Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Sinyal dari Tanah Leluhur
Suasana Malabar nggak pernah sesunyi ini. Biasanya, jam segini suara burung gereja, gemericik air irigasi, atau tawa para pemetik teh bakal saling sahut-sahutan. Tapi sekarang, Malabar kayak sebuah lukisan yang dipaksa berhenti berputar.
Langitnya abu-abu tenang, udaranya dingin banget sampai menusuk tulang, dan kabut tebal merayap pelan di sela-sela pohon teh yang daunnya mulai layu karena ditinggal pemiliknya.
BOOOOOMM!
Ketenangan itu pecah berkeping-keping saat bunker "Akar Sejati" jatuh dari langit kayak meteor nyasar. Bunker itu menghantam area di deket pabrik teh lama, bikin tanah bergetar hebat dan debu beterbangan ke mana-mana.
Pintu palka bunker terbuka dengan suara berderit yang memilukan, nampilin Aris yang merangkak keluar sambil batuk-batuk, disusul Sekar yang matanya sembab.
"Kita... kita di mana?" tanya Aris sambil ngusap kacamatanya yang pecah sebelah.
Sekar berdiri, dia narik napas panjang. Wangi tanah basah dan aroma teh yang khas langsung nyapa hidungnya. "Malabar, Ris. Kita pulang."
Tapi Sekar nggak ngerasa seneng. Dia ngelihat ke arah tangannya yang kosong. Adrian nggak ada di sana. Cowok itu bener-bener memudar di ruang antar-dimensi tadi. Di dalem botol Jantung Emas yang dibawa Sekar, cuma tersisa butiran debu emas yang berpendar sangat lemah, kayak kunang-kunang yang mau mati.
Lampu Suar di Balik Kabut
"Kar, liat ini!" Aris manggil sambil nunjuk ke arah sebuah antena tua di atas bukit yang biasanya dipake buat pemancar radio lokal perkebunan.
Antena itu, yang harusnya mati total karena nggak ada listrik, mendadak nyala. Cahayanya bukan lampu biasa, tapi frekuensi biru yang berdenyut stabil, ngirim sinyal kode morse yang suaranya kedengeran sampai ke telinga mereka lewat getaran tanah.
Tiiiit... Tit... Tiiiit...
"Itu frekuensi khusus keluarga Dirgantara," Aris melongo. "Gua tahu kode ini. Ini sistem 'Beacon' darurat yang dirancang Bokapnya Adrian buat kondisi kiamat. Sinyalnya bukan nyari bantuan ke luar, tapi buat narik semua energi keluarga kembali ke titik nol."
Tiba-tiba, dari sela-sela akar pohon teh tua yang ada di bawah antena itu, muncul proyeksi hologram yang udah agak rusak. Sosok pria paruh baya dengan wibawa yang persis kaya Adrian, tapi wajahnya lebih ramah, muncul di sana.
"Jika kalian mendengar pesan ini, artinya bumi sudah berada di ambang penghapusan,"suara pria itu Ayah Adrian terdengar tenang. "Jangan cari aku di bintang-bintang. Cari aku di akar yang paling dalam. Adrian, anakku, jika kamu kehilangan ragamu, ingatlah satu hal: kamu adalah tanah ini."
Sekar ngelihat butiran debu emas di dalem Jantung Emas itu mendadak bereaksi kenceng. Butiran itu mulai muter-muter gelisah, seolah-olah denger suara bapaknya.
"Adrian denger ini, Ris! Sinyal ini tuh lampu suar buat jiwanya!" Sekar dapet semangat baru. Dia langsung lari nuju ke arah antena itu, nembus kabut dan rimbunnya pohon teh.
Menanam Sang Raja
Pas nyampe di bawah antena, Sekar nemuin sesuatu yang nggak pernah dia liat sebelumnya. Di bawah pohon teh paling tua di Malabar yang konon ditanam sendiri oleh kakek buyut Adrian ada sebuah instalasi mekanik kuno yang tersembunyi di dalem tanah. Akar-akar pohon teh itu melilit mesin-mesin tua yang masih berdenyut.
"Ini bukan mesin biasa," Aris yang baru nyampe langsung ngecek kabel-kabelnya. "Ini alat 'Grounding' kesadaran. Gila, Bokap Adrian bener-bener udah nyiapin Malabar buat jadi pelabuhan terakhir jiwa manusia."
Sekar berlutut di depan tanah yang gembur di bawah pohon itu. Dia ngebuka Jantung Emas, ngebiarin butiran debu emas Adrian melayang keluar.
"Dri... lu denger gua kan?" bisik Sekar. "Waktu di Sub-Root, lu bilang lu adalah akar. Sekarang, saatnya lu beneran nyatu sama tanah ini. Jangan takut, gua nggak bakal ninggalin lu."
Sekar mulai ngegali tanah itu pake tangan kosong. Dia nggak peduli kukunya kotor atau tangannya lecet. Dia naruh debu-debu emas itu ke dalem lubang, terus dia nyiram pake air murni dari mata air Malabar yang dia bawa di botol kecil.
"Tumbuhlah, Adrian. Jadilah raga baru yang nggak bisa dihancurin sama teknologi mereka," Sekar naruh telapak tangannya di atas tanah itu, ngalirkan semua memori indahnya tentang Adrian ke dalem sana.
Tanah itu mulai bercahaya. Bukan cahaya emas yang menyilaukan kayak zirah Adrian, tapi cahaya hijau zamrud yang hangat. Akar-akar pohon teh di sekeliling mereka mulai bergerak, ngebentuk semacam kepompong dari jalinan daun dan batang di atas lubang tempat Adrian ditanam.
Pelepasan Jutaan Jiwa
Sambil nunggu proses "penanaman" Adrian, Aris nggak tinggal diem. Dia balik ke bunker, ngelihat jutaan botol memori bumi yang melayang-layang di dalem ruang penyimpanan.
"Oke, temen-temen, saatnya kalian pulang," ucap Aris.
Dia nyambungin sistem bunker ke antena pemancar tua tadi. Dengan satu pencetan tombol, Aris ngelepasin segel semua botol kaca itu secara serentak.
ZRRRAAAAAAAAPPPPP!
Malabar mendadak jadi pusat pesta cahaya paling gila dalam sejarah manusia. Jutaan mungkin milyaran titik cahaya melesat keluar dari bunker, terbang ke angkasa. Cahaya-cahaya itu berpencar ke segala arah: ada yang terbang ke Jakarta, New York, pelosok desa di Afrika, sampai ke puncak gunung Himalaya.
Setiap cahaya itu bawa satu jiwa manusia kembali ke raga asli mereka yang tadinya cuma jadi patung perak. Di seluruh penjuru dunia, raga-raga yang kaku mulai bergerak lagi. Warna kulit yang tadinya metalik kembali jadi warna kulit manusia normal.
Orang-orang mulai bangun di tengah jalan, di kantor, atau di dalem rumah mereka dengan perasaan kayak baru aja bangun dari mimpi buruk yang sangat panjang.
"Gua ngerasa kayak baru aja jadi Sinterklas paling hebat sedunia," gumam Aris sambil ngelihat pemandangan indah itu dari jendela bunker.
Raga yang Menyatu dengan Bumi
Di bawah pohon teh tua, kepompong akar itu mulai terbuka. Sekar nahan napas pas ngelihat apa yang ada di dalemnya.
Seorang pria keluar dari sana. Dia bukan Adrian yang pake jas mahal, dan bukan juga Adrian yang pake zirah alien. Dia adalah Adrian yang baru. Rambutnya hitam legam, badannya tegap tapi kelihatan sangat luwes. Kulitnya punya semu-semu hijau zaitun yang sehat.
Yang paling unik, di sepanjang lengannya, ada pola urat daun yang warnanya emas redup, seolah-olah dia punya tato alami yang menyambung langsung ke sarafnya. Adrian ngebuka matanya. Matanya bukan lagi emas murni, tapi warna cokelat tua yang sangat jernih dengan kilatan emas di pupilnya.
"Kar..." suara Adrian terdengar lebih rendah, lebih tenang, dan punya gema yang bikin Sekar ngerasa aman banget.
"Adrian?" Sekar hampir nggak percaya.
Adrian berdiri, dia ngulurin tangannya ke Sekar. Pas Sekar megang tangan itu, dia nggak ngerasa kayak megang manusia biasa. Dia bisa ngerasa detak jantung Adrian yang selaras sama detak jantung bumi di bawah kaki mereka. Adrian nggak lagi cuma "punya" kekuatan, tapi dia adalah kekuatan itu sendiri.
"Gua bisa denger mereka, Kar," ucap Adrian sambil natap ke langit. "Gua bisa denger setiap jiwa yang baru aja balik ke tubuhnya. Gua bisa denger napas bumi yang lagi mencoba sembuh."
Mata di Balik Awan
Tapi momen haru itu nggak berlangsung lama. Adrian mendadak narik Sekar ke belakang punggungnya. Wajahnya berubah jadi sangat serius, matanya natap lurus ke langit Malabar yang tadinya abu-abu.
Awan-awan di atas Malabar mulai muter, ngebentuk pusaran raksasa yang warnanya hitam pekat. Dan dari balik pusaran itu, sebuah lingkaran merah raksasa muncul.
Itu adalah "Mata" dari entitas raksasa yang mereka liat di gudang data tadi. Ternyata, meskipun mereka udah berhasil kabur ke bumi, si Admin besar nggak mau ngelepasin "kesalahan" ini begitu aja.
"Kamu pikir kamu bisa bersembunyi di tanah becek ini, Anomali?"suara itu nggak lewat telinga, tapi langsung ngeterinn tulang belakang mereka. "Bumi hanyalah satu botol kecil dalam koleksiku. Jika aku tidak bisa memilikinya secara utuh, maka aku akan menghancurkan raknya."
Tiba-tiba, petir-petir warna merah mulai nyambar ke segala penjuru Malabar. Bukan petir biasa, tapi laser penghapus yang langsung bikin pohon-pohon teh yang kena jadi abu dalam sekejap.
"Dia mau hapus Malabar langsung dari orbit!" Aris teriak panik dari bunker. "Sistem pertahanan kita nggak bakal kuat nahan serangan langsung dari level Administrator galaksi!"
Adrian nggak panik. Dia narik napas panjang, nempelkan telapak tangannya ke batang pohon teh tua di sampingnya. Seketika, cahaya hijau menjalar dari tangan Adrian ke seluruh perkebunan Malabar.
"Kalian salah satu hal," ucap Adrian ke arah langit. "Di sini, gua bukan lagi tamu. Gua adalah tuan rumahnya. Dan di rumah gua, lu nggak punya izin buat ngerusak."
Seluruh bukit Malabar mendadak bergetar. Bukan getaran hancur, tapi getaran kekuatan.
Akar-akar pohon teh di seluruh perkebunan mulai bercahaya, ngebentuk perisai energi raksasa yang warnanya hijau zamrud, nutupin seluruh area Malabar dari serangan laser merah di langit.
Meskipun Adrian telah mendapatkan raga baru yang menyatu dengan bumi dan berhasil melindungi Malabar, serangan dari langit justru semakin menggila.
Entitas besar di atas sana mulai menurunkan "Jangkar Galaksi" sebuah pilar raksasa yang tujuannya untuk menarik seluruh planet bumi keluar dari orbitnya menuju pembuangan akhir.
Di tengah kepungan cahaya merah, Adrian menyadari satu hal: untuk mengalahkan musuh selevel dewa ini, dia harus melakukan sesuatu yang jauh lebih ekstrem daripada sekadar bertahan.
Dia harus memanggil "Pendahulu" yang selama ini tersembunyi di dalam sejarah keluarganya. Siapakah sosok yang disebut Adrian sebagai Pendahulu, dan apakah Sekar siap kehilangan Adrian sekali lagi untuk sebuah perang yang skalanya sudah bukan lagi tentang satu kebun teh, melainkan satu galaksi?
semangat update terus tor..