Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20: Penculikan
Hari ketiga sejak ultimatum Aluna. Tiga hari di mana Arsen hidup dalam neraka yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia masih datang ke kamar tamu setiap malam hanya berdiri di depan pintu, tidak mengetuk, hanya... berdiri. Berharap Aluna akan membuka pintu, berharap Aluna akan kembali padanya.
Tetapi pintu itu selalu tetap tertutup.
Aluna masih tinggal di mansion. Masih makan di meja yang sama meskipun dengan jarak yang menyakitkan di antara mereka. Masih mengenakan kalung dan gelang pemberian Arsen.
Tetapi ia tidak tidur di kamar yang sama. Tidak memeluk Arsen seperti biasa. Tidak... tersedia secara emosional seperti dulu.
Dan itu membunuh Arsen perlahan.
Di kantor, ia tidak bisa fokus. Dira harus mengingatkannya tentang meeting berkali-kali. Dokumen-dokumen menumpuk di mejanya tanpa dibaca. Ia hanya duduk menatap foto Aluna di ponselnya foto yang ia ambil diam-diam saat Aluna sedang tersenyum membaca buku.
Senyum yang sekarang tidak pernah ia lihat lagi.
"Tuan Arsen," panggil Dira dari pintu ruang kerja. "Tuan Darren menelepon. Beliau ingin bicara."
Arsen mengangkat kepala dengan mata yang memerah karena kurang tidur.
"Hubungkan," perintahnya dengan suara serak.
Dira ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk dan mengalihkan panggilan ke telepon meja Arsen.
"Arsen Mahendra," jawab Arsen dingin saat mengangkat telepon.
"Arsen!" suara Darren terdengar ceria terlalu ceria. "Lama tidak berbicara. Bagaimana kabarmu? Kudengar... ada masalah di surga kecilmu?"
Rahang Arsen mengeras.
"Apa maumu, Darren?"
"Langsung pada intinya. Aku suka itu," ucap Darren sambil tertawa. "Baiklah. Aku menelepon untuk memberitahumu sesuatu yang... menarik."
Jeda sejenak, lalu suara Darren menjadi lebih serius.
"Aluna Pradipta. Tunanganmu yang cantik itu. Dia hari ini akan ke kampus, kan? Untuk mengurus administrasi tugas akhirnya?"
Darah Arsen membeku.
"Bagaimana kamu tahu..."
"Aku tahu banyak hal, Arsen," potong Darren dengan suara yang berbahaya. "Termasuk bahwa sekarang dia hanya dijaga satu bodyguard. Pak Budi, kalau tidak salah? Mudah sekali untuk... mengalihkan perhatiannya."
"Jangan berani menyentuh Aluna," desis Arsen, tangannya mencengkeram gagang telepon hingga buku-buku jarinya memutih. "Jangan berani..."
"Atau apa?" tantang Darren. "Kamu akan menghancurkan ku? Silakan coba. Tetapi saat kamu sibuk denganku... siapa yang akan melindungi Aluna?"
Sambungan terputus.
Arsen melempar telepon ke dinding dengan keras, pecahannya berserakan.
"DIRA!" teriaknya sambil berlari keluar ruang kerja. "Hubungi Pak Budi sekarang juga! Lacak lokasi ponsel Aluna! SEKARANG!"
Satu jam sebelumnya, Aluna berjalan di koridor kampus dengan Pak Budi mengikuti beberapa meter di belakangnya. Ia baru saja selesai bertemu dosen pembimbingnya untuk membahas revisi tugas akhir.
Hatinya terasa berat. Tiga hari ini adalah tiga hari tersulit dalam hidupnya. Ia merindukan Arsen merindukan pelukan hangatnya di malam hari, merindukan suara napasnya yang teratur saat tidur, merindukan cara Arsen mengusap rambutnya dengan lembut setiap pagi.
Tetapi ia harus kuat. Ia harus mempertahankan ultimatumnya. Karena jika ia menyerah sekarang, tidak akan ada yang berubah. Dan ia tidak ingin berakhir seperti Anjani.
"Nona Aluna," panggil Pak Budi dari belakang. "Ada yang ingin saya bicarakan sebentar dengan petugas keamanan kampus tentang akses parkir. Apa Nona bisa menunggu sebentar di sini?"
Aluna menoleh dan mengangguk.
"Baik, Pak Budi. Saya tunggu di sini."
Pak Budi berjalan menuju pos keamanan yang tidak jauh dari sana. Aluna berdiri di koridor yang agak sepi sebagian besar mahasiswa sedang kuliah.
Tiba-tiba, seseorang menutup mulut dan hidungnya dari belakang dengan kain yang berbau aneh bau yang langsung membuat kepalanya pusing.
Aluna mencoba berteriak, mencoba melawan, tetapi tubuhnya langsung lemas. Pandangannya mulai kabur.
Hal terakhir yang ia lihat sebelum kehilangan kesadaran adalah Darren berdiri di hadapannya dengan senyum dingin.
"Maaf, Aluna. Kamu hanya umpan," bisiknya sebelum kegelapan menelan Aluna sepenuhnya.
Pak Budi kembali lima menit kemudian dan tidak menemukan Aluna di tempat ia meninggalkannya. Jantungnya langsung berdegup kencang.
"Nona Aluna!" panggilnya sambil berlari ke sana kemari. "NONA ALUNA!"
Ia menemukan kalung berlian dengan inisial "A" tergeletak di lantai kalung yang Aluna tidak pernah lepas.
Dengan tangan gemetar, Pak Budi mengangkat teleponnya dan menghubungi Arsen.
Arsen menerima telepon itu saat sedang dalam perjalanan ke kampus dengan kecepatan maksimal.
"NONA ALUNA HILANG!" teriak Pak Budi di seberang telepon, suaranya panik. "Saya tinggalkan sebentar untuk bicara dengan keamanan, saat kembali beliau sudah tidak ada! Dan saya menemukan kalung beliau di lantai..."
Arsen tidak mendengar sisa kalimat Pak Budi. Ponselnya jatuh dari tangannya.
Dunianya runtuh.
"CEPAT!" teriaknya pada sopirnya. "LEBIH CEPAT!"
Mobil melaju dengan kecepatan gila, memotong-motong kendaraan lain, mengabaikan lampu merah.
Saat tiba di kampus, Arsen berlari keluar bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti. Pak Budi berlari menghampirinya dengan wajah yang pucat dan kalung Aluna di tangannya.
Arsen meraih kalung itu dengan tangan yang gemetar. Kalung yang ia berikan. Kalung yang Aluna tidak pernah lepas sejak ia memakainya untuk pertama kali.
Sekarang tergeletak di lantai dingin, dilepas dengan paksa.
Sesuatu di dalam diri Arsen patah.
Bukan patah seperti hati yang terluka. Tetapi patah seperti sesuatu yang fundamental, yang menjaga kewarasannya tetap utuh.
"DARREN!" raungnya dengan suara yang menggelegar di koridor kosong. "DARREEEEN!"
Ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat.
"Arsen Mahendra," suara Darren terdengar santai di seberang sana. "Aku punya sesuatu yang sangat... berharga milikmu."
Arsen mendengar suara di latar belakang suara Aluna yang menangis, suara rantai yang bergerak.
"ALUNA!" teriaknya. "ALUNA, AKU DI SINI! AKU AKAN..."
"Tenang, tenang," potong Darren dengan suara yang menjengkelkan. "Dia masih aman. Untuk sekarang. Tetapi berapa lama dia tetap aman... itu tergantung padamu."
"Apa yang kamu inginkan?" desis Arsen, air mata mengalir di pipinya tetapi suaranya dipenuhi amarah yang membara.
"Sederhana," jawab Darren. "Kontrak Singapura yang kamu ambil dariku. Berikan pada ku. Transfer semua hak proyeknya padaku. Maka aku akan mengembalikan tunanganmu yang cantik."
"Baik," jawab Arsen tanpa berpikir. "Baik, aku akan berikan. Aku akan berikan apa pun. Kembalikan Aluna padaku."
"Oh, tidak secepat itu," ucap Darren dengan tertawa. "Aku ingin kamu merasakan dulu... bagaimana rasanya kehilangan. Seperti aku kehilangan kontrak, reputasi, dan bisnis karena ulahmu."
"DARREN, KUMOHON!" Arsen jatuh berlutut di lantai koridor, tidak peduli orang-orang mulai berkumpul menatapnya. "Kumohon, kembalikan dia. Aku akan berikan apa pun yang kamu mau. Uang, kontrak, bisnis, apa pun. Ambil semuanya. Hanya kembalikan Aluna."
"Aku akan menghubungimu lagi," ucap Darren. "Dan Arsen? Jangan coba hubungi polisi. Jangan coba lacak panggilan ini. Karena jika kamu melakukannya... Aluna akan membayar harganya."
Sambungan terputus.
Arsen menatap ponsel di tangannya dengan tatapan kosong. Lalu ia meraung raung seperti binatang yang terluka tangannya memukul lantai berkali-kali hingga berdarah.
"ALUNA!" teriaknya dengan suara yang pecah. "ALUNA!"
Pak Budi dan beberapa orang mencoba menenangkannya, tetapi Arsen tidak bisa ditenangkan. Ia terus berteriak nama Aluna, terus memukul lantai, terus menangis dengan cara yang menghancurkan.
Karena Arsen Mahendra pria yang selalu berkuasa, yang selalu terkontrol akhirnya benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Ketakutan terbesarnya telah terjadi.
Aluna diambil darinya.
Di sebuah gudang terpencil di pinggir kota, Aluna duduk terikat di kursi dengan tangan dan kaki yang diikat kuat. Kepalanya masih pusing dari efek kloroform, bibirnya berdarah karena dipaksa menutup mulut saat ia mencoba berteriak.
Darren duduk di kursi seberangnya, menatap Aluna dengan tatapan yang dingin.
"Maafkan aku, Aluna," ucapnya dengan nada yang tidak terdengar menyesal sama sekali. "Kamu orang yang baik. Tetapi sayangnya, kamu jatuh cinta pada pria yang salah. Dan sekarang... kamu harus membayar kesalahan Arsen."
Aluna menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca tetapi tidak menangis. Ia tidak akan memberikan kepuasan itu pada Darren.
"Arsen... akan menemukan saya," bisiknya dengan suara serak. "Dan saat dia menemukan... Anda akan menyesali ini."
Darren tertawa.
"Oh, aku harap dia menemukan. Aku harap dia datang. Karena itu... itu akan membuat semuanya lebih menarik."
Ia bangkit dan berjalan keluar gudang, meninggalkan Aluna sendirian dalam kegelapan, dingin, dan ketakutan.
Tetapi bahkan di tengah ketakutan itu, satu pikiran terus berputar di kepala Aluna,
Arsen, tolong temukan saya. Saya butuh Anda. Saya sangat butuh Anda.
Kembali di kampus, Arsen akhirnya bangkit dari lantai dengan bantuan Pak Budi. Wajahnya pucat, matanya memerah, dan ada darah di tangannya dari memukul lantai.
Tetapi ada sesuatu di matanya sesuatu yang gelap, yang berbahaya, yang...tidak waras.
"Hubungi semua orang," ucapnya dengan suara rendah yang bergetar. "Setiap koneksi yang aku punya. Polisi, detektif swasta, hacker. Aku tidak peduli ilegal atau tidak. Temukan Aluna. SEKARANG."
"Tapi Tuan, Tuan Darren bilang jangan hubungi..."
"AKU TIDAK PEDULI APA YANG DARREN BILANG!" teriak Arsen, membuat Pak Budi terlonjak. "Dia sudah mengambil segalanya dariku! Dia mengambil SATU-SATUNYA HAL YANG MEMBUATKU MASIH WARAS!"
Ia menarik napas gemetar.
"Temukan dia," bisiknya dengan suara yang pecah. "Temukan Aluna atau aku... aku tidak tahu apa yang akan kulakukan."
Dengan mata yang dipenuhi keputusasaan dan amarah yang tidak terkontrol, Arsen Mahendra memulai perang.
Perang untuk mendapatkan kembali satu-satunya orang yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri.
Dan dalam perang ini, ia tidak akan mematuhi aturan apa pun.
Karena pria yang kehilangan segalanya adalah pria yang paling berbahaya.
Dan Arsen Mahendra baru saja kehilangan segalanya.