Nando menatap tubuh sang istri yang terbaring dengan tubuh penuh nanah dan tidak pernah berhenti merintih, sudah dua bulan ini Yuli terus aja menderita dengan rasa sakit begitu panjang dan ini semua tidak tahu datang dari mana.
Yuli adalah wanita yang tipe tidak pernah keluar rumah untuk urusan jalan-jalan atau yang membuang waktu, dia hanya diam di rumah dengan penampilan sederhana serta tidak banyak bertingkah namun mendadak saja sekarang jadi sakit seperti itu dan kabar beredar bahwa dia sedang di santet.
Siapa kah yang sudah menyantet Yuli?
Benarkah bahwa Yuli memang terkena santet?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Tiga teman
"Kau sekarang memang tidak akan menikah atau menjalin hubungan lagi?" Reni bertanya kepada Nabila.
"Tidak, aku sudah mati rasa dan tidak ingin memiliki hubungan dengan siapa pun." Nabila menjawab dengan tatapan kosong.
"Kau tidak boleh patah hati hanya karena masalah satu pria seperti itu." Meri menatap Nabila yang selama ini memang selalu memiliki hubungan dengan para pria.
"Kali ini tidak lagi, luka yang aku alami kemarin begitu besar dan aku tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang pria lagi." Nabila berkata serius karena dia memang telah mengalami patah hati yang begitu dalam.
"Yah baiklah kalau begitu ketua, tampaknya ketua kita memang sedang mati rasa dan tidak ingin memiliki hubungan." Reni menggoda Nabila yang selama ini memang di kenal selalu saja mencari kekasih kaya.
Mereka bertiga adalah teman sejak dulu dan susah senang selalu di lewati bersama sehingga sudah saling mengenal satu sama lain tentang sifat mereka masing-masing, jadi bagaimana tabiat Reni atau tabiat Nabila dan juga tabiat Meri mereka sama sekali tidak kaget lagi karena sudah terbiasa sejak dulu dan itu terus terbawa sampai saat ini sehingga bila ada masalah akan langsung saling menasehati satu sama lain walau ternyata mereka sama-sama stres dan kadang tidak memiliki tujuan saat sedang ada masalah.
Namun seperti itu adalah yang di beri nama sahabat sejati karena mereka selalu melupakan masalah bersama dan tidak pernah bergunjing saat ada di belakang, tapi memang Nabila ini yang agak lain karena dia dulu adalah gadis yang tinggal di desa dan kemudian merantau ke kota ini sehingga agak sedikit kaget melihat hiruk pikuk kota.
Bahkan bisa di bilang bahwa Nabila adalah yang paling miskin di antara mereka bertiga ini, Meri walau sudah tidak memiliki orang tua namun dia memiliki banyak harta sehingga tidak begitu kaget ketika melihat orang yang banyak uang atau bahkan pria matang memiliki banyak uang untuk menggoda mereka semua.
Bahkan sampai saat ini Meri masih belum pernah pacaran karena dia belum menemukan sosok yang pas untuk di jadikan kekasih, dulu Meri sempat mengenal seseorang dan dia merasa orang tersebut sangat pas bila mau menerima dia tapi ternyata pria itu tidak ingin menikah lagi karena dia ingin setia pada sosok sang istri yang telah meninggal dunia.
Hingga sampai sekarang Meri tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana saja, beda dengan Reni yang masih memiliki beberapa hubungan dan itu juga putus nyambung karena dia adalah tipe wanita yang bucin sehingga susah sekali untuk melupakan mantan kekasih yang satu itu.
"Tama memang sudah tidak ada kabar lagi?" Reni menatap Nabila yang terlihat gundah.
"Tidak usah kau tanya soal pria itu karena aku tidak ingin mendengar tentang dia lagi." sergah Nabila dan terlihat langsung sangat kesal.
"Lah aku yakin kau pasti sudah di buang oleh dia karena dia lebih memilih untuk menjadi suami yang baik kan!" Meri langsung menebak demikian karena mereka tahu tentang kisah percintaan Nabila.
"Ah kalian ini." Nabila menjadi tambah kesal karena kedua teman malah tidak mau diam.
"Kan kami sudah bilang sejak awal bahwa jangan pernah menjalin hubungan dengan pria yang telah memiliki istri, tapi kau sangat keras kepala." Reni memarahi Nabila yang memang tidak pernah bisa di kasih tahu.
"Banyak pria lajang di kota ini jadi tidak perlu kamu mau cari orang yang telah memiliki istri." timpal Meri.
"Ya gimana lagi karena itu memang rasa cinta yang tumbuh di dalam hati." celetuk Nabila.
"Ya sudah makan saja cinta itu!" sengit Reni.
Nabila menarik nafas panjang Karena dia memang begitu berat dan sangat tidak menyangka bahwa nasib cinta dia akan tragis seperti ini, subuh tidak pernah dia bayangkan bahwa pria itu bisa membuang dia begitu saja tanpa berpikir dua kali walau hubungan mereka sudah sangat jauh selama ini.
Kisah cinta dengan suami orang memang tidak mungkin bisa berakhir dengan indah karena masih ada orang lain yang menjadi pembatas di antara mereka berdua, namun Nabila keras kepala dan selama ini sudah di nasehati oleh para teman namun dia tetap menolak dan kemudian sekarang dia harus menderita seperti ini.
"Kau tidak sampai hamil kan?" Reni mendadak saja kepikiran sesuatu setelah melihat Nabila yang begitu gundah selama beberapa waktu ini.
"Hah!" Meri yang mendengar pertanyaan Reni jadi ikut kaget.
"Sembarangan saja kau ini berbicara seperti itu!" Nabila terlihat semakin kesal dan segera menyambar tas.
"Kau ini sembarangan saja, dia pasti merajuk dan tidak akan mau berbicara dengan kau untuk beberapa saat." Meri menatap Reni yang hanya diam saja walau Nabila sekarang sudah pergi dari hadapan mereka.
"Aku rasa yang aku katakan itu adalah hal yang benar!" Reni sudah begitu yakin ketika melihat gelagat Nabila.
"Jangan begitu, nanti kau dan dia semakin bertengkar dan hubungan kita jadi renggang." Meri menepuk pelan tangan Reni karena selama ini dia yang selalu menjadi penengah ketika mereka akan bertengkar.
Reni terdiam tapi otak dia terus mengatakan bahwa pasti ada sesuatu yang telah terjadi kepada Nabila itu, mungkin saja saat ini Nabila tengah mengandung dan Reni sangat yakin dengan firasat yang mendadak saja timbul di dalam hati karena wajah Nabila juga terlihat berbeda seolah dia sedang tidak sehat.
"Dia merokok sebelum di tinggal kekasih nya itu." lirih Reni.
"Iya, tapi belakangan ini tidak." angguk Meri pula.
"Jadi alasan apa lagi? aku sangat yakin kalau dia memang hamil kok!" sengit Reni.
"Astaga, kau lihat tadi perut dia saja rata loh." Meri masih saja ragu.
Hembusan nafas Reni terdengar begitu berat karena dia entah kenapa sangat yakin bahwa Nabila memang telah mengandung dan kemungkinan bila di hitung dengan tepat saat ini sekitar tiga bulan, mungkin bila masih segitu tidak akan terlihat tapi semakin lama akan semakin menonjol, karena bayi yang ada di dalam rahim jelas semakin besar saja setiap hari nanti.
"Kita taruhan sampai beberapa bulan ke depan untuk membuktikan apa dia sedang hamil atau tidak." tantang Meri.
"Ya gimana kalau beberapa hari lagi akan dia aborsi." sahut Reni.
"Hah!"
"Tama sudah tidak dengan dia lagi sehingga dia tidak mungkin bisa membiayai anak yang akan lahir itu, untuk biaya dia sendiri saja begitu kesulitan jadi mana mungkin dia akan mau membesarkan anak tersebut." jelas Reni.
Meri emang agak polos dan dia tidak bisa berpikir seperti Reni barusan sehingga lebih banyak melongo seolah tidak paham, sedangkan Reni memang sangat pintar sehingga dia langsung berpikir ke mana-mana, hati dia juga sudah sangat yakin bahwa Nabila memang telah berbuat yang tidak beres.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
klu kyk gini dia ngk tau jg
kenapa sendal jepit ga di ajak masuk aja sih mak... biar dia kapok...