Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Konfrontasi di Bawah Bulan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bayangan orang tersebut melangkah maju, memasuki cahaya bulan yang menerobos melalui atap paviliun yang bocor. Wajah tetua muda itu kini terlihat jelas, menampilkan senyuman tipis yang penuh dengan arogansi dan ancaman mematikan. Jubah hitamnya berkibar pelan meski tidak ada angin, menandakan tingkat kekuatan energi spiritual yang jauh melampaui apa yang pernah Haneen hadapi sejak datang ke dunia ini. Yan Ling secara insting menarik pedangnya, tubuh wanita itu tegang siap untuk menyerang meski tangan yang menggenggam gagang senjata masih sedikit gemetar karena tekanan aura yang begitu berat.
"Serahkan kotak itu dan mungkin aku akan membiarkan kalian mati dengan cepat," ucap tetua muda tersebut dengan suara tenang yang justru terdengar lebih menakutkan daripada teriakan marah. Matanya yang tajam menatap langsung ke arah Haneen, seolah-olah bisa menembus jiwa dan melihat semua rahasia yang disembunyikan oleh gadis murid luar tersebut. Haneen tidak bergerak, otaknya bekerja cepat menghitung peluang kemenangan dalam situasi yang hampir mustahil ini. Perbandingan kekuatan terlalu jauh, melawan secara langsung sama saja dengan bunuh diri tanpa tujuan yang jelas.
Haneen melirik Yan Ling sekilas, memberikan isyarat halus agar wanita itu tidak bertindak gegabah. Jika Yan Ling menyerang sekarang, dia akan tewas dalam sekejap dan misi mereka akan gagal total sebelum sempat mengungkap kebenaran yang tersimpan dalam surat daftar hitam tersebut. Haneen membutuhkan waktu beberapa detik, untuk menyiapkan alat dari sistem yang bisa memberikan mereka kesempatan untuk lolos dari kepungan maut di tempat sempit ini.
"Apa yang Tuan Tetua inginkan sebenarnya?" tanya Haneen tenang, suaranya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun meskipun jantungnya berdetak kencang di dalam dada.
"Jika hanya masalah barang-barang Senior Song Wei, kami bisa menyerahkannya sekarang juga tanpa perlu pertumpahan darah yang tidak perlu."
"Kalian sudah melihat isi surat itu," jawab tetua muda tersebut sambil melangkah lebih dekat, aura membunuhnya semakin kental hingga udara di sekitar mereka terasa berat dan sulit untuk dihirup dengan lega.
"Orang yang melihat rahasia kami tidak akan dibiarkan hidup untuk menyebarkannya ke seluruh sekte. Ini bukan tentang barang, ini tentang menutup mulut kalian berdua sebelum berita ini sampai ke telinga seseorang yang tidak seharusnya tahu."
Haneen tersenyum tipis, senyuman dingin yang pernah membuat banyak musuh di dunia sebelumnya kehilangan fokus sesaat sebelum ajal menjemput.
"Sayang sekali, kami bukan tipe orang yang mudah dibungkam hanya karena ancaman dari seseorang yang merasa berkuasa," ucap Haneen sambil tangannya yang tersembunyi di balik lengan jubah abu-abu yang kusut mulai menyentuh sebuah benda bulat kecil yang dingin.
[Misi Darurat: Lolos dari Kejaran Tetua Korup. Syarat: Bertahan hidup selama 5 menit. Hadiah: 1000 IP + Granat Kejut Energi.]
Notifikasi sistem muncul tepat saat Haneen membutuhkan sebuah solusi cepat untuk situasi genting ini. Dia tidak ragu untuk mengaktifkan item tersebut meskipun harganya cukup mahal dari saldo poin informasi yang baru saja dia kumpulkan dengan susah payah.
Tetua muda itu tampak tidak sabar, tangannya terangkat siap untuk meluncurkan serangan energi spiritual yang bisa menghancurkan seluruh paviliun tua ini menjadi debu dalam sekejap mata.
"Sayang sekali potensi kalian terbuang sia-sia," ucap tetua tersebut sambil energi hijau gelap mulai berkumpul di telapak tangannya.
"Sekarang!" teriak Haneen kepada Yan Ling sambil melemparkan benda bulat itu ke lantai di antara mereka dan sang tetua.
Benda tersebut meledak bukan dengan api, melainkan dengan cahaya putih yang begitu terang hingga menyilaukan mata siapa saja yang melihatnya secara langsung, disertai suara dengungan tinggi yang mengganggu pendengaran dan keseimbangan tubuh manusia biasa maupun kultivator yang tidak memiliki perlindungan khusus. Tetua muda itu menutup matanya dan mengerang kesakitan karena indranya yang tajam justru menjadi kelemahan saat menghadapi serangan sensorik yang tidak dia duga sebelumnya.
Yan Ling tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, wanita itu segera menarik lengan Haneen dan berlari menuju celah gelap di sisi paviliun yang tidak terjaga karena penjaga utama sedang terganggu oleh serangan mendadak tersebut. Mereka berlari secepat kaki mereka bisa membawa tubuh masuk ke dalam kegelapan malam yang menjadi sekutu terbaik bagi seorang mata-mata yang terlatih untuk bergerak dalam bayangan tanpa terdeteksi oleh musuh yang mengandalkan kekuatan kasar.
"Kejar mereka!" teriak tetua muda tersebut dari belakang, suaranya terdengar marah dan sakit karena efek serangan kejutan yang masih mengganggu penglihatannya untuk beberapa saat ke depan. Langkah kaki berat terdengar mengejar dari kejauhan, namun Haneen sudah menyiapkan rute pelarian alternatif yang sudah dia pelajari dari peta digital sistem sejak sebelum mereka turun ke ruang bawah tanah yang berbahaya.
Mereka melompati atap-atap bangunan rendah, menghindari jalur utama yang pasti sudah dipantau oleh penjaga lain yang mungkin sudah diingatkan oleh suara ledakan tadi. Napas mereka terengah-engah namun tidak ada yang berani berhenti untuk beristirahat karena satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal bagi nyawa mereka berdua yang sekarang menjadi buronan paling dicari di seluruh area Sekte Pedang Langit malam ini.
Haneen memimpin jalan menuju area hutan belakang sekte yang jarang dijaga karena dipenuhi oleh binatang spiritual tingkat rendah yang berbahaya bagi murid biasa namun bisa dihindari oleh mereka yang bergerak dengan hati-hati dan tenang tanpa memancarkan aura energi spiritual yang bisa memancing perhatian makhluk-makhluk liar tersebut. Yan Ling mengikuti dari belakang tanpa bertanya, kepercayaan wanita itu pada Haneen semakin kuat setelah melihat cara gadis itu menangani situasi kritis yang seharusnya mustahil untuk dimenangkan oleh seorang murid luar yang biasa saja.
Setelah hampir setengah jam berlari tanpa henti, Haneen akhirnya berhenti di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik air terjun yang kering karena musim kemarau sedang melanda wilayah pegunungan ini. Dia memeriksa sekeliling sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang mengikuti jejak mereka sebelum mengizinkan Yan Ling untuk duduk dan menarik napas panjang yang lega karena berhasil lolos dari maut yang sudah ada di depan mata tadi.
"Mereka akan mencari kita sampai dapat," ucap Yan Ling pelan, suaranya masih sedikit serak karena adrenalin yang belum sepenuhnya surut dari dalam tubuhnya yang lelah.
"Tetua tadi pasti akan melaporkan kita sebagai pengkhianat sekte sebelum matahari terbit besok pagi." Ucap Yan Ling kembali.
"Biarkan mereka mencari," jawab Haneen sambil membersihkan debu dari jubah abu-abunya yang semakin kusut karena lari semalaman.
"Kita punya sesuatu yang mereka takutkan, dan itu adalah satu hal terbaik yang bisa kita gunakan untuk bertahan hidup di tengah badai yang akan datang segera."
Haneen duduk bersila di dalam gua yang dingin itu, membiarkan pikirannya bekerja menyusun rencana berikutnya. Dia tahu bahwa tetua muda tadi tidak akan berhenti begitu saja. Orang yang terlibat dalam jaringan korupsi sebesar itu tidak akan mengambil risiko membiarkan saksi hidup berkeliaran bebas. Mereka akan mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk mengejar dan membungkam Haneen serta Yan Ling sebelum kebenaran terungkap.
"Kita tidak bisa tinggal di sini terlalu lama," ucap Haneen setelah beberapa saat berpikir. "Mereka pasti sudah mengirimkan tim pencari ke area hutan ini. Kita perlu pindah ke lokasi yang lebih aman sebelum fajar tiba."
Yan Ling mengangguk paham, meski kelelahan terlihat jelas di wajahnya. Wanita itu sudah melalui banyak hal dalam satu malam ini, dari menghadapi tetua yang kuat hingga berlari melintasi hutan yang gelap dan berbahaya. Namun di mata Yan Ling, Haneen melihat api tekad yang masih menyala kuat. Wanita itu tidak akan menyerah begitu saja, tidak setelah berhasil mendapatkan kembali warisan leluhurnya.
"Aku bisa melakukannya." ucap Yan Ling, menunjukkan bahwa dia masih mampu untuk terus bergerak meski tubuhnya sudah lelah. "Ke mana kita akan pergi?"
Haneen memikirkan sejenak, lalu matanya berbinar saat sebuah ide muncul di benaknya. "Ada tempat yang tidak akan mereka periksa pertama kali. Tempat yang justru akan mereka anggap terlalu berbahaya untuk kita datangi.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share😁