"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: KEBANGKITAN YANG KOTOR
Aroma itu adalah hal pertama yang menusuk kesadaranku. Bukan aroma lavender dari detergen apartemenku, bukan pula bau buku tua yang biasanya menemaniku tidur. Ini adalah campuran antara amis keringat, parfum pria yang terlalu mahal, dan bau logam dari darah yang mulai mengering. Bau yang selama sepuluh tahun karirku sebagai psikolog forensik, selalu berarti satu hal: petaka.
Mataku terbuka, tapi dunia menolak untuk tetap diam. Langit-langit kamar hotel yang berlapis beludru merah berputar hebat, seolah-olah jiwaku baru saja dipaksa keluar dari mesin cuci yang berputar kencang. Aku mencoba bernapas, namun paru-paruku terasa seperti diisi oleh air raksa—berat, dingin, dan beracun.
𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢?
Pertanyaan itu seharusnya sederhana bagi seorang Valerie. Aku adalah wanita yang selalu tahu koordinatku. Aku seharusnya berada di apartemenku yang minimalis di pusat kota, terbangun oleh alarm pukul lima pagi, lalu menyeduh kopi hitam tanpa gula sebelum pergi ke biro investigasi. Namun, kenyataan di depanku adalah distopia yang nyata.
Tanganku meraba permukaan tempat tidur. Sutra. Dingin. Dan basah.
Aku memaksa raga ini untuk duduk, namun rasa mual yang hebat menghantam ulu hati. Kepalaku berdenyut seirama dengan detak jantung yang tidak beraturan. Saat aku mencoba menumpu badan untuk bangun, tanganku menyentuh sesuatu yang keras sekaligus kenyal. Aku menoleh perlahan, dan jantungku seolah berhenti berdetak.
Di sampingku, seorang pria paruh baya tergeletak kaku. Ia mengenakan kemeja sutra yang terbuka setengah, menyingkap perutnya yang buncit. Matanya melotot kosong ke arah lampu gantung kristal di atas kami, lidahnya sedikit menjulur, dan wajahnya membiru gelap. Sebagai ahli forensik, otakku secara otomatis memproses data tanpa bisa dicegah: 𝘈𝘴𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪𝘢. 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘫𝘦𝘳𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘭𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘰𝘣𝘢𝘵-𝘰𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘪𝘴 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪. 𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 𝘥𝘶𝘢 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘫𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘭𝘶.
Namun, saat aku melihat tanganku sendiri untuk mencari denyut nadi pria itu—sebuah insting medis yang sia-sia—aku membeku.
Tangan itu bukan milikku.
Jari-jarinya panjang dengan kuku yang dicat merah darah yang mulai mengelupas di bagian ujungnya. Di lengan kiriku, ada tato ular yang melilit hingga ke pergelangan tangan—sebuah noda permanen yang tidak akan pernah seorang Valerie izinkan ada di kulitnya. Dan yang paling mengerikan, ada bekas suntikan baru yang membengkak di lipatan siku kiri. Merah, meradang, dan meninggalkan sensasi kebas yang merambat ke seluruh saraf.
Aku merangkak turun dari tempat tidur dengan gerakan yang kikuk, mengabaikan mayat di sampingku yang kini terasa seperti bom waktu. Aku menyeret kaki yang terasa lemas menuju kamar mandi, meninggalkan jejak kaki di atas karpet mahal yang tebal. Lantai marmer kamar mandi itu terasa seperti es yang menusuk pori-pori.
Aku mencengkeram pinggiran wastafel marmer, mengumpulkan sisa kewarasanku yang berserakan, dan menatap cermin besar di depanku.
Duniaku runtuh seketika.
Wajah yang menatapku balik bukan wajah Valerie yang tegas dengan kacamata berbingkai tipis dan rambut yang selalu dicepol rapi. Itu adalah wajah Zura. Bibir yang penuh dan bengkak karena ciuman kasar atau kekerasan, mata sayu dengan riasan maskara yang luntur membentuk garis hitam di pipi, dan kecantikan yang terasa kotor sekaligus rapuh. Zura—bintang film dewasa yang wajahnya sering muncul dalam berkas kasus "gangguan moral" yang pernah aku tangani.
Aku menyentuh pipiku—kulit Zura bergerak mengikuti jemariku. Aku mencubit lenganku—rasa sakitnya tajam dan nyata. Aku mencoba berteriak, tapi suara yang keluar adalah suara serak yang berat, suara yang biasa didengar pria di situs-situs terlarang, bukan suara tenor yang tenang yang biasa aku gunakan untuk membujuk narapidana di ruang interogasi.
"Tidak... ini tidak mungkin," bisikku. Suaraku sendiri terasa asing di telingaku.
Aku memejamkan mata, mencoba memanggil memori terakhir. Seharusnya ada penjelasan medis. Amnesia disosiatif? Psikosis akut? Tapi ingatanku sangat jernih. Aku ingat hujan deras semalam. Aku ingat lampu mobil yang tiba-tiba melesat ke arahku di persimpangan jalan. Aku ingat benturan logam yang memekakkan telinga dan aroma bensin yang menyengat. Dan setelah itu... gelap.
Lalu, bagaimana aku bisa berada di sini? Di dalam raga ini?
Getaran di atas meja rias membuyarkan lamunanku. Sebuah ponsel pintar dengan casing merah menyala menyala terus-menerus. Aku mendekat dengan tangan gemetar. Layarnya dipenuhi notifikasi pesan dari sebuah aplikasi terenkripsi.
𝘗𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢: 𝘡𝘶𝘳𝘢.
Pesan: "𝘛𝘶𝘨𝘢𝘴𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪. 𝘒𝘰𝘪𝘯 𝘏𝘪𝘵𝘢𝘮 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘴𝘮𝘶. 𝘛𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘑𝘶𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯𝘮𝘶."
Darahku mendingin. Julian? Detektif Julian dari divisi kriminalitas khusus? Pria yang dikenal sebagai anjing pelacak paling korup di kota ini?
Aku meraba saku jubah mandi sutra yang kukenakan. Jari-jariku menyentuh benda logam bundar yang dingin. Sebuah koin hitam dengan ukiran angka "0,1%" di tengahnya. Simbol yang pernah kudengar dalam rumor di kalangan elit—sebuah tiket masuk menuju lingkaran setan yang tak tersentuh hukum.
Tiba-tiba, suara sirene polisi terdengar di kejauhan, membelah kesunyian malam yang hampir subuh. Suaranya semakin dekat, merayap masuk ke dalam lorong hotel mewah ini.
Pikiranku berputar cepat. Jika aku ditemukan di sini, di raga Zura, dengan mayat seorang pria berpengaruh di sampingku dan narkoba di dalam darahku, aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjelaskan siapa aku sebenarnya. Bagi dunia, Zura adalah sampah masyarakat yang akhirnya melakukan kesalahan fatal. Tidak akan ada yang percaya bahwa di dalam raga yang hancur ini, ada jiwa seorang Valerie yang jujur.
Aku harus bergerak.
Aku menyambar pakaian yang berserakan di lantai—sebuah gaun hitam ketat yang terasa sangat tidak nyaman—dan memakainya secepat mungkin. Aku menghapus riasan yang luntur di wajahku dengan kasar, mencoba menghilangkan jejak Zura sebanyak yang kubisa, meski itu mustahil.
Saat aku hendak keluar, aku melihat pantulan diriku sekali lagi di cermin. Mata Zura yang sayu kini berkilat dengan kecerdasan Valerie. Tatapanku tajam, dingin, dan penuh perhitungan.
"Siapa pun yang melakukan ini padaku," bisikku pada bayangan itu, "mereka tidak tahu bahwa mereka baru saja memberikan raga seorang pendosa kepada seorang wanita yang tahu cara menghukum setiap inci dosa kalian."
Aku membuka pintu kamar hotel tepat saat suara langkah sepatu bot berat menggema di ujung lorong. Pelarian ini baru saja dimulai. Aku bukan lagi Valerie sang pembela keadilan, dan aku menolak menjadi Zura sang tumbal. Aku adalah sesuatu yang baru—sesuatu yang akan membuat Klub 0,1% memohon ampunan yang tidak akan pernah kuberikan.
Aku melangkah ke arah tangga darurat, meninggalkan mayat yang membiru dan hidupku yang lama di belakang. Malam ini, Valerie telah mati, dan Zura akan menjadi senjata paling mematikan yang pernah diciptakan oleh takdir yang sakit ini.