NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — PERISAI YANG TERLALU DEKAT

Alinea baru sadar hidupnya resmi masuk fase glitch pas dia lagi bengong di depan mesin kopi kantor. Jam sembilan pagi, dan mood-nya udah di tahap:

Gue nggak dipecat.

Tapi gue juga nggak selamat.

Normalnya, karyawan yang nggak sengaja nyiram CEO pakai kopi itu nasibnya cuma dua:

1.Resign secara tidak hormat (alias hilang dari sistem HR).

2.Jadi legenda urban horor yang diceritain ke anak magang tiap sesi onboarding.

Alinea?

Masih hidup.

Masih pakai ID card.

Dan pagi ini… dia baru dapet chat dari sekretaris CEO.

[Mbak Sari – EA CEO]

Alinea, jam 10 naik ke lantai 23. Pak Arsenio minta ketemu.

Alinea melotot ke layar.

“Ngapain lagi si kulkas hidup itu?” gumamnya ketus.

Alinea saking fokusnya melotot ke layar sampai nggak sadar jarinya nekan tombol espresso kelamaan. Kopinya hampir meluber—dikit lagi tumpah, persis kayak kesabaran dia yang udah di ambang batas gara-gara kelakuan bosnya itu.

Perutnya mules dikit.

Bukan takut, ya. Lebih ke... waspada.

Soalnya, sejak kejadian kemarin—dan kontrak absurd itu—Arsenio Atmajda berubah.

Bukan jadi ramah, jangan salah sangka dulu. Tapi auranya... nggak sepenuhnya sedingin kulkas dua pintu lagi.

Dan menurut insting Alinea, itu justru sinyal bahaya.

Lantai 23 selalu punya atmosfer yang beda.

Karpetnya empuk banget, AC-nya dingin terkontrol, dan sunyinya tuh bukan sunyi kosong—tapi sunyi mahal. Tipe sunyi yang bikin orang mikir dua kali bahkan cuma buat sekadar batuk.

Alinea berdiri di depan pintu ruang CEO. Dia narik napas sekali—nyiapin mental buat ketemu si kulkas hidup—lalu masuk gitu aja tanpa ngetuk.

Lagian, buat apa formalitas kalau hidupnya udah terlanjur berantakan di tangan laki-laki di dalam sana?

“Pak, kalau ini soal kopi—”

“Masuk.”

Suara Arsenio memotongnya.

Dia berdiri membelakangi pintu, lagi nelpon.

Kemeja putihnya kelihatan perfect, lengan digulung sampai sikut, dan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya seolah lagi pamer kemewahan yang tenang. Posturnya tegap banget. Kaku. Tipikal patung pajangan yang lupa gimana caranya santai.

Alinea mendengus pelan. Vibe-nya emang selalu intimidatif, bahkan kalau cuma dilihat dari belakang.

“Ibu, saya sibuk,” katanya ke ponsel.

Nada suaranya datar, tapi Alinea bisa lihat rahang Arsenio mengeras dari samping. “Tidak. Saya nggak akan datang kalau ujung-ujungnya itu acara perjodohan lagi.”

Alinea otomatis melambatkan langkah. Napasnya tertahan.

Oh.

Jadi ini dia, Ibu Legenda yang sering disebut-sebut itu. Ternyata beneran ada orang yang berani bikin si kulkas hidup ini kelihatan emosi cuma lewat telepon.

“Sudah saya bilang. Saya tidak tertarik.”

Hening.

Lalu—

“Apa?”

Nada Arsenio turun. Lebih dingin.

“Tidak, saya tidak sendirian.”

Alinea berhenti.

Hah?

Arsenio melirik sekilas ke arah Alinea lewat bahunya.

Tatapannya singkat tapi tajam banget—tipe tatapan yang bikin Alinea merasa baru aja di-scan dari kepala sampai kaki. Lalu, dengan suara yang mendadak lebih dalam dan tegas, dia berkata lagi ke ponsel:

“Saya bersama seseorang.”

 Jantung Alinea berasa jeglek.

Satu detik...

Dua detik…

“…Ya. Dia penting.”

Alinea refleks menunjuk dirinya sendiri.

Gue?

Arsenio menutup telepon.

Klik.

Hening kembali mengisi ruangan.

“Duduk,” katanya.

Alinea nurut.

Kakinya melangkah maju, tapi otaknya masih ketinggalan di belakang—penuh tanda tanya yang nggak ada jawabannya. Dia berasa kayak lagi nyerahin diri ke kandang singa, tapi singanya pakai kemeja putih dan jam tangan mahal.

“Pak,” katanya hati-hati, “barusan… Bapak bilang apa ke ibu Bapak?”

Arsenio berdiri, melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depan meja Alinea.

Jarak mereka tinggal satu meter. Sunyi lagi. Alinea bisa mencium aroma parfum mahal Arsenio yang mendadak terasa mengintimidasi, seolah jarak segitu pun masih terlalu dekat untuk kewarasannya.

“Saya bilang kebenaran,” jawabnya singkat.

“Kamu perisai saya.”

Alinea nyengir miring.

“Pak, perisai itu biasanya benda mati. Saya hidup. Bisa protes.”

“Kamu dibayar.”

“Nah itu masuk akal.”

Arsenio duduk di tepi meja, bukan di kursinya.

Posisi itu... aneh. Terlalu santai untuk CEO sekelas dia, sekaligus terlalu dekat buat zona nyaman Alinea. Untuk pertama kalinya, si "kulkas hidup" ini kelihatan kayak manusia biasa, dan itu justru bikin Alinea makin waspada.

“Akhir pekan ini,” katanya, “kamu ikut saya.”

Alinea langsung refleks nyengir lebar.

“Wah, kencan pertama kita nih? Dress code apa, Pak? Casual trauma atau formal pura-pura bahagia?”

Arsenio mengabaikan sarkasme itu.

“Kamu akan ketemu ibu saya. Dan keluarga besar.”

Alinea berhenti senyum.

“…Oh.”

Ada jeda.

Jeda yang cukup lama buat Alinea ngerasain tenggorokannya kering.

“Dan sebelum itu,” lanjut Arsenio, “kita perlu latihan.”

Alinea menyipit.

“Latihan… apa?”

Arsenio berdiri.

Satu langkah mendekat.

“Kontak fisik,” katanya datar.

Alinea refleks mundur setengah inci.

“Hah?”

“Kamu terlihat kaku saat dekat saya,” lanjut Arsenio.

“Itu mencurigakan.”

Alinea ngakak pendek.

“Pak, justru BAPAK yang kaku. Saya mah cair.”

Dan sebelum Alinea sempat nambah omongan, Arsenio mengulurkan tangan.

Telapak tangannya terbuka.

Diam.

Menunggu.

Alinea menatap tangan itu.

Terus ke wajah Arsenio.

Balik lagi ke tangan.

Oke. Ini cuma pura-pura. Kontrak. Profesional. Jangan lebay, Alinea.

Alinea meletakkan tangannya di atas telapak Arsenio.

Hangat.

Hangatnya bukan hangat basa-basi.

Tapi hangat yang bikin otaknya blank setengah detik.

Arsenio menutup jari-jarinya pelan.

Tidak keras.

Tidak lembut berlebihan.

Pas.

“Lihat,” katanya.

“Denyut nadi kamu naik.”

Alinea refleks narik tangan.

“Pak, jangan sok dokter.”

“Tapi kamu gugup.”

Alinea mendengus.

“Ya iyalah. Siapa juga yang santai dipegang CEO.”

Arsenio menatapnya. Lama.

Dan untuk pertama kalinya, Alinea melihat sesuatu di mata itu.

Bukan dingin.

Bukan marah.

Kosong.

Sepi.

“Biasanya,” kata Arsenio pelan, “orang menghindari saya.”

Alinea terdiam.

“Sentuhan selalu terasa… transaksional,” lanjutnya.

“Dengan kamu, tidak.”

Jantung Alinea berdebar lebih cepat.

Ini bukan bagian kontrak.

Dia berdehem.

“Pak, jangan gitu dong. Saya bisa salah paham.”

Arsenio tersadar.

Langsung mundur setengah langkah.

“Kita lanjut besok,” katanya kaku.

“Kamu boleh pergi.”

Alinea berdiri.

Ngambil tas.

Berjalan ke pintu.

Tapi tepat sebelum keluar, Arsenio berkata:

“Alinea.”

Alinea menoleh.

“Jangan jatuh cinta.”

Alinea senyum kecil.

Santai.

Padahal dadanya agak sesak.

“Tenang, Pak,” katanya ringan.

“Saya alergi bos sendiri.”

Dia keluar.

Pintu tertutup.

Di balik pintu yang sudah tertutup, Arsenio berdiri sendirian.

Dia diam, menatap tangannya sendiri yang tadi sempat bersentuhan dengan Alinea. Seolah-olah jejak keberadaan cewek itu masih tertinggal di sana, bikin si "kulkas hidup" ini mendadak merasa asing sama dirinya sendiri.

Hangat, pikirnya.

Terlalu hangat.

Malamnya, Alinea rebahan sambil mantengin langit-langit kamar.

Tangannya masih terasa... aneh. Kayak habis nyentuh sesuatu yang nggak seharusnya dia sentuh. Bukan karena kotor, tapi karena ada sisa hangat yang nggak mau hilang—dan itu mulai bikin dia takut sama isi kepalanya sendiri.

HP-nya bunyi.

Unknown Contact

Besok makan siang bareng. Jam 12.

Alinea membalas cepat.

Alinea

Itu perintah atau ajakan, Pak Robot?

Beberapa detik kemudian:

Arsenio

Latihan.

Alinea memejamkan mata.

Senyum kecil nyelip di bibirnya.

Gawat, batinnya.

Perisainya mulai retak.

Alinea mematikan ponsel, lalu bersandar pasrah di sofa ruang tamu.

Lampu kuning redup masih menyala, bikin suasana makin kerasa sunyi. Jam dinding berdetak pelan, seolah lagi ngitungin tiap detik kegalauan dia. Dari dapur, sisa aroma mie rebus yang tadi dia makan setengah sadar masih tercium—ngingetin Alinea kalau hidupnya masih se-normal itu, tapi kenapa urusannya sama Arsenio kerasa se-absurd itu?

Rumah itu nggak besar, tapi cukup.

Biasanya, sunyinya rumah ini jadi tempat favorit Alinea. Malam tanpa drama, tanpa tuntutan, dan yang paling penting—tanpa siapa pun yang hobi ngatur hidupnya. Tapi malam ini, sunyi yang sama malah terasa asing, seolah ada yang kurang setelah seharian "diributin" sama Arsenio.

Tapi malam ini… sunyinya beda.

Tangannya terangkat tanpa sadar.

Dia mengepalkan, lalu membuka lagi.

Hangat itu masih ada.

“Latihan, katanya,” gumamnya sambil mendengus kecil.

“Latihan apaan sampai bikin gue mikir gini.”

Dia bangkit, berjalan tanpa tujuan ke arah jendela, lalu menyibak gorden sedikit. Lampu jalan memantul di kaca, bikin bayangannya sendiri kelihatan samar dan nggak menentu—persis kayak perasaannya sekarang.

Oke, Al. Ini cuma kerjaan.

Bukan perasaan. Bukan urusan hati.

Tapi otaknya berkhianat.

Cara Arsenio berdiri terlalu dekat.

Nada suaranya waktu bilang, “Sentuhan selalu terasa transaksional.”

Tatapan kosong itu—bukan dingin, tapi kesepian.

Alinea mendecak.

“Kenapa sih gue malah kasihan sama bos sendiri.”

Ponselnya bergetar di meja.

Bukan chat.

Telepon masuk.

Nama di layar bikin alisnya naik.

MR. ROBOT (FREEZER MODE).

Dia menatap layar itu beberapa detik lebih lama dari yang perlu.

Jantungnya berdetak nggak sabaran.

“Haloo?”

Nada suaranya dibuat santai. Lumayan berhasil.

Di seberang sana, hening.

“Alinea,” suara Arsenio terdengar lebih rendah dari biasanya.

Bukan suara rapat.

Lebih… manusia.

“Iya, Pak?”

“Besok jangan makan dulu sebelum jam dua belas.”

Alinea mengernyit.

“Kenapa?”

“Ibu saya barusan kirim foto,” jawab Arsenio.

“Restoran.”

“Oh.”

Dan lalu—

“Dan dia juga mengira,” Arsenio berhenti sebentar,

“…kita sudah dekat.”

Alinea membeku.

“Se-dekat apa?” tanyanya pelan.

Hening.

Napas Arsenio terdengar stabil—tapi ada sesuatu yang goyah di baliknya.

“Cukup dekat,” katanya akhirnya,

“sampai dia bilang… kalau kamu tidak datang, dia yang akan datang ke kantor.”

Jantung Alinea jatuh ke perut.

“HAH?”

“Dan dia tipe yang suka memeluk.”

Alinea memejamkan mata.

Ini bukan latihan lagi.

Ini jebakan sosial tingkat dewa.

“Oke,” katanya cepat.

“Oke. Saya datang. Tapi Bapak tanggung jawab penuh.”

“Saya tahu.”

Telepon ditutup.

Alinea berdiri diam di ruang tamunya yang sunyi. Rumahnya sendiri. Wilayah aman yang selama ini dia jaga, tiba-tiba ikut terseret masuk ke pusaran hidup orang lain.

“Gila,” gumamnya pelan ke arah kegelapan. “Gue cuma mau kerja tenang, nggak mau ngontrak drama keluarga CEO.”

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!