NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 Jejak yang Dipilih

Pagi di desa Sukamaju tidak pernah berubah caranya menyapa. Ia datang tanpa gegap gempita, tanpa ambisi untuk mengesankan siapa pun. Cahaya matahari merambat perlahan di sela pepohonan, burung-burung berkicau seolah hanya untuk mengingatkan bahwa hari baru selalu layak diberi kesempatan.

Alya terbangun sebelum alarm ponselnya berbunyi. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang sedikit terbuka. Udara pagi masuk membawa aroma tanah dan rumput basah. Ada rasa ringan di dadanya—bukan bahagia yang meledak-ledak, melainkan kelegaan yang diam-diam menetap.

Di sampingnya, Sultan masih terlelap. Wajah suaminya tampak lebih tenang dibanding beberapa minggu lalu, ketika persoalan tanah, Ratna, dan masa lalu keluarga seperti bayang-bayang yang enggan pergi. Alya menatapnya sejenak, lalu bangkit perlahan agar tidak membangunkannya.

Di dapur, ia menyiapkan sarapan sederhana. Teh hangat, nasi, dan telur dadar dengan daun bawang dari kebun belakang. Aktivitas kecil itu memberinya rasa kendali—sebuah rutinitas yang menegaskan bahwa hidup, betapapun rumitnya, tetap berjalan melalui hal-hal yang paling sederhana.

Satria muncul dengan rambut masih berantakan, matanya berbinar. “Bunda, hari ini aku boleh ikut ke balai desa lagi?”

Alya tersenyum. “Boleh. Tapi setelah sarapan, dan jangan lari-lari.”

Satria mengangguk cepat. “Aku mau lihat papan gambar yang kemarin dipasang.”

Sejak pertemuan warga beberapa hari lalu, balai desa Sukamaju menjadi lebih hidup. Papan-papan rencana dipasang di dinding: sketsa lahan, pembagian zona tanam, ruang pelatihan, dan bangunan kecil yang kelak akan menjadi pusat belajar. Semua masih berupa garis dan tulisan tangan, tetapi bagi warga desa, itu sudah cukup untuk menumbuhkan harapan.

Ratna keluar dari kamar tamu tak lama kemudian. Ia mengenakan kemeja sederhana dan celana kain. Tidak ada perhiasan mencolok, tidak ada riasan berlebihan. Alya memperhatikannya diam-diam. Ada perubahan yang tidak bisa diukur dengan kata-kata—sebuah kesediaan untuk tidak lagi tampil sebagai orang yang paling tahu segalanya.

“Pagi,” sapa Ratna pelan.

“Pagi,” jawab Alya.

Tidak ada kecanggungan. Tidak juga kehangatan berlebihan. Hanya ruang yang cukup untuk saling bernapas.

Setelah sarapan, mereka berjalan bersama menuju balai desa. Sultan menyusul kemudian, membawa beberapa berkas dan ponselnya yang terus bergetar oleh pesan masuk dari mitra usaha dan kelompok tani. Alya tahu, di balik ketenangan yang ia rasakan, masih ada banyak pekerjaan yang menunggu.

Di balai desa, beberapa warga sudah berkumpul. Bu Siti dan kelompok pengrajin sedang menata contoh produk di meja panjang. Anyaman bambu, tas rajut, dan kain tenun sederhana dipajang dengan rapi. Satria langsung menghampiri papan gambar, menunjuk-nunjuk sambil bertanya.

Ratna berdiri agak ke belakang, memperhatikan semuanya. Haji Mansur mendekatinya. “Kamu terlihat lebih siap hari ini,” katanya sambil tersenyum tipis.

Ratna mengangguk. “Saya tidak tahu apakah siap itu kata yang tepat, Pak Haji. Tapi saya tidak ingin lari lagi.”

Kalimat itu terdengar jujur. Bukan janji besar, bukan pula pernyataan heroik—hanya pengakuan sederhana dari seseorang yang akhirnya lelah berperang dengan dirinya sendiri.

Rapat kecil dimulai. Alya duduk di antara warga, bukan di depan. Ia sengaja memilih posisi itu. Baginya, duduk sejajar adalah simbol yang lebih kuat daripada berdiri sebagai pemimpin.

Pembahasan berlangsung hangat. Ada perbedaan pendapat, ada kekhawatiran soal modal, pembagian waktu, dan keberlanjutan. Alya mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Sultan sesekali menjelaskan skema kerja sama dengan perusahaan ekspor—bukan sebagai jaminan kaya, tetapi sebagai peluang yang realistis.

Ratna, ketika akhirnya berbicara, tidak menyinggung hak milik atau persentase keuntungan. Ia berbicara tentang tanggung jawab. Tentang kesediaannya mengurus administrasi, transparansi laporan, dan menghubungkan desa dengan jaringan yang selama ini hanya ia gunakan untuk kepentingan pribadi.

Beberapa warga saling berpandangan. Ada yang masih ragu, tetapi tidak ada yang menolak mentah-mentah.

Menjelang siang, rapat ditutup. Orang-orang bubar dengan wajah yang tidak lagi tegang. Tidak ada sorak-sorai, tetapi ada langkah-langkah yang terasa lebih mantap.

Di luar balai desa, Alya duduk di bangku kayu, memandang halaman. Ratna mendekat, duduk di sampingnya.

“Aku sering berpikir,” ujar Ratna tiba-tiba, “kalau dulu aku memilih mendengarkan, mungkin semua ini tidak perlu sepanjang dan sesakit ini.”

Alya tidak langsung menjawab. “Mungkin. Tapi kalau semua orang selalu membuat pilihan yang benar sejak awal, kita tidak akan pernah belajar.”

Ratna tersenyum tipis. “Kamu selalu bisa melihat sisi itu.”

“Aku belajar dengan cara yang tidak mudah,” balas Alya.

Sore itu, mereka kembali menyusuri lahan. Kali ini bersama beberapa warga yang mulai membersihkan semak. Anak-anak berlarian di tepi sawah, tertawa tanpa beban. Alya berhenti sejenak, mengamati pemandangan itu. Ia teringat dirinya sendiri, bertahun-tahun lalu, berdiri di tempat yang sama bersama kakeknya.

“Kamu ingat,” kata Alya pada Ratna, “kakek selalu bilang tanah ini bukan warisan, tapi titipan.”

Ratna mengangguk. “Aku dulu menganggap itu hanya kata-kata.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku mengerti. Dan aku takut terlambat.”

Alya menoleh padanya. “Selama kita masih memilih untuk bertanggung jawab, belum ada kata terlambat.”

Malam turun perlahan. Di rumah, suasana hangat tercipta tanpa direncanakan. Sultan dan Ratna berbincang soal teknis, Satria tertawa mendengarkan cerita lama tentang kakek. Alya duduk di sudut, membuka kembali buku catatan lamanya.

Ia menulis dengan hati-hati, seolah setiap kata adalah janji.

Aku pernah ingin menang.

Pernah ingin diakui.

Tapi hari ini aku tahu, yang paling penting adalah memilih jalan

yang tidak membuat siapa pun harus terluka sendirian.

Ia menutup buku itu dan meletakkannya di laci. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menyembunyikan masa lalu atau menghapusnya. Masa lalu itu kini menjadi bagian dari fondasi—bukan beban.

Alya berdiri di ambang pintu, memandang keluarganya. Ia tahu, esok dan lusa akan tetap ada tantangan. Tidak semua luka sembuh dalam satu musim. Tidak semua niat baik berjalan mulus.

Namun malam itu, di desa Sukamaju, Alya merasa yakin pada satu hal:

ia tidak lagi berjalan sendirian, dan ia telah memilih jejak yang bisa ia pertanggungjawabkan—pada dirinya sendiri, pada orang-orang yang ia cintai, dan pada tanah yang pernah mengajarkannya .

Sukamaju semakin larut, namun rumah Alya belum benar-benar tenggelam dalam sunyi. Lampu teras masih menyala, menerangi halaman tempat Sultan berdiri sambil berbincang singkat dengan Haji Mansur. Suara mereka rendah, penuh kehati-hatian—bukan karena rahasia, melainkan karena kesadaran bahwa setiap keputusan kecil kini membawa dampak yang lebih luas.

Alya mengamati dari balik jendela. Ia tahu percakapan itu bukan tentang keraguan, melainkan antisipasi. Ketika sesuatu mulai tumbuh, justru di situlah ia paling rapuh.

Ratna duduk di ruang tengah, membuka map cokelat berisi dokumen lama—surat kepemilikan, catatan pajak, dan beberapa berkas yang dulu menjadi sumber pertengkaran. Kini kertas-kertas itu tampak seperti artefak masa lalu yang kehilangan tajinya. Ratna menutup map itu perlahan, seolah menutup satu bab hidupnya sendiri.

“Alya,” panggilnya pelan.

Alya mendekat. “Ada apa?”

Ratna menghela napas. “Aku ingin kembali ke kota besok. Mengurus beberapa hal. Bukan untuk pergi… tapi untuk membereskan.”

Alya menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Pergilah. Tidak semua tanggung jawab bisa diselesaikan di satu tempat.”

Ratna tersenyum kecil. “Terima kasih… karena tidak menahanku dengan rasa curiga.”

“Kepercayaan itu juga pilihan,” jawab Alya tenang.

Di kamar, Satria sudah tertidur, memeluk kertas gambarnya. Alya merapikan selimut anaknya, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun penting—anak itu tumbuh dengan menyaksikan orang dewasa belajar meminta maaf, berdamai, dan bekerja bersama. Itu mungkin warisan terbaik yang bisa ia berikan.

Saat semua akhirnya terlelap, Alya keluar ke teras. Sultan sudah duduk di sana, secangkir kopi di tangannya.

“Kamu capek?” tanya Sultan.

“Capek yang baik,” jawab Alya. “Yang membuatku merasa hidup.”

Sultan tersenyum. “Aku bangga padamu. Bukan karena kamu berhasil menyatukan semua ini, tapi karena kamu tidak kehilangan dirimu sendiri dalam prosesnya.”

Alya bersandar di bahu suaminya. “Aku sempat takut. Bahwa jika aku membuka pintu pada masa lalu, aku akan kembali terluka.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku tahu—luka itu tidak selalu harus ditutup. Kadang, ia perlu dirawat bersama.”

Angin malam berembus pelan. Di kejauhan, suara serangga bersahutan, seperti doa-doa kecil yang tak pernah meminta balasan.

Alya memejamkan mata. Ia tidak tahu persis seperti apa masa depan tanah itu, desanya, atau bahkan hubungannya dengan Ratna ke depan. Namun untuk pertama kalinya, ketidakpastian itu tidak menakutkan.

Ia hanya terasa… jujur.

Dan di dalam kejujuran itulah, Alya merasa benar.

1
Anonymous
pakai chatgpt?
niadatin tiasmami: kok komen gt
total 2 replies
only siskaa
seruu🔥mmpir juga ya kk
niadatin tiasmami: ok kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!