NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sick

Take your time gays...

Matahari sudah meninggi. Semalaman menjaga Aurora agar tetap nyenyak dalam tidurnya bukanlah perkara mudah untuk Luca. Rasa lelah dan harus menahan kantuk adalah ujiannya.

Tapi, semua itu terbayar lunas dengan Aurora yang sama sekali tak terganggu dalam tidurnya. Sampai akhirnya Luca tanpa sadar tertidur dalam posisi yang masih sama. Duduk bersandar di kepala ranjang dengan tangan yang ada di atas kepala Aurora karena tak pernah henti mengusapnya untuk memberi kenyamanan dan ketenangan bagi istrinya.

Tak ada lagi rasa nyaman serta rasa pegal yang menyerang membuat Luca perlahan mengetjap dan membuka mata.

Memperbaiki posisinya agar lebih nyaman, Luca mennatap Aurora di sebelahnya yang masih tertidur pulas, tersenyum lembut seraya mengusap kepala sang istri untuk memberi lebih kenyamanan.

Cukup lama terhipnotis dalam pesona yang Aurora tunjukkan, Luca akhirnya tersadar saat sebuah notifikasi pesan tiba-tiba terdengar.

Mengambil benda persegi panjang itu dari atas meja nakas sebelah tempat tidur, Luca membuka notifikasi pesan yang tertera di layar. Itu dari sang sekretaris pribadi. Reni.

"Selamat pagi Pak Luca. Saya hanya ingin memberitahukan kalau hari ini Bapak ada meeting bersama tim desain, marketing, dan tim lapangan. Setelah itu di lanjutkan pertemuan dengan beberapa investor yang akan bekerjasama dengan perusahaan kita lalu di lanjutkan meeting bersama client dari Amerika dan Singapura."

^^^"Terimakasih Reni. Tolong kamu atur jadwal saya seperti biasa. Mungkin hari ini saya akan datang ke kantor sedikit terlambat." Sembari melirik Aurora di sebelahnya, Luca menuliskan pesan balasannya untuk sang sekretaris. ^^^

"Baik Pak."

Meletakkan handphone itu kembali di atas meja nakas, Luca melihat jam waker yang ada di sana. Sudah pukul 7.15 pagi ternyata.

Menyingkap selimut yang menutupi setengah badannya, Luca perlahan turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk bersiap.

Beruntung sejak keduanya menikah, Aurora selalu menyiapkan semua keperluan kerjanya seperti pakaian dan lain-lain dalam waktu satu bulan sekaligus. Jadi, Luca tak perlu bingung apalagi membangunkan Aurora hanya untuk bertanya dia akan menggunakan pakaian apa hari ini karena semuanya sudah tertata rapi di dalam lemarinya.

***

Sebagai seorang laki-laki yang terbiasa hidup sendiri dan mandiri, Luca terlihat sama sekali tak masalah menyisihkan sedikit waktunya di dapur membuat sarapan untuk keduanya karena Aurora yang masih tertidur dan dia yang juga harus segera berangkat bekerja.

Melepas apron yang di pakainya dan meletakkannya ke tempat semula, Luca tersenyum bangga menatap 2 piring nasi hangat beserta telor ceplok dan kecap serta 2 gelas kopi yang tersusun rapi di atas meja. Kini, saatnya ia membangunkan Aurora agar mereka bisa sarapan bersama.

Membuka pintu kamarnya, seutas senyum manis tercipta dengan sendirinya. Melihat bagaimana tenangnya Aurora dalam tidurnya sudah cukup membuat pagi Luca begitu bahagia. Dia tak masalah kalau hari ini Aurora tak melakukan kewajibannya seperti biasa, karena Luca tahu jika Aurora juga lelah menjalani 2 tugas sekaligus. Sebagai seorang mahasiswa juga ibu rumah tangga.

"Ra? Ara? Bagun yuk." Panggil Luca penuh kelembutan seraya duduk di pinggir ranjang dan menepuk-nepuk bahu Aurora pelan.

"Ehh?" Kaget Luca saat menyadari jika ada sesuatu yang berbeda.

Memastikannya sekali lagi, Luca menempelkan tangannya di leher dan kening Aurora untuk meyakinkan jika dugaannya memang benar.

"Hmmm.... Luca?" Gumam Aurora lirih dan membuka matanya perlahan.

"Tunggu bentar ya? Lo demam." Bergegas bangkit, Luca pun langsung keluar dari kamarnya entah ingin mengambil apa.

Suhu tubuh yang tak normal bercampur rasa pusing yang menyerang serta sekujur tubuh yang terasa linu dan pegal membuat Aurora tak bisa berbuat banyak saat Luca meninggalkannya begitu saja. Hanya untuk membuka mata saja, dia harus berjuang karena rasanya sangat tidak nyaman.

***

Satu pesan penting yang selalu ayahnya katakan pada Luca sebelum dia menikah adalah menjadi sosok suami yang penuh kasih sayang, perhatian, bertanggungjawab dan selalu siap siaga dalam segala keadaan.

Itulah yang kini tengah Luca lakukan sekarang.

Mengetahui sang istri sakit, Luca langsung menyiapkan semua yang dia butuhkan ke atas nampan lalu membawanya ke kamar.

Meletakkan nampan itu ke atas meja nakas sebelum tempat tidur, Luca duduk di tepi ranjang.

"Ra? Bangun dulu yuk?" Panggil Luca pelan seraya membangunkan Aurora dengan perlahan.

Terlanjur bangun membuat Aurora tak mudah kembali untuk tidur. Meski mata terpejam tapi dia masih tetap mendengar suara Luca dengan jelas.

Tersenyum lembut membalas tatapan sendu yang Aurora berikan, Luca dengan perlahan membantu sang istri untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.

"Tadi gue udah bikinin telor ceplok sama kecap kesukaan lo. Di makan dulu ya? Habis itu lo minum obat biar panasnya cepet turun." Ucap Luca penuh kelembutan seraya mengambil sepiring nasi dan telor yang sudah dia siapkan dan menyuapi Aurora dengan perlahan.

Lihat bagaimana telatennya Luca merawat Aurora? Pasti membuat siapapun iri saat melihatnya. Benar-benar sosok suami yang di idam-idamkan banyak orang. Tak mengeluh, penuh kasih dan perhatian juga penyebsr.

Awalnya, Aurora memang berusaha menikmati makanannya. Tapi setelah suapan ke lima rasa mual yang tiba-tiba menyersng membuat Aurora tak lagi bisa menahannya. Dia pun terpaksa menolak suapan Luca dengan gelengan.

"Dikit lagi ya?" Pinta Luca.

Kembali mendapat gelengan membuat Luca tak lagi bisa memaksa.

Meletakkan piringnya ke atas nampan, Luca beralih mengambil segelas air dan obat yang tadi sudah dia siapkan.

"Pelan-pelan." Ucap Luca seraya memberikan obat itu pada Aurora lalu segelas air untuk membantu obat itu masuk ke dalam tubuhnya.

Hanya menghabiskan kurang dari setengahnya, Aurora memberikan kembali gelas itu pada Luca.

Tak hanya lewat obat, Luca juga menempelkan plester penurun panas di kening Aurora agar kondisinya cepat membaik.

"Luca?" Panggil Aurora lirih dengan mata yang masih berair karena menahan pusing.

"Hm?"

"Kalo lo mau kerja, berangkat aja. Gak papa. Gue bisa sendiri kok." Meski dalam keadaan sakit, tapi Aurora tetap menaruh perhatiannya pada Luca. Terlebih, tampilan Luca saat ini sudah sangat siap untuk berangkat kerja. Tinggal memakai jas dan dia bisa langsung pergi.

"Gak mungkin gue tinggalin lo dalam keadaan sakit kayak gini."

Sadar jika ada sesuatu yang perlu dia lakukan, Luca pun merogoh saku celananya dan mengambil handphonenya. Dengan segera mencari kontak nama yang di butuhkannya lalu menelponnya.

^^^"Hallo Reni?" Ucap Luca setelah menunggu beberapa saat dan panggilannya terjawab. ^^^

"Iya Pak. Ada yang bisa saya bantu?"

^^^"Tolong untuk jadwal saya hari ini yang bisa kamu batalkan kamu batalkan. Kalaupun tidak, tunda itu setidaknya sampai nanti setelah jam makan siang."^^^

"Baik Pak. Tapi kalau boleh saya tahu, ada apa ya? Kenapa mendadak sekali?"

^^^"Istri saya sakit."^^^

"Baik Pak."

"Gue harus pastiin dulu keadaan lo baik-baik aja. Setelah itu, gue baru bisa tenang kerja." Ucap Luca tersenyum lembut setelah mematikan panggilannya.

"Thanks ya Luca."

"Sama-sama."

Di perlakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang oleh pasangan adalah impian dan cita-cita semua orang, termasuk Aurora.

Dia sama sekali tak menyangka jika Luca adalah sosok yang Tuhan kirimkan untuknya. Awalnya memang terkesan biasa saja, tapi siapa yang menyangka setelah keduanya menikah, Luca berubah menjadi seorang suami dan kepala keluarga yang begitu sempurna di mata Aurora.

Luca menunjukkan sikap yang hanya dia perlihatkan pada Aurora. Lembut, perhatian, pengertian, penyebar, dan penuh kasih sayang. Seperti sekarang.

Terlebih tentang kejadian semalam. Aurora benar-benar bersyukur karena Luca hadir menutupi rasa takutnya, menjaganya sepanjang malam hanya demi untuk memastikan jika dirinya tak lagi ketakutan dan bisa tertidur dengan nyaman.

"Makasih juga buat semalem."

"Iya, sama-sama. Lain kali, bilang ya kalo lo emang takut atau gak suka sama sesuatu? Gue gak sanggup kalo harus liat lo kayak semalem lagi. Lo bikin gue ketakutan setengah mati." Membelai wajah Aurora penuh kelembutan seraya tersenyum, Aurora bisa dengan jelas melihat kekhawatiran dan ketakutan yang terpancar dari sorot mata Luca sekarang.

"Sorry."

"Gak papa. Untung Audrey cepet kabarin gue dan kasih tau semuanya. Jadi, gue bisa lebih cepet sampe rumah."

Entah sudah keberapa kalinya Luca di buat terpesona dengan aura kecantikan yang istrinya itu pancarkan di hadapannya.

Lihat saja, walaupun Aurora dalam keadaan sakit, tapi Luca tetap saja terpana saat pandangan keduanya bertemu dan terkunci satu sama lain. Entah apa yang sebenarnya hatinya rasakan saat bersama Aurora. Karena rasanya, itu bukan hanya sekedar kata cinta. Tapi mungkin.... Memang Aurora lah takdir cinta yang Tuhan kirimkan untuknya.

Kring..... Kring.....

Bunyi dering handphone seketika menyadarkan Luca ke dalam dunia nyata.

Mengambil benda pipih itu dari atas meja, Luca melihat siapa nama yang tertera sekilas sebelum akhirnya menjawabnya.

^^^"Iya, bagaimana?" Tanya Luca tanpa basa-basi. ^^^

"Untuk semua jadwal Bapak hari ini semuanya bisa di cancel. Tapi, untuk client yang dari Amerika tidak bisa. Beliau tetap ingin semuanya di selesaikan hari ini."

^^^"Baiklah. Jam berapa pertemuannya?"^^^

"Jam 4 sore."

^^^"Oke. Katakan padanya saya akan menemuinya di kantor nanti sore."^^^

"Baik Pak. Oh ya, dan untuk semua berkas hari ini yang perlu Bapak follow up sudah saya kirimkan ke email Bapak."

^^^"Terimakasih."^^^

"Sama-sama Pak."

Telpon di matikan. Senyum lega seketika tercipta karena sang sekretaris pribadi benar-benar bisa diandalkan di saat seperti ini. Belum genap 15 menit dia memberi perintah, semua sudah di kerjakan sesuai keinginan. Tak salah memang Luca memilih Reni sebagai sekretaris pribadinya karena gadis itu bisa bekerja dengan cepat, tepat dan tanpa banyak pertanyaan.

"Gue tinggal bentar ya?" Pamit Luca seraya bangkit dari duduknya dan mengambil nampan di atas meja.

"Tidur lagi aja. Lo pasti pusing banget sekarang." Ucap Luca sebelum pergi seraya mengusap kepala Aurora sekilas.

****

Sembari menemani Aurora yang tertidur pulas di sampingnya, Luca terlihat sibuk mengcek semua berkas yang masuk ke emailnya dengan iPad andalannya.

Menelitinya satu per satu lalu mengirimkannya kembali ke sekretaris pribadinya untuk dilanjutkan ke semua devisi yang ada di kantornya.

Bagi orang awam atau yang baru pertama kali melihatnya, itu mungkin terlihat mudah dan tidak membutuhkan banyak tenaga. Tapi sebenarnya, pekerjaan itu perlu ketelitian dan konsentrasi agar tidak terjadi kesalahan yang merugikan.

Antara lelah terus menerus tertidur atau mungkin sudah waktunya Aurora untuk terbangun. Dua-duanya mungkin sama saja karena Aurora yang terlihat mulai tak nyaman dalam tidurnya.

"Luca?" Panggil Aurora lirih seraya membuka matanya.

"Hm? Kenapa?" Tersenyum lembut mengalihkan pandangannya, Luca mengusap kepala Aurora penuh kasih sayang.

Hawa panas dari tubuh sang istri masih sangat Luca rasa. Mana mungkin dia bisa pergi bekerja dan meninggalkan Aurora jika keadaannya saja masih sama.

"Jam berapa?" Melirik Luca di atasnya, Aurora bertanya. Karena rasanya dia sudah cukup lama tidur. Tapi kenapa Luca masih saja ada di sampingnya? Apa dia tidak jadi bekerja karena menemaninya?

"Jam 2." Beritahu Luca setelah melirik sekilas jam waker di atas meja nakas sebelah tempat tidur.

"Kenapa bangun? Masih pusing banget ya?" Masih belum menghentikan usapannya di kepala Aurora, Luca seolah memberitahu sang istri betapa dia begitu menyayanginya dan memperhatikannya.

Anggukan kepala Aurora berikan sebagai jawaban.

Mata yang terpejam bukan berarti Aurora ingin kembali tertidur. Tapi dia tengah menikmati kenyamanan dan perhatian yang Luca berikan.

"Udah waktunya minum obat lagi dan lo juga belum makan siang. Pengen makan apa? Nanti biar gue bikinin atau pesenin GrabFood aja biar gampang." Ucap Luca seolah tahu jika Aurora mungkin akan melewatkannya jika dia tidak mengingatkan.

"Pengen makan mie." Ucap Aurora menatap Luca setelah memikirkannya beberapa saat.

"Makan mie?" Aurora mengangguk lucu layaknya bayi kecil yang sedang meminta permen.

"Ya udah, tunggu. Gue bikinin sebentar." Meletakkan iPadnya di atas meja nakas, Luca bangkit dan berniat untuk pergi.

"Ikut." Pinta Aurora menahan lengan Luca untuk tidak pergi meninggalkannya sendiri di kamar.

"Huh?" Kaget Luca tak percaya mendapati sifat manja Aurora yang baru pertama kali di lihatnya.

"Ikut ke dapur." Rengek Aurora.

"Gak di kamar aja? Istirahat. Nanti lo tambah pusing kalo kelamaan duduk." Bukannya bermaksiat melarang atau tak sayang, tapi Luca hanya tak ingin jika Aurora akan menahan rasa sakitnya karena tak bisa istirahat dengan nyaman.

Alih-alih menurut, Aurora justru terlihat cemberut dan sedikit kesal karena tak diizinkan. Benar-benar kejadian langka yang membuat Luca tak bisa menahan senyumannya karena merasa lucu dan gemas dengan sifat manja Aurora.

"Ya udah, oke. Tapi selesai makan langsung istirahat lagi di kamar." Tak hanya sekedar memberi izin, Luca juga memberikan syarat. Karena yang terpenting bagi Luca adalah kesehatan Aurora sekarang.

Lihat bagaimana ekspresi Aurora sekarang? Dia langsung tersenyum lebar dan turun dari tempat tidur dengan perlahan di bantu Luca.

Tak lupa membawa handphone yang di letakkan di atas meja nakas, keduanya pun keluar dari kamar untuk menuju dapur membuatkan keinginan Aurora.

***

Walau hanya semangkuk mie instan, bukan berarti Luca membuatnya dengan asal-asalan. Semua detail kecil dan penting tetap Luca perhatikan karena itu adalah buatan spesial untuk sang istri. Terutama tentang gizi dan protein yang terkandung di dalamnya. Sudah mirip seperti Dokter ahli gizi saja. Padahal itu sma sekali tak berhubungan dengan jurusan perkuliahan apalagi pekerjaan yang bergelut di bidang realestat dan properti.

Tak hanya menambahkan telur rebus sebagai pelengkap, Luca juga memberikan potongan sayur, acar, biji wijen, parutan keju, potongan daging dan juga irisan daun bawang serta cabai sebagai penambah cita rasa.

Sementara itu, Aurora yang minta di buatkan hanya diam dan tak banyak berkomentar. Meletakkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangan terlipat dijadikan sebagai bantal, Aurora dengan sabar menunggu Luca selesai memasak.

Tersenyum puas menatap hasil masakannya, Luca dengan bangga menyajikan mie instan buatannya itu di hadapan Aurora. Tak lupa, dia juga menyiapkan sendok, dan sumpit agar Aurora bisa langsung menikmatinya.

"Silahkan Tuan Putri." Ucapnya lalu menarik kursi untuk duduk di sebelah Aurora.

"Makasih Luca." Mengangkat kepalanya dari atas meja, Aurora tersenyum bahagia dan menatap semangkuk mie instan itu dengan mata berbinar seolah tak sabar untuk menyantapnya.

"Sama-sama."

Tak langsung memakannya, Aurora terlebih dulu mencicipi kuahnya.

"Gimana? Enak?" Tanya Luca meminta pendapat seraya menyelipkan anak rambut Aurora yang menghalangi pandangannya ke belakang telinga.

"Gak ada rasanya. Hambar." Komentar Aurora kesal karena apa yang di harapkan tak sesuai ekspektasi. Padahal tadi dia sudah membayangkan jika rasanya pasti akan sangat enak dan tak kalah dengan mie instan yang ada di restoran.

"Itu artinya lo sakit beneran. Yang penting sekarang banyakin istirahat dan tetep makan. Jangan sampe perutnya kosong." Bukannya kecewa atau marah karena Aurora yang terkesan tak menghargai, Luca justru tersenyum dan memaklumi.

Meski terlihat kecewa, tapi Aurora tetap memakan mie instan itu dengan perlahan. Dia tentu tak ingin membuat Luca kecewa karena telah susah payah membuatkan itu untuknya tapi dia justru tidak memakannya.

"Nanti jam 4 gue harus pergi ke kantor buat ketemu sama client. Lo ditemenin sama Audrey atau yang lainnya dulu gak papa kan?" Ucap Luca memberitahu kegiatannya. Memandangi wajah Aurora dari samping seperti ini mungkin akan jadi hobi baru untuk Luca kedepannya.

"Gak usah, nanti krepotin mereka. Gue udah mendingan kok." Tolak Aurora tak setuju seraya memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.

Tak percaya begitu saja, Luca langsung menempelkan tangannya di dahi dan leher Aurora untuk mengecek suhu tubuhnya.

"Mendingan darimana? Badan lo aja masih panas banget kayak gini." Ucap Luca sedikit kesal karena Aurora yang mencoba untuk mengelsbuhinys.

Mengambil handphone yang tadi dia letakkan di atas dispenser, Luca dengan cekatan langsung menscroll nama yang ada di kontaknya untuk mencari nomer yang dia butuhkan sekarang.

^^^"Hallo Rey." Sapa Luca setelah panggilannya terjawab. ^^^

"Kenapa Ca? Ara baik-baik aja kan?" Pertanyaan bernada kekhawatiran langsung Audrey lemparkan. Karena kebetulan, dia juga baru ingin menghubungi Luca untuk menanyakan tentang keadaan Aurora karena kejadian semalam. Tapi, malah Luca yang lebih dulu menelponnya.

Selain itu, Luca menelpon juga di waktu yang tepat. Saat Audrey baru saja menyelesaikan kelasnya dan tengah menunggu teman-temannya di parkiran kampus.

^^^"Sorry gue gak sempet kabarin lo semalem. Dia sekarang lagi demam dan gue harus pergi ke kantor. Lo atau anak-anak yang lain bisa dateng ke rumah gak buat jagain dia sebentar selagi gue kerja? Gue gak bisa tinggalin dia di rumh sendirian kalo gak ada yang nemenin." Tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah Aurora, tangan yang menganggur Luca gunakan untuk merapikan anak rambut sang istri yang sedikit berantakan karena menghalangi wajah cantik Aurora dari pandangnya. ^^^

"Bisa-bisa. Gue sama anak-anak emang kebetulan mau ke sana buat mastiin keadaan Ara. Seharian ini dia gak bales chat kita dan gak ngampus juga, jadi kita khawatir sama dia."

^^^"Thanks ya Rey. Sorry udah krepotin kalian."^^^

"Sama-sama. Sama sekali gak krepotin kok.... Santai aja. Kita malah seneng bisa bantuin lo. Ya.....walaupun dia udah jadi istri lo sekarang, tapi Ara kan tetep sahabat kita. Jadi apapun itu, kita pasti bantu."

^^^"Sekali lagi thanks ya."^^^

"Sama-sama. Ya udah, gue sama anak-anak jalan ke sana sekarang." Tak bermaksud untuk cepat-cepat mematikan obrolan diantara mereka, tapi karena Aurora sudah melihat kedatangan teman-temannya yang berjalan ke arahnya.

^^^"Oke. Gue tunggu." Bernafas lega, Luca bisa sedikit lebih tenang karena itu artinya Aurora tak akan sendirian di rumah. ^^^

"Kok gak di habisin?" Tanya Luca seraya tersenyum penuh kelembutan karena Aurora yang tak lagi menyentuh makanannya dan masih tersisa setengah.

"Udah kenyang."

"Ya udah, kalo gitu minum obatnya sekarang habis itu tidur." Bangkit dari kursinya, Luca membuka kotak p3k itu untuk mengambil obat penurun panas lalu beralih mengambil segelas air dan memberikannya pada Aurora.

Lagi-lagi hanya menjadikan air putih itu sebagai syarat, Aurora tak menghabiskannya lebih dari setengah. Yang penting, obatnya sudah masuk dan tertelan.

Tak langsung membereskan bekas makan yang dipakai Aurora, Luca Justru kembali duduk di tempatnya dan menggeser mangkuk itu berniat untuk menghabiskannya. Sama sekali tak peka jika Aurora sebenarnya tengah menunggunya.

"Kok masih di sini?" Tanya Luca bingung dan tak jadi menyantap makanannya. Dia pikir, Aurora akan kembali ke kamar setelah dia meminum obatnya.

"Temenin." Pinta Aurora manja. Membuat Luca spontan mengukir seutas senyuman karena lucu juga bahagia.

"Ya udah, ayo." Meletakkan sumpitnya kembali, Luca benar-benar menunda makannya dan hendak berdiri untuk menemani Aurora lebih dulu.

"Lo habisin dulu makanannya. Habis itu baru kita ke kamar." Cegah Aurora sebelum Luca berdiri sempurna.

"Lo gak papa nunggu?" Anggukan di berikan sebagai jawaban.

Kembali duduk, Luca pun langsung menikmati makanannya dengan cepat agar Aurora tak lama menunggunya.

***

Memastikan Aurora tenang dalam tidurnya adalah prioritas utama Luca sekarang. Walupun tadi Aurora sempat memaksa menyuruhnya untuk bersiap karena harus segera berangkat kerja, tapi kini akhirnya Luca berhasil membuat sang istri tertidur. Meskipun, ada bantuan efek obat juga di dalamnya.

Menarik selimut hingga sebatas dada, Luca perlahan turun dari tempat tidur agar Aurora tak terbangun.

Melirik jam waker di atas meja nakas sebelah tempat tidur yang sudah menunjukkan pukul 3 sore kurang 10 menit, Luca bergegas melangkah menuju lemarinya untuk bersiap.

Kurang dari setengah jam, Luca akhirnya selesai dengan outfit kantor ciri khasnya. Setelan jas yang membuat aura ketampanannya dan kewibawaannya semakin terpancar dengan sempurna.

Melirik sekilas Aurora yang masih tertidur lewat pantulan kaca di depannya, Luca mengambil jam tangan berwarna hitam yang ada di atas meja lalu memakainya sebagai sesi akhir untuk pelengkap penampilannya.

Sudah pukul 3 lewat 15 menit tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Audrey dan teman-temannya ke rumah mereka. Luca tak akan mungkin bisa pergi jika tak ada seorang pun yang menemani Aurora.

Mengambil handphone yang ada di atas meja nakas sebelah tempat tidur, Luca berniat untuk menghubungi sang sekretaris pribadi guna mengundur pertemuannya dengan client karena mungkin dia akan datang sedikit terlambat.

Tapi, belum sempat tombol panggilan itu terpencet, suara bel rumah lebih dulu terdengar.

Bergegas keluar kamar, Luca benar-benar berharap jika itu adalah Audrey dan teman-temannya.

Menarik nafas lega saat membukakan pintu, Luca sungguh bersyukur karena Audrey dan teman-temannya akhirnya datang juga.

"Luca? Gimana keadaannya?" Tanya Audrey khawatir.

"Dia masih tidur. Tadi gue cek demamnya masih tinggi." Beritahu Luca seraya mempersilahkan mereka untuk masuk dan mengambil kunci mobilnya yang ada di tempat kunci sebelah televisi.

"Gak coba di bawa ke rumah sakit aja? Takutnya bukan demam biasa." Ucap Alice memberi saran. Tanpa rasa sungkan mendaratkan bolongnya di atas sofa lalu menyalakan TV.

"Udah gue coba, tapi Aranya yang gak mau. Katanya mau di rumah aja."

"Tapi, kalo keadaannya gak membaik lo bakalan bawa dia ke rumah sakit kan?" Tanya Alexa.

"Pastinya. Makanya gue minta kalian buat jagain dia selagi gue gak ada. Jadi, gue masih bisa mantau keadaan Ara walaupun gue gak ada di sampingnya."

"Kenapa gak di tunda aja kerjaannya?" Tanya Alice penasaran sekaligus bingung. Pasalnya, di saat kebanyakan orang di luar sana selesai dan pulang dari pekerjaan mereka, Luca Justru baru akan berangkat ke kantor untuk bekerja.

"Semua kerjaan hari ini udah gue cancel. Tapi client yang satu ini emang gak bisa. Makanya gue berangkat jam segini."

"Ya udah, lo buruan berangkat sekarang, nanti telat." Perintah Audrey saat melirik jam dinding yang terpasang di sana yang sudah menunjukkan hampir setengah 4 sore.

"Titip Ara ya, gays? Kabarin gue kalo ada apa-apa."

"Pasti kita kabarin. Lo fokus aja kerjanya biar cepet selesai terus balik." Ucap Alexa.

"Thanks gays."

"Sama-sama." Jawab Audrey mewakili ketiga temannya.

Baru juga kaki melangkah, Luca sudah menghentikannya dan menatap mereka semua.

"Oh ya, kalo kalian butuh apa-apa atau laper, ambil aja di dapur. Gak usah sungkan. Anggep aja kayak rumah sendiri." Ucapnya.

"Tanpa lo suruh pun kita pasti bakalan lakuin itu. Udah sana, buruan berangkat." Sahut Audrey seraya mendorong tubuh Luca untuk segera pergi.

***

Benar-benar melakukan apa yang Luca katakan, Audrey dan teman-temannya sungguh menganggap rumah Luca seperti rumah mereka sendiri.

Audrey dan Alice yang asyik menonton film dengan berbagai cemilan yang ada di depannya serta Alexa yang tengah sibuk di dapur membuat makanan untuk mereka. Sedangkan Aline.... Entahlah, gadis itu ada dimana sekarang. Maklum, saudara kembar Alice itu sudah seperti hantu saja. Tiba-tiba ada, tiba-tiba juga menghilang.

"Rey? Aurora dimana? Kok dia gak ada di kamarnya?" Tanya Aline seraya berjalan menuruni tangga dan menghampiri Audrey yang tengah asyik menonton film bersama Alice.

Dia baru saja dari lantai 2 untuk mengecek keadaan Aurora. Tapi, bukannya menemukan Aurora di kamarnya, Aline justru mendapati lampu kamar yang masih menyala.

Belum sempat menjawab pertanyaan sang sahabat, bunyi notifikasi pesan masuk sudah lebih dulu terdengar dan mengharuskan Audrey untuk mengecek handphonenya.

"Rey, sorry gue lupa ngasih tau lo. Kalo kalian mau ngecek Ara, dia ada di kamar gue. Kamar bawah. Sebelah dapur." Ucap Luca dalam pesannya.

^^^"Oke 👌👌👌"^^^

"Ada di kamarnya Luca. Sebelah dapur." Beritahu Audrey seraya meletakkan handphonenya di atas meja dan kembali fokus ke layar TV di depannya.

Sebelum pergi, Aline menyomot satu cemilan yang ada di atas meja.

****

Matahari sudah kembali ke pangkuannya. Pertemuan bersama client yang awalnya hanya di jadwalkan satu sampai 2 jam lamanya, mendadak mundur karena adanya perubahan. Alhasil, ketika hari sudah malam Luca baru bisa pulang ke rumah dengan keadaan tubuh yang cukup lelah.

Memasuki kamarnya dengan perlahan, Luca menyalakan lampu untuk pencahayaan.

Aurora yang awalnya tertidur pulas pun jadi terbangun karena cahaya yang tiba-tiba menyeruak.

"Luca?" Panggil Aurora pelan seraya duduk dan mengerjapkan matanya mencari kesadaran.

"Eh? Ra? Kebangun ya? Sorry ya gue berisik." Sahut Luca kaget seraya menoleh. Melangkah menghampiri Aurora lalu duduk di pinggir tempat tidur.

"Lo baru pulang?"

"Iya."

"Jam berapa sekarang?"

"Jam 8 setengah 9 mungkin?"

"Itu masih yang tadi siang apa udah ganti?" Menunjuk plaster penurun panas yang ada di keningnya dengan lirikan mata, Luca bertanya.

"Udah ganti. Di ganti Aline tafi."

Tak hanya sekedar bertanya, Luca juga menempelkan tangannya di leher dan kening Aurora untuk mengecek dan memastikan suhu tubuh Aurora.

"Syukur deh udah turun panasnya. Masih pusing gak?" Ucap Luca tersenyum lega.

"Masih. Tapi udah gak kayak tadi pagi."

"Tadi sama anak-anak udah minum obat belum?" Kali ini Aurora menjawabnya dengan sebuah anggukan.

"Gue tadi beli nasi goreng sama martabak telor, mau makan sekarang gak? Mumpung masih anget." Sekali lagi Aurora mengangguk mengiyakan.

Berdiri lebih dalu, Luca menyingkap selimut yang Aurora kenakan lalu membantunya perlahan turun dari tempat tidur. Takut Aurora terjatuh karena tak bisa menjaga keseimbangan sebab pusing yang masih menyersng.

Melingkarkan tangannya di lengan Luca seolah sudah terbiasa, keduanya pun melangkah keluar kamar.

***

"Tadi gimana kerjaannya? Lancar." Tanya Aurora membuka obrolan di tengah makan mereka.

"Alhamdulillah lancar. Mereka pulang jam berapa?"

"Gak tau. Habis gue tidur mungkin?"

Jika biasanya Luca akan melanjutkannya dengan pertanyaan untuk menciptakan obrolan lain saat Aurora yang memulai pembicaraan seperti sekarang, maka kali ini ada yang sedikit berbeda. Dia hanya menanggapinya dengan anggukan kepala sekilas lalu kembali melanjutkan makannya.

"Luca?" Panggil Aurora.

"Hm?" Gumam Luca seryaa menatap Aurora.

"Makasih ya udah mau jagain sama rawat gue dari semalem."

"Sama-sama. Kalo lo seneng gue juga ikutan seneng."

"Malem ini gue boleh gak tidur di kamar lo lagi?"

"Boleh. Setiap hari juga boleh. Nyaman ya?" Tersenyum bahagia, Luca benar berharap jika ini akan menjadi awal yang lebih baik untuk hubungan mereka ke depannya.

Hanya bisa tersipu malu menanggapi godaan Luca, Aurora kembali melanjutkan makannya dengan tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!