Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
“Baik.”
Kereta kuda datang silih berganti. Satu demi satu perabot diturunkan dan disusun rapi di halaman depan. Setelah beberapa saat, seorang pria terakhir turun sambil mengelap keringatnya.
“Baiklah, ini barang terakhir,” ucapnya.
Wakasa tersenyum kecil.
“Em… terima kasih banyak.”
Setelah semua orang pergi, Wakasa berdiri sejenak di depan tumpukan barang-barang itu.
“Ternyata… aku beli cukup banyak,” gumamnya sambil menggaruk pipi.
Ia pun mulai mengangkat barang-barang itu satu per satu, membawanya masuk ke dalam rumah dan menatanya sesuai keinginannya. Sofa diletakkan di ruang tengah, meja makan di dekat dapur, sementara kasur dan perlengkapan lain ia atur perlahan di lantai atas.
Beberapa waktu kemudian, Wakasa menjatuhkan diri ke sofa.
“Hah…”
“Benar-benar melelahkan.”
Belum sempat ia menikmati istirahatnya, perutnya tiba-tiba berbunyi.
“…Aku bahkan belum makan,” ucapnya sambil memegang perut.
Ia terdiam sejenak, lalu matanya sedikit bersinar.
“Bukankah aku masih punya daging monster itu?”
Tanpa menunda lagi, Wakasa membuka Magic Hole miliknya dan mengeluarkan beberapa potong daging. Ia membawanya ke dapur dan mulai memasak.
“Sekarang aku bisa makan sepuasnya,” katanya ringan.
“Hehe… hahaha…”
Setelah selesai makan, Wakasa menyandarkan tubuhnya.
“Hah… kenyang sekali.”
Ia lalu berdiri dan menatap ke arah kamar mandi.
“Sekarang saatnya mencoba bak mandi baru.”
Dengan semangat , ia bergegas ke kamar mandi dan langsung masuk ke bak mandi besar yang baru dibelinya. Bak itu begitu luas, bahkan terasa berlebihan untuk satu orang.
“Hah…”
“Sangat nyaman…”
“Sudah lama aku ingin berendam di air panas seperti ini.”
Rasa lelah perlahan menghilang , setelah berendam cukup lama ia pergi ke kamar untuk tidur.
Keesokan harinya, Wakasa mengenakan jubah panjang yang menutupi seluruh tubuh dan kepalanya. Tanpa menarik perhatian siapa pun, ia meninggalkan rumah dan bergerak menuju hutan.
Ia berjalan jauh, menembus pepohonan hingga malam mulai turun. Hutan yang dituju bukan hutan di sekitar rumahnya—tempat ini jauh lebih dalam dan sunyi.
Wakasa berhenti di sebuah area terbuka yang gelap.
“…Sepertinya tempat ini cocok,” gumamnya.
“Kalau begitu…”
Wakasa… apa kau yakin?
Suara Fenrir terdengar di dalam batinnya.
Wakasa menarik napas dalam.
“Eem… aku akan mencobanya.”
Baiklah. Aku sudah memperingatkan mu, jawab Fenrir.
Dengan perlahan, Wakasa melepas sarung tangan yang menutupi segel di tangannya. Ia mengiris sedikit ujung jarinya, lalu meneteskan darahnya ke atas segel tersebut.
Cahaya terang langsung memancar.
Dalam sekejap, kekuatan itu meledak keluar. Wakasa tersungkur ke tanah, kepalanya terasa seperti dihantam dari dalam. Nafasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat.
Bayangan-bayangan gelap bermunculan di pikirannya—amarah, kebencian, dendam dan dorongan untuk menghancurkan sesuatu.
" Mati "
" Aku akan membunuh kalian "
" Sialan "
" Aku akan balas dendam "
“Aku…”
“Aku harus menahannya…”
Wakasa memaksa dirinya tetap sadar, meski rasa sakit terus menekan pikirannya.
Perlahan, kesadarannya seakan ditarik ke tempat lain.
Ia kini berdiri di sebuah ruang hampa yang gelap dan sunyi. Namun sedikit demi sedikit, kegelapan itu mulai terang.
Di hadapannya muncul sosok besar—Fenrir berkepala tiga.
Namun ini bukan wujud fisik Fenrir.
Ini adalah manifestasi kekuatannya sendiri.
Ketiga pasang mata itu menatap Wakasa dengan tajam.
Fenrir itu hanya terdiam dan menatap wakasa dengan tatapan kebencian serta amarah.
Perlahan rasa sakit yang menghantam wakasa mulai menghilang kini ia berdiri tegap bersiap untuk menghadapi kekuatan Fenrir yang sesungguhnya.