Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Dari Nol
Senin pagi, Rajendra bangun dengan rencana yang jelas.
Tidak seperti kehidupan pertamanya—di mana ia menghabiskan usia dua puluh sampai dua puluh lima tahun mengikuti arahan keluarga, bekerja di perusahaan ayahnya, menunggu giliran jadi direktur.
Kali ini ia tidak akan menunggu.
Kali ini ia akan bangun sendiri.
Ia duduk di tepi kasur—membuka laptop tua yang ia beli second tahun lalu—laptop Toshiba dengan layar retak di pojok kiri bawah tapi masih jalan.
Layar menyala—desktop dengan wallpaper default Windows 7.
Rajendra membuka browser, mengetik di Google: "cara mendirikan PT 2010".
Halaman hasil pencarian muncul—artikel-artikel tentang syarat pendirian perusahaan, biaya notaris, dokumen yang dibutuhkan.
Ia membaca satu per satu—mencatat poin penting di buku catatan kecilnya:
Syarat Pendirian PT:
Minimal 2 pendiri (bisa pakai nominee)
Modal dasar minimal 50 juta
Akta notaris
SK Kemenkumham
NPWP perusahaan
Domisili usaha
Rajendra menatap catatan itu—khususnya baris pertama: modal dasar minimal 50 juta.
Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi mobile banking—saldo rekening: Rp 3.750.000.
Uang sisa dari uang kos semester ini dan uang saku bulanan yang ia kumpulkan sejak awal tahun.
Tidak cukup.
Jauh dari cukup.
Ia menutup laptop, menatap langit-langit kamar kos yang retak—pikirannya berputar cepat.
Di kehidupan pertamanya, ia punya akses langsung ke dana keluarga. Mau beli apa saja tinggal bilang ke ayahnya atau ambil dari rekening perusahaan. Tidak pernah mikir soal modal, soal uang, soal bagaimana orang mulai dari nol.
Sekarang ia harus mikir.
Sekarang ia sendirian.
Pukul sepuluh pagi, Rajendra duduk di sebuah bank BCA cabang Kuningan—mengambil nomor antrian, duduk di kursi plastik biru, menunggu dipanggil.
Di tangannya, dokumen surat wasiat dan bukti kepemilikan saham Grup Baskara yang ia print dari file Wirawan kemarin.
Nomor antrian dipanggil—A127.
Rajendra bangkit, berjalan ke loket nomor 3—seorang wanita muda dengan seragam biru rapih dan name tag bertuliskan "Sari" tersenyum ramah.
"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?"
"Pagi," jawab Rajendra. "Saya mau buka rekening baru. Dan saya mau tanya soal pinjaman agunan saham."
Sari mengerutkan dahi sedikit—seperti jarang dengar pertanyaan seperti itu dari anak muda.
"Pinjaman agunan saham? Bapak punya saham perusahaan tercatat?"
"Iya," jawab Rajendra—meletakkan dokumen di atas meja. "Saham Grup Baskara. 60 persen kepemilikan."
Sari menatap dokumen itu—matanya melebar sedikit.
Ia membaca cepat—halaman pertama, halaman kedua—lalu menatap Rajendra dengan tatapan berbeda.
Tatapan yang lebih serius.
"Mohon tunggu sebentar, Pak. Saya perlu panggil supervisor."
Ia bangkit, berjalan ke ruangan di belakang—menutup pintu kaca.
Lima menit kemudian, seorang pria paruh baya keluar—memakai kemeja putih lengan panjang, dasi merah, rambut rapi disisir ke belakang.
"Selamat pagi, saya Budi, supervisor cabang ini," sapanya sambil mengulurkan tangan.
Rajendra berjabat tangan—pegangan singkat, tegas.
"Rajendra."
Budi duduk di kursi Sari—membaca dokumen yang sama dengan lebih teliti.
"Anda Rajendra Baskara?" tanyanya—nadanya hati-hati.
"Iya."
"Cucu Dimas Baskara?"
"Iya."
Budi menatapnya beberapa detik—seperti menilai apakah ini serius atau bercanda.
Lalu ia bicara—nadanya lebih formal sekarang.
"Pak Rajendra, untuk pinjaman dengan agunan saham perusahaan sebesar ini, prosesnya tidak bisa langsung. Kami perlu verifikasi dokumen, penilaian nilai saham oleh tim legal, dan persetujuan dari kantor pusat."
"Berapa lama?" tanya Rajendra.
"Sekitar dua minggu sampai satu bulan."
Rajendra diam—pikiran berputar cepat.
Satu bulan terlalu lama.
Ia butuh modal sekarang—atau setidaknya dua minggu ke depan—untuk mulai gerak.
"Ada cara lebih cepat?" tanyanya.
Budi diam sebentar—jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja pelan.
"Ada," jawabnya akhirnya. "Tapi bukan lewat bank."
Rajendra menatapnya—menunggu.
"Anda bisa coba ke investor swasta atau venture capital. Mereka lebih fleksibel, lebih cepat, tapi bunganya lebih tinggi."
"Anda kenal?" tanya Rajendra langsung.
Budi menatapnya—ragu sebentar.
Lalu ia meraih kartu nama dari laci mejanya, menulis sesuatu di belakangnya, lalu memberikannya ke Rajendra.
"Ini kontak teman saya. Namanya Anton Wijaya. Dia punya perusahaan investasi kecil—fokus ke startup dan bisnis baru. Bilang saja Budi dari BCA yang kasih kontaknya."
Rajendra menerima kartu nama itu—membacanya cepat.
Anton Wijaya
Managing Partner
Wijaya Capital
08123456789
"Terima kasih," kata Rajendra—memasukkan kartu nama itu ke saku kemeja.
Budi mengangguk—lalu menatap Rajendra dengan tatapan serius.
"Saran saya, Pak Rajendra—hati-hati dengan investor swasta. Mereka bisa bantu cepat, tapi kalau Anda tidak baca kontrak dengan teliti, Anda bisa rugi besar."
Rajendra tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata.
"Saya tahu. Terima kasih."
Siang itu, Rajendra duduk di food court mal Ambassador—memesan nasi goreng dan es teh manis—sambil menelepon nomor yang ada di kartu nama tadi.
Nada sambung berbunyi tiga kali.
Lalu suara di seberang—suara pria dewasa, tegas tapi ramah.
"Halo, Anton Wijaya."
"Pak Anton, saya Rajendra. Saya dapat kontak Bapak dari Pak Budi, BCA Kuningan."
"Oh, Budi. Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya butuh modal untuk mendirikan perusahaan. Sekitar 200 juta. Saya punya agunan—saham Grup Baskara."
Hening sebentar di seberang.
Lalu suara Anton—nadanya berubah jadi lebih serius.
"Grup Baskara? Perusahaan konglomerat itu?"
"Iya."
"Berapa persen saham yang Anda pegang?"
"60 persen."
Hening lagi—lebih lama kali ini.
"Anda serius?" tanya Anton—nadanya penuh keraguan.
"Sangat serius. Saya bisa tunjukkan dokumen resmi dari notaris."
Anton diam beberapa detik—Rajendra bisa mendengar suara nafas dan suara keyboard di latar belakang.
"Oke," kata Anton akhirnya. "Kita bisa ketemu. Kapan Anda bisa?"
"Hari ini. Sekarang kalau bisa."
"Wah, cepat sekali. Anda lagi butuh banget ya?"
"Iya."
Anton tertawa kecil—tertawa bukan mengejek, tapi tertarik.
"Oke. Jam dua siang. Di kantor saya. Jalan Rasuna Said, gedung Menara Imperium lantai 15. Bisa?"
"Bisa."
"Baik. Sampai jumpa, Rajendra."
Sambungan terputus.
Rajendra menaruh ponselnya di meja—menatap nasi goreng yang masih panas tapi belum ia sentuh.
Pikirannya sudah di pertemuan nanti—sudah menyusun strategi, sudah mempersiapkan argumen, sudah menghitung kemungkinan.
Ia menyeruput es tehnya—dingin, manis, menyegarkan.
Lalu ia mulai makan—pelan, metodis, sambil terus mikir.
Pukul dua siang tepat, Rajendra tiba di gedung Menara Imperium.
Gedung tinggi berlantai 30—kaca biru gelap, lobby luas dengan lantai marmer putih mengkilap, AC dingin menyegarkan.
Ia naik lift ke lantai 15—pintu lift terbuka, koridor panjang dengan karpet abu-abu tebal.
Di ujung koridor, ada pintu kaca dengan logo "Wijaya Capital" di atasnya.
Rajendra masuk—disambut seorang resepsionis muda yang langsung berdiri.
"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?"
"Saya Rajendra. Ada janji dengan Pak Anton jam dua."
Resepsionis mengecek jadwal di komputernya—mengangguk.
"Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."
Ia mengangkat telepon internal—bicara pelan—lalu menutup telepon.
"Pak Anton sudah siap. Silakan masuk, ruangan paling ujung sebelah kanan."
Rajendra mengangguk—berjalan menyusuri koridor kecil—lalu mengetuk pintu kayu dengan plakat bertuliskan "Anton Wijaya - Managing Partner".
"Masuk," suara dari dalam.
Rajendra membuka pintu.
Di dalam, seorang pria duduk di belakang meja kerja modern—usia sekitar empat puluhan, rambut rapi, kemeja biru muda tanpa dasi, kacamata hitam bertengger di kepala.
Anton berdiri begitu melihat Rajendra—mengulurkan tangan dengan senyum ramah.
"Rajendra?"
"Iya, Pak."
Mereka berjabat tangan—pegangan erat, lama.
"Duduk, duduk," kata Anton sambil menunjuk kursi di depan mejanya. "Mau minum apa? Kopi? Teh?"
"Tidak usah, Pak. Terima kasih."
Anton duduk kembali—menatap Rajendra dengan tatapan menilai tapi tidak merendahkan.
"Anda masih muda," komentarnya. "Berapa umur?"
"Dua puluh."
Anton mengangguk—seperti memproses informasi itu.
"Dua puluh tahun, tapi sudah pegang 60 persen saham Grup Baskara. Itu... tidak biasa."
"Warisan," jawab Rajendra singkat.
"Dari?"
"Kakek saya. Dimas Baskara."
Anton menatapnya—matanya sedikit melebar.
"Dimas Baskara... pendiri Grup Baskara yang meninggal tahun lalu?"
"Iya."
Anton bersandar di kursinya—tangan dilipat di depan dada—ekspresinya berubah jadi lebih serius.
"Oke. Jadi situasinya begini: Anda dapat warisan besar dari kakek, tapi sekarang Anda butuh modal untuk mulai bisnis sendiri. Benar?"
"Benar."
"Kenapa tidak pakai uang dari perusahaan keluarga? 60 persen saham artinya Anda punya kontrol penuh. Anda bisa ambil dana operasional, bisa ambil dividen, bisa—"
"Saya sudah keluar dari keluarga," potong Rajendra—nadanya tenang tapi tegas. "Saya tidak mau pakai apa pun dari mereka. Saya mau mulai sendiri. Dari nol."
Anton menatapnya—diam beberapa detik—lalu tersenyum kecil.
Senyum kagum.
"Prinsip yang bagus. Tapi sulit."
"Saya tahu."
Anton meraih pulpen—memutar-mutarnya di jari—pikiran terlihat bekerja cepat.
"Oke. Ceritakan ke saya. Anda mau dirikan perusahaan apa? Bidang apa? Target pasar siapa? Proyeksi revenue berapa?"
Rajendra menarik napas—lalu bicara dengan tenang tapi jelas.
"Saya mau dirikan perusahaan teknologi. Fokus awal: platform e-commerce untuk produk lokal. Target pasar: kelas menengah Indonesia yang mulai belanja online tapi belum percaya sistem pembayaran digital."
Anton mengangguk—mendengarkan serius.
"Kenapa e-commerce? Sekarang sudah ada Tokopedia, Bukalapak—"
"Karena mereka masih kecil," jawab Rajendra. "Dan mereka belum optimal. Masalah terbesar e-commerce sekarang: logistik dan sistem pembayaran. Orang mau beli online tapi takut barang tidak sampai, takut ditipu, takut bayar pakai kartu kredit."
"Dan solusi Anda?"
"Sistem pembayaran COD—cash on delivery—tapi dengan jaminan uang kembali kalau barang rusak. Dan logistik terintegrasi—kita kerja sama dengan ekspedisi lokal, tapi punya quality control ketat."
Anton menatapnya—matanya bersinar.
"Itu... menarik. Tapi butuh modal besar. Logistik itu mahal. Sistem pembayaran itu rumit. 200 juta tidak cukup."
"Saya tahu," jawab Rajendra. "200 juta cuma untuk tahap awal—bangun platform, rekrut tim kecil, running selama enam bulan pertama. Setelah itu saya akan cari investor lebih besar."
Anton diam—pikiran terlihat berputar cepat.
Lalu ia bertanya—nadanya lebih serius.
"Anda punya tim?"
"Belum. Tapi saya tahu siapa yang mau saya rekrut."
"Anda punya pengalaman bisnis?"
Rajendra diam sebentar.
Lalu ia menjawab—nadanya hati-hati.
"Saya punya... pengetahuan. Tentang bagaimana industri ini akan berkembang. Tentang apa yang orang butuh. Tentang kesalahan yang harus dihindari."
Anton menatapnya—tatapan panjang, tajam—seperti mencoba membaca sesuatu di balik kata-kata itu.
Lalu ia tersenyum.
"Oke. Saya tertarik. Tapi saya butuh lihat dokumen resmi saham Anda dulu. Dan saya butuh proposal bisnis yang lebih detail. Bisa Anda kirim minggu depan?"
Rajendra mengangguk. "Bisa."
"Bagus." Anton berdiri—mengulurkan tangan lagi. "Kalau semua oke, kita bisa bicara soal angka. Tapi satu hal, Rajendra—"
Rajendra menatapnya—menunggu.
"Bisnis itu bukan cuma soal ide bagus. Bisnis itu soal eksekusi. Anda yakin Anda bisa?"
Rajendra tersenyum tipis—senyum yang tenang tapi penuh keyakinan.
"Sangat yakin."
Sore itu, Rajendra kembali ke kamar kos dengan perasaan campur aduk.
Lega karena ada kemungkinan dapat modal.
Tegang karena ia harus mulai serius—proposal bisnis, rekrut tim, eksekusi rencana.
Tapi lebih dari itu—ada perasaan asing yang ia rasakan.
Perasaan... hidup.
Di kehidupan pertamanya, ia tidak pernah merasakan ini. Tidak pernah merasakan tantangan memulai dari nol. Tidak pernah merasakan bagaimana susahnya orang cari modal, cari investor, cari tim, cari kepercayaan.
Semuanya sudah tersedia sejak awal.
Sekarang tidak.
Sekarang ia harus berjuang.
Dan entah kenapa—ia merasa lebih hidup dari sebelumnya.
Ia duduk di tepi kasur—membuka laptop—mulai mengetik proposal bisnis.
Judul: "LokalMart: Platform E-Commerce untuk Produk Lokal Indonesia"
Ia mulai menulis—poin demi poin, angka demi angka, strategi demi strategi.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tersenyum—senyum kecil, tapi tulus.
Bukan senyum dingin.
Bukan senyum balas dendam.
Tapi senyum orang yang akhirnya punya tujuan.
[ END OF BAB 4 ]