Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Menggunakan Anastasia untuk Mendekati Sierra
Lampu gantung kristal di ruang kerja pribadi Adrian memantulkan cahaya redup, menciptakan suasana serius yang kontras dengan tumpukan laporan di atas meja jati. Adrian Blackwood menyandarkan punggungnya, jemarinya mengetuk permukaan meja dengan irama teratur. Di hadapannya, James duduk dengan kaki menyilang, menatap layar tablet yang menampilkan berita kehancuran reputasi keluarga Holland dalam hitungan jam.
Keluarga Holland jatuh. Skandal korupsi, pelecehan, hingga penggelapan pajak mereka meledak di media nasional bak bom waktu yang dipicu serentak. Semua orang tahu keluarga Blackwood adalah eksekutornya, karena ada isu keluarga Holland berani memprovokasi anggota keluarga Blackwood, tapi hanya Adrian dan James yang tahu siapa penyedia amunisinya.
"Gila," James mengembuskan napas panjang, meletakkan tabletnya. "Untunglah aku bukan musuh Sierra. Entah apa yang akan dia lakukan padaku jika aku menyinggungnya. Aku benar-benar tidak boleh berada di sisi buruk gadis itu."
Adrian hanya bergumam pelan, matanya menatap tajam ke satu titik kosong.
"Sepertinya idemu memang benar untuk menjaga Sierra di sisimu," lanjut James lagi. "Dia bukan hanya punya keahlian medis yang luar biasa, tapi dia juga hacker handal. Apa menurutmu dia lebih handal dari Ghost S?"
Mendengar nama itu, Adrian sedikit bereaksi. Ghost S adalah legenda urban di dunia maya sejak tiga tahun yang lalu, tapi tidak pernah ada yang tahu identitas aslinya, entah dia perempuan atau laki-laki, entah dia tua atau muda. "Entahlah. Masih sulit dibandingkan, kita belum benar-benar melihat kemampuan Sierra sesungguhnya."
"Bagaimana dengan progres pencarian Ghost S? Apa sudah ada kemajuan?" tanya Adrian kemudian.
James mendengus kesal, wajahnya tampak frustrasi. "Belum sama sekali. Semua petunjuk yang ditinggalkan Ghost S ternyata palsu. Kita seperti mengejar bayangan di dalam ruangan gelap. Bagaimana kalau kita minta bantuan Sierra?"
"Apa menurutmu Sierra akan bersedia membantu?" Adrian bertanya balik dengan nada skeptis.
"Kenapa tidak? Asalkan bayarannya sesuai, dia pasti setuju, kan?" jawab James enteng.
Adrian terdiam sejenak sebelum mengalihkan pembicaraan. "Aku tidak yakin soal itu. Di mana Anastasia? Apa kau sudah menjenguknya hari ini?"
"Aku sudah meneleponnya tadi, dia baik-baik saja dan terdengar sangat bersemangat," James tersenyum tipis. "Aku sudah menceritakan semua yang terjadi pada Anastasia. Dia benar-benar tidak mengira Yara adalah dalang pembullyan yang dia alami. Dia bilang dia tidak pernah punya masalah dengan Yara. Saat mengetahui kalau Sierra yang membantu memberi pelajaran pada Yara, Anastasia berniat mengajak Sierra makan malam nanti."
"Dimana?" potong Adrian cepat.
James mengerutkan kening, menatap sahabatnya dengan curiga. "Jangan bilang kau mau ikut?"
"Memangnya kenapa?" balas Adrian datar, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.
James hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sore itu, langit mulai berubah jingga saat mobil hitam mengilap milik Adrian berhenti di depan kediaman Jasper. James dan Adrian turun, disambut oleh Anastasia yang sudah rapi dan siap untuk pergi. Gadis muda itu tampak terkejut melihat pamannya ada di sana.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian mencari Papa?" tanya Anastasia sambil membenahi tas kecilnya.
"Kami mencarimu," jawab James singkat.
"Untuk apa? Aku harus pergi sekarang," Anastasia melirik jam tangannya dengan gelisah.
"Ayo pergi," ucap Adrian singkat sambil berjalan menuju mobil kembali.
"Eh?! Apa maksud Paman? Siapa yang mengajak kalian?" Anastasia memekik kecil. "Aku akan makan malam berdua dengan Sierra!"
Adrian menoleh sedikit, wajahnya tetap tenang. "Aku punya urusan juga dengan Sierra. Lagipula aku belum berterima kasih atas bantuannya kemarin. Wajar saja jika aku yang mentraktirnya makan malam hari ini."
Anastasia terpaku, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar. Ia menatap James yang hanya mengangkat bahu seolah mengatakan, "Aku tidak bisa berbuat apa-apa". Anastasia mendesah pasrah dalam hati. Baiklah, lagipula aku bisa mentraktir Sierra di waktu lain tanpa gangguan dua pria ini, pikirnya.
Mereka bertiga tiba di sebuah restoran Jepang kelas atas yang tenang. Tak lama setelah mereka memarkirkan mobil, sebuah taksi berhenti dan Sierra turun dari sana.
"Sierra!!!" teriak Anastasia girang. Ia langsung berlari dan bergelayut manja di lengan Sierra tanpa mempedulikan tatapan orang sekitar. "Apa kau juga baru tiba?"
Sierra tersenyum tipis, sorot matanya yang dingin sedikit melunak. "Iya. Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Aku baik-baik saja! Aku sebenarnya sudah sehat sejak kemarin, tapi Mama memaksaku untuk izin hari ini demi istirahat. Aku bosan setengah mati di rumah," keluh Anastasia.
"Mrs. Blackwood hanya mengkhawatirkanmu," sahut Sierra tenang.
"Aku tahu. Tapi, apa kau juga mengkhawatirkan aku?" tanya Anastasia dengan nada menggoda.
"Tentu saja."
"Aw, so sweet! Kamu memang yang terbaik, Sierra. Seandainya saja kamu laki-laki, pasti aku sudah memacarimu!" Anastasia memeluk lengan Sierra lebih erat.
Di belakang mereka, suasana tiba-tiba menjadi dingin. Adrian menatap Anastasia dengan tatapan cemburu yang tak disembunyikan, sementara James memandang Sierra dengan tatapan serupa. James berdehem keras, merasa posisinya sebagai pria keren terancam oleh Sierra.
"Hei! Bukankah aku juga keren?!" protes James.
Anastasia hanya meliriknya sekilas lalu mendecit, "Heh?! Ck!"
"Ayo masuk," potong Adrian dengan suara berat.
Sierra tampak bingung melihat kehadiran Adrian dan James. Ia menatap Anastasia dengan pandangan bertanya-tanya, menuntut penjelasan mengapa ada orang tambahan yang ikut serta.
"Mereka ikut begitu saja, aku tidak mengajak mereka," bisik Anastasia, namun suaranya tetap terdengar oleh yang lain.
"Apa maksudnya itu? Apa kami penyusup?" tanya James sambil memasang wajah pura-pura sedih.
"Tapi itu benar, kan?" balas Anastasia cuek. "Ayo, Sierra, kita masuk."
Mereka menuju ruang privat yang sudah dipesan. Ruangan itu bernuansa kayu hangat dengan meja rendah khas Jepang dan alas duduk lesehan. Begitu masuk, Anastasia duduk lebih dulu lalu melihat ke arah Sierra sambil menepuk kursi di sebelahnya. Anastasia berniat duduk di samping Sierra, namun dengan gerakan cepat, Adrian menarik James dan mendudukkannya tepat di kursi sebelah Anastasia.
Sierra dan Anastasia menatap Adrian dengan bingung. Tanpa merasa bersalah, Adrian memutari meja dan duduk tepat di hadapan James dan Anastasia, yang secara otomatis menyisakan tempat di sampingnya untuk Sierra.
"Apa kau tidak mau duduk?" tanya Adrian pada Sierra yang masih berdiri.
Anastasia hendak memprotes karena ia ingin duduk di samping idolanya, namun James segera membungkam mulut gadis itu dengan tangannya. Kesal, Anastasia mencubit lengan James dengan keras hingga pria itu meringis tanpa suara. Akhirnya, Sierra tidak punya pilihan selain duduk di samping Adrian.
Begitu Sierra duduk, Adrian dengan sigap meraih teko keramik dan menuangkan teh ocha hangat ke gelas Sierra. James tak mau kalah, ia melakukan hal yang sama untuk Anastasia, berusaha mengimbangi perhatian Adrian.
Makanan mulai berdatangan satu per satu. Sashimi segar, tempura renyah, dan berbagai hidangan laut lainnya memenuhi meja. Untungnya, Anastasia memesan porsi yang cukup banyak sehingga semua orang bisa makan dengan puas.
Selama makan, suasana meja didominasi oleh celotehan Anastasia dan James. Adrian dan Sierra lebih banyak diam, hanya menjawab seperlunya. Namun, mata Anastasia tidak bisa berhenti memperhatikan interaksi halus di depannya. Paman Adrian-nya yang kaku itu terus-menerus melayani Sierra, memastikan gelasnya terisi atau menggeser piring lauk yang dilirik Sierra agar lebih dekat dengan gadis itu.
Anastasia merasa aneh. Ia sudah biasa dimanja oleh James, tapi pamannya? Adrian adalah sosok yang tegas dan dingin, bahkan kepada keponakannya sendiri. Namun di depan Sierra, Adrian seolah kehilangan sisi otoriter itu.
Yang lebih mengherankan lagi, Sierra tidak menolak. Anastasia ingat betul bagaimana Sierra menolak mentah-mentah saat Eugene mencoba melakukan hal serupa di kantin sekolah. Kenapa Sierra membiarkan pamannya memperlakukannya seperti itu? Apa mereka punya hubungan khusus yang tidak aku ketahui?
Setelah hidangan utama selesai, pelayan membawakan hidangan penutup. Sierra tampak lebih bersemangat saat melihat matcha cake dan mochi, sementara Anastasia lebih memilih camilan gurih.