NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perngakuan Kirana

Fakultas Ilmu Budaya, Ruang Bimbingan, Pukul 09.00

Udara pagi di koridor fakultas terasa penuh dengan napas-napas tegang mahasiswa tingkat akhir. Ferdy duduk di bangku tunggu di luar ruang dosen, memegang draft final skripsinya yang telah ia cetak dan dijilid rapi.

Dua minggu revisi minor telah ia selesaikan dengan fokus luar biasa, dibantu oleh ketenangan yang diberikan Dasima dan tekadnya sendiri untuk segera menyelesaikan babak ini.

Tapi pagi ini, ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Mata yang biasanya terlihat fokus, kini sedikit bengkak dan merah di pinggirnya. Jejak tangisan semalam masih samar-samar terlihat bagi yang jeli.

"Bro, loe kenapa? Mata loe kayak habis berantem sama bawang sepanjang malam," sapa Reza yang kebetulan lewat, berhenti dan memerhatikannya.

"Gak ada. Cuma kurang tidur aja," jawab Ferdy cepat, mengusap matanya.

Siska yang sedang duduk di bangku seberang, mengamati dengan lebih tajam.

"Kurang tidur bikin mata bengkak gitu? Itu kayak habis nangis, Fer." Suaranya penuh kecematan. "Ada apa? Project lagi ada masalah? Atau… masalah sama Kirana?"

"Nggak, seriusan," bantah Ferdy, mencoba tersenyum. "Cuma… lagi banyak mikir aja."

Pintu ruang dosen terbuka. "Ferdy Wicaksono, masuk!"

Ferdy berdiri, menarik napas dalam-dalam. Ini saat terakhir. Dia melangkah masuk, meninggalkan teman-temannya yang masih saling pandang penuh tanya.

Di dalam, Dr. Arief duduk dengan pose yang sama, draft Ferdy di tangannya sudah penuh dengan coretan pulpen merah yang kali ini jauh lebih sedikit.

"Bab 4 revisi," ujarnya tanpa basa-basi, melemparkan draft itu ke meja. "Saya periksa. Pembahasan regulasi sudah diperkuat. Data dari redaksi media sudah cukup. Analisis etika dengan pendekatan lokal sudah solid."

Dia berhenti, menatap Ferdy dari balik kacamata. Ferdy menahan napas.

"Disetujui."

Dua kata itu seperti musik surgawi.

"Skripsi Anda secara keseluruhan…" Dr. Arief membuka berkas lengkap di mejanya, "dinyatakan LULUS UJI KELAYAKAN. Saya akan mengajukan Anda untuk sidang skripsi pada periode yang sudah disepakati. Selamat."

Ferdy berdiri tegak, rasa lega dan syukur yang begitu besar membanjiri dirinya. "Terima kasih banyak, Pak! Benar-benar terima kasih!"

"Jangan senang dulu. Sidang itu medan perang yang sesungguhnya. Persiapkan presentasi dengan baik. Sekarang, keluar. Ada yang lain menunggu."

Ferdy keluar dengan langkah ringan, hampir melompat. Draft skripsinya yang telah di-acc ia pegang erat-erat. Dia berhasil. Setelah berbulan-bulan bergulat dengan kata-kata, teori, dan keraguan diri, akhirnya ia sampai di garis akhir. Tinggal sidang.

Begitu keluar, Reza, Siska, dan Bowo langsung mengepungnya.

"GIMANA?!" tanya mereka serentak.

"Acc…" jawab Ferdy, tersenyum lebar untuk pertama kalinya pagi itu. "Lulus uji kelayakan. Tinggal sidang!"

Sorak-sorai kecil meletus di koridor. Mereka memeluknya, bersorak, meski beberapa mahasiswa lain melirik kesal. Tapi mereka tak peduli. Ini adalah kemenangan bagi satu anggota mereka.

"YES! AKU TAU LOE BISA!" teriak Reza.

"Selamat, Fer! Kita rayakan!" usul Siska.

Tapi Ferdy menggeleng. "Nanti aja, setelah sidang beres. Sekarang gue harus fokus persiapan sidang dan project-project."

Di balik kebahagiaan itu, di sudut hatinya, ia ingin segera pulang. Ingin berbagi kabar ini dengan satu sosok yang tidak bisa ia ajak ke warung atau kafe untuk merayakan. Ingin berteriak, "Dasima, kita berhasil satu langkah lagi!"

---

Hari-hari Ferdy kini diisi oleh persiapan slide sidang dan eksekusi project-project PAMOR yang berjalan lancar. Tapi ada pola baru yang konstan: ponselnya semakin sering bergetar dengan notifikasi dari Kirana.

Awalnya masih seputar kerjaan. Tapi lambat laun, pesannya menjadi lebih personal.

Kirana (20.15): "Masih di depan laptop? Jangan lupa istirahat, mata bisa rusak."

Kirana (22.03): "Lagi dengerin lagu jazz yang cocok buat suasana hujan. Ini link-nya, maybe bisa jadi inspirasi."

Kirana (09.00): "Selamat pagi! Semangat buat presentasi sidangnya!"

Ferdy selalu membalas dengan sopan, singkat, dan menjaga jarak. Tapi Kirana seperti punya radar untuk menemukan celah.

Saat ada meeting project, dia selalu memastikan duduk di dekat Ferdy. Saat diskusi, pandangannya selalu tertuju padanya. Semua orang di tim—Andika, Roni, bahkan kru freelance yang mereka sewa—bisa melihatnya.

Dasima, yang selalu hadir dalam setiap pertemuan, mengamati dengan perasaan yang semakin kompleks. Kecemburuan itu masih ada, tapi kini bercampur dengan rasa hormat pada keteguhan hati Ferdy.

Dia melihat bagaimana Ferdy dengan halus namun tegas mempertahankan batasan profesional, tidak menggoda, tidak memberi harapan palsu.

Tapi Dasima juga bisa merasakan ketulusan Kirana. Itu bukan permainan. Kirana benar-benar tertarik, dan dia memperjuangkannya dengan cara seorang wanita modern yang percaya diri: menunjukkan perhatian, menjadi berguna, dan tetap elegan.

---

Lokasi Shooting Produk Skincare, Studio Sewaan di Kemang, Pukul 16.30

Shooting hampir selesai. Set ber nuansa earthy dengan elemen kayu dan batu sudah difoto dari segala angle. Model sudah beres. Andika dan Roni sedang membereskan peralatan lighting di sudut lain studio. Ferdy sedang memeriksa hasil foto di monitor bersama client yang puas.

Kirana, yang hari ini datang sebagai 'pengamat' (dan lagi-lagi dengan alasan yang valid), menunggu di area duduk dekat dapur kecil studio. Saat client pergi dan Ferdy sendirian sedang mematikan komputer, dia mendekat.

"Hasilnya bagus sekali," puji Kirana, berdiri di samping Ferdy.

"Alhamdulillah, clientnya senang," jawab Ferdy, mulai membereskan kabel.

"Kamu hebat, Ferdy. Benar-benar tahu bagaimana membuat visimu menjadi nyata."

"Terima kasih. Tapi ini kerja tim," jawab Ferdy rendah hati, tetap sibuk.

"Ferdy," suara Kirana menjadi lebih lembut, lebih serius. "Ada waktu sebentar? Untuk ngobrol?"

Ferdy menoleh, melihat ekspresi Kirana yang berbeda. Ada tekad di matanya. Dia tahu ini akan datang. "Sebentar aja ya. Yang lain udah mau selesai."

Mereka berjalan ke balkon kecil studio yang menghadap ke jalanan Kemang yang ramai. Suara lalu lintas terdengar dari bawah, memberikan privasi yang cukup untuk percakapan.

Kirana berdiri menghadap Ferdy, tangannya terbelenggu di pinggangnya. Dia menarik napas.

"Aku nggak bisa menyangkalnya lagi, Ferdy. Dan aku rasa kamu juga sudah tahu."

Ferdy diam, menatapnya, bersiap.

"Aku tertarik padamu. Bukan cuma sebagai rekan kerja atau teman. Aku suka caramu melihat dunia, keteguhanmu, kejujuranmu… bahkan kekerasan kepalamu," ujarnya dengan senyum kecil.

"Aku sudah coba untuk tidak merasakan ini, tapi semakin aku dekat dengan kamu dan tim, semakin kuat perasaanku."

Dia berhenti, menatap mata Ferdy langsung.

"Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Bukan cuma di sela-sela meeting atau shooting. Aku ingin kita… coba."

Pengakuan itu diucapkan dengan berani, tanpa manipulasi, tanpa pesona palsu. Jujur dan langsung.

Ferdy menghela napas. Ini saatnya. Dia harus jujur juga. "Kirana… aku… benar-benar terhormat. Dan aku nggak mau bohong atau bikin kamu berharap. Kamu perempuan yang luar biasa. Cantik, pintar, baik, supportive. Tapi…"

"But?" tanya Kirana, tatapannya tidak goyah.

"Tapi hatiku… sudah terisi."

Lima kata itu menggantung di udara antara mereka. Kirana tidak terlihat kaget, hanya sedikit melankolis.

"Sudah terisi? Oleh… 'penunggu' itu? Yang kau bilang selalu melindungimu?" tanyanya, suaranya penuh keingintahuan, bukan cemoohan.

Ferdy mengangguk perlahan. "Iya. Namanya Dasima. Dan… perasaan ini bukan hal baru."

"Ini… dalam. Sangat dalam. Aku nggak mengerti semuanya, tapi aku tahu ini nyata. Dan aku nggak bisa mengabaikannya, atau berpura-pura itu nggak ada, hanya untuk memulai sesuatu yang baru."

Kirana memandangnya lama, seolah-olah mencoba memahami sesuatu yang sangat kompleks.

"Jadi… kamu memilih sebuah perasaan untuk sesuatu—atau seseorang—yang bahkan tidak bisa kau lihat atau sentuh, dibandingkan… dengan sesuatu yang nyata di depanmu?"

"Bagi aku, dia nyata," jawab Ferdy tegas.

"Dalam caranya sendiri. Dan perasaan untuknya… itu juga nyata. Mungkin kedengarannya gila. Tapi itu kebenaranku."

Kirana menunduk, tersenyum getir. "Gila? Di keluargaku yang penuh dengan kolektor benda pusaka dan cerita-cerita penunggu, itu tidak terlalu gila, Ferdy. Hanya saja… sangat langka. Dan sangat menyakitkan untuk didengar."

Dia mengangkat wajah lagi. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh.

"Aku menghargai kejujuranmu. Kebanyakan cowok akan menerimaku hanya karena siapa aku, atau bagaimana penampilanku. Tapi kamu… kamu menolak karena setia pada perasaanmu. Itu justru membuatku… semakin tertarik."

Ferdy mengerutkan kening. Itu bukan reaksi yang ia harapkan.

"Tapi jangan khawatir," lanjut Kirana, senyumnya kembali muncul, kali ini penuh tekad.

"Aku nggak akan memaksamu. Dan aku nggak akan mundur hanya karena kau bilang hatimu sudah terisi. Karena perasaan bukanlah ruang yang terbatas, Ferdy. Siapa tahu, suatu hari nanti, mungkin ada ruang untukku juga. Atau mungkin… kau akan melihat bahwa apa yang ada di dunia nyata bisa memberikan kebahagiaan yang berbeda."

Dia melangkah sedikit mendekat.

"Aku akan tetap di sini. Sebagai temanmu, sebagai rekan kerjamu. Aku akan tetap membantumu, mendukungmu. Dan aku akan tetap memperjuangkanmu, dengan caraku sendiri. Dengan sabar. Karena kamu worth it."

Ucapan itu penuh kelas. Penuh harga diri. Kirana tidak merengek, tidak marah. Dia menyatakan niatnya, menghormati penolakan Ferdy, namun tetap menyatakan tekadnya untuk tetap ada dan menunggu.

Ferdy terdiam, terpesona oleh kekuatan dan kematangan wanita di depannya. Sulit untuk tidak mengaguminya.

"Kirana, aku…"

"Shhh. Tidak perlu bilang apa-apa lagi," potong Kirana, meletakkan jari di bibirnya dengan gestur lembut.

"Kita baik-baik saja. Sekarang, ayo kita bantu yang lain membereskan. Masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan."

Dia berbalik dan masuk kembali ke studio, meninggalkan Ferdy sendirian di balkon, dengan perasaan campur aduk: lega karena telah jujur, kagum pada Kirana, dan di saat yang sama, hati kecilnya berteriak memanggil nama Dasima, seolah memastikan bahwa pilihannya sudah benar.

Di dalam studio, Dasima yang menyaksikan seluruh percakapan dari balik pintu kaca, merasakan hal yang sama. Dia melihat keteguhan hati Raden-nya, dan itu membuat cintanya semakin dalam.

Tapi dia juga melihat kualitas Kirana: keanggunan, ketegasan, dan ketulusannya. Kirana bukan musuh. Dia adalah wanita lain yang juga mencintai pria yang sama, dengan cara yang berbeda.

Pertarungan tidak lagi tentang siapa yang lebih layak. Sekarang, ini tentang kesetiaan, waktu, dan kemungkinan bahwa hati manusia bisa lebih luas dan kompleks daripada yang bisa dibayangkan oleh makhluk apa pun—bahkan oleh seorang penunggu yang telah menunggu lima abad.

Dan untuk Ferdy, jalan di depannya kini memiliki dua cahaya: satu hangat dan nyata dari Kirana, satu lembut dan abadi dari Dasima. Dan dia, dengan skripsi yang telah acc di tangannya dan sidang di depan mata, harus belajar berjalan di antara kedua cahaya itu tanpa kehilangan arah dan jati dirinya yang sebenarnya.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!