Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Identitas
Mansion megah di London dijual. Saham-saham pengendali dialihkan ke Trust Fund yang dikelola oleh dewan profesional yang sangat ketat, di mana hasilnya 90% dialokasikan untuk yayasan kemanusiaan
Odelyn dan Hediva hanya mengambil "gaji" bulanan yang cukup untuk hidup nyaman namun tidak mencolok.
Mereka pindah ke sebuah kota kecil yang asri di pinggiran Indonesia, jauh dari hiruk-pikuk sosialita Singapura atau London.
Di sana, mereka dikenal sebagai Pak Hediva, seorang dosen arsitektur paruh waktu di universitas lokal, dan Ibu Odelyn, seorang ibu rumah tangga yang memiliki hobi berkebun dan mengelola toko buku kecil.
Si kembar Gavin dan Zaidan, tumbuh besar tanpa tahu bahwa ayah mereka pernah menggetarkan bursa saham London, atau ibu mereka adalah Mastermind yang ditakuti musuh-musuhnya.
"Bun, kenapa kita nggak punya mobil mewah kayak di TV?" tanya Zaidan suatu hari saat mereka sedang naik sepeda bersama ke pasar.
Odelyn tersenyum, mengusap peluh di dahi putranya.
"Karena kebahagiaan itu nggak diukur dari seberapa mengkilap mobilnya, sayang, tapi dari seberapa sering kita bisa ketawa bareng di atas sepeda ini."
Hediva, yang sedang memikul kantong belanjaan, mengedipkan mata pada Odelyn. Di balik kemeja flanel sederhananya, Hediva tetap memiliki jam tangan lama yang dulu merupakan hadiah pertama dari Odelyn—satu-satunya benda mewah yang masih ia simpan.
Meskipun hidup sederhana, Odelyn tetaplah Odelyn. Ia mendidik Gavin dan Zaidan dengan ketajaman berpikir yang luar biasa.
Ia tidak mengajari mereka cara memanipulasi orang, tapi ia mengajari mereka cara membaca situasi, cara bernegosiasi dengan adab, dan cara menjadi pemimpin yang adil.
"Ingat, kalau kalian punya kekuatan, gunakan itu untuk melindungi yang lemah, bukan untuk menginjak mereka," pesan Odelyn saat mengajari mereka catur di sore hari.
Arsa memiliki bakat strategis ibunya yang sangat kuat, sementara Zaidan mewarisi ketenangan dan ketegasan ayahnya. Mereka menjadi anak-anak paling pintar di sekolahnya, namun tetap rendah hati karena mereka tidak merasa "lebih" dari teman-temannya yang lain.
Suatu ketika, sebuah perusahaan besar ingin menggusur lahan pasar tradisional di kota mereka untuk membangun mall mewah.
Rakyat kecil di kota itu ketakutan dan tidak berdaya melawan pengacara-pengacara kota besar.
Melihat ketidakadilan itu, insting "Mastermind" Odelyn kembali bergejolak. Ia melihat Hediva, dan mereka saling mengerti tanpa bicara.
"Pak Hediva" dan "Ibu Odelyn" diam-diam mengatur strategi di belakang layar.
Tanpa mengungkap identitas asli mereka, Odelyn menyusun dokumen hukum yang tak terpatahkan untuk warga, sementara Hediva menggunakan koneksi lamanya secara anonim untuk memutus aliran dana pengembang nakal itu.
Pasar itu selamat. Warga merayakan kemenangan mereka, tanpa tahu bahwa pahlawan mereka adalah pasangan suami-istri yang tinggal di rumah sederhana dengan pagar kayu itu.
saat si kembar berulang tahun ke-17, Hediva dan Odelyn mengajak mereka duduk di ruang tamu. Mereka mengeluarkan sebuah kotak kayu tua berisi paspor-paspor lama, foto-foto mansion di London, dan dokumen kepemilikan yayasan.
"Gavin, Zaidan... ada sesuatu yang harus kalian tahu tentang siapa kami dulu," ucap Hediva tenang.
Mereka menceritakan semuanya.
Tentang Gavin, tentang kesalahan masa lalu, tentang kekayaan yang hampir menghancurkan jiwa mereka, hingga keputusan mereka untuk "menghilang".
"Semua harta ini milik kalian kalau kalian mau," lanjut Odelyn.
"Tapi kami harap, setelah 17 tahun hidup sederhana, kalian tahu bahwa harta ini bukan hadiah, melainkan tanggung jawab yang sangat berat."
Gavin dan Zaidan terdiam cukup lama. Arsa kemudian memegang tangan ibunya. "Bun, aku lebih bangga jadi anak Pak Dosen dan Ibu Pemilik Toko Buku daripada jadi anak konglomerat yang kesepian."
Zaidan mengangguk.
"Kita simpan saja harta ini untuk yayasan, Yah. Kami akan cari jalan kami sendiri, seperti Ayah dan Bunda yang sudah berjuang menemukan jalan pulang."
...
Odelyn bersandar di bahu Hediva saat mereka melihat kedua putra mereka shalat berjamaah di masjid yang mereka bangun secara anonim.
Hati Odelyn penuh. Ia merasa misinya sebagai Mastermind telah selesai dengan sempurna. Ia tidak hanya memenangkan perang melawan musuh, tapi ia memenangkan masa depan anak-anaknya.
"Kita berhasil mas," bisik Odelyn.
"Kita hanya melakukan apa yang seharusnya sayang," jawab Hediva sambil mencium tangan istrinya.
...
Nyatanya ketenangan dan kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Meskipun dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kesederhanaan dan nilai agama, salah satu anak kembar mereka yang akrab dipanggil Gavin Junior—mulai menunjukkan gelagat yang membuat atmosfer rumah berubah.
Di balik wajahnya yang tampan dan senyumnya yang mematikan (persis mendiang gavin) Gavin menyimpan sisi gelap.
Ia mulai pandai berbohong, memanipulasi teman-temannya di sekolah, dan diam-diam menggunakan kecerdasannya untuk hal-hal yang tidak terpuji.
Kini ia seperti melihat dunia sebagai papan catur, persis seperti sisi gelap mendiang Gavin Danu dulu.
Berbeda dengan Gavin, Zaidan adalah anak yang sangat lurus. Sebagai "Hafiz" (penjaga), instingnya sangat kuat.
Suatu malam, Zaidan masuk ke ruang kerja ayahnya dengan wajah cemas.
"Ayah, Bunda... ada yang harus Zaidan tunjukkan," ucap Zaidan dengan nada berat.
Hediva yang sedang membaca buku langsung menoleh, begitu juga Odelyn yang sedang merajut di sampingnya.
Zaidan meletakkan sebuah ponsel rahasia milik Gavin yang ia temukan di balik tumpukan buku pelajaran.
Di sana, Gavin Junior terlibat dalam sindikat taruhan online dan bahkan memanipulasi dana beasiswa teman-temannya untuk kepentingannya sendiri. Bukan karena dia butuh uang, tapi karena dia menikmati "sensasi" menguasai orang lain.
Melihat bukti itu, Odelyn terdiam sejenak. Memorinya berputar ke masa-masa pahit bersama Gavin Danu. Rasa sakit itu mencuat lagi, tapi kali ini ia tidak hancur.
Ia menoleh ke arah suaminya.
"Mas, sepertinya bibit lama itu tumbuh lagi di anak kita," bisik Odelyn pelan.
Hediva menggenggam tangan istrinya, menyalurkan kekuatan.
"Tenang, Adek Sayang. Kita bukan lagi orang yang dulu. Kita tahu cara menghadapi serigala, apalagi serigala itu adalah darah daging kita sendiri."
Odelyn dan Hediva tidak langsung melabrak Gavin. Mereka menggunakan strategi "Monitoring" yang dulu pernah mereka pakai di dunia bisnis.
Mereka membiarkan Gavin merasa di atas angin, sementara mereka diam-diam menutup semua akses pergerakan Gavin.
Esok harinya, saat makan malam, suasana sangat tenang.
"Gavin, gimana rencana olimpiade matematikamu?" tanya Hediva santai.
"Lancar, Mas Hedi—maksudku, lancar Ayah," jawab Gavin dengan senyum palsu yang sangat sempurna.
Odelyn menatap anaknya, lalu tersenyum tipis.
"Gavin, kamu tahu kenapa Bunda dulu disebut Mastermind? Karena Bunda tahu setiap langkah lawan sebelum lawan itu sempat melangkah. Jangan pernah coba-coba main catur di rumah ini kalau kamu belum siap kehilangan rajanya."
Gavin Junior tersedak. Ia menatap ibunya, mencari celah, tapi yang ia temukan hanyalah kedinginan yang mematikan.
Malam itu, Hediva memanggil Gavin ke ruang shalat. Tidak ada rotan, tidak ada teriakan. Hanya ada sajadah yang terbentar.
"Duduk, Nak," perintah Hediva. "Ayah mau bicara sebagai laki-laki ke laki-laki."
Hediva menceritakan sejarah gelap nama 'Gavin' yang ia sandang. Ia menceritakan bagaimana sifat manipulatif bisa menghancurkan hidup orang yang dicintai.
"Ayah dan Bunda nggak marah karena kamu pintar memanipulasi, Gavin. Kami sedih karena kamu menggunakan anugerah akal dari Allah untuk merugikan orang lain. Kamu punya darah Bunda yang jenius, tapi kalau tidak dibarengi hati nurani, kamu cuma akan jadi monster."
Odelyn masuk, ia memeluk Gavin dari belakang.
"Gavin. Bunda nggak mau kamu berakhir tragis seperti Ayah kandungmu. Bunda dan ayah di sini bukan untuk menghukummu, tapi untuk menjagamu agar tidak jatuh ke jurang yang sama."
Sebagai bentuk tanggung jawab, Odelyn memaksa Gavin untuk mengembalikan semua uang yang ia ambil dengan cara bekerja kasar di panti asuhan selama liburan sekolah.
Gavin harus merasakan rasanya letih mencari uang halal.
"Ini bukan soal jumlah uangnya, Gavin. Ini soal harga diri," tegas Odelyn.
Zaidan tetap memantau saudaranya, bukan sebagai musuh, tapi sebagai benteng pertahanan terakhir.
Gavin Junior mulai menyadari bahwa seberapa pun cerdiknya dia, dia tidak akan pernah bisa mengalahkan kombinasi antara kecerdasan "Bunda Odelyn" dan ketegasan "Ayah Hediva".