Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memasak
"Kalian jangan sampai menyesal wahai anak muda, aku sudah dengan baik hati menawarkan agar kalian menginap di tempat ku saja tapi kalian dengan sombong nya menolak." Ucap pria itu dengan wajah merah padam menahan amarah tapi sebisa mungkin ia tahan.
"Tidak masalah paman." Ucap Zeno lalu berbalik masuk dan menutup kembali pintu penginapan milik kakek tua.
Pria paruh baya yg tadi nya berusaha membujuk Zeno kini kembali dengan raut wajah tak bersahabat, biasa nya para calon penyewa kamar yg menuju penginapan milik kakek tua akan dengan senang hati ia pengaruhi ketika diri nya menawarkan penginapan nya yg serba lengkap dan memiliki fasilitas yg layak, tapi kali ini diri nya justru gagal mempengaruhi para anak muda yg ia yakini dari kalangan bangsawan itu sebab pakaian mereka yg sangat bagus dan tampak mewah walaupun tak terlalu banyak perhiasan seperti yg di pakai nona-nona muda di luar sana tapi itu sudah membuktikan bahwa mereka pasti memiliki uang yg banyak, begitu lah pikir pria paruh baya tersebut.
.
Di dalam penginapan sederhana milik kakek tua, kini Ceni, Ying Zu dan Zeno sedang duduk bersama kakek tua itu di ruang tamu.
"Kek, apakah kakek cuma sendiri.?" Tanya Ceni.
Kakek itu pun tersenyum.
"Iya kakek tua ini cuma tinggal seorang diri." Ucap kakek tua.
"Penginapan Cheng, apakah Cheng itu nama kakek.?" tanya Zeno ingin tau.
Kakek tua yg bernama Cheng itu pun mengangguk.
"Apakah kakek mengenalku.?" Ucap Ying Zu yg sedari tadi diam.
"Kakek sudah tua nak, jadi kadang-kadang sudah pikun dan lupa." Ucap kakek Cheng tertawa kecil.
"Aku Ying Zu kek, cucu nya kakek jendral shen." Ucap Ying Zu.
Lama kakek Cheng terdiam, otak tua nya berusaha mengingat nama itu lalu sedetik kemudian.
"Jenderal Shen, kau cucu nya Yg dulu masih kecil itu.?" Ucap kakek Cheng.
"Benar kek, terakhir aku menginap di sini saat umur ku 13 tahun waktu aku di ajak kakek mengunjungi kota ini hanya untuk bertemu kakek Cheng, beruntung aku masih ingat penginapan kakek ini." Ucap Ying Zu tersenyum sumringah kala kakek Cheng berhasil mengingat nya.
"Apa kabar Shen sekarang,? Bahkan ia sangat jarang menemuiku." Ucap kakek Cheng sendu ketika mengingat sahabat lama nya itu.
"Hem kakek sekarang sangat sibuk kek, apalagi kakek seorang jenderal dia selalu menghabiskan waktu nya di perbatasan, padahal usia kakek sudah sepantasnya pensiun tapi kakek menolak hal itu dengan dalih ia masih kuat dan tenaga yg ia miliki masih seperti muda, begitu lah ucapan kakek terakhir kali aku bertemu dengan nya, saat itu aku menginginkan kakek pensiun agar bisa dengan leluasa menghabiskan waktu hanya untuk keluarga." Ujar Ying Zu.
"Dia selalu keras kepala, Shen masih tampak gagah berbeda dengan ku yg berjalan pun harus di topang tongkat." Ucap kakek Cheng terkekeh.
"Apakah kakek sudah makan.?" Tanya Ceni.
Kakek Cheng hanya menunduk dalam, sebab sudah beberapa pekan penginapan nya sepi sebab berpindah menginap di penginapan depan kediaman nya saat ini.
Ceni tau apa yg di pikirkan kakek Chen lalu ia pun mengeluarkan beberapa bahan mentah dari ruang penyimpanan, sebenarnya dia juga masih lapar, sebab di restoran tadi ia hanya makan satu potong roti.
"Baiklah kalau begitu, apakah boleh aku meminjam dapur kakek.?" Tanya Ceni meminta izin.
"Silahkan nak, tapi di dapur kakek tidak ada apapun, maafkan kakek tua ini yg menyusahkan kalian, seharusnya kakek tua inilah yg melayani pelanggan nya agar betah menginap di sini dengan menyediakan makan malam." Ucap kakek Cheng tidak enak hati.
"Tidak apa-apa kek anggap saja kami cucu kakek, aku juga sebatang kara sama seperti kakek, kakek ku baru saja tiada dengan meninggalkan ku seorang diri di dunia ini." Ucap Ceni tersenyum simpul.
"Sama aku juga, aku juga seorang Diri di dunia ini, anggap saja aku juga cucu kakek." Ucap Zeno menepuk dada nya.
"Baiklah baiklah kalian cucu kakek." Ucap kakek Cheng tertawa.
"Ayo kakek antar ke dapur." Ucap kakek Cheng.
Zeno membantu kakek Cheng berjalan, sedangkan Ceni dan Ying Zu mengekor di belakang nya.
.
Sesampainya di dapur sederhana milik kakek cheng, Ceni pun mengeluarkan beberapa bahan mentah seperti beras, perbumbuan, rempah-rempah, daging, sayuran, bawang, cabe dan juga telur.
"Terimakasih sudah menyiapkan segala nya untuk ku kek." Batin Ceni tersenyum kala melihat paket komplit bahan makanan di atas meja.
Kakek Cheng, Zeno dan Ying Zu pun tertegun melihat hal itu, tapi berbeda dengan Zeno yg mata nya berbinar memandang hal itu ia tau akan makan enak.
"Makanan dari dunia modern, huaaaaa rasa nya aku mau jingkrak-jingkrak." Batin Zeno menelan ludah nya tak sabar.
"Aku bantu Nona Ceni, aku saja menghidupkan api dan memasak nasi." Ucap cepat Zeno.
Ceni pun mengerjapkan mata nya memandang Zeno yg dengan sumringah dan terampil menghidupkan api lalu mengambil panci tembaga untuk memasak nasi.
Tanpa di suruh melakukan apapun, Zeno seakan sudah mengerti apa yg harus di perbuat.
Sedangkan kakek Cheng dan Ying Zu hanya diam tanpa tai berbuat apa.
"Em nona, aku bantu apa.?" Tanya Ying Zu.
"Kaki duduk saja bersama kakek Cheng, biar aku dan Zeno yg memasak, tidak lama." Ucap Ceni.
"Bukan kah itu bahan untuk obat-obatan nak.?" Tanya kakek Cheng kala melihat ketumbar, kayu manis, dan jahe.
Ceni hanya tersenyum lalu berkata.
"Bahan ini bukan hanya untuk di jadi kan obat kek, tapi juga bahan masakan, nanti kakek akan tau." Ucap Ceni.
Setelah mendengar itu kakek Cheng enggan berkomentar tapi mata nya terus memperhatikan kedua anak muda di hadapan nya yg sangat cekatan memasak seperti sudah terbiasa.
Ying Zu dan kakek Cheng berbicara berdua sambil sesekali memperhatikan Ceni Dan Zeno yg bekerja sama memasak makan malam.
Wangi harum makanan yg di masak Ceni dan Zeno pun menguar memenuhi ruang dapur tersebut.
"Bau nya harum sekali." Ujar Ying Zu lalu mendekat ke arah Ceni yg sedang mengaduk masakan daging yg sudah mengeluarkan bumbu yg berbau harum.
"Ini nama nya rendang daging." Ucap Ceni.
"Kau ternyata pintar masak ya nona Ceni." Celetuk Zeno yg saat ini sudah selesai masak nasi dan juga menumis Sayur.
"kau memuji atau meledek ku Zen.?" ucap Ceni mendelik.
"Tentu saja aku memuji mu nona Ceni." Ucap Zeno cepat takut dengan amarah Ceni bisa bisa ia tak di beri makan enak.
Bersambung.
jadi ga sabar.....
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪