arsyla terkejut. Mulutnya menganga, matanya terbelalak. Jantungnya juga berdebar kencang melihat foto pernikahan mommy nya dan papa A.
"Kenapa?" Tanya Arsyad. Arsyla masih belum selesai dengan keterkejutannya. Arsyad segera mendekati Arsyla, diambil lah foto tersebut dari tangan Arsyla.
"Hah?" Arsyad juga tak kalah terkejutnya. "Jadi, mommy dan papa A..." Arsyad belum selesai bicara, Zahrin sudah memanggil nama Arsyad dan Arsyla dari balik pintu. Keduanya segera menyembunyikan semua album-album foto yang baru dilihat dengan cepat sebelum ketahuan oleh mommy nya.
"Lho kok belum tidur?" Zahrin yang melihat Arsyad dan Arsyla berpura-pura sibuk di depan meja belajarnya.
"Em, ini mau lihat jadwal buat besok mommy." Bohong Arsyla yang membuat Zahrin heran.
"Lihat jadwal? Besok kan hari Minggu dan kalian minta antar papa A untuk pergi ke makam Daddy." Zahrin mengingatkan Arsyla.
"Oh, iya, mommy. Maksud Arsyla jadwal buat hari Senin. Hehehe." Kilah Arsyla yang kemudian tertawa buat mengalihkan perhatian Zahrin supaya tidak terlalu curiga.
"Oh, yaudah sekarang sudah malam buruan tidur, gih!" Zahrin yang masih di bedroom anak-anak nya untuk membereskan beberapa mainan yang berserak di lantai. Sedangkan Arsyad dan Arsyla yang segera pura-pura tidur biar mommy nya segera pergi dari bedroom keduanya.
Keesokan harinya.
Akhyar yang pagi-pagi sudah sampai di rumah mereka.
"Bagaimana kaki kamu, Rin?" Tanya Akhyar pagi itu.
"Alhamdulillah sih, mas. Udah enakan."
"Iya, tukang pijit itu terkenal manjur, Rin. Makanya aku bawa kamu kesana supaya kaki kamu yang keseleo itu cepat sembuh. "Lho anak-anak mana?"
Zahrin yang menoleh ke arah Arsyad dan Arsyla yang baru saja menuruni anak tangga.
Anehnya baik Arsyad dan Arsyla tampak diam dan tak seceria biasanya. Salim ke Akhyar bergantian dan sesekali menatap mommy dan papa A nya setelahnya.
"Ada masalah?" Akhyar yang hafal betul dengan keduanya. Pagi itu tak seperti biasanya. Akhyar dapat menangkap keanehan itu. Arsyla yang biasanya memanggil nya heboh, memeluknya atau bahkan meminta gendong. Pagi itu kedua mulut Arsyad dan Arsyla bungkam. Entahlah apa yang terjadi? Pikir Akhyar.
Arsyad dan Arsyla menggeleng.
"Papa A kepagian ya? Jadi kalian masih mengantuk." Akhyar yang melihat jam tangan nya. Merasa bersalah jika datangnya mungkin lebih awal yang membuat Arsyad dan Arsyla tidak bersemangat pagi itu.
Jawaban keduanya tanpa bicara. Hanya gelengan kepala bersamaan yang dilakukan Arsyad dan Arsyla.
Akhyar masih berusaha mencari tahu ada apa dengan keduanya. Akhyar yang setengah berdiri mengimbangi tinggi Arsyla. "Lho, kan mau ke makam Daddy, tapi kok wajahnya cemberut?" Akhyar menatap lebih dekat Arsyla lalu berganti menatap Arsyad.
Kedua nya tanpa bicara juga. Hanya melebarkan senyum dan pakai kode mata yang membuat Akhyar tertawa kecil.
Setelahnya Akhyar bangkit. Geleng-geleng kepala kecil lalu dengan cepat berusaha menggelitik Arsyla yang kemudian Arsyla geli dan tak tahan yang akhirnya keduanya tertawa bersama.
"Papa A bilang juga apa? Kalian itu masih mengantuk kan? Makanya tidak ceria seperti biasanya." Akhyar yang masih menggoda Arsyad dan Arsyla.
Zahrin yang selesai ambil tas nya, mengajak mereka untuk segera berangkat ke makam Regi.
Baik Arsyad dan Arsyla tampak lebih diam. Sesekali memperhatikan mommy nya dan papa A nya secara bergantian. Sepertinya memang album foto semalam membuat Arsyad dan Arsyla penuh pertanyaan.
Selang tiga puluh menitan mereka sampai. Arsyad dan Arsyla yang sudah tidak sabar bertemu Daddy nya segera berlari. "Daddy, Arsyla kangen Daddy." Arsyla dengan wajah sedihnya.
"Arsyad juga, Daddy." Sahut Arsyad setelahnya.
"Arsyad dan Arsyla janji akan jadi anak yang pintar, nurut sama mommy dan nggak mau buat mommy marah-marah lagi." Lanjut Arsyla.
"Oh ya, Daddy. Arsyla kasihan sama mommy kalau terus-terusan sendirian. Ya kan, Syad?"
Arsyad manggut-manggut.
"Soalnya, kalau mommy sakit, mommy nggak ada yang merawat. Ambil obat sendiri, badannya kadang dipijitin sendiri. Ke rumah sakit juga sendiri. Arsyla kasihan sama mommy, Daddy." Cerita Arsyla pada Daddy nya yang sudah tiada, membuat Zahrin dan Akhyar yang berdiri tidak jauh dari Arsyad dan Arsyla seketika saling tatap-tatapan.
Akhyar yang hampir tidak percaya, sedangkan Zahrin yang malu di depan Akhyar mengapa Arsyla harus curhat demikian kepada Daddy nya. Membuat Zahrin memutuskan untuk segera mengajak anak-anak nya berdoa untuk Daddy nya, menabur bunga setelah itu pulang karena Zahrin dan Akhyar sudah merencanakan membawa Arsyad dan Arsyla ke Rante Rento. Melihat binatang sambil makan. Dan pasti keduanya akan senang.
Namun hal diluar dugaan Zahrin dan Akhyar. Arsyla meraih tangan Zahrin dan Arsyad meraih tangan Akhyar lalu menyatukan tangan keduanya. Zahrin cukup salah tingkah, bingung dengan anak-anak nya. Sementara Akhyar juga terkejut tapi Akhyar mencoba menunggu Arsyla berbicara.
"Arsyla tahu, kalau kalian pernah menikah."
Sontak membuat mata Akhyar dan Zahrin terbelalak menatap ke arah Arsyla.
Bersambung