Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Rizal menyadari bahwa mereka tidak boleh hanya berpangku tangan menunggu keajaiban.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia mulai mengumpulkan bongkahan batu karang putih dan batang-batang kayu kering yang terseret arus ke tepian.
Rizal yang menyusun batu-batu dan batang kayu membentuk tulisan "HELP" yang besar di pantai, tepat di hamparan pasir yang paling luas agar mudah terlihat oleh pesawat atau helikopter pemantau dari ketinggian.
Peluh bercucuran membasahi wajahnya yang terbakar matahari, namun ia tak berhenti hingga huruf terakhir selesai terpajang dengan sempurna.
Setelah itu, Rizal menatap Aisyah yang tampak mulai mengantuk karena rasa perih di lukanya dan hawa panas yang menyengat.
Ia tahu istrinya butuh asupan protein agar tidak semakin drop.
"Jangan tidur ya, Sayang. Lihatlah suamimu yang berenang," seru Rizal dengan nada
menyemangati, mencoba menjaga agar kesadaran Aisyah tidak hilang.
Rizal berenang mencari ikan untuk istrinya, terjun ke dalam air yang jernih di dekat terumbu karang.
Dengan bermodalkan kayu yang diruncingkan ujungnya, ia mencoba menombak ikan-ikan kecil yang berenang di sela-sela karang.
Berkali-kali ia gagal, namun bayangan wajah Aisyah dan Intan membuatnya terus mencoba.
Aisyah menganggukkan kepalanya meskipun tangannya sangat sakit.
Ia memaksakan diri untuk tetap membuka mata, memperhatikan punggung suaminya yang sesekali muncul di permukaan air.
Di dalam hati, ia merapalkan doa agar suaminya selamat dan perjuangan mereka tidak sia-sia.
"Mas, hati-hati," bisik Aisyah lirih, suaranya hampir hilang tertiup angin laut.
Rizal akhirnya berhasil mendapatkan dua ekor ikan kecil.
Ia kembali ke daratan dengan napas terengah-engah, menunjukkan hasil tangkapannya pada Aisyah dengan senyum bangga yang tulus.
Di tengah keterbatasan ini, mereka benar-benar kembali ke titik nol, di mana hanya kasih sayang dan kegigihan yang menjadi modal utama mereka untuk tetap hidup.
Sinar matahari mulai meredup, berganti dengan semburat jingga yang menandakan malam akan segera tiba.
Di pinggir pantai yang sunyi, Rizal berlutut di atas pasir, keringatnya menetes membasahi kayu kering yang ia pegang.
Rizal yang mencoba membuat api dengan gesekan kayu untuk membakar ikan tersebut, terus memutar batang kayu kecil di atas papan kayu yang lebih besar.
Telapak tangannya sudah memerah dan lecet, namun ia tak menyerah.
Ia tahu Aisyah butuh asupan makanan hangat untuk mengembalikan tenaganya.
"Ayo, sedikit lagi," gumam Rizal terengah-engah.
Setelah perjuangan panjang, kepulan asap tipis mulai muncul, disusul percikan api kecil yang segera ia beri dedaunan kering.
Saat api menyala, Rizal tersenyum lega. Ia segera membakar dua ekor ikan hasil tangkapannya tadi.
Aroma ikan bakar sederhana itu mulai tercium, memberikan sedikit harapan di tengah keputusasaan mereka.
Sementara itu, di tempat lain, tim SAR mulai berangkat dari pangkalan udara dengan armada lengkap.
Operasi pencarian besar-besaran resmi dibuka setelah titik koordinat terakhir pesawat ditemukan.
Sementara itu di sudut landasan pacu yang bising oleh suara mesin, Ustadz Yudiz mengajak Intan naik ke helikopter milik tim penyelamat.
Beliau telah mendapat izin khusus karena kondisi psikologis Intan yang sangat mengkhawatirkan jika hanya menunggu tanpa kepastian.
"Ayo, Intan. Kita harus kuat. Kita akan menjemput Ayah dan Mamamu," ucap Ustadz Yudiz sambil membantu Intan menaiki tangga helikopter.
Intan mengenakan jaket pelampung dengan tangan bergetar.
Matanya sembab, namun ada binar tekad yang mulai muncul.
Ia terus memegang tasbih di tangannya, bibirnya tak henti bergerak merapalkan doa keselamatan.
Sementara Yuana menunggu di bandara bersama beberapa pengurus pesantren lainnya.
Ia menatap helikopter yang membawa sahabatnya itu perlahan naik ke angkasa dan menghilang di balik awan.
"Ya Allah, lindungi mereka semua. Satukan kembali keluarga itu," bisik Yuana sambil menyeka air matanya yang jatuh.
Ia hanya bisa terduduk lemas di ruang tunggu, menjadi saksi bisu perjuangan sebuah keluarga yang sedang diuji oleh takdir yang begitu hebat.
Sinar matahari sore yang mulai meredup memberikan warna keemasan pada hamparan pasir putih di pulau tak berpenghuni itu.
Aroma gurih dari ikan yang dipanggang di atas bara api kecil mulai tercium, kontras dengan bau garam laut yang menyengat sejak pagi.
Rizal dan Aisyah yang saling berbagi ikan bakar di bawah sinar matahari pulau tersebut tampak begitu kontras dengan kemewahan yang mereka nikmati di Paris beberapa hari lalu.
Tanpa piring porselen, tanpa pelayan, Rizal dengan telaten menyuapi Aisyah potongan daging ikan putih yang masih panas menggunakan tangannya yang lecet.
"Ayo, makan lagi sedikit lagi, Sayang. Kamu butuh tenaga untuk melawan infeksi di tanganmu," bujuk Rizal lembut.
Aisyah mengunyah pelan, matanya menatap jauh ke arah cakrawala yang mulai menggelap. Kesunyian pulau ini tiba-tiba terasa begitu menakutkan baginya.
Pikirannya melayang pada kemungkinan terburuk yang bisa menimpa mereka jika bantuan tak kunjung datang.
"Mas, kalau misal aku nanti tidak kuat bertahan, atau kalau..." suara Aisyah bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Rizal langsung menghentikan gerakan tangannya.
Ia menatap tajam namun penuh cinta ke dalam manik mata istrinya, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya ke dalam jiwa Aisyah.
"Aisyah, jangan kamu teruskan. Makan saja," potong Rizal dengan nada tegas yang menenangkan.
Ia tidak ingin keputusasaan mengambil alih semangat istrinya.
"Kita tidak akan menyerah di sini. Aku sudah berjanji pada Intan akan membawamu pulang dengan selamat. Jangan pernah katakan hal seperti itu lagi."
Aisyah terdiam, ia melihat ketegasan di wajah suaminya yang kini kotor oleh jelaga dan pasir.
Ia menganggukkan kepalanya pelan, mencoba menelan sisa ikan itu meskipun tenggorokannya terasa sesak oleh haru.
Rizal kembali menyuapinya, lalu ia sendiri memakan sisa ikan yang ada.
Di bawah langit yang perlahan mulai memamerkan bintang-bintangnya, mereka duduk berdampingan di atas puing sayap pesawat, saling menguatkan di tengah ketidakpastian takdir.
Rizal terus memegang tangan Aisyah, memastikan istrinya tetap terjaga dan merasakan hangat kehadirannya.
Malam jatuh dengan cepat di pulau itu, membawa hawa dingin yang kontras dengan teriknya siang tadi.
Api unggun kecil yang dibuat Rizal mulai meredup, menyisakan bara merah yang menari ditiup angin laut.
Rizal yang sedang berjaga di samping istrinya tiba-tiba merasakan tubuh Aisyah bergetar hebat. Ia segera menyentuh dahi Aisyah dan tersentak kaget.
Kulit istrinya terasa sangat panas, namun Aisyah menggigil kencang.
Aisyah yang tiba-tiba pingsan karena demam yang mulai menyerang lukanya yang terinfeksi air laut. Napasnya pendek-pendek dan tidak teratur.
"Sayang? Aisyah! Bangun!" seru Rizal panik.
Ia memeriksa balutan kain di tangan Aisyah; luka itu tampak memerah dan membengkak.
Infeksi telah menyebar ke seluruh tubuhnya, memicu demam tinggi yang merenggut kesadarannya.
Rizal segera mengambil sisa air kelapa yang masih ada, membasahi sobekan kain lainnya, dan mengompres dahi Aisyah dengan tangan gemetar.
"Tolong bertahanlah, Aisyah. Sedikit lagi. Tolong jangan tinggalkan aku sekarang."
Di tengah kesunyian pulau, hanya suara deru ombak dan napas berat Aisyah yang terdengar.
Rizal memeluk tubuh istrinya erat-erat, mencoba membagi kehangatan tubuhnya sendiri untuk meredam gigilan Aisyah.
Ia menatap ke langit malam, mencari-cari tanda kehidupan, berharap ada setitik cahaya dari pesawat penyelamat yang lewat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya" Dialah sang pewaris" terimakasih