NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 30

Setelah kejadian antara Ibu dan Kak Rini itu,

hatiku dipenuhi amarah.

Aku sangat membencinya.

Bagiku, dia jahat. Bermuka dua.

Di depan terlihat baik dan lembut,

tapi di belakang menyakiti Ibu tanpa rasa bersalah.

Yang membuatku semakin hancur adalah kenyataan bahwa Abang Ari dan Bang Al justru sangat menyayanginya.

Seolah tidak melihat apa pun yang telah terjadi.

Seolah Ibu yang salah.

Seolah air mata itu tidak pernah jatuh.

Aku tidak tahan.

Aku menghubungi Bang Ari.

Dengan suara bergetar, aku menceritakan semuanya—tentang apa yang Kak Rini lakukan, tentang Ibu yang menangis diam-diam, tentang luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Tapi jawaban yang kuterima seperti tamparan kedua.

Bang Ari tidak percaya.

Nada suaranya berubah. Dingin.

Ada jarak yang tiba-tiba terasa asing.

Seperti ia sudah mendengar versi lain sebelumnya.

Di situlah pikiranku mulai dipenuhi kecurigaan.

Apakah Kak Rini sudah lebih dulu menghubunginya?

Apakah ia sudah memutarbalikkan cerita?

Menjadikan dirinya korban dan kami pelaku?

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, rasanya seperti dikhianati dua kali.

Dan hidup Senja—hidupku—terasa semakin gelap.

Sejak kecil, aku selalu berada di tengah badai.

Saat anak lain tertawa, aku belajar menahan tangis.

Saat orang lain dipeluk, aku belajar menguatkan diri sendiri.

Aku pernah kecil.

Tak berdaya.

Disuruh ini dan itu tanpa bisa menolak.

Dimarahi.

Bahkan dipukul di bawah terik matahari, seolah aku bukan anak kecil yang juga punya rasa sakit.

Bagiku waktu itu, dunia sangat kejam.

Aku tumbuh tanpa benar-benar merasakan kasih sayang seorang ayah.

Figur yang seharusnya melindungi, tak pernah benar-benar ada.

Kasih sayang Ibu… ada, tapi tidak selalu bisa kurasakan utuh.

Keadaan membuat Ibu keras. Hidup membuatnya lelah.

Tapi bagaimanapun juga,

aku tetap menyayangimu, Ibu.

Karena aku tahu, di balik kerasnya suaramu ada ketakutan yang kau sembunyikan.

Di balik diamnya dirimu ada luka yang tak pernah kau ceritakan.

Sekarang Ibu sudah tidak berjualan lagi.

Tidak ada lagi wangi gorengan dan asap tungku setiap pagi.

Sekarang ibu bisa menikmati hari Senjanya

Kami, anak-anaknya, yang kini mengirimkan uang untuk Ibu.

Sedikit demi sedikit.

Tidak banyak, tapi cukup agar Ibu tidak lagi berdiri seharian menahan lelah.

Kadang aku melihat Ibu duduk lebih tenang.

Wajahnya masih menyimpan lelah,

tapi ada kelegaan kecil di sana.

Namun bagi diriku sendiri, hidup tetap terasa kosong.

Ada ruang dalam hatiku yang tak pernah terisi.

Seolah kebahagiaan hanya singgah sebentar di depan pintu, lalu pergi tanpa sempat mengetuk.

Aku sering bertanya dalam hati:

“Apakah aku memang ditakdirkan hanya untuk kuat, tapi tidak untuk bahagia?”

Sudahlah.

Aku tidak akan lagi mempedulikan mereka yang terus menyakiti hatiku.

Aku sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang luka.

Tahun ini, aku sudah bisa berdiri di atas kakiku sendiri.

Tidak lagi anak kecil yang hanya bisa diam saat disakiti.

Tidak lagi gadis kecil yang menangis sendirian di sudut kamar.

Aku sudah belajar kuat.

Meski caranya menyakitkan.

Dan satu kalimat Ibu terus terngiang di kepalaku:

“Kamu harus bisa membuat adikmu, Alfa, lebih dari kamu.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi bagiku, itu adalah amanah.

Aku mungkin tidak mendapatkan banyak kebahagiaan.

Aku mungkin tumbuh dalam kerasnya dunia.

Tapi Alfa… tidak boleh merasakan hal yang sama.

Aku akan bekerja sekuat tenaga.

Aku akan menahan lelah lebih lama.

Aku akan menekan keinginanku sendiri jika perlu.

Asal Alfa bisa sekolah tinggi.

Asal Alfa bisa kuliah.

Asal ia tidak merasa kekurangan seperti yang pernah kurasakan.

Biarlah aku yang menjadi kuat.

Biarlah aku yang menanggung lebih banyak.

Karena jika hidup tidak memberiku kebahagiaan,

setidaknya aku bisa menciptakannya untuk adikku.

Dan mungkin…

itulah satu-satunya alasan aku tetap bertahan sampai hari ini. 🤍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!