Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Suara dalam Diam
Hujan turun tanpa permisi di pertengahan minggu, menyiram aspal Jakarta yang masih menyimpan sisa panas matahari siang. Di dalam Litera & Latte, suara rintik yang menghantam atap seng di bagian belakang toko menciptakan ritme statis yang monoton. Suasana ini biasanya membuat Alea merasa semakin terisolasi, seolah toko buku ini adalah sebuah pulau kecil yang terapung di tengah samudera beton yang luas dan acuh tak acuh.
Alea sedang berada di lorong fiksi sastra, area favoritnya yang selalu berbau seperti kayu tua dan vanilla. Tangannya sibuk menggeser beberapa novel untuk memberikan ruang bagi stok baru yang baru saja datang pagi tadi. Jemarinya menyentuh satu per satu punggung buku, memastikan semuanya berada pada urutan abjad yang benar. Namun, konsentrasinya mendadak buyar saat lonceng pintu berdenting pelan, memotong suara hujan yang menderu di luar sana.
Pukul empat lewat lima belas. Sedikit meleset dari jadwal presisinya yang biasanya tak pernah bergeser semenit pun. Alea menoleh sedikit, mendapati sosok Aksa yang masuk dengan bahu kemeja sedikit basah karena tempias hujan yang tertiup angin di depan pintu. Pria itu tampak lebih lelah dari biasanya, ada gurat halus di sekitar matanya yang tajam, dan dasinya sudah sedikit dilonggarkan, seolah dia baru saja keluar dari medan perang di ruang rapat.
Alea mengira Aksa akan langsung menuju meja kasir seperti rutinitas mereka selama ini, transaksi cepat, sedikit sindiran tajam, lalu pergi. Namun, hari ini berbeda. Aksa justru melangkah perlahan menuju deretan rak di pojok ruangan, area yang paling tenang dan jarang dikunjungi pelanggan karena penerangannya yang agak temaram.
Alea memperhatikannya dari celah rak buku. Aksa mengambil sebuah buku bersampul kain biru tua, sebuah kumpulan esai klasik yang tampak berat dan serius. Lalu, tanpa suara dan tanpa meminta izin, pria itu duduk di salah satu kursi kayu tua di sudut ruangan. Kursi itu sebenarnya lebih sering berfungsi sebagai dekorasi daripada tempat duduk, tapi di bawah Aksa, kursi itu mendadak terlihat seperti sebuah titik fokus yang sunyi di tengah ruangan yang luas.
“Nggak mau pesan kopi?” tanya Alea, akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan yang mulai terasa canggung. Dia melangkah perlahan mendekati area tempat Aksa duduk, masih memegang papan jalan untuk pendataan stoknya.
Aksa tidak langsung mendongak. Dia membuka halaman pertama buku itu dengan gerakan yang sangat pelan, seolah sedang memperlakukan benda rapuh yang bisa hancur kapan saja.
“Nanti saja. Aku cuma mau duduk sebentar. Di luar macetnya sedang nggak masuk akal, dan aku butuh sesuatu yang nggak bergerak untuk dilihat.”
Alea berhenti di samping rak, hanya berjarak sekitar dua meter dari posisi Aksa. “Kamu nggak biasanya punya waktu buat duduk sebentar. Bukannya jadwalmu selalu dihitung per menit seperti hitungan bunga bank?” tanya Alea kembali.
Aksa menarik napas panjang, aroma kertas lama di sekitarnya seolah memberikan oksigen tambahan bagi paru-parunya yang sesak oleh polusi kantor.
“Kadang, mesin yang paling canggih pun perlu didiamkan sejenak supaya nggak overheat, Alea. Lanjutkan saja kerjamu. Anggap saja aku cuma salah satu pajangan di toko ini.”
Alea mendengus kecil, sebuah tawa hambar yang hampir tak terdengar. “Mana ada pajangan yang auranya seintimidasi kamu. Kamu itu lebih seperti patung yang siap menghakimi siapa saja yang lewat.”
Meskipun begitu, Alea menuruti permintaan itu. Dia kembali pada tumpukan buku di lantai yang harus dia susun kembali ke rak. Selama empat puluh menit berikutnya, hanya ada suara hujan yang semakin deras dan bunyi gesekan kertas yang memenuhi ruangan. Tidak ada percakapan. Tidak ada tanya jawab tajam yang biasanya menjadi menu utama pertemuan mereka.
Namun, kehadiran Aksa di pojok ruangan itu terasa seperti energi statis yang memenuhi udara. Alea menyadari bahwa dia tidak benar-benar bisa fokus bekerja. Matanya mungkin tertuju pada judul buku, tapi telinganya menangkap setiap gerakan kecil dari arah Aksa, suara hela napasnya yang berat, bunyi lembaran buku yang dibalik, atau gesekan sepatunya di atas lantai kayu saat dia mengubah posisi duduk. Alea merasa ruang pribadinya perlahan-lahan sedang dijajah oleh kehadiran Aksa yang diam namun dominan.
“Kamu terlalu sering menekan punggung buku itu saat menyusunnya ke rak,” komentar Aksa tiba-tiba.
Suaranya rendah, tapi karena ruangan itu sangat sunyi, kata-katanya terdengar seperti ledakan kecil di telinga Alea.
Alea tersentak, tangannya masih memegang satu novel tebal dengan sampul hardcover. Dia menoleh ke arah Aksa yang ternyata sedari tadi tidak membaca, melainkan memperhatikannya. “Lalu? Memangnya ada yang salah dengan caraku menyusun buku?” sahut Alea.
“Lama-lama lem di jilidnya bisa retak kalau kamu menekannya sekeras itu. Padahal kamu selalu bilang kalau kamu sangat peduli sama benda-benda ini,” ucap Aksa dengan nada datar, namun ada kesan observasi yang mendalam di sana.
“Aku lagi capek, Aksa. Kadang tanganku nggak selembut biasanya kalau sudah hampir jam pulang,” balas Alea, sedikit membela diri. Dia meletakkan buku itu dengan gerakan yang jauh lebih pelan, seolah ingin membuktikan bahwa dia masih punya kendali atas motoriknya. “Lagi pula, ini hanya buku. Bisa diganti kalau rusak.”
“Kamu bohong pada dirimu sendiri lagi,” sahut Aksa sembari menutup bukunya dengan bunyi puk yang mantap. Dia melipat tangannya di depan dada, menatap Alea yang masih berdiri di antara tumpukan buku. “Capek karena pekerjaan fisik itu mudah disembuhkan dengan tidur. Tapi kamu? Kamu capek karena terus-terusan memasang topeng seolah semuanya sudah membaik dalam tiga bulan ini.”
Alea terdiam seketika. Pertanyaan itu seperti anak panah yang meluncur tepat sasaran, menembus lapisan pertahanan yang dia bangun susah payah sejak pagi tadi. Dia menyandarkan bahunya pada rak kayu yang dingin, menatap Aksa dengan pandangan yang mulai goyah.
“Kenapa kamu hobi banget membedah perasaanku? Aku ini cuma pelayan toko buku tempat kamu belanja, Aksa. Aku bukan pasien terapimu, dan aku nggak bayar kamu buat kasih analisis psikologis.”
“Karena kamu itu gampang dibaca, Alea. Sangat gampang, sampai-sampai rasanya mengganggu pandanganku,” balas Aksa. Dia berdiri dari kursinya, gerakannya tenang namun penuh tekanan.
“Diammu itu berisik. Kamu boleh saja nggak bicara, tapi matamu teriak kalau kamu lagi nggak ingin ada di sini. Kamu ingin lari, tapi kamu terlalu takut untuk melangkah keluar dari zona nyaman yang menyakitkan ini.”
“Semua orang yang baru kehilangan sesuatu yang berharga juga bakal punya mata yang teriak, Aksa. Itu manusiawi! Nggak semua orang punya kemewahan buat jadi robot yang cuma peduli sama angka, efisiensi, dan jadwal kerja kayak kamu,” balas Alea, suaranya mulai meninggi karena emosi yang mulai meluap.
Aksa melangkah mendekati Alea, memangkas jarak di antara mereka hingga hanya tersisa satu langkah besar. Di jarak sedekat ini, aroma parfum maskulinnya yang berkelas bercampuran dengan kayu cendana dan sedikit aroma hujan mulai mengusik penciuman Alea, membuatnya makin sulit berpikir jernih.
“Aku bukan robot,” ucap Aksa dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan di tengah gemuruh hujan. “Aku cuma sudah selesai dengan drama yang nggak perlu. Aku memilih untuk nggak membiarkan perasaan merusak struktur hidupku. Itu pilihan, Alea. Dan kamu? Kamu lebih memilih untuk membiarkan dirimu tenggelam dalam kubangan kenangan.”
Alea menengadah, menantang sorot mata pria di depannya meskipun hatinya mencelos. “Belajar jadi dingin? Belajar nggak peduli? Kalau itu yang kamu maksud dengan sembuh, aku nggak yakin aku mau. Aku lebih baik merasa sakit tapi tetap jadi manusia, daripada hidup tanpa rasa seperti kamu. Kamu itu hampa, Aksa.”
Aksa diam sejenak, matanya menelusuri setiap inci wajah Alea yang tampak lelah namun keras kepala. Dia mengulurkan tangannya, tapi bukan untuk menyentuh pipi Alea. Aksa justru meraih sebuah buku yang letaknya miring di rak tepat di samping kepala Alea. Gerakan itu membuat tubuh mereka nyaris bersentuhan, dan Alea bisa merasakan panas tubuh Aksa yang menembus kemeja putihnya.
“Cara yang benar buat sembuh adalah dengan berhenti menggaruk lukanya supaya kering. Dan kamu? Kamu setiap hari sengaja menggaruk luka itu dengan lagu-lagu melankolis yang kamu putar di toko ini, atau dengan melamun di balik meja kasir setiap kali hujan turun,” bisik Aksa tepat di samping telinga Alea.
Alea ingin membantah, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan. Dia tahu Aksa benar. Daftar putar lagu di toko ini memang berubah menjadi kumpulan balada menyedihkan sejak tiga bulan lalu. Alea memalingkan wajah, merasa telanjang secara emosional di depan pria yang baru dia kenal beberapa bulan ini.
“Kenapa kamu masih di sini kalau cuma mau mengkritik cara hidupku yang berantakan ini? Pergi saja kalau ini mengganggumu,” balas Alea dengan suaran yang hampir hilang ditelan bunyi hujan.
Aksa menjauhkan tubuhnya, kembali ke jarak yang lebih aman, namun tatapannya masih mengunci Alea. “Karena di sini sunyi dengan cara yang berbeda dari tempat lain.”
Alea mengerutkan kening, tidak mengerti maksud kalimat itu. “Maksudnya? Sunyi ya sunyi, apa bedanya?”
“Di kantorku, diam itu artinya ada masalah besar yang akan meledak. Di rumahku, diam itu artinya hampa dan kosong. Tapi di sini, diammu itu ada isinya. Ada ceritanya. Dan entah kenapa, itu jauh lebih menenangkan daripada semua percakapan basa-basi yang harus aku hadapi seharian di luar sana,” jawab Aksa jujur. Kalimat itu terdengar sangat manusiawi, jauh dari kesan angkuh yang biasanya dia tunjukkan.
Alea merasakan desiran aneh yang merambat di tengkuknya. Selama ini dia menganggap Aksa hanyalah pria sombong yang haus kendali, tapi di balik kata-kata tajamnya, ada sesuatu yang juga sedang mencari pelarian. Mereka mungkin punya cara yang berbeda dalam menghadapi dunia, tapi mereka sedang berada di kapal yang sama, mencari ketenangan di tengah badai kehidupan masing-masing.
“Aku nggak tahu harus merespons apa kalau kamu bicara begitu,” kata Alea lirih, menundukkan kepalanya.
Aksa memberikan buku yang tadi diambilnya ke tangan Alea. “Jangan merespons apa-apa. Diam saja. Seperti yang aku bilang, diammu itu sudah cukup bagiku untuk saat ini.”
Aksa berjalan menuju meja kasir di sana, meletakkan majalah ekonominya di sana. Alea mengikutinya dari belakang, mencoba mengatur kembali detak jantungnya yang berantakan karena percakapan intens tadi. Dia merasa ada sesuatu yang bergeser secara halus dalam cara dia memandang pria ini.
“Ini saja?” tanya Alea saat sudah berada di balik meja kasir, berusaha kembali ke mode profesional.
“Iya. Masukkan ke tagihanku seperti biasa.”
Alea memproses transaksi itu dengan gerakan yang lebih lambat. Keheningan di antara mereka sekarang terasa sangat berbeda. Bukan lagi hening yang penuh kecanggangan atau permusuhan, melainkan hening yang penuh dengan hal-hal yang tidak bisa atau belum berani diungkapkan dengan kata-kata.
Setelah transaksi selesai, Aksa tidak langsung pergi. Dia berdiri di depan pintu kaca, menatap keluar ke arah jalanan yang masih basah dan memantulkan cahaya lampu kota.
“Hujannya sudah tinggal gerimis kecil,” kata Aksa tanpa menoleh ke arah Alea.
“Iya. Sebentar lagi juga reda sepenuhnya,” sahut Alea pelan, tangannya merapikan struk belanja.
“Besok, jangan putar lagu yang terlalu sedih lagi. Itu bikin udara di toko ini terasa makin berat buat bernapas. Aku ingin baca buku dengan tenang, bukan ikut melayat kenanganmu yang gagal itu.”
Alea sedikit tersenyum, senyum tulus pertamanya yang muncul secara spontan di depan Aksa. “Akan aku usahakan cari playlist yang sedikit lebih ceria besok. Mungkin lagu-lagu pop tahun 80-an supaya kamu nggak bosan?”
“Pilihan yang jauh lebih masuk akal," ucap Aksa singkat. Dia mengambil bungkusan bukunya.
“Sampai ketemu besok jam empat, Alea.”
Aksa melangkah keluar, dan lonceng pintu kembali berdenting nyaring, menandakan kepergiannya.
Alea berdiri mematung di balik meja kasir,
memperhatikan punggung Aksa yang menjauh, menembus kabut tipis sisa hujan hingga menghilang di balik tikungan jalan yang padat.
Toko kembali kosong, tapi kali ini kekosongan itu tidak lagi terasa hampa atau menakutkan bagi Alea. Ada sisa-sisa percakapan yang masih tersisa hangat di udara, dan ada perasaan baru yang menyelinap di hatinya, perasaan bahwa mungkin, Aksa Pratama adalah satu-satunya orang yang benar-benar mendengarkan diamnya selama ini, meski dia melakukannya dengan cara yang paling menyebalkan dan tajam di dunia.