Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Anak Vanderbilt
Luca langsung berlari menghampiri Greta, mengabaikan kerumunan yang masih tertawa. Wajahnya yang biasanya ramah kini tampak sangat khawatir. "Kamu nggak apa-apa? Pusing nggak? Biar aku bawa ke UKS," ucapnya lembut sambil mengelus kening Greta yang memerah akibat hantaman bola tadi.
Greta hanya mengangguk pelan, mencoba menenangkan degup jantungnya. Namun, sesaat sebelum Luca membawanya pergi, Greta menarik kerah baju Luca sedikit dan membisikkan sesuatu di telinganya.
Luca terdiam. Matanya berkedip bingung, menatap Greta seolah gadis itu baru saja bicara dalam bahasa asing. "Tunggu, kamu serius mau—"
Belum sempat Luca menyelesaikan kalimatnya, Greta sudah melangkah maju ke tengah lapangan. Ia memungut bola basket yang tadi menghantamnya, memegangnya dengan kedua tangan, dan berjalan menuju garis tembakan dua poin.
"Wah, lihat! Si Jenius mau mencoba lagi!" seru Revelyn dengan nada mengejek yang sangat kencang.
"Hati-hati, Greta! Jangan sampai kepalamu kena lagi, nanti otaknya makin geser!" timpal Norah, yang disambut tawa riuh dari murid-murid lain di pinggir lapangan.
Greta tidak menyahut. Ia berdiri diam, menatap ring basket di depannya dengan fokus yang tampak sangat dalam. Ia mengambil napas panjang, menekuk lututnya sedikit, lalu melempar bola itu dengan sekuat tenaga.
Bukk!
Bola itu bahkan tidak menyentuh ring. Ia menghantam papan pantul dengan suara keras lalu terpental jauh ke samping, menggelinding malang di atas aspal lapangan.
"HAHAHAHA! Benar-benar hebat!" Norah tertawa sampai memegang perutnya. "Itu bukan tembakan, itu melempar sampah ke papan!"
"Payah banget! Mending pulang saja kalau cuma bisa begitu!" teriak salah satu murid laki-laki dari kejauhan.
Revelyn mengambil ancang-ancang dengan penuh gaya. Sebagai anggota tim basket putri, ia ingin menunjukkan bahwa ia jauh lebih unggul daripada Greta. Ia memantulkan bola beberapa kali, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi untuk melakukan shooting.
Namun, tepat saat ia akan melepaskan bola, suasana lapangan yang harusnya hening karena kagum, justru berubah menjadi paduan suara yang mengerikan.
"Ugh... HUEKKK!"
"Oekkk... ampun, bau apa ini?!"
Revelyn dan Norah tersentak. Mereka menghentikan gerakan dan menoleh ke arah pinggir lapangan. Di sana, pemandangan luar biasa terjadi. Teman-teman sekelas mereka tidak ada yang bertepuk tangan. Sebaliknya, hampir semua murid sedang membungkuk dengan wajah pucat, memegangi perut, dan menutup hidung rapat-rapat.
Bahkan Mr. Derrick pun sampai mundur lima langkah sambil menutupi hidungnya dengan peluit. "Anak-anak... apa ada saluran pembuangan yang pecah di bawah kaki kalian?!" teriaknya dengan suara sengau karena menahan napas.
Norah dan Revelyn saling pandang, benar-benar bingung. "Kenapa mereka? Apa mereka iri melihat kita?" tanya Norah polos.
Lalu, semilir angin kencang berhembus melewati mereka, membawa uap "parfum" yang mulai bereaksi dengan keringat panas mereka. Norah perlahan mengangkat kerah bajunya dan menghirup aromanya sendiri. Revelyn pun melakukan hal yang sama, mencium ketiaknya dengan ragu.
Detik berikutnya...
"HUEKKK! KOK BAU BANGKAI?!" teriak Revelyn spontan sampai menjatuhkan bola basketnya.
"REVELYN! BAU INI DARI KAMU YA?!" Norah berteriak panik, tapi kemudian ia sadar bau paling tajam justru berasal dari lehernya sendiri. "TIDAK! INI DARI AKU?! KENAPA BAUNYA SEPERTI TIKUS MATI DITABUR KARBOL?!"
Kepanikan melanda. Norah mencoba mengusap lehernya, tapi setiap kali ia bergerak, aroma itu malah semakin "meledak" dan menyebar ke mana-mana. Murid-murid yang tadinya hanya mual, kini mulai berlarian menjauh seolah-olah Norah dan Revelyn adalah zombie yang sedang membusuk.
"KYAAAAAA!!! JANGAN MENDEKAT!" teriak salah satu murid saat Norah mencoba meminta tolong.
Tanpa pikir panjang lagi, dengan wajah yang merah padam menahan malu (dan menahan mual dari bau sendiri), Norah dan Revelyn melempar bola mereka ke sembarang arah dan lari terbirit-birit meninggalkan lapangan menuju ruang ganti, meninggalkan jejak bau busuk yang menggantung di udara.
Reaksi di Lapangan
Greta dan Clara berdiri mematung, lalu perlahan ledakan tawa mereka pecah bersamaan. Mereka saling berpegangan tangan agar tidak jatuh karena tertawa terlalu keras.
Luca masih berdiri mematung di tengah lapangan, tangan kirinya menjepit hidung rapat-rapat sementara mata elangnya mengikuti arah lari Norah dan Revelyn yang sudah menghilang di balik pintu gedung olahraga. Ia benar-benar bingung; bagaimana bisa parfum mahal yang biasa dibanggakan Norah mendadak berubah menjadi senjata kimia pemusnah massal?
"Apa-apaan itu tadi? Apa dia salah pakai semprotan pengusir hama?" gumam Luca dengan suara sengau yang terdengar lucu.
Sementara itu, di pinggir lapangan, Leon Weiss perlahan bangkit dari duduknya. Ia melipat tangannya di dada, matanya menatap Greta yang masih asyik tertawa bersama Clara. Sebuah tawa kecil yang jarang terlihat lolos dari bibirnya.
"Gadis itu... ternyata penuh kejutan ya," gumam Leon pelan. Ia tampak sangat terhibur melihat betapa halusnya Greta melakukan "serangan balik" tanpa perlu mengeluarkan tenaga fisik.
Di dalam ruang bilik mandi, suasananya jauh dari kata mewah. Suara pancuran air terdengar sangat deras, diiringi isak tangis dan suara gosokan sabun yang brutal.
"Norah! Huhu... baunya tidak hilang-hilang! Aku sudah pakai sabun batangan milik sekolah lima kali!" teriak Revelyn dari bilik sebelah sambil terus menggosok tangannya sampai merah.
"Jangan tanya aku! Aku bahkan sudah menyiram kepalaku dengan sampo satu botol, tapi setiap kali rambutku basah, baunya makin tajam!" balas Norah sambil menangis histeris. "Kenapa baunya mirip perpaduan antara rumah sakit tua dan selokan?! Huhu... reputasiku hancur, Revelyn! Luca pasti mengira aku tidak pernah mandi setahun!"
"Mungkin parfum itu sudah kedaluwarsa?!"
"Mana ada parfum mahal kedaluwarsa jadi bau bangkai, Bodoh! Hiks... jangan dekat-dekat aku dulu, bau mu juga mengerikan!"
Kembali ke Lapangan
Mr. Derrick meniup peluitnya berkali-kali, berusaha mengendalikan situasi. "Oke, oke! Semuanya menjauh dari area ini! Kita pindah ke lapangan sudut timur! Baunya terlalu berbahaya untuk kesehatan paru-paru kita!"
Seluruh murid pun bergeser dengan patuh, menghindari "zona radiasi bau" yang ditinggalkan Norah. Di barisan belakang, Greta dan Clara berjalan sambil berangkulan, sesekali masih terkikik geli saat teringat wajah pucat Norah tadi.
"Greta, kamu benar-benar hebat! Lihat wajah mereka tadi," bisik Clara sambil menyenggol lengan Greta.
Greta hanya tersenyum lebar,senyum paling cerah yang ia miliki sejak masuk ke sekolah ini. Rasa sesak di dadanya akibat kejadian di kantin tadi seolah menguap bersama bau busuk parfum Norah.
Jam sekolah akhirnya usai dengan tenang, Setidaknya jauh lebih tenang karena absennya "duo maut" yang biasanya mendominasi lorong. Norah dan Revelyn dikabarkan langsung melesat pulang menggunakan taksi pribadi segera setelah mandi darurat mereka selesai, karena bau amis kimia itu seolah sudah menyerap ke dalam pori-pori kulit mereka.
Saat berjalan di koridor menuju gerbang sekolah, Clara masih tidak bisa berhenti membicarakan kejadian tadi.
"Greta! Seharusnya kita lakukan itu di pelajaran pertama saja! Bayangkan kalau dari pagi kita sudah bebas dari 'zombie' Norah dan Revelyn, hari kita pasti akan terasa lebih panjang dan damai!" ucap Clara dengan semangat yang meluap-luap.
Greta hanya bisa tertawa lepas sambil menggelengkan kepalanya. "Kalau kita lakukan di jam pertama, mungkin satu sekolah akan dievakuasi karena dianggap ada kebocoran gas beracun, Clara."
Sesampainya di rumah Clara, suasana hangat menyambut mereka. Namun, bagi Greta, ini saatnya untuk kembali ke realita. Ia mulai merapikan barang-barangnya ke dalam tas ransel, bersiap untuk kembali ke apartemen kecilnya yang sepi namun adalah satu-satunya tempat yang ia sebut 'rumah'.
"Greta, kamu yakin mau kembali sekarang?" tanya Clara sambil menahan tangan sahabatnya itu. Wajahnya berubah memelas. "Tambah dua hari lagi deh di sini? Ya? Ya? Ya?? Kita bisa maraton film horor malam ini!"
Greta tersenyum haru melihat perhatian sahabatnya, namun ia tetap menggeleng pelan. "Aku tidak ingin merepotkanmu dan ibumu lebih lama, Clara. Kalian sudah sangat baik mau menampungku setelah kejadian kemarin..."
"Tidak ada yang direpotkan di sini, Greta Blight!" potong Clara dengan cepat, sengaja menambahkan nama belakang Luca sebagai candaan untuk menggoda Greta agar suasana tidak menjadi sedih. "Ibu justru senang ada teman ngobrol yang waras, tidak seperti aku yang hobi teriak-teriak."
Greta terkekeh mendengar candaan Clara. "Tetap saja, aku harus pulang. Aku perlu memastikan apartemenku tidak berdebu.
Clara menghela napas panjang, tahu bahwa jika Greta sudah memutuskan sesuatu, sulit untuk membantahnya.
Greta pun berpamitan dengan ibu Clara dan Clara.
"Greta... kamu yakin tidak mau aku telepon Luca buat antar kamu?" tanya Clara dengan nada khawatir.
"Tidak usah, Clara. Aku bisa naik bus kok. Sudah ya, aku pamit!" jawab Greta tegas sambil tersenyum meyakinkan.
Greta pun berjalan menyusuri trotoar sambil menenteng dua tas besar yang cukup berat. Setibanya di halte, ia terdiam sejenak, termenung sambil menunggu jemputan bus. Sesekali, ia teringat kejadian konyol di sekolah tadi,wajah Norah yang pucat dan bau parfum bangkai itu, Dan ia tidak bisa menahan senyum tipis di wajahnya.
Tak lama kemudian, bus kota pun datang. Greta segera bergegas masuk, namun harapannya untuk duduk pupus, bus itu penuh sesak. Ia terpaksa berdiri di tengah lorong bus yang sempit sambil berusaha menjaga keseimbangan karena tangannya penuh dengan tas.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah colekan lembut di bahunya. Greta tersentak kaget dan menoleh dengan cepat.
"Greta ya? Ayo, silakan duduk," ucap seorang pria yang berdiri tepat di belakangnya.
Mata Greta membelalak. Pria itu adalah Leon. Pria misterius yang biasanya hanya diam memperhatikan di sekolah, kini berdiri di depannya dalam bus yang penuh sesak. Greta hanya bisa terdiam bingung, otaknya mencoba memproses mengapa seorang Leon Weiss ada di sini.
Melihat Greta yang hanya diam terpaku, Leon tidak menunggu jawaban. Dengan gerakan yang tenang, Leon melepaskan genggaman tangan Greta yang sedang mencengkeram erat tasnya, seolah mengambil alih beban itu sesaat. Ia kemudian menyodorkan bahunya untuk membantu Greta bergeser ke kursinya, memberikan tempat duduknya untuk gadis itu.
Greta pun terlihat pasrah. Ia terduduk di kursi itu dengan tas di pangkuannya, sementara Leon kini berdiri tepat di depannya, menjulang tinggi dan menjaganya dari himpitan penumpang lain.
Bus terus melaju. Leon tidak banyak bicara, ia hanya berdiri dengan satu tangan memegang tiang bus, sementara tangan lainnya sesekali menahan tas Greta agar tidak merosot. Dari posisi duduknya, Greta bisa merasakan kehadiran Leon yang sangat protektif meski pria itu tetap terlihat acuh tak acuh.
"Terima kasih, Leon," bisik Greta pelan.
Leon hanya menunduk sedikit, menatap mata Greta sejenak tanpa senyum, namun tatapannya tidak sedingin biasanya. "Sama-sama. Tasmu itu berat, jangan dipaksakan," jawabnya singkat.
Di bawah lampu neon bus yang temaram, suasana itu terasa sangat tenang sekaligus penuh teka-teki. Greta menyadari satu hal, Leon Weiss mungkin dingin, namun di balik tatapan misterius itu, ada sebuah perhatian yang tidak terduga.
oke lanjut thor.. seru ceita nya