Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Jarak yang Tidak Diucapkan
(POV: Noah)
Aku mulai menyadari jarak itu pada hal-hal kecil.
Alice masih menyeduh kopi untuk dua orang.
Masih duduk di meja yang sama. Masih membuka pintu ketika aku datang. Namun ada jeda singkat—hampir tak terlihat—setiap kali aku menyentuh bahunya, atau ketika percakapan mulai terlalu personal.
Aku tidak menegurnya.
Aku juga tidak berpura-pura tidak melihat.
Di bengkel, hari-hariku kembali padat. Pesanan menumpuk. Kapal tua dari pelabuhan utara datang dengan mesin yang perlu perbaikan menyeluruh. Aku bekerja hingga larut dua malam berturut-turut.
Aku tidak naik ke vila.
Bukan karena tidak ingin.
Karena aku ingin melihat apakah ia akan mencariku.
Ia tidak.
Dan itu menyakitkan dengan cara yang tidak bisa kujelaskan.
(POV: Alice)
Aku tahu aku menarik diri.
Aku merasakannya di bahu, di napas, di cara tanganku berhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuhnya.
Bukan karena aku tidak ingin dekat.
Justru karena aku terlalu ingin.
Setiap kali Noah datang, aku merasakan betapa mudahnya ia menjadi pusat hariku. Dan itu menakutkan. Terlalu cepat. Terlalu dalam.
Aku pernah berada di titik itu sebelumnya.
Dan aku tidak ingin mengulang kehancuran yang sama.
Ketika ia tidak datang dua malam berturut-turut, aku tidak terkejut.
Aku hanya… kosong.
(POV: Noah)
Malam ketiga, aku naik ke bukit.
Bukan untuk menuntut penjelasan. Hanya untuk memastikan bahwa aku tidak membayangkan semuanya.
Alice membuka pintu dengan wajah lelah.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku.
Ia mengangguk terlalu cepat. “Tentu.”
Kami duduk. Tidak berdampingan seperti biasa.
“Ada yang berubah?” tanyaku akhirnya.
Ia menatap lantai. “Tidak.”
Jawaban itu tidak jujur.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak membiarkannya lewat.
“Alice,” kataku pelan tapi tegas, “aku tidak menanyakan apakah semuanya baik-baik saja.
Aku bertanya apakah ada yang berubah di antara kita.”
Ia terdiam lama.
Lalu ia berdiri, berjalan ke jendela, membelakangiku.
“Jika kau ingin jawaban yang jujur,” katanya, “maka ya.”
Dadaku menegang. “Apa?”
“Aku mulai bergantung,” katanya lirih. “Dan aku benci perasaan itu.”
(POV: Alice)
Mengatakannya membuat dadaku terasa lebih ringan—dan lebih perih sekaligus.
“Aku datang ke sini untuk sendiri,” lanjutku. “Untuk membangun sesuatu yang tidak runtuh jika seseorang pergi.”
Aku menoleh. “Dan sekarang, keberadaanmu mulai terasa… penting.”
Ia tidak menyela.
“Aku tahu ini tidak adil,” kataku. “Aku tidak menyalahkanmu. Ini milikku.”
Aku menunggu kemarahan. Atau setidaknya kekecewaan.
Yang datang justru keheningan.
(POV: Noah)
Aku berdiri perlahan.
“Terima kasih sudah jujur,” kataku.
Ia menatapku, tampak bingung.
“Aku tidak datang ke sini untuk menjadikanmu bergantung,” lanjutku. “Dan aku tidak ingin menjadi alasan kau kehilangan dirimu sendiri.”
Ia menghela napas gemetar.
“Tapi,” kataku, “aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa kedekatan tidak membawa risiko.”
Aku melangkah lebih dekat. Tidak menyentuh.
“Kau tidak harus menjauh untuk tetap utuh,” kataku. “Dan aku tidak akan tinggal jika itu berarti kau merasa terancam.”
Kata-kata itu menyakitiku sendiri.
Namun aku mengucapkannya.
(POV: Alice)
Aku tidak menyangka ia akan mengerti.
Aku lebih tidak menyangka ia akan bersedia mundur.
“Aku tidak ingin kau pergi,” kataku cepat.
Ia berhenti.
“Tapi aku juga tidak ingin kau menjadi satu-satunya pegangan hidupku,” tambahku.
Ia menatapku lama. “Lalu apa yang kau inginkan?”
Aku menelan ludah. “Ruang.”
Kata itu terasa dingin di udara.
(POV: Noah)
Aku mengangguk.
“Baik,” kataku. “Ruang.”
Tidak ada drama.
Tidak ada perdebatan.
Aku mengambil jaketku dan berjalan ke pintu.
Saat tanganku menyentuh gagang, ia berkata, “Kau marah?”
Aku berhenti. “Tidak.”
“Kecewa?”
Aku berpikir sejenak. “Ya. Tapi aku lebih memilih kecewa daripada membuatmu merasa terjebak.”
Ia mengangguk pelan.
Aku pergi tanpa menoleh.
(POV: Alice)
Setelah pintu tertutup, vila terasa terlalu besar.
Aku duduk di lantai ruang tamu, punggung bersandar ke sofa.
Aku tahu aku melakukan hal yang benar untuk diriku sendiri.
Namun kebenaran tidak selalu terasa baik.
Aku memejamkan mata dan mengingat wajah Noah ketika ia berkata akan memberiku ruang.
Tidak marah.
Tidak menuntut.
Itu membuat dadaku sesak.
(POV: Noah)
Di rumah, aku duduk lama dalam gelap.
Aku tidak menyesal memberi ruang.
Namun aku takut—bukan pada kehilangan Alice, melainkan pada kenyataan bahwa aku mulai menginginkannya lebih dari yang seharusnya kuakui.
Dan mungkin, untuk sementara, jarak adalah satu-satunya cara agar kami tidak saling melukai.
(POV: Alice)
Menjelang tidur, aku berdiri di depan jendela.
Lampu kota kecil berkelip jauh di bawah.
Aku tidak tahu apakah ruang ini akan menyelamatkanku—atau justru membuatku kehilangan sesuatu yang belum sempat sepenuhnya kumiliki.
Namun untuk pertama kalinya, aku sadar:
Kedekatan sejati tidak selalu berarti terus maju.
Kadang, ia meminta kita berhenti.