Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29. Perdebatan di Aula Utama
Permaisuri Lou Yi menempati kursinya lebih ke samping, sikapnya tenang, seperti penonton yang memahami bahwa badai besar akan segera terjadi.
Jenderal Utama Gan Che di kursinya, yang terletak di barisan depan para pejabat, wajahnya tenang namun penuh perhitungan. Para pejabat tinggi duduk rapi di kiri dan kanan aula, membentuk lorong panjang menuju singgasana.
Ren Zen duduk di sisi kanan aula, beberapa langkah di belakang barisan utama. Sikapnya tenang, punggung tegak, pandangannya lurus ke depan.
Di belakangnya, Lyra duduk dengan santai—terlalu santai untuk ukuran orang asing yang masuk ke dalam Aula Utama kekaisaran—namun tidak satu pun penjaga berani menegurnya, terutama setelah melihat Kaisar sendiri tidak mengatakan apa-apa.
Di sisi kiri aula, Fui Che duduk dengan angkuh, auranya masih samar-samar berdenyut, seolah sengaja dibiarkan agar semua orang mengingat ranah kultivasinya.
Di belakangnya Rin Che duduk dengan anggun sebagaimana mestinya, seorang Putri Kaisar.
Setelah semuanya berada diposisi masing-masing, Kaisar Jack Zen pun membuka pembicaraan.
“Pertama-tama,” ujarnya, “aku menyambut kepulangan kalian, anak-anakku.”
Ia menatap Fui Che dan Rin Che lebih dulu.
“Fui Che.., Rin Che.., Kalian telah berlatih di Istana Kekaisaran Awan Oren—sebuah tempat yang kaya akan sumber daya kultivasi, teknik, dan bimbingan dari orang-orang hebat. Kalian telah memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.”
Fui Che menangkupkan tangan dari posisi duduknya, senyum tipis terukir di bibirnya.
“Kami hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang pangeran dan putri kaisar, Ayahanda. Karena layaknya sebagai seorang pangeran dan putri kaisar, kami harus memiliki kemampuan yang mempuni.”
Kaisar lalu menoleh ke arah Ren Zen. Tatapannya tidak sekeras saat memandang Fui Che dan Rin Che tadi, namun jauh lebih dalam—seolah mencoba membaca jejak langkah yang tak terlihat.
“Dan kau, Ren Zen,” lanjutnya. “Berlatih di luar tembok istana. Tanpa perlindungan, tanpa fasilitas kekaisaran. Hanya mengandalkan tekad dan jalanmu sendiri.”
Beberapa pejabat mengernyit. Sebagian lain saling bertukar pandang.
“Dua jalan yang berbeda,” kata Kaisar Jack Zen, “namun keduanya kembali bermuara di sini.”
Suasana aula menghangat, bisik-bisik kembali bermunculan.
Seorang menteri tua melangkah maju, menangkupkan tangan.
“Yang Mulia, jika boleh berbicara… Pangeran Fui Che dan Putri Rin Che jelas telah membawa hasil nyata bagi kekaisaran kita.
Pangeran Fui Che di usianya yang ke-17 tahun, ia sudah berada diranah Ekspert *3. Putri Rin Che juga sama, di usianya yang baru menginjak 15 tahun, telah mencapai ranah Ekspert *1.
Mereka adalah suatu aset besar. Kehadiran mereka menjelang Turnamen Jenius Kekaisaran akan mengangkat nama Kekaisaran Awan Putih.”
Beberapa menteri lain mengangguk setuju.
Namun tak lama, suara lain menyela.
“Tapi Pangeran Ren Zen juga putra Kaisar,” kata seorang pejabat lain, berusia paruh baya. “Ia memenuhi syarat turnamen. Dan… mungkin pengalamannya di luar istana memberinya pelajaran yang berbeda.”
Fui Che tersenyum samar, matanya menyipit.
“Pelajaran tidak memenangkan pertarungan, pak tua. Kekuatan lah yang menentukan segalanya.” katanya ringan, namun jelas menusuk.
Ren Zen tidak langsung menanggapi. Ia tenang, seolah perdebatan itu tidak menggoyahkan pikirannya sedikit pun.
Sejak awal, Ren Zen memang berniat untuk mengikuti Turnamen Jenius Kekaisaran. Itu sebabnya saat ia pergi, ia berjanji akan kembali dalam dua tahun lagi. Waktu yang tepat baginya untuk mengikuti turnamen. Lima tahun lalu, ia tidak bisa mengikuti turnamen, karena masih berusia 10 tahun.
Permaisuri Mei Ling akhirnya angkat bicara, suaranya lembut namun jelas. “Anak-anak tumbuh dengan cara yang berbeda. Yang terpenting adalah niat mereka untuk kekaisaran.”
Permaisuri Lou Yi mengangguk setuju. “Benar. Terlalu dini untuk menilai hanya dari tempat latihan.”
Senyum di wajah Permaisuri Mue Che tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, jemarinya mengetuk sandaran kursi dengan ritme pelan.
“Menarik,” katanya, suaranya manis namun tajam. “Kita membicarakan dua putra Kaisar… tapi sepertinya ada satu hal yang luput dari perhatian.”
Semua mata tertuju padanya.
Permaisuri Mue Che mengalihkan pandangan ke arah Lyra, yang sejak tadi duduk santai di belakang Ren Zen, wajahnya nyaris bosan.
“Siapa wanita itu?” tanya Mue Che. “Ia bukan bangsawan istana. Bukan pula pelayan. Namun duduk santai di Aula Utama seolah itu tempatnya.”
Lyra mengedipkan mata, lalu tersenyum tipis. “Wow. Aku jadi pusat perhatian. Aku jadi sedikit malu.” bisiknya pada Ren Zen. "Kau akan menolongku, kan?
Ren Zen bangkit berdiri, melangkah setengah langkah ke depan.
“Dia adalah temanku,” katanya singkat.
“Justru itu masalahnya,” balas Permaisuri Mue Che tanpa ragu. “Ren Zen, kau benar-benar mirip kakakmu, Ray Zen. Selalu pulang membawa orang asing ke dalam istana tanpa izin Kaisar.”
Nada suaranya tidak keras, namun cukup tajam untuk membuat beberapa pejabat terdiam, setuju.
Jenderal Gan Che mengangguk. “Permaisuri Mue Che benar. Kedua pangeran itu selalu saja membuat masalah.”
“Keamanan istana bukan perkara sepele. Lebih dari satu minggu lalu, kita baru saja menghadapi ancaman dari Kekaisaran Awan Kuning. Dan sekarang, seorang wanita tak dikenal berdiri di hadapan kita?” lanjut Permaisuri Mue Che.
Beberapa pejabat mengangguk pelan, ragu-ragu.
Lyra mengangkat tangan sedikit, seolah sedang meminta izin berbicara di pasar, bukan di Aula Utama Kekaisaran.
Ia kemudian berdiri disisi Ren Zen. “Maaf menyela,” katanya santai. “Aku tidak berniat menimbulkan masalah. Aku hanya… ikut bersama Ren Zen.”
Beberapa pejabat terbelalak mendengar sikap santainya.
Ren Zen menoleh ke arahnya. “Lyra.”
“Tenang,” bisik Lyra. “Aku tahu kapan harus berhenti.”
Kaisar Jack Zen akhirnya angkat bicara lagi, suaranya membuat aula kembali senyap.
“Siapa namamu?"
Lyra menegakkan tubuhnya sedikit, ekspresinya lebih serius.
“Namaku Lyra, Yang Mulia.”
“Kau ikut bersama putraku,” kata Kaisar. “Atas dasar apa?”
Lyra tidak menjawab dengan tergesa. Ia menatap Kaisar dengan mata ungu tuanya yang jernih. “Atas dasar perjalanan yang sama. Dan tentunya kepercayaan.”
Jawaban itu sederhana, namun entah mengapa terasa tidak bisa dianggap remeh.
Permaisuri Mue Che tersenyum dingin. “Jawaban yang sangat kabur.”
Ren Zen berbicara lagi, suaranya tenang namun tegas. “Ayahanda. Aku bertanggung jawab penuh atas kehadirannya.”
Fui Che mendengus pelan.
“Bertanggung jawab?” Ia tersenyum miring. “Kau bahkan baru saja kembali. Apa yang bisa kau tanggung?”
Ren Zen menoleh, menatapnya tanpa emosi. “Apa pun akibatnya.”
Kata-kata itu membuat Lyra menoleh cepat ke arahnya, alisnya terangkat. “Wah… berani sekali.” gumamnya.
Permaisuri Mei Ling memandang Ren Zen lama, lalu menoleh ke Kaisar. “Yang Mulia, Ren Zen tidak pernah berbicara tanpa pertimbangan.”
Kaisar Jack Zen menghela napas pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
........Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss........
........Selamat Membaca........
........Lanjut Terussss........
reader yg setia masih menanti update yg terbaru