SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 - Rencana di balik rencana 2
Apa dia tidak salah dengar? Galuh meminta maaf padanya, hal yang paling sulit Galuh ucapkan dari dulu dan selalu ingin menang sendiri.
"Minta maaf? Heh, gak salah kamu minta maaf sama saya?" Bahkan bahasa Andina menggunakan bahasa formal, tidak ada kedekatan lagi seperti dulu sebelum badai menghampiri.
"Enggak, kamu gak salah dengar, aku mau minta maaf sama kamu soal apa yang sudah aku perbuat dulu. Kini aku merasakan apa yang kamu rasakan." Galuh menunduk, mengaduk-aduk minuman yang dia pesan sesekali melirik Andina yang juga memegang gelas minumannya.
Sudut bibirnya menyunggingkan senyuman licik. "Maaf Andina, aku harus melakukan ini padamu."
Sebelumnya Galuh mendapatkan telpon lagi dari Isan.
"Mau apa lagi kamu menghubungiku, Isan?"
"Jangan lupa bawa Andina padaku, Galuh! Kalau tidak semua perbuatanmu akan aku bawa ke kantor polisi."
"Jangan coba-coba melakukannya, Isan. Aku masuk kantor polisi kamu pun akan terseret."
"Hahaha, sayangnya bukti itu tidak ada jadi aku tidak akan ikut denganmu."
"Sial, ok, aku akan melakukannya."
Tut.
Lalu Galuh mencari ojek untuk mencari keberadaan Andina. Keberuntungan berpihak padanya, dia bertemu Andina setelah dua jam kesana kemari mencari.
"Menarik, jadi kamu juga di khianati? Ah, itu mah belum seberapa," balas Andina kemudian menyeruput minumannya tanpa rasa curiga apapun pada Galuh.
"Iya, itu belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang kamu rasakan. Maaf, sekali lagi aku minta maaf."
Reaksi minuman yang Andina minum mulai terasa, tiba-tiba saja dia menguap ngantuk dan matanya terasa berat.
"Sampai kapanpun aku tidak akan me ma af .."
Bruk.
Andina terkulai lemas tak sadarkan diri terjatuh dari kursi.
"Andina!" Galuh terlihat panik lebih tepatnya pura-pura panik, ia memperkirakan sekitarnya mencari sosok yang ia cari.
Dan berdirilah seorang pria tak jauh dari sana menghampiri keduanya. Dia berjongkok menyelipkan kedua tangannya ke tubuh Andina, membopong wanita itu.
"Kerja yang bagus, aku sudah mengirimkan uangnya padamu sebagai bayaran karena kamu sudah membantuku," dia Isan.
"Urus dia! Jangan ganggu kehidupan ku lagi!" Lalu Galuh kembali duduk menikmati makanan di meja yang belum sempat ia makan.
Di balik itu semua ada orang yang juga memperhatikannya, dia tersenyum miring. "Licik juga ternyata, tapi tenang saja, aku akan membuatmu meraung putus asa."
Kunyahan di mulut Galuh makin melemah seiring mata semakin berat, makin lama ia makin tak kuat menahan beban tubuhnya dan Galuh pun tak sadarkan diri juga tergeletak kepalanya ke atas meja.
"Eh, kenapa dia ikutan pingsan juga?" tanya salah satu pengunjung.
"Apa dia mati?"
Lalu seseorang berdiri menghampiri. "Tolong! Tolong teman saya, dia teman saya dan tolong bawa dia ke mobil saya, dia punya penyakit suka tidur sembarangan kalau sudah kekenyangan," ucapnya meyakinkan.
Dan beberapa orang disana berdiri membantu membawa Galuh ke mobil yang ada di parkiran.
******
Kediaman Nurul Huda
"Sore Bun, Syakir mana?" sapa Arya baru pulang kerja, ia ikut bergabung sama Bundanya.
"Aku dicini papa." Syakir datang membawa satu plastik jajanan bersama Appa Huda.
"Kamu bawa apaan itu? Pasti jajanan."
"Ini ada cileng, cilung, cilok, Cakil abis jajan cama Kakek di depan cana. Papa mau?" Syakir memberikan satu plastik pulih berisi beberapa gulung cilor, aci telor.
"Selalu saja jajan yang kayak gini, nanti panas dalam," kata Arya.
"Enggak kok papa, di dalam gak panas kan ada Ace nya, kalau di lual balu panas banget tadi, iya kan kakek?" Matanya beralih menatap Appa Huda yang sedang duduk di sampingnya istrinya.
"Ih kamu pinter banget sih, di dalam emang adem. Tante boleh minta ciloknya gak?" pinta Nisa ikut bergabung setelah membersihkan dirinya, dia juga baru pulang.
"Tapi jangan di abicin, cuman cegini." Syakir menunjukan sisa cilok yang dia makan, tinggal dua bulatan kecil di baluri kecap.
"Yah, itu mah bekas kamu, tapi boleh deh, sini Tante minta."
"Ndak boleh, Tante beli aja cendili ini punya Cakil cilok nya, tinggal dua Cakil yang punya." Anak itu menyembunyikan makanannya ke belakang, mengerucutkan bibirnya lucu.
"Masalah cilok pasti menjadi drama," kata bunda geleng kepala melihat Syakir dan Nisa saling berebut.
"Papa Arya." Ditengah tawa melihat Nisa mengerjai Syakir, Rizki berlari dari luar berteriak memanggil Arya.
"Papa Arya, tolong."
Mereka menoleh ke depan, Rizki berlari sambil mencoba melepaskan sepatu sekolahnya. Melihat kepanikan Rizki, Arya langsung berdiri ke luar rumah.
"Iki kamu kenapa lari-lari?"
Bunda Nurul, Appa Huda, Nisa dan juga Syakir juga ikut keluar. Mereka memperhatikan penampilan Rizki yang berantakan, dasi miring, kerah baju tidak di lipat, rambut berantakan serta keringat membasahi tubuh Rizki.
"Kamu kesini lari?" tanya bunda Nurul.
"Iya, aku kesini lari-lari. Papa Arya tolong, tolong aku, mama gak ada di rumah."
"Apa!"
Setelah pulang sekolah Rizki balik ke rumah baru mereka, namun ketika sampai tidak ada siapapun di rumah. Karena penasaran dan cemas sama keselamatan kakaknya, Rizki bertanya-tanya kesana kemari dan satu fakta ia ketahui.
"Kok bisa gak ada? Apa mamamu sedang keluar!" tanya Arya panik.
"Kamu mau minum dulu, sayang? Nisa tolong ambilkan minum." Bunda Nurul merangkul pundak Rizki, anak itu berantakan dan panik.
"Iya Bun."
"Kata orang-orang mama mampir ke tempat makan bersama seorang perempuan, terus ada yang bilang mama pingsan di bawa laki-laki."
Arya terperangah. "Yang benar kamu? Laki-laki siapa?"
"Aku gak tahu siapanya karena tidak ada bukti kuat, tapi dari ciri-ciri yang orang sebutkan tertuju pada suaminya. Papa Arya ayo bantu mama, pasti saat ini sedang di culik, aku gak mau kehilangan dia." Wajah Rizki sudah panik menahan tangisnya.
"Ar sebaiknya kamu pastikan lagi lewat cctv di tempat, apa dia suaminya Andina atau bukan, kalaupun iya sebaiknya kita segera mencarinya," kata Appa.
"Huawa mama, papa mama Cakil di culik ya?" Syakir dari tadi mendengar, ia menyimpulkan mamanya di culik orang.
"Eh sayang, enggak kok, mama kamu gak di culik tapi sedang bermain culik-culikkan," kata bunda Nurul menghibur.
"Tapi Cakil gak di ajak, Cakil juga mau ikutan main hiks hiks." Syakir masih sesenggukan.
"Sayang, papa pergi dulu ya dan kamu Iki, tunggu juga," kata Arya di angguki oleh Rizki.
*********
Tempat lain.
"Ah, terus, kenapa bisa senikmat ini sih? Ssstttt ah." Racaunya dalam hati seseorang ketika ada orang menggagahi tubuhnya.
"Hahaha nikmatilah sayang, hari ini kita bersenang-senang sampai puas."