NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 - Tubuh yang Terlambat Berteriak

Judul itu muncul pagi-pagi.

Nadira belum mandi, rambutnya masih terikat asal. Kopi di meja sudah dingin.

"NADIRA KORBAN ATAU PELAKU DENGAN NARASI BARU?"

Tangannya berhenti di udara. Dia membaca. Tidak cepat. Tidak lompat. Kalimat demi kalimat seperti pisau tumpul tidak langsung membunuh, tapi mengoyak.

Apakah publik sedang menyaksikan pemutihan citra? Apakah luka masa lalu dijadikan legitimasi untuk kekuasaan baru? Apakah empati publik sedang dimanipulasi oleh narasi korban?

"Bangsat." Gumam Nadira.

Bukan karena kasar. Karena tepat sasaran.

Ponselnya bergetar.

Sinta.

Koordinator.

Nomor tak dikenal.

Dia tidak mengangkat satu pun.

Dadanya terasa berat. Napasnya pendek. "Aku tidak memanipulasi siapa pun." Katanya pada ruangan kosong.

"Tapi kenapa aku merasa bersalah?"

Dia berdiri terlalu cepat menyebabkan kepalanya berkunang-kunang. Tubuhnya terasa lelah dan itu sudah lama. Tapi karena Nadira terlalu sibuk hanya untuk membuktikan diri sampai lupa mendengarkan sinyal.

Di kamar mandi, Nadia mandi dengan air dingin. Menatap cermin, matanya cekung. kulitnya pucat.

"Kamu kelihatan seperti orang yang sedang dihukum." Katanya pada pantulan diri sendiri.

Dan yang paling menyakitkan, sebagian dirinya merasa pantasan untuk mendapatkan itu.

Beberapa jam kemudian, di ruang rapat.

"Kita perlu jarak." Kata salah satu anggota tim tanpa basa-basi.

"Jarak dari apa?" Tanya Nadira.

"Dari kamu."

Sunyi.

"Ini sudah framing moral." Lanjutnya. "Bukan soal data lagi apalagi tentang sponsor sensitif."

Nadira mengangguk pelan. "Aku mengerti."

Sinta menatapnya tajam. "Kamu tidak salah."

Nadira tersenyum tipis. "Aku tidak bilang aku salah. Tapi aku juga tidak bersih."

Koordinator menghela napas. "Kita tunda kamu tampil publik sementara."

Nadira berdiri. "Baik." Katanya. "Aku tidak akan muncul."

"Ini demi tim." Kata koordinator.

"Aku tahu." Jawab Nadira. "Selalu begitu."

Dia keluar ruangan dengan langkah tidak stabil, lalu muntah di toilet. Tubuhnya akhirnya berteriak.

***

"Ini bukan promosi." Kata pria itu sambil menyerahkan kertas. "Ini percobaan."

Raka membaca cepat. Kerja malam. Kontrak pendek. Bayaran cukup untuk menutup sewa.

"Kenapa saya?" Tanya Raka.

Pria itu mengangkat bahu. "Pak Jaya bilang kamu tidak curang."

Raka hampir tertawa. "Standar rendah." Katanya.

"Justru karena itu." Jawab pria itu.

Raka menandatangani. Tangannya sedikit gemetar. Saat keluar, hujan turun rintik. Dia menatap langit.

"Bukan keajaiban." Gumamnya. "Tapi cukup untuk bertahan."

Ponselnya bergetar ternyata Nadira menghubunginya.

[Kalau kamu ada waktu... aku tidak baik-baik saja.]

Raka langsung menelepon. "Kamu di mana?"

"Rumah. Tapi kepalaku berisik."

"Aku ke sana."

"Jangan." Kata Nadira cepat. "Aku tidak mau kamu melihatku seperti ini."

Raka terdiam. "Aku tidak datang untuk menyelamatkanmu." Katanya pelan. "Aku datang karena kamu minta."

Hening sebentar...

"Baik." Jawab Nadira akhirnya. "Tapi jangan bawa solusi."

Raka tersenyum kecil. "Aku sudah berhenti merasa punya jawaban."

***

"Nama saya Rini."

Perempuan itu duduk di seberang Aluna. Tangannya menggenggam tas lusuh.

"Aku pernah lapor ke organisasi." Lanjut Rini. "Tentang tekanan, tentang manipulasi."

Aluna menelan ludah.

"Dan kamu..." Suara Rini bergetar, "...kamu bilang aku terlalu sensitif."

Ruangan sunyi.

"Aku minta maaf." Kata Aluna. "Aku benar-benar..."

"Jangan." Potong Rini. "Aku tidak datang untuk itu."

Aluna mengangkat kepala.

"Aku datang karena aku mau kamu melihat wajahku." Kata Rini. "Bukan laporan."

Aluna mengangguk. Air matanya jatuh.

"Aku hancur setelah itu." Lanjut Rini. "Aku pikir aku yang salah."

Aluna menutup wajahnya.

"Aku tidak tahu harus menebus apa." Katanya serak.

"Kamu tidak bisa." Jawab Rini tenang. "Kamu hanya bisa berhenti menyakiti."

Setelah Rini pergi, Aluna duduk lama. Tidak ada kamera. Tidak ada pengadilan. Dan ini justru yang paling berat.

***

Raka datang malam itu.

Nadira duduk di lantai, bersandar ke sofa. Jaket masih dipakai.

"Kamu belum makan." Kata Raka.

"Aku tidak lapar."

"Tubuhmu lapar."

"Tubuhku bukan prioritas." Bentak Nadira.

Raka diam.

"Maaf." Nadira mengusap wajah. "Aku capek, aku marah..."

"Kamu boleh marah." Kata Raka pelan.

"Aku marah karena mereka benar." Kata Nadira tiba-tiba. "Aku memang ingin diakui. Aku memang ingin menang."

"Itu manusiawi."

"Aku terobsesi." Lanjut Nadira. "Kalau aku berhenti sekarang, semua pengorbananku sia-sia."

Raka duduk di lantai, sejajar dengannya. "Dan kalau kamu lanjut?" Tanyanya.

Nadira tertawa pendek. "Aku bisa hancur."

Mereka terdiam.

"Aku tidak ingin mati lagi." Kata Nadira lirih. "Tapi aku juga tidak tahu cara hidup tanpa membuktikan apa pun."

Raka menatapnya lama.

"Kamu tidak perlu membuktikan ke aku." Katanya.

"Aku tahu." Jawab Nadira. "Itu yang bikin aku takut."

***

Arvin datang keesokan harinya. Nadira membuka pintu dengan wajah pucat.

"Kamu sakit?" Tanyanya langsung.

"Aku hanya lelah."

Arvin masuk tanpa bertanya.

"Kamu menarik diri dari publik." Katanya.

"Dipaksa."

"Dan kamu membiarkannya."

Nadira mengangkat bahu. "Aku tidak punya tenaga melawan."

Arvin mendekat. "Kalau aku bilang kamu tidak harus kuat hari ini?"

Nadira tertawa pahit. "Kalau aku runtuh, semua orang bilang itu bukti."

Arvin menatapnya tajam. "Kalau aku berdiri di depan kamu dan bilang, berhenti?"

Nadira terdiam.

"Aku tidak datang sebagai pengamat." Lanjut Arvin. "Aku datang sebagai seseorang yang peduli."

"Aku tidak butuh cinta." Kata Nadira cepat.

"Aku juga tidak menawarkan itu." Jawab Arvin. "Aku menawarkan keberanian untuk berhenti menyiksa diri."

Nadira menutup mata. "Aku tidak tahu caranya."

"Aku tahu." Kata Arvin lembut. "Aku bisa tinggal. Atau aku bisa pergi kalau kamu mau."

Hening lama.

"Tinggal." Kata Nadira akhirnya. "Tapi jangan paksa aku sembuh."

Arvin mengangguk. "Aku tidak akan memaksamu sekarang."

***

Raka pamit saat Arvin datang. Di luar, hujan turun lagi. Dia berdiri di bawah atap kecil, menyalakan rokok lalu mematikannya.

"Bukan ini." Gumamnya.

Dia mengirim pesan ke Nadira.

[Aku pulang dulu. Kamu aman.]

Balasan datang beberapa menit kemudian.

[Terima kasih sudah datang. Itu cukup.]

Raka tersenyum kecil.

Tidak ada cemburu, tidak ada klaim, hanya kelegaan.

***

Malam itu, Aluna muntah di kamar mandi. Bukan karena sakit. Tapi karena ingatan masa lalu.

Dia duduk di lantai, memeluk lutut.

"Aku bukan monster." Katanya berulang.

"Tapi aku menyakiti."

Dia menatap cermin.

"Dan itu tidak bisa dihapus."

Dia mengambil ponsel, membuka kontak Rini lalu menutupnya lagi.

"Aku tidak berhak meminta apa pun." Bisiknya.

***

Malam kedua tanpa tidur. Tangan Nadira gemetar, kepalanya terasa lebih berat.

Arvin memperhatikannya diam-diam, lalu bicara. "Kamu harus ke dokter."

"Tidak."

"Ini bukan negosiasi."

Nadira tertawa lemah. "Kamu berani sekarang."

"Karena kamu tidak boleh mati karena harga diri." Jawab Arvin tegas.

Nadira menatapnya. "Kamu marah?"

“Aku peduli.”

Hening.

"Baik." Kata Nadira akhirnya. "Besok."

Arvin mengangguk. Tidak ada pelukan, tidak ada janji. Hanya keputusan kecil untuk tidak runtuh hari ini.

***

Di titik terlelah...

Nadira diserang bukan karena salah, tapi karena ia terlihat. Tubuhnya mulai membayar harga ambisi.

Raka bertahan lewat kesempatan kecil yang jujur, tanpa ilusi penyelamatan.

Aluna bertemu luka yang tidak bisa dinegosiasikan atau diputarbalikkan.

Arvin berhenti menunggu dan mulai berdiri tanpa memaksa, tanpa kabur.

Tidak ada kemenangan. Tidak ada kelegaan. Hanya satu kesadaran pahit... bertahan hidup bukan soal kuat tapi soal berhenti melukai diri sendiri.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!