"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Pagi hari di Rumah Sakit Medika Jakarta disambut dengan kesibukan yang luar biasa. Di koridor lantai VVIP, Yudha berdiri tegap bersama barisan pengawal berseragam safari hitam, memastikan tidak ada satu pun orang asing yang melintas. Rangga telah mengubah lantai itu menjadi benteng pribadi.
Di dalam kamar VVIP Alya, suasana begitu tegang namun penuh antisipasi. Sesuai instruksi mutlak Rangga semalam, tim medis terbaik rumah sakit mulai memindahkan dua inkubator canggih dari ruang NICU menuju kamar Alya. Peralatan medis yang menyertai bayi-bayi itu dipasang kembali dengan presisi tinggi di sudut ruangan yang telah disterilkan secara total.
Alya duduk bersandar di tempat tidur, wajahnya tampak jauh lebih segar meskipun masih ada gurat pucat. Matanya tidak lepas dari pintu, menanti kehadiran buah hatinya.
Pintu terbuka perlahan. Dua inkubator transparan didorong masuk oleh perawat khusus yang hanya melayani keluarga Dirgantara. Di belakang mereka, Rangga melangkah dengan tangan yang menggandeng Arkan.
Arkan, yang sejak semalam merengek hingga menangis karena dilarang mendekati ruang isolasi oleh ayahnya, kini menatap pemandangan di depannya dengan mata membulat. Ia melepaskan tangan Rangga dan berjalan berjinjit menuju inkubator itu.
"Ayah... ini adik Arkan?" bisik Arkan, suaranya penuh kekaguman.
Rangga berlutut di samping putranya, meletakkan tangan di bahu kecil Arkan. "Iya, Arkan. Itu adik-adikmu. Mereka masih sangat kecil, jadi kau harus sangat hati-hati. Jangan menyentuh kacanya dulu, tanganmu harus benar-benar bersih."
Arkan menempelkan wajahnya ke kaca inkubator dengan jarak beberapa sentimeter. Ia melihat dua makhluk mungil yang sedang tertidur lelap dengan bantuan selang kecil di hidung mereka. Tangan mungil bayi-bayi itu bergerak pelan, seolah menyapa kakak laki-lakinya.
"Mereka cantik sekali, Ayah... seperti Ibu," ucap Arkan, matanya berkaca-kaca karena bahagia.
"Arkan akan menjaga mereka. Arkan tidak akan biarkan siapa pun menyakiti mereka."
Rangga tersenyum bangga. Sifat posesif yang ia wariskan tampaknya sudah mulai tumbuh subur di dalam diri Arkan. "Bagus. Itu tugasmu sebagai laki-laki tertua setelah Ayah di keluarga ini."
Alya yang melihat pemandangan itu dari tempat tidur hanya bisa menangis haru. "Sini, Arkan... kemari ke Ibu."
Arkan berlari kecil dan memeluk ibunya dengan sangat hati-hati, takut menyentuh luka operasi Alya. "Ibu hebat... terima kasih sudah kasih Arkan adik dua."
Rangga berdiri dan berjalan menuju pintu kamar, di mana Yudha sudah menunggu untuk memberikan laporan. Rangga menarik Yudha sedikit menjauh agar pembicaraan mereka tidak mengganggu ketenangan di dalam kamar.
"Yudha," panggil Rangga dengan suara rendah namun penuh wibawa.
"Saya, Tuan," jawab Yudha sigap.
"Aku sudah memutuskan. Kami tidak akan pulang ke mansion dalam waktu dekat. Kondisi si kembar masih prematur, dan aku tidak mau mengambil risiko memindahkan mereka bolak-balik. Kami akan tinggal di rumah sakit ini sampai mereka benar-benar pulih dan bisa bernapas sendiri tanpa alat," perintah Rangga.
"Mengerti, Tuan. Bagaimana dengan urusan di kediaman utama?" tanya Yudha.
Rangga menatap tajam ke arah jendela yang menghadap ke arah kota Jakarta. "Kau, ambillah tim keamanan terbaik. Jaga rumah utama selama beberapa minggu ke depan. Pastikan tidak ada satu pun penyusup atau mata-mata dari musuh-musuh lamaku yang berani mendekat. Aku ingin rumah itu steril saat kami pulang nanti. Dan pastikan logistik makanan organik untuk Alya dikirim ke sini setiap pagi di bawah pengawalan ketat."
"Laksanakan, Tuan. Saya sendiri yang akan memimpin penjagaan di rumah utama," Yudha membungkuk hormat sebelum berbalik untuk menjalankan tugasnya.
Bagi Rangga, rumah sakit ini sekarang adalah wilayah kekuasaannya. Ia bahkan telah menyewa kamar VVIP di sebelah kamar Alya khusus untuk Arkan dan dirinya agar mereka bisa tetap bersama tanpa harus terpisah jarak.
Rangga kembali ke samping tempat tidur Alya. Ia mengambil tangan istrinya dan mengecupnya lama. "Alya, aku sudah memikirkan nama untuk putri-putri kita semalam saat aku menjagamu tidur."
Alya menatap Rangga dengan penuh minat. "Siapa nama mereka, Mas?"
Rangga menunjuk ke arah bayi di inkubator "nanti di rumah utama saya akan umumkan "
Alya menjawab " baiklah mas, saya percaya sama mas rangga."
"sudah sudah, sayang penasarannya nanti di rumah saya. Ayooo kita tidur sekarang". Ucap rangga
Meski berada di rumah sakit, Rangga tidak membiarkan satu pun staf rumah sakit masuk ke kamar tanpa seizinnya. Bahkan perawat yang hendak mengganti infus Alya pun harus melalui pemeriksaan detektor logam oleh pengawal di depan pintu.
Setiap beberapa jam, Rangga akan berdiri di antara dua inkubator itu, mengawasi monitor detak jantung putri-putrinya dengan ketelitian seorang ahli medis. Jika ada angka yang berubah sedikit saja, ia akan langsung memanggil dokter kepala dalam hitungan detik.
"Mas, tidurlah sebentar. Kau sudah terjaga sejak kita di taman bermain kemarin," bujuk Alya.
Rangga menggeleng. "Aku tidak bisa tidur, Alya. Selama mereka masih di dalam kotak kaca itu, aku adalah dinding pelindung mereka. Aku ingin mereka tahu, bahwa dari hari pertama mereka menghirup udara dunia, ayah mereka tidak akan pernah membiarkan bahaya sekecil apa pun menyentuh mereka."
Alya hanya bisa tersenyum pasrah. Ia tahu suaminya adalah seorang pria yang mencintai dengan cara yang ekstrem. Namun, di balik semua keposesifan dan ketegangan itu, Alya merasa sangat beruntung.
Bersambung....
- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/