NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Naga

Kembalinya Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Topeng Emas yang Retak

Debu-debu halus sisa benturan tenaga dalam perlahan turun, menyelimuti arena yang kini hancur lebur seperti medan perang kuno.

Retakan-retakan dalam masih membelah lantai marmer Perguruan Awan Putih, menciptakan pola-pola mengerikan yang menceritakan betapa dahsyatnya pertarungan tadi.

Topeng Emas terbaring beberapa tombak dari posisi Wang Long. Jubah hitamnya yang semula tampak angkuh kini compang-camping, robek besar di bagian dada akibat hantaman Tapak Naga.

Sunyi menyergap. Tak seorang pun murid atau tetua yang berani bergerak, bahkan untuk sekadar menarik napas panjang.

Lalu, di tengah kesunyian itu, terdengar suara tawa yang berat. Suara itu serak, tertahan oleh sisa-sisa darah yang menggenal di tenggorokan.

“Ha.. ha.. ha ha...!”

Sosok hitam itu bangkit perlahan. Gerakannya kaku, menunjukkan rasa sakit yang luar biasa. Tubuhnya sempat bergoyang ke kiri dan ke kanan sejenak, mencari keseimbangan, sebelum akhirnya ia tegak berdiri dengan sisa-sisa harga dirinya.

Satu garis retak yang tajam tampak jelas membelah topeng emasnya dari dahi hingga ke dagu.

Di balik retakan itu, terlihat kilatan mata yang penuh dengan pengakuan. Ia menatap Wang Long yang masih berdiri mematung dengan ketenangan yang hampir tidak manusiawi.

“Kuakui, Anak Muda… gelar Naga itu memang pantas kau sandang!” ucapnya dengan suara yang bergetar namun mantap.

Tangan berjubah hitam itu terangkat perlahan menuju wajahnya.

Krek.

Dengan gerakan yang terasa sangat lambat, ia melepaskan topeng emas yang telah retak itu.

Semua orang yang hadir serentak menahan napas. Suasana mendadak menjadi sangat tegang. Topeng itu terlepas dan jatuh ke tanah dengan suara berdenting yang menggema.

Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di sana. Wajahnya tegas dengan garis-garis keras yang terpahat oleh pengalaman hidup yang panjang dan pahit.

Matanya dalam, menyimpan rahasia dunia persilatan, namun kini mata itu hanya memantulkan kelelahan yang sangat. Darah segar mengalir tipis dari sudut bibirnya, yang kemudian ia seka perlahan menggunakan punggung tangannya yang kasar.

Sementara itu—Wang Long tidak langsung menanggapi pengakuan pria itu. Pemuda itu justru bergerak dengan langkah halus, berjongkok di sisi Ketua Perguruan Awan Putih yang masih terduduk lemah dengan napas tersengal.

Tanpa banyak bicara, Wang Long menempelkan telapak tangannya di punggung sang Ketua.

Seketika, hawa murni yang sangat bersih mengalir perlahan masuk ke dalam meridian sang Ketua. Rasanya hangat dan lembut, seperti sinar matahari pagi yang mencairkan salju.

Wajah Ketua yang semula pucat pasi perlahan-lahan mulai mendapatkan kembali rona merahnya. Ia mulai mampu menarik napas lebih panjang dan teratur.

Seorang tetua yang melihat itu berseru lirih dengan nada tidak percaya, “Dia… dia menyembuhkan luka dalam yang parah itu hanya dengan tenaga dalam murninya sendiri.”

Beberapa murid saling pandang dengan rasa hormat yang kini bercampur dengan rasa takut.

Baru saja pemuda itu bertarung lebih dari lima puluh jurus melawan momok paling menakutkan tanpa terlihat kelelahan, dan kini ia masih memiliki energi yang cukup murni untuk mengobati orang lain.

Laki-laki yang kini telah menanggalkan topengnya itu tertawa kecil lagi, sebuah tawa getir.

“Hampir dua puluh tahun aku melanglang buana, menantang maut di setiap sudut dunia persilatan ini…” Si Topeng Emas terbatuk pelan, membuang sisa darah.

“tapi hari ini aku harus mengakui keunggulanku bertaruh nyawa pada seorang anak muda sepertimu!”

Wang Long menarik tangannya dari punggung Ketua, memastikan aliran energi sang Ketua telah stabil.

“Kau tidak perlu bertaruh nyawa di sini,” ucapnya sembari bangkit berdiri perlahan.

Langkahnya terasa sangat ringan, hampir tanpa beban, saat ia berjalan mendekati pria tersebut.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Wang Long dengan nada bicara yang jernih.

Pria itu memandangnya tajam, membiarkan angin gunung meniup rambut panjangnya yang mulai dihiasi uban-uban tipis.

“Namaku, ” ia berhenti sejenak, membiarkan nama itu menggantung di udara.

“Yue Liang Shu.”

Beberapa tetua di balkon tersentak kaget.

“Yue Liang Shu…? Pendekar bayaran yang menghilang sepuluh tahun lalu?”

Yue Liang Shu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kepahitan.

“Aku hanyalah seorang pendekar bayaran yang datang dari Gunung Padang Atlantis.”

Nama tempat itu membuat beberapa wajah tetua berubah warna menjadi pucat.

Gunung Padang Atlantis—sebuah tempat misterius yang jarang disebut di daratan tengah, namun selalu dikaitkan dengan legenda para pembunuh tingkat tinggi, pendekar tanpa perguruan, dan kekuatan-kekuatan kuno yang terlupakan.

Wang Long menatapnya tanpa perubahan emosi sedikit pun.

“Siapa yang membayarmu untuk melakukan semua ini?”

Yue Liang Shu menyeringai, menampakkan giginya yang ternoda darah.

“Kalau kukatakan siapa orangnya, kau mungkin tak akan pernah percaya.”

“Cobalah katakan,” pancing Wang Long.

Pria itu menggeleng pelan. “Aku dibayar hanya untuk mengujimu, bocah Naga. Bukan untuk membunuhmu.”

Seluruh arena kembali terdiam. Kata "menguji" terdengar lebih mengerikan daripada "membunuh".

“Menguji?” ulang Wang Long.

“Ya. Jika kau mati di tanganku, berarti dunia persilatan terlalu membesar-besarkan namamu dan kau tak layak memikul beban masa depan. Namun, jika kau sanggup bertahan hidup,” Ia menarik napas panjang, menatap langit yang kini mulai meredup.

“Maka itu pertanda bahwa badai besar yang sesungguhnya akan benar-benar datang menghantam kita semua.”

Tiba-tiba, tangan Yue Liang Shu bergerak secepat kilat ke balik jubah hitamnya yang robek.

Sring!

Sebuah pedang panjang tercabut dari sarungnya. Bilah pedang itu berwarna gelap pekat, namun memantulkan kilau kebiruan tipis yang aneh saat terkena cahaya matahari.

Itu bukan pedang sembarangan buatan pandai besi biasa. Aura dingin yang menusuk tulang langsung menyelimuti sekeliling arena, membuat udara terasa membeku.

Para murid kembali menegang, tangan mereka kembali menggenggam senjata masing-masing.

“Kau masih ingin melanjutkan pertarungan ini?” tanya Wang Long, suaranya tetap tenang meski ia merasakan ancaman dari pedang biru itu.

Yue Liang Shu tertawa pelan, matanya menyala dengan semangat bertarung yang baru.

“Kau pikir aku adalah tipe orang yang akan berhenti begitu saja setelah kalah setengah langkah darimu?”

“Setengah langkah?” Wang Long sedikit mengangkat alisnya.

“Ya. Aku masih menyimpan satu jurus terakhir yang bahkan belum sempat kulepaskan. Jurus yang menjadi alasan kenapa aku masih hidup hingga hari ini,” ucapnya sembari mengangkat pedangnya sejajar dengan bahu.

“Namun kali ini, tujuanku bukan lagi untuk membunuh Ketua Awan Putih atau merusak perguruan ini.”

Tatapannya kini mengunci mata Wang Long sepenuhnya. “Ini hanya untuk memastikan… seberapa dalam naga sejati itu mampu berenang di samudra darah.”

Wang Long berdiri tegak, jubah birunya berkibar ditiup angin yang kian kencang.

Tatapannya tetap jernih, seolah-olah ia bisa melihat menembus niat terdalam pria di depannya. “Kalau itu memang maumu, silakan lepaskan.”

Yue Liang Shu menyipitkan mata, mencari sedikit saja tanda ketakutan atau keraguan di wajah Wang Long.

“Kau tidak takut akan kehilangan nyawamu?”

“Tidak perlu takut pada sesuatu yang belum terjadi,” jawab Wang Long tenang.

Angin gunung Lawu menderu lebih kencang, membawa kabut tipis yang mulai turun menyelimuti puncak.

Jubah kedua pendekar itu berkibar keras, menciptakan suara seperti kepakan sayap burung raksasa. Ketua Perguruan Awan Putih yang telah pulih sebagian mencoba bangkit dengan bantuan murid-muridnya.

“Cukup… hentikan ini! Arena ini sudah hancur, jangan biarkan ada darah lagi yang tumpah!” serunya parau. Namun, kata-katanya seolah lenyap ditelan angin.

Dua pendekar itu kini berada dalam dunia mereka sendiri. Yang satu telah mengakui keunggulan lawan namun belum menyerah, sementara yang satu lagi masih menyimpan kekuatan raksasa yang belum tersentuh.

Pedang gelap kebiruan di tangan Yue Liang Shu mulai bergetar pelan, mengeluarkan suara dengungan rendah yang membuat telinga orang biasa berdenging. Sementara itu, mata Wang Long memantulkan cahaya tenang yang misterius.

Wang Long berdiri di sana seperti naga yang sedang berdiam di dasar samudra, belum memutuskan apakah ia akan menyelam lebih dalam ke dalam kegelapan—atau terbang melesat menembus awan dan mengguncang langit.

Bersambung...

1
Idwan Syahdani
siap, malam ini akan ada 2 - 3 bab ya...
rozali rozali
laaanjut lg thor.
Idwan Syahdani: tunggu ya malam ini kita tambah 2 - 3 bab..
total 1 replies
Nanik S
Kenapa tidak ada cincin ruang untuk menaruh pedangnya
Idwan Syahdani: ini bukan novel Kultuvator kakak.. ini novel silat klasik..
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Hadir...cukup menarik
Nanik S
Wang Long ..dimana Mei Lin adiknya
Idwan Syahdani: nanti mereka bertemu saat sama-sama sudah jadi pendekar..
total 1 replies
Idwan Syahdani
aman kak, semua novel akan tamat kok, sabar ya...
Dian Pravita Sari
dlogok cerita kok gak da yg tamat kl blm siap jgn modal. janji dankejar kontrak makan duit pulsa aja di otak yang gak da rasa tanggung jenmenueledaikan cerita
Idwan Syahdani: semua novel akan saya tamatin kok kak... stay cun aja ya...
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, pertama untuk dukung novel barunya.
Idwan Syahdani: makasih kak... pa kabar, nggak ikut di n.v.a kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!