"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Sangkar Emas dan Lantai yang Dingin
Hari-hari di rumah megah itu mulai terasa seperti siklus yang tidak berujung bagi Elena. Jika di desa dulu waktu ditandai dengan posisi matahari atau suara kokok ayam, di sini waktu ditandai dengan suara langkah sepatu kulit Arkan yang beradu dengan lantai marmer. Setiap kali suara itu terdengar, jantung Elena akan berdegup kencang, sebuah reaksi insting terhadap ancaman yang selalu mengintai.
Pagi itu, setelah menyelesaikan tugas dapur yang diberikan Ibu Widya, Elena berdiri di depan jendela besar di ruang tengah. Menatap gerbang besi raksasa di ujung halaman. Hanya beberapa meter dari sana ada jalan raya, ada kebebasan, ada kemungkinan untuk pulang. Tapi, dia tahu gerbang itu dijaga oleh dua orang pria berbadan tegap yang hanya tunduk pada perintah Arkan.
"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari garis itu, Elena."
Suara Arkan muncul dari belakang, begitu dekat hingga napasnya yang beraroma kopi mahal terasa di tengkuk Elena. Elena tersentak, bahunya menegang seketika.
Arkan berdiri di sampingnya, ikut menatap ke arah gerbang. "Kamu tahu apa yang terjadi kalau kamu mencoba kabur? Ayahmu yang malang itu... aku dengar kondisinya sedang tidak stabil semalam. Kasihan, ya. Di hari tuanya dia harus menanggung malu karena utang, dan sekarang dia harus menanggung rindu karena anaknya tidak bisa pulang."
Elena menoleh dengan mata membelalak. "Mas... maksudku, Tuan... apa yang terjadi dengan Ayah? Kenapa Ayah tidak stabil?"
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya. "Hanya tekanan darah tinggi. Tapi di usianya, hal kecil bisa jadi fatal, bukan? Makanya, jadilah istri yang penurut. Jangan membuatku marah, karena emosiku berhubungan langsung dengan kesejahteraan ayahmu."
Arkan kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar tipe terbaru yang masih berkilau. Elena sempat merasa ada secercah harapan bahwa dia akan diberikan akses untuk menghubungi dunia luar. Tapi, harapannya hancur saat Arkan menjatuhkan ponsel itu ke lantai, tepat di depan kaki Elena.
"Itu ponselmu. Tapi jangan harap ada kartu SIM di dalamnya. Aku sudah mengatur agar ponsel itu hanya bisa tersambung ke jaringan Wi-Fi rumah ini, dan aku memantau semua riwayat pencariannya. Tidak ada media sosial, tidak ada panggilan keluar. Ponsel itu hanya untuk kamu melihat jam dan jadwal pekerjaan yang akan diberikan Ibu setiap pagi."
Elena menatap ponsel di lantai itu dengan nanar. Itu bukan alat komunikasi; itu adalah alat pelacak. Sebuah borgol digital.
"Dan satu lagi," Arkan mencengkeram lengan Elena, menariknya mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa senti. "Aku tidak suka melihatmu memakai baju-baju kumal dari desamu itu. Mulai besok, pelayan akan membawakan gaun-gaun mahal. Kamu harus memakainya setiap hari. Aku ingin kamu terlihat seperti perhiasan yang mahal, meskipun di dalamnya kamu hanyalah barang rongsokan yang kubeli."
Arkan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Elena hampir kehilangan keseimbangan. Arkan kemudian pergi begitu saja, meninggalkan aroma parfum yang menyesakkan dan rasa perih di lengan Elena.
Sisa hari itu dihabiskan Elena dengan mencoba "menghias" dirinya sendiri sesuai keinginan Arkan.
Pelayan membawakan beberapa kotak besar berisi gaun-gaun sutra dengan potongan yang indah tapi terasa sangat asing di tubuh Elena. Saat dia mencoba salah satu gaun berwarna merah marun di depan cermin besar, Elena tidak mengenali wanita yang ada di sana.
Wanita di cermin itu terlihat cantik, sangat cantik. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan lekuk bahunya yang indah. Tapi, mata wanita itu mati. Tidak ada binar di sana. Di balik kain sutra yang halus itu, Elena bisa merasakan bekas merah di lengannya akibat cengkeraman Arkan tadi pagi.
"Sangkar emas," batin Elena. "Ini benar-benar sangkar emas."
Malam harinya, Arkan kembali membawa "kejutan" lain. Saat jam makan malam, Arkan tidak makan di ruang makan. Dia memerintahkan Elena untuk membawakan nampan makanan ke ruang kerjanya. Dengan tangan gemetar, Elena membawa nampan berisi steak dan wine itu.
Begitu pintu ruang kerja terbuka, Elena membeku. Di sana, Arkan tidak sendirian. Dia sedang duduk di kursi kebesarannya, dan di pangkuannya duduk seorang wanita dengan pakaian yang sangat minim, rambutnya pirang hasil cat, dan tawanya terdengar sangat dibuat-buat.
"Letakkan saja di meja, Elena," ucap Arkan tanpa menatap istrinya. Dia justru sibuk membelai pipi wanita di pangkuannya.
Wanita itu melirik Elena dengan tatapan menghina. "Oh, ini istri kamu yang dari desa itu, Sayang? Cantik sih, tapi penampilannya... kaku sekali. Kayak manekin."
Arkan tertawa rendah. "Dia memang cuma manekin, Dira. Perhiasan rumah yang tidak punya suara. Sudah Elena, keluar sekarang. Aku sedang sibuk."
Elena meletakkan nampan itu dengan gerakan secepat mungkin. Tangannya bergetar hebat hingga bunyi denting piring terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. Elena segera berbalik dan keluar, tapi sebelum pintu tertutup, Elena mendengar suara tawa wanita itu lagi—Dira—dan komentar pedas Arkan tentang betapa membosankannya Elena sebagai seorang istri.
Elena berlari menuju kamarnya—bukan, kamar Arkan yang menjadi tempatnya mendekam. Elena tidak menuju tempat tidur, melainkan langsung menuju pojok ruangan, duduk di atas lantai marmer yang dingin tanpa alas apa pun.
Dinginnya lantai itu seolah menjadi satu-satunya hal yang nyata, satu-satunya hal yang bisa dia rasakan di tengah kepalsuan rumah ini.
Elena memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana. Di kegelapan malam itu, Elena mulai menyadari bahwa statusnya sebagai istri hanyalah label untuk memudahkan Arkan menyiksanya secara legal di depan umum dan secara fisik di dalam rumah.
Dia teringat lantai tanah di dapur rumah ayahnya. Meski hanya tanah, rasanya hangat karena ada kasih sayang di sana. Di sini, lantai marmer senilai jutaan rupiah ini terasa seperti balok es yang perlahan membekukan jiwanya.
"Eros..." isaknya lirih. "Kenapa aku harus mengalami ini? Apa salahku sampai Tuhan membiarkan aku terjebak di sini?"
Di sela-sela isakannya, Elena tidak menyadari bahwa di luar sana, sebuah mobil hitam terparkir cukup jauh dari gerbang rumah Arkan. Di dalamnya, seorang pria dengan rahang yang mengeras memperhatikan jendela lantai dua rumah itu. Dia melihat bayangan Elena yang rapuh di balik tirai.
Pria itu, Eros, meremas kemudi mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia melihat Arkan keluar ke balkon kamar bersama Dira, tertawa sambil menyesap wine. Eros tahu apa yang terjadi di dalam sana. Dia tahu setiap inci penderitaan Elena, karena dia memiliki "mata dan telinga" di dalam rumah itu.
"Tahan sedikit lagi, El," gumam Eros dengan suara yang rendah dan berbahaya. "Aku akan meratakan rumah itu dengan tanah, dan aku akan memastikan Arkan memohon kematian padaku karena telah menyentuhmu."
Malam itu, Elena tidur di atas lantai yang dingin, lebih memilih kekerasan marmer daripada kenyamanan sofa yang diberikan Arkan. Karena baginya, rasa sakit fisik jauh lebih mudah ditanggung daripada rasa sakit di hatinya yang terus-menerus diinjak-injak oleh orang-orang yang merasa bisa membeli segalanya dengan uang.
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya