Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 : Para Tetua
Suara langkah kaki Qinqin yang memakai sepatu bot kulit menghantam lantai kayu aula kediaman Xu dengan irama yang menggema. Di belakangnya, Wu Lian berjalan dengan keangkuhan seorang jenderal, sementara Huo Lu sudah menghilang ke arah sayap belakang untuk menjalankan perintah rahasia.
Nyonya Bai berdiri mematung di ambang pintu kamar, wajahnya yang tadi merah padam karena marah kini berubah pucat pasi seolah darahnya baru saja disedot habis. Ia menatap gumpalan cairan hitam di lantai, sebuah racun kronis yang ia tanam selama berbulan-bulan di tubuh suaminya telah dimuntahkan begitu saja.
"Tidak mungkin! Tabib bilang itu tidak ada obatnya," gumam Nyonya Bai tanpa sadar.
Qinqin, yang masih memegang tangan ayahnya yang kurus, menoleh dengan senyum miring yang membuat bulu kuduk berdiri. "Tabibmu benar, Nyonya. Untuk manusia biasa, itu memang tidak ada obatnya. Tapi kau lupa, aku baru saja pulang dari tempat para pertapa gunung."
Xu Manchu terbatuk lagi, tapi kali ini suaranya lebih jernih. Matanya yang sayu menatap sekeliling, mencoba mencerna apa yang terjadi. Saat pandangannya jatuh pada Qinqin, air mata mengalir di pipinya yang cekung. "Qinqin... kau... kau benar-benar di sini?"
"Aku di sini, Ayah. Dan aku tidak akan pergi sampai rumah ini bersih dari hama." jawab Qinqin tegas. Ia membantu ayahnya bersandar pada bantal, lalu berdiri tegak menghadap Nyonya Bai dan Xu Feng yang masih gemetar di aula.
"Huo Lu!" teriak Qinqin.
Tak lama, Huo Lu muncul dari lorong samping. Namun, ia tidak sendiri. Ia menggendong seorang wanita tua yang kondisinya sangat mengenaskan. Pakaiannya robek, wajahnya lebam, dan salah satu lengannya tampak patah.
"Bibi Sun!" pekik Qinqin. Jantungnya berdenyut nyeri melihat kondisi pengasuhnya itu.
Bibi Sun, wanita yang mempertaruhkan nyawa mengirim merpati berdarah itu, mencoba membuka matanya yang bengkak. Begitu melihat Qinqin, ia tersenyum lemah. "Nona, Anda pulang..... Syukurlah....."
Huo Lu meletakkan Bibi Sun dengan hati-hati di kursi kayu. "Hamba menemukannya di gudang bawah tanah, Nona. Dia disiksa setiap hari agar tutup mulut."
Melihat itu, emosi Qinqin meledak. Ia berjalan mendekati Nyonya Bai yang mencoba mundur hingga menabrak meja. Qinqin menjambak rambut Nyonya Bai dengan kasar hingga wanita bernama Nyonya Bai merintih kesakitan, Qinqin memaksa wanita itu menatap luka-luka di tubuh Bibi Sun.
"Kau lihat ini?!" bentak Qinqin tepat di telinga Nyonya Bai. "Wanita tua ini mengabdi pada keluarga Xu sejak aku kecil. Dan kau memperlakukannya seperti binatang hanya karena dia setia padaku? Kau benar-benar tidak punya hati!"
"Lepaskan Ibuku!" Xu Feng mencoba maju, tapi Wu Lian hanya perlu menatapnya sekilas untuk membuat pemuda manja itu jatuh terduduk karena ketakutan.
"Jangan ikut campur, bocah," suara Wu Lian rendah namun menggetarkan ruangan. "Kecuali kau ingin merasakan pedangku."
Nyonya Bai merintih kesakitan, tangannya mencoba melepaskan cengkeraman Qinqin. "Lancang! Aku ini ibumu secara hukum! Kau bisa dihukum mati karena menyerang orang tuamu!"
"Hukum?" Qinqin tertawa liar. "Di rumah ini, mulai detik ini, aku adalah hukumnya! Jenderal, panggil semua tetua keluarga Xu. Katakan pada mereka, Menteri Xu sudah bangun dan ingin mengadakan pengadilan terbuka sekarang juga!"
***
Dua jam kemudian, setelah Qinqin dan Wu Lian menyiapkan rencana nya. Aula besar kediaman Xu dipenuhi oleh para tetua keluarga berkumis putih dan berpakaian mewah. Mereka semua datang dengan wajah bingung dan cemas. Mereka pikir akan menghadiri pemakaman, tapi yang mereka dapati adalah Menteri Xu yang duduk di kursi roda kayu, meski lemah dan seorang wanita muda berambut emas yang berdiri di tengah ruangan layaknya seorang jenderal wanita.
Qinqin berdiri di samping ayahnya, sementara Nyonya Bai dan Xu Feng dipaksa berlutut di lantai yang dingin, dijaga ketat oleh prajurit bayangan Wu Lian.
"Para tetua sekalian," buka Qinqin dengan suara yang lantang dan jelas. "Terima kasih sudah datang. Hari ini bukan hari kematian Ayahku, melainkan hari pembersihan bagi pengkhianat di keluarga kita."
Seorang tetua paling senior, Paman Agung, angkat bicara. "Qinqin, apa maksud semua ini? Kenapa Nyonya Bai diperlakukan seperti tahanan?"
Qinqin melemparkan sebuah botol kecil yang ia ambil dari laci rias Nyonya Bai dan beberapa gulungan kertas yang terbakar sebagian. "Itu adalah sisa racun 'Garis Hitam' yang diberikan Nyonya Bai ke dalam teh Ayah setiap hari. Dan kertas itu? Itu adalah bukti korespondensi Nyonya Bai dengan sindikat pasar gelap untuk menyewa pembunuh bayaran guna menghabisi aku di Barat."
Aula itu langsung riuh dengan bisikan kaget. Para tetua saling berdiskusi. Para pelayan yang mendengar riuh berbisik.
"Bohong! Dia memfitnahku!" teriak Nyonya Bai sambil menangis tersedu-sedu, mencoba memainkan peran sebagai korban. "Dia membawa Jenderal itu untuk mengintimidasi kita semua agar dia bisa menguasai harta keluarga!"
"Aku memfitnahmu?" Qinqin berjalan menuju Bibi Sun yang sudah diberi obat penenang oleh Huo Lu. "Bibi Sun adalah saksi hidup. Dia melihatmu mencampur racun itu. Dan jika itu tidak cukup..." Qinqin menoleh pada Wu Lian.
Wu Lian memberikan kode, dan dua prajurit masuk menyeret seorang pria berpakaian hitam yang sudah babak belur. "Ini adalah salah satu pembunuh yang kau kirim ke Barat, Nyonya Bai. Dia sudah bernyanyi dengan sangat merdu tentang siapa yang membayarnya." Lelaki itu sudah banyak persiapan.
Meski persiapan dari Barat menuju Timur sedikit, namun dalam waktu itu Wu Lian sudah mengantisipasi semua nya---apa saja yang diperlukan---sebelum perjalanan seminggu menuju Timur.
Nyonya Bai jatuh tersungkur. Ia tahu permainannya sudah berakhir.Mata nya menatap lantai marmer dengan kosong. Segala rencananya yang disusun rapi selama berbulan-bulan hancur hanya dalam satu malam karena kemunculan Qinqin.
Xu Manchu, dengan sisa tenaganya, mengangkat tangan. Suasana seketika hening. "Bai Lin, aku memberikanmu kemewahan, posisi, dan cinta. Tapi kau membalasnya dengan racun? Mulai hari ini, kau bukan lagi istriku. Aku menceraikanmu secara tidak hormat. Seluruh harta yang kau pegang ditarik kembali."
"Ayah! Tolong jangan!" Xu Feng memohon sambil bersujud.
"Dan untukmu, Xu Feng," lanjut Xu Manchu dengan nada kecewa yang mendalam. "Kau tahu ibumu berbuat jahat, tapi kau diam saja demi posisi menteri. Kau akan dikirim ke perbatasan untuk menjadi prajurit rendahan. Belajarlah menjadi manusia sebelum kau belajar menjadi pemimpin."
Nyonya Bai tertawa histeris, seolah-olah pikirannya sudah terganggu. "Kau pikir ini berakhir? Aku akan kembali! Keluarga Bai tidak akan tinggal diam!"
"Keluarga Bai?" Qinqin berjongkok di depan Nyonya Bai, lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh wanita itu. "Asal kau tahu, Jenderal Wu Lian sudah mengirim surat ke pusat. Keluargamu sedang diselidiki atas kasus penggelapan pajak kerajaan. Dalam tiga hari, tidak akan ada lagi yang namanya Keluarga Bai. Kau sendirian sekarang."
Nyonya Bai menjerit frustrasi sebelum akhirnya diseret keluar oleh pengawal menuju penjara bawah tanah untuk menunggu eksekusi kekaisaran.
Setelah kerumunan tetua membubarkan diri dengan rasa takut dan hormat pada Qinqin, suasana aula menjadi tenang. Qinqin terduduk lemas di samping kursi roda ayahnya. Semua ketegangan yang ia tahan sejak dari Barat akhirnya menguap.
"Kau sangat luar biasa, Nak," bisik Xu Manchu sambil mengusap kepala Qinqin. "Maafkan ayah yang selama ini buta."
Qinqin tersenyum tulus, air mata yang tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. "Yang penting Ayah selamat. Dan Bibi Sun akan segera sembuh."
Wu Lian mendekat, ia berdiri di samping Qinqin dan meletakkan tangannya di bahu istrinya. "Kau melakukan pekerjaan yang bagus, Istriku. Meskipun kau sangat berisik dan suka membantah, ternyata kau punya bakat jadi hakim." ujarnya dengan menekan kata 'istriku' agar nampak harmonis di depan mertua nya.
Qinqin menengadah, menatap wajah kaku Wu Lian yang kini terlihat jauh lebih tampan di matanya. "Dih, memuji atau menghina sih? Tapi terima kasih, Jenderal. Kalau bukan karena kau yang mengawal, mungkin aku sudah mati di depan pintu."
Wu Lian hanya mendengus, namun ia tidak melepaskan tangannya dari bahu Qinqin. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ada rasa hangat yang menjalar di antara mereka.
"Jadi," ujar Qinqin sambil menyeka air matanya, "karena sekarang aku sudah jadi pahlawan keluarga, bolehkah aku minta hadiah tambahan?"
"Apa lagi?" tanya Wu Lian waspada.
"Aku ingin kau menggendongku ke kamar. Kakiku rasanya mau copot karena memacu kuda tujuh hari tanpa henti," pinta Qinqin dengan kedipan mata nakalnya yang telah kembali.
Wu Lian terdiam sesaat, lalu tanpa kata, ia mengangkat tubuh Qinqin dalam gendongan ala tuan putri, membuat para pelayan yang tersisa di aula menahan napas karena kaget.
"Hei! Aku cuma bercanda, Jenderal! Turunkan!" seru Qinqin malu karena wajahnya memerah. "Ayah melihat kita, Jenderal Es! Turunkan!" Bisik Qinqin.
"Diamlah. Kau bilang kau lelah, kan? Maka jadilah istri yang tenang sebentar saja," jawab Wu Lian sambil melangkah menuju paviliun dalam, meninggalkan Huo Lu yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah majikannya.
Sementara Xu Manchu hanya tersenyum. Seperti nya Qinqin memang benar benar diperlakukan dengan baik oleh Jenderal Perang itu, pikir nya.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂