Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.
Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.
Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:
Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.
Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Perahu akhirnya memperlambat laju.
Kabut tidak lagi tebal seperti sebelumnya, namun laut masih tampak gelap tanpa batas. Di kejauhan, bayangan daratan muncul samar — bukan kota, bukan pelabuhan besar, melainkan garis tepi pantai berbatu dengan struktur bangunan rendah yang nyaris menyatu dengan alam.
“Koordinat aman,” kata Lucian pelan sambil menatap layar. “Sinyal di area ini hampir tidak ada. Tempat yang sempurna untuk menghilang sementara ini.”
Lyra menatap ke depan.
“Tempat seperti ini benar-benar ada ya…saya kira hanya di cerita saja”
Kael menjawab tanpa menoleh,
“Tempat seperti ini tidak tercatat pada peta.”
Perahu merapat pada dermaga kecil tersembunyi di antara tebing batu. Tidak ada lampu terang. Hanya satu lampu redup di atas pintu logam besar yang tertanam di dinding batu.
Aidan turun lebih dulu, memeriksa area sekitar dengan cepat. Ia memberi isyarat aman.
Kael membantu Damian berdiri, namun sebelum pria itu sepenuhnya tegak, Lyra sudah berada di sisinya.
“Aku bisa jalan sendiri,” kata Damian pelan.
“Aku tahu,” jawab Lyra. “Tapi bukan berarti harus sendirian.”
Damian tidak membantah.
Mereka berjalan menuju pintu logam. Permukaannya dingin, tebal, tanpa tanda apa pun. Lucian menempelkan perangkat kecil di panel tersembunyi.
Pintu terbuka perlahan dengan suara mekanik berat.
Di dalamnya… dunia lain seperti berada di dongeng.
Lorong luas dengan dinding baja halus, pencahayaan hangat, dan sistem keamanan yang jelas jauh lebih canggih dari gudang sebelumnya. Udara bersih, tenang, terkendali.
Lyra berhenti sejenak.
“Oke… ini baru markas rahasia.”
Lucian tersenyum tipis.
“Selamat datang di rumah sementara yang tidak pernah ada di peta.”
Mereka masuk.
Pintu menutup di belakang dengan bunyi berat yang final.
---
Ruang Perawatan
Damian langsung diarahkan ke ruang medis kecil. Bersih, terang, dan peralatan yang lengkap.
Seorang pria paruh baya dengan kacamata tipis sudah menunggu di dalam.
“Luka tembak, kehilangan banyak darah, kelelahan ekstrem,” katanya tenang tanpa bertanya. “Aku sudah diberi tahu.”
Lyra menatap pria itu.
“Siapa dia?”
Kael menjawab singkat,
“Dokter tim.”
Damian duduk di kursi perawatan. Untuk pertama kalinya sejak pertempuran, ia benar-benar diam.
Lyra tetap di dekatnya saat perban diganti dan luka dibersihkan. Ia tidak berbicara, tapi matanya tidak pernah meninggalkan Damian.
Beberapa menit kemudian, dokter mengangguk kecil.
“Ia butuh istirahat. Tidak ada aktivitas berat.”
Lyra menyeringai tipis.
“Semoga dia mau mendengar.”
Damian meliriknya.
“Kau banyak bicara.”
Namun suaranya lemah — dan itu membuat nada dinginnya hampir tak terasa.
---
Ruang Kendali
Sementara itu, di ruang kendali utama, suasana jauh lebih tegang.
Kael berdiri di depan layar peta digital. Aidan berada di sampingnya. Lucian mengakses jaringan internal dengan kecepatan tinggi.
“bagaimana Hasilnya?” tanya Kael.
Lucian menjawab,
“Kelompok yang menyerang kita menggunakan taktik militer tingkat tinggi. Mereka bukan organisasi lokal. Mereka punya akses intelijen global.”
Aidan menambahkan,
“Mereka tidak mencoba membunuh. Mereka menguji dan mengejar kita.”
Kael menatap layar tanpa berkedip.
“Dan sekarang mereka tahu titik lemah kita.”
Hening jatuh.
Lucian akhirnya berkata pelan,
“Damian membuat keputusan emosional.”
Aidan menoleh sedikit.
“ityvBukan kebiasaannya.”
Kael tidak langsung menjawab. Namun satu kalimat akhirnya keluar.
“Emosi adalah celah.”
---
Ruang Istirahat
Lyra duduk di kursi dekat jendela kecil yang menghadap laut.
Di belakangnya, Damian berdiri perlahan setelah pemeriksaan selesai. Langkahnya masih berat, tapi lebih stabil.
Ia berjalan mendekat.
Untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri berdampingan dalam diam.
“Ini duniamu,” kata Lyra pelan.
Damian menatap laut di luar.
“Ini bagian darinya.”
Lyra menghela napas kecil.
“Kau tidak pernah ingin seseorang melihat semua ini, ya?”
Damian tidak menjawab langsung.
Namun akhirnya ia berkata,
“Semakin sedikit orang tahu… semakin aman mereka.”
Lyra menoleh padanya.
“Dan sekarang aku tahu.”
Tatapan mereka bertemu.
Hening panjang.
“Sekarang kau tidak bisa kembali,” kata Damian pelan.
Lyra tersenyum tipis.
“Aku sudah tahu itu sejak aku menendang penyerangmu malam itu.”
Sudut bibir Damian bergerak sangat kecil — hampir seperti bayangan senyum.
---
Sinyal Masuk
Tiba-tiba pintu terbuka cepat.
Lucian masuk dengan ekspresi serius — jauh dari santainya yang biasa.
“Kita punya pesan masuk,” katanya.
Kael dan Aidan langsung muncul di belakangnya.
“Dari siapa,” tanya Damian.
Lucian menatapnya.
“Raven.”
Hening menekan ruangan.
Lucian segera mengaktifkan layar proyeksi. Tidak lama kemusmdian Suara dingin dan tenang terdengar dari sistem komunikasi.
“Kau terlambat dua belas menit dari jadwal aman.”
Damian berdiri lebih tegak.
“Aku masih hidup.”
“Untuk saat ini,” jawab suara itu datar. “Dan kau membawa faktor tak terduga.”
Tatapan semua orang tanpa sadar mengarah ke Lyra.
Lyra mengangkat tangan kecil.
“Halo.”
Hening panjang di ujung komunikasi.
Lalu suara itu berkata pelan,
“Permainan telah berubah.”
Damian menatap layar tanpa berkedip.
“Jelaskan.”
“Musuh tidak hanya mengejarmu,” lanjut suara itu. “Mereka memicu sesuatu yang lebih besar. Dan pusatnya… ada pada keputusan yang kau buat.”
Lyra menatap Damian.
Ia tahu kalimat itu ditujukan padanya juga.
Suara di komunikasi menutup dengan satu kalimat yang membuat udara terasa lebih berat dari sebelumnya—
“Mulai saat ini, tidak ada lagi tempat aman.”
Transmisi terputus. Keheningan memenuhi ruangan.
Lyra memandang Damian.
Damian memandang ke depan.
Dan tanpa perlu diucapkan, semua orang di ruangan itu memahami satu hal—
Pertempuran yang sebenarnya… baru saja dimulai.
---