Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - Tubuh yang Terlambat Berteriak
Judul itu muncul pagi-pagi.
Nadira belum mandi, rambutnya masih terikat asal. Kopi di meja sudah dingin.
"NADIRA KORBAN ATAU PELAKU DENGAN NARASI BARU?"
Tangannya berhenti di udara. Dia membaca. Tidak cepat. Tidak lompat. Kalimat demi kalimat seperti pisau tumpul tidak langsung membunuh, tapi mengoyak.
Apakah publik sedang menyaksikan pemutihan citra? Apakah luka masa lalu dijadikan legitimasi untuk kekuasaan baru? Apakah empati publik sedang dimanipulasi oleh narasi korban?
"Bangsat." Gumam Nadira.
Bukan karena kasar. Karena tepat sasaran.
Ponselnya bergetar.
Sinta.
Koordinator.
Nomor tak dikenal.
Dia tidak mengangkat satu pun.
Dadanya terasa berat. Napasnya pendek. "Aku tidak memanipulasi siapa pun." Katanya pada ruangan kosong.
"Tapi kenapa aku merasa bersalah?"
Dia berdiri terlalu cepat menyebabkan kepalanya berkunang-kunang. Tubuhnya terasa lelah dan itu sudah lama. Tapi karena Nadira terlalu sibuk hanya untuk membuktikan diri sampai lupa mendengarkan sinyal.
Di kamar mandi, Nadia mandi dengan air dingin. Menatap cermin, matanya cekung. kulitnya pucat.
"Kamu kelihatan seperti orang yang sedang dihukum." Katanya pada pantulan diri sendiri.
Dan yang paling menyakitkan, sebagian dirinya merasa pantasan untuk mendapatkan itu.
Beberapa jam kemudian, di ruang rapat.
"Kita perlu jarak." Kata salah satu anggota tim tanpa basa-basi.
"Jarak dari apa?" Tanya Nadira.
"Dari kamu."
Sunyi.
"Ini sudah framing moral." Lanjutnya. "Bukan soal data lagi apalagi tentang sponsor sensitif."
Nadira mengangguk pelan. "Aku mengerti."
Sinta menatapnya tajam. "Kamu tidak salah."
Nadira tersenyum tipis. "Aku tidak bilang aku salah. Tapi aku juga tidak bersih."
Koordinator menghela napas. "Kita tunda kamu tampil publik sementara."
Nadira berdiri. "Baik." Katanya. "Aku tidak akan muncul."
"Ini demi tim." Kata koordinator.
"Aku tahu." Jawab Nadira. "Selalu begitu."
Dia keluar ruangan dengan langkah tidak stabil, lalu muntah di toilet. Tubuhnya akhirnya berteriak.
***
"Ini bukan promosi." Kata pria itu sambil menyerahkan kertas. "Ini percobaan."
Raka membaca cepat. Kerja malam. Kontrak pendek. Bayaran cukup untuk menutup sewa.
"Kenapa saya?" Tanya Raka.
Pria itu mengangkat bahu. "Pak Jaya bilang kamu tidak curang."
Raka hampir tertawa. "Standar rendah." Katanya.
"Justru karena itu." Jawab pria itu.
Raka menandatangani. Tangannya sedikit gemetar. Saat keluar, hujan turun rintik. Dia menatap langit.
"Bukan keajaiban." Gumamnya. "Tapi cukup untuk bertahan."
Ponselnya bergetar ternyata Nadira menghubunginya.
[Kalau kamu ada waktu... aku tidak baik-baik saja.]
Raka langsung menelepon. "Kamu di mana?"
"Rumah. Tapi kepalaku berisik."
"Aku ke sana."
"Jangan." Kata Nadira cepat. "Aku tidak mau kamu melihatku seperti ini."
Raka terdiam. "Aku tidak datang untuk menyelamatkanmu." Katanya pelan. "Aku datang karena kamu minta."
Hening sebentar...
"Baik." Jawab Nadira akhirnya. "Tapi jangan bawa solusi."
Raka tersenyum kecil. "Aku sudah berhenti merasa punya jawaban."
***
"Nama saya Rini."
Perempuan itu duduk di seberang Aluna. Tangannya menggenggam tas lusuh.
"Aku pernah lapor ke organisasi." Lanjut Rini. "Tentang tekanan, tentang manipulasi."
Aluna menelan ludah.
"Dan kamu..." Suara Rini bergetar, "...kamu bilang aku terlalu sensitif."
Ruangan sunyi.
"Aku minta maaf." Kata Aluna. "Aku benar-benar..."
"Jangan." Potong Rini. "Aku tidak datang untuk itu."
Aluna mengangkat kepala.
"Aku datang karena aku mau kamu melihat wajahku." Kata Rini. "Bukan laporan."
Aluna mengangguk. Air matanya jatuh.
"Aku hancur setelah itu." Lanjut Rini. "Aku pikir aku yang salah."
Aluna menutup wajahnya.
"Aku tidak tahu harus menebus apa." Katanya serak.
"Kamu tidak bisa." Jawab Rini tenang. "Kamu hanya bisa berhenti menyakiti."
Setelah Rini pergi, Aluna duduk lama. Tidak ada kamera. Tidak ada pengadilan. Dan ini justru yang paling berat.
***
Raka datang malam itu.
Nadira duduk di lantai, bersandar ke sofa. Jaket masih dipakai.
"Kamu belum makan." Kata Raka.
"Aku tidak lapar."
"Tubuhmu lapar."
"Tubuhku bukan prioritas." Bentak Nadira.
Raka diam.
"Maaf." Nadira mengusap wajah. "Aku capek, aku marah..."
"Kamu boleh marah." Kata Raka pelan.
"Aku marah karena mereka benar." Kata Nadira tiba-tiba. "Aku memang ingin diakui. Aku memang ingin menang."
"Itu manusiawi."
"Aku terobsesi." Lanjut Nadira. "Kalau aku berhenti sekarang, semua pengorbananku sia-sia."
Raka duduk di lantai, sejajar dengannya. "Dan kalau kamu lanjut?" Tanyanya.
Nadira tertawa pendek. "Aku bisa hancur."
Mereka terdiam.
"Aku tidak ingin mati lagi." Kata Nadira lirih. "Tapi aku juga tidak tahu cara hidup tanpa membuktikan apa pun."
Raka menatapnya lama.
"Kamu tidak perlu membuktikan ke aku." Katanya.
"Aku tahu." Jawab Nadira. "Itu yang bikin aku takut."
***
Arvin datang keesokan harinya. Nadira membuka pintu dengan wajah pucat.
"Kamu sakit?" Tanyanya langsung.
"Aku hanya lelah."
Arvin masuk tanpa bertanya.
"Kamu menarik diri dari publik." Katanya.
"Dipaksa."
"Dan kamu membiarkannya."
Nadira mengangkat bahu. "Aku tidak punya tenaga melawan."
Arvin mendekat. "Kalau aku bilang kamu tidak harus kuat hari ini?"
Nadira tertawa pahit. "Kalau aku runtuh, semua orang bilang itu bukti."
Arvin menatapnya tajam. "Kalau aku berdiri di depan kamu dan bilang, berhenti?"
Nadira terdiam.
"Aku tidak datang sebagai pengamat." Lanjut Arvin. "Aku datang sebagai seseorang yang peduli."
"Aku tidak butuh cinta." Kata Nadira cepat.
"Aku juga tidak menawarkan itu." Jawab Arvin. "Aku menawarkan keberanian untuk berhenti menyiksa diri."
Nadira menutup mata. "Aku tidak tahu caranya."
"Aku tahu." Kata Arvin lembut. "Aku bisa tinggal. Atau aku bisa pergi kalau kamu mau."
Hening lama.
"Tinggal." Kata Nadira akhirnya. "Tapi jangan paksa aku sembuh."
Arvin mengangguk. "Aku tidak akan memaksamu sekarang."
***
Raka pamit saat Arvin datang. Di luar, hujan turun lagi. Dia berdiri di bawah atap kecil, menyalakan rokok lalu mematikannya.
"Bukan ini." Gumamnya.
Dia mengirim pesan ke Nadira.
[Aku pulang dulu. Kamu aman.]
Balasan datang beberapa menit kemudian.
[Terima kasih sudah datang. Itu cukup.]
Raka tersenyum kecil.
Tidak ada cemburu, tidak ada klaim, hanya kelegaan.
***
Malam itu, Aluna muntah di kamar mandi. Bukan karena sakit. Tapi karena ingatan masa lalu.
Dia duduk di lantai, memeluk lutut.
"Aku bukan monster." Katanya berulang.
"Tapi aku menyakiti."
Dia menatap cermin.
"Dan itu tidak bisa dihapus."
Dia mengambil ponsel, membuka kontak Rini lalu menutupnya lagi.
"Aku tidak berhak meminta apa pun." Bisiknya.
***
Malam kedua tanpa tidur. Tangan Nadira gemetar, kepalanya terasa lebih berat.
Arvin memperhatikannya diam-diam, lalu bicara. "Kamu harus ke dokter."
"Tidak."
"Ini bukan negosiasi."
Nadira tertawa lemah. "Kamu berani sekarang."
"Karena kamu tidak boleh mati karena harga diri." Jawab Arvin tegas.
Nadira menatapnya. "Kamu marah?"
“Aku peduli.”
Hening.
"Baik." Kata Nadira akhirnya. "Besok."
Arvin mengangguk. Tidak ada pelukan, tidak ada janji. Hanya keputusan kecil untuk tidak runtuh hari ini.
***
Di titik terlelah...
Nadira diserang bukan karena salah, tapi karena ia terlihat. Tubuhnya mulai membayar harga ambisi.
Raka bertahan lewat kesempatan kecil yang jujur, tanpa ilusi penyelamatan.
Aluna bertemu luka yang tidak bisa dinegosiasikan atau diputarbalikkan.
Arvin berhenti menunggu dan mulai berdiri tanpa memaksa, tanpa kabur.
Tidak ada kemenangan. Tidak ada kelegaan. Hanya satu kesadaran pahit... bertahan hidup bukan soal kuat tapi soal berhenti melukai diri sendiri.
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚
𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁
𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠