Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab1Pertemuan Tak Terduga di Perpustakaan
Angin musim gugur mengembuskan napas dinginnya, membelai lembut dedaunan yang mulai menguning di sepanjang jalan. Bagi Lia, ini adalah musim favoritnya. Bukan karena keindahan warnanya, melainkan karena suasana tenang yang selalu menyertai, sempurna untuk menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan kota. Dengan langkah terburu-buru, Lia menarik syal rajutannya lebih erat, memeluk erat tumpukan buku yang nyaris menutupi seluruh pandangannya. Kacamata berbingkai tebalnya sedikit melorot di hidung, namun ia tak punya tangan bebas untuk membetulkannya. Pikirannya melayang pada bab terakhir novel fantasi yang sedang ia baca, membayangkan adegan duel pedang yang mendebarkan.
Begitu pintu perpustakaan tua itu terbuka dengan derit pelan, aroma khas buku-buku lama dan kertas menguar, menyambut Lia layaknya pelukan hangat. Inilah rumah keduanya, tempat ia merasa paling nyaman dan aman dari hiruk pikuk dunia luar. Lia menyusuri lorong-lorong rak buku yang menjulang tinggi, mencari sudut favoritnya di dekat jendela, di mana cahaya matahari sore selalu berhasil menembus, menciptakan spot baca yang sempurna. Dia tersenyum kecil ketika menemukan kursi berlengan usang itu kosong. Hari ini keberuntungan berpihak padanya.
Namun, senyumnya langsung memudar begitu ia menyadari ada sesosok pria yang duduk di meja yang sama. Pria itu menempati kursi yang biasanya kosong, kursi di seberang mejanya yang juga ia klaim sebagai "miliknya" secara tidak tertulis. Lia mengerutkan kening. Pria itu... bukan tipe pengunjung perpustakaan pada umumnya. Rambutnya hitam legam, sebagian disisir ke belakang dengan gaya yang sedikit berantakan, dan sebagian lagi disembunyikan di bawah bandana hitam.
Jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya terlihat lusuh namun tetap memancarkan aura maskulin yang kuat, kontras dengan kemeja denim gelap di dalamnya. Ada tato samar-samar yang mengintip dari balik lengan kemejanya. Sepatu boots kulitnya yang tebal diletakkan sembarangan di bawah meja, seolah-olah ia tak peduli dengan etika di tempat hening seperti ini.
Lia merasa sedikit risih. Aura pria itu terlalu intens untuk suasana perpustakaan yang damai. Ia seperti elemen asing yang tiba-tiba muncul dan mengganggu keseimbangan. Pria itu tampak sibuk dengan ponselnya, sesekali menghela napas panjang, menunjukkan kebosanan yang kentara. Lia mencoba mengabaikannya, melangkah menuju kursinya, dan dengan hati-hati meletakkan tumpukan bukunya di meja. Salah satu buku, dengan sampul bergambar naga, sedikit meleset dari tumpukan dan jatuh ke lantai dengan suara lumayan keras.
"Sial," bisik Lia, merasa malu karena telah membuat keributan di tempat yang seharusnya sunyi.
Pria itu mengangkat kepalanya. Bola mata hitamnya yang tajam menatap Lia, membuat jantung Lia berdebar kencang. Rasanya seperti sepasang elang sedang mengamati mangsanya. Wajahnya yang tegas dan rahangnya yang keras seolah dipahat, menambah kesan garang pada penampilannya. Lia merasa pipinya memerah. Ia buru-buru membungkuk untuk mengambil bukunya, berharap pria itu tidak terlalu memperhatikannya.
"Perlu bantuan?" Suara pria itu dalam dan serak, sedikit mengagetkan Lia.
Lia menggeleng cepat tanpa menatap. "Tidak, terima kasih. Saya bisa sendiri."
Ia mengambil bukunya dan dengan cepat mendudukkan diri di kursinya, seolah-olah ia baru saja lolos dari bahaya. Pria itu kembali menunduk ke ponselnya, seolah-olah apa yang baru saja terjadi tidak terlalu penting. Lia diam-diam meliriknya. Ia penasaran mengapa pria seperti itu berada di perpustakaan.
Apakah dia tersesat? Atau mungkin dia disuruh seseorang untuk mencari buku? Tidak, itu tidak mungkin. Tangannya yang dipenuhi cincin perak terlihat terlalu kasar untuk membalik halaman buku.
Lia mencoba fokus pada bukunya, membuka halaman yang terakhir ia baca. Namun, konsentrasinya buyar. Bau rokok tipis yang entah datang dari mana, seolah menempel pada pria itu, mengganggu indra penciumannya. Itu bukan bau rokok yang kuat, melainkan aroma sisa yang samar, namun cukup untuk membuat Lia tidak nyaman. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengenyahkan aroma itu dari benaknya.
"Kamu suka membaca?" Tiba-tiba pria itu kembali bertanya, nadanya datar.
Lia terlonjak. Ia tidak menyangka akan diajak bicara lagi. Dengan ragu, Lia menoleh. Pria itu kini meletakkan ponselnya, kedua tangannya terlipat di dada, menatap Lia dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ya," jawab Lia singkat, merasa canggung. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Buku apa yang kamu baca?"
Lia mengangkat sedikit buku fantasi yang sedang dipegangnya. "Ini novel fantasi. Tentang ksatria dan naga."
Pria itu mengangguk pelan, seulas senyum tipis, nyaris tak terlihat, melintas di bibirnya. "Kedengarannya menarik."
Lia terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi. Pria ini, yang terlihat seperti baru saja turun dari motor besar, entah bagaimana menunjukkan ketertarikan pada novel fantasi. Sungguh di luar dugaannya.
"Saya Devan," pria itu akhirnya memperkenalkan diri, mengulurkan tangannya.
Lia ragu-ragu sejenak, lalu membalas uluran tangan itu. Tangannya terasa kecil di genggaman tangan Devan yang besar dan hangat. "Lia."
"Salam kenal, Lia," kata Devan, senyum tipisnya kini sedikit lebih jelas. "Kamu sering ke sini?"
Lia mengangguk. "Hampir setiap hari setelah pulang kuliah. Saya suka suasana di sini."
Devan mengangguk setuju. "Aku juga. Lumayan buat menenangkan pikiran."
Lia membelalakkan matanya sedikit. Menenangkan pikiran? Pria seperti Devan mencari ketenangan di perpustakaan? Ini semakin membingungkan. Biasanya, orang-orang seperti Devan akan mencari ketenangan di klub malam atau tempat-tempat bising lainnya.
"Oh," hanya itu yang bisa Lia katakan.
Devan terkekeh pelan, suaranya terdengar renyah di tengah keheningan perpustakaan. "Jangan terkejut begitu. Memang penampilan saya tidak cocok dengan tempat ini, ya?"
Lia merasa pipinya kembali memerah. Ia merasa tertangkap basah. "Bukan begitu... hanya saja..."
"Hanya saja saya terlihat seperti preman yang nyasar, kan?" Devan menyelesaikan kalimat Lia dengan senyum lebar.
Lia tak bisa menahan diri untuk tidak ikut tersenyum. Devan ternyata memiliki selera humor. "Tidak juga... hanya saja... tidak banyak orang seperti Anda yang saya temui di perpustakaan."
"Itu benar," Devan mengakui. "Tapi saya kadang butuh tempat tenang untuk berpikir. Dan perpustakaan ini punya aura tersendiri." Devan melirik tumpukan buku Lia. "Kamu suka semua genre buku, ya?"
"Hampir semua," jawab Lia. "Terutama fantasi, sejarah, dan sedikit fiksi ilmiah."
"Pantas saja kamu betah di sini," Devan berkomentar, pandangannya kembali menatap buku-buku di rak. "Dunia di balik setiap halaman, ya?"
Lia mengangguk antusias. "Ya! Saya suka sekali membayangkan diri saya sebagai bagian dari cerita-cerita itu."
Devan menghela napas panjang, seolah sedang merenungkan sesuatu. "Saya tidak pernah punya waktu untuk membaca banyak buku. Selalu ada hal lain yang harus diurus."
"Anda sibuk?" tanya Lia, memberanikan diri.
"Begitulah," jawab Devan, pandangannya kini tertuju pada Lia. "Banyak tanggung jawab."
Lia tidak bertanya lebih lanjut. Ia merasa akan terlalu lancang jika terus mengorek informasi pribadi Devan. Mereka kembali terdiam, masing-masing dengan pikirannya sendiri. Lia kembali membuka bukunya, berusaha membaca, namun sesekali ia masih melirik Devan. Pria itu kini mengeluarkan earphone dari sakunya dan memasangnya, lalu kembali menatap ponselnya. Ia sepertinya sedang mendengarkan musik.
Beberapa saat kemudian, Devan melepas earphone-nya. "Kamu tahu di mana ada kafe terdekat yang bagus?"
Lia berpikir sejenak. "Ada kafe kecil di ujung jalan. Namanya 'Literary Brew'. Mereka punya kopi yang enak dan suasana yang nyaman."
"Literary Brew?" Devan mengernyitkan dahi. "Kedengarannya... terlalu sastra untukku."
Lia terkekeh. "Cobalah dulu. Mungkin Anda akan suka."
Devan tersenyum lagi. "Baiklah. Mungkin saya akan mencoba. Terima kasih, Lia."
Ia bangkit dari kursinya, jaket kulitnya kembali bergerak mengikuti gerakannya. Tingginya membuat Lia merasa semakin kecil di sampingnya. "Saya harus pergi sekarang. Senang bertemu denganmu, Lia."
"Senang bertemu dengan Anda juga, Devan," balas Lia.
Devan mengangguk singkat, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Lia mengawasinya sampai sosoknya menghilang di balik pintu perpustakaan. Begitu Devan pergi, keheningan di sudut itu kembali terasa, namun entah mengapa, suasana menjadi sedikit berbeda. Ada jejak kehadiran Devan yang tertinggal, aroma rokok samar yang bercampur dengan wangi kertas tua, dan bayangan tatapan tajamnya yang masih terbayang di benak Lia.
Lia kembali ke bukunya, tetapi pikirannya kini dipenuhi dengan sosok Devan. Siapa pria itu sebenarnya? Apa "tanggung jawab" yang ia maksud? Dan mengapa seorang pria dengan penampilan garang seperti dia mencari ketenangan di sebuah perpustakaan? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, membuat halaman-halaman novel fantasi di tangannya terasa kurang menarik.
Ia tahu, pertemuannya dengan Devan hari ini hanyalah awal dari sesuatu yang tidak ia duga. Sebuah pertemuan tak terduga yang mungkin akan mengubah alur cerita hidupnya sendiri. Ia belum tahu bagaimana, tetapi intuisinya mengatakan demikian. Dan entah mengapa, ia merasa sedikit bersemangat sekaligus cemas. Dunia yang tenang dan teraturnya, sepertinya baru saja kedatangan tamu tak diundang yang akan mengguncangnya perlahan.