"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kotak Makan Yang Berbicara
Aroma santan gurih dan terasi dari Nasi Liwet yang dibawa Annisa masih mengambang di udara dingin ruangan direktur, bercampur samar dengan aroma sisa kopi rapat pagi. Di meja tamu, piring Akbar sudah bersih licin, hanya menyisakan tulang ayam dan sedikit kuah sayur labu siam.
Akbar menyandarkan punggungnya ke sofa kulit yang empuk, mengusap perutnya yang terasa penuh. Harus diakui, masakan Annisa memang lezat. Rasanya otentik, mengingatkannya pada masa-masa kuliah di Solo dulu.
"Alhamdulillah," ucap Akbar pelan, menutup sesi makan siangnya dengan rasa kenyang.
Annisa, yang duduk di sofa seberang, tersenyum lebar. Ada kepuasan tersendiri melihat bos sekaligus pria yang pernah ia kagumi itu menikmati masakannya hingga tandas tak bersisa.
"Syukurlah kalau Bapak suka. Saya sempat khawatir kreceknya terlalu pedas buat lidah Bapak," ujar Annisa sambil mulai membereskan piring kotor Akbar, menumpuknya dengan piringnya sendiri agar rapi.
"Pas kok, Nis. Pedasnya nendang," puji Akbar sopan namun wajar. "Lain kali nggak usah repot-repot begini. Saya jadi nggak enak sama tim divisi lain kalau cuma saya yang dapat porsi jumbo."
"Ah, nggak apa-apa, Pak. Namanya juga syukuran kecil-kecilan," jawab Annisa ringan, menyembunyikan harapannya. "Saya permisi dulu ya, Pak. Mau lanjut rekap data ke ruangan."
Baru saja Annisa berdiri memegang tumpukan piring kotor, pintu ruangan diketuk dari luar.
Tok. Tok.
"Masuk," sahut Akbar.
Pintu kaca sandblast itu terbuka. Muncullah Yuni, resepsionis lobi depan yang biasa menyapa tamu, dengan wajah sedikit bingung dan gugup. Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah tas kain kecil (tote bag) bermotif bunga daisy berwarna biru muda.
"Permisi, Pak Akbar," sapa Yuni sopan, matanya sempat melirik Annisa yang sedang memegang piring kotor, lalu kembali fokus menatap bos besarnya.
"Ya, Yun? Ada apa?" tanya Akbar, menegakkan duduknya.
"Ini Pak, ada titipan paket makanan buat Bapak," Yuni berjalan mendekat ke meja kerja Akbar, lalu meletakkan tas kain itu di sana dengan hati-hati.
"Makanan? Dari siapa? Saya nggak pesan makanan," tanya Akbar heran.
Yuni tampak ragu sejenak. Ia teringat wajah pucat dan mata berkaca-kaca wanita yang menitipkannya tadi. Wanita yang memohon dengan sangat agar identitasnya disembunyikan dari Pak Akbar.
"Mmm... itu, Pak. Dari kurir pengantar makanan online. Katanya pesanan buat Bapak, tapi nggak ada nama pengirimnya di aplikasi. Cuma dibilang buat Pak Akbar," dusta Yuni, berusaha terdengar meyakinkan meski suaranya sedikit bergetar karena tidak biasa berbohong pada atasan.
"Aneh. Masa nggak ada namanya?" gumam Akbar. Ia berdiri, berjalan dari sofa tamu menuju meja kerjanya untuk memeriksa bungkusan itu.
Annisa yang masih berdiri di dekat pintu ikut penasaran.
Akbar tidak menjawab. Matanya terpaku pada tas kain bermotif bunga daisy itu.
Jantung Akbar serasa berhenti berdetak selama satu sekon. Waktu seolah membeku.
Ia mengenali tas itu.
Itu bukan tas plastik putih atau cokelat khas ojek online. Itu bukan paper bag restoran mewah langganan kantor. Itu adalah tote bag kanvas kecil yang sering ia lihat tergeletak di meja dapur rumahnya. Tas yang minggu lalu baru saja dibeli Hannah di e-commerce karena katanya "lucu buat bawa mukena kalau ke kampus".
Tangan Akbar terulur, menyentuh kain tas itu. Teksturnya kasar namun familier.
Dengan gerakan cepat dan sedikit kasar, Akbar membuka tas itu. Di dalamnya, terdapat sebuah kotak makan tingkat dua berwarna peach pastel.
Akbar menarik napas tajam. Itu kotak bekal Hannah. Kotak bekal yang sama yang dipakai Hannah saat mereka piknik kecil di taman komplek bulan lalu.
"Yuni," panggil Akbar, suaranya berubah berat, rendah, dan mengintimidasi. Tatapannya tajam menusuk ke arah resepsionis itu. "Jujur sama saya. Siapa yang antar ini?"
Yuni menelan ludah, nyalinya menciut seketika melihat perubahan ekspresi bosnya yang mendadak serius dan menakutkan. "I... itu dari kurir, Pak..."
"Jangan bohong," potong Akbar tegas. "Ini tas istri saya. Istri saya ke sini tadi?"
Pertahanan Yuni runtuh. Tidak mungkin ia terus berbohong di depan bukti sekuat itu dan tatapan elang Akbar.
"I... iya, Pak," cicit Yuni menunduk takut, meremas jemarinya. "Ibu Hannah tadi datang. Tapi beliau nggak mau masuk. Beliau titip ini di meja resepsionis, terus minta saya bilang kalau ini dari kurir online. Ibu Hannah kelihatan... mmm... buru-buru, Pak."
Yuni tidak tega mengatakan 'kelihatan mau nangis'.
Akbar memejamkan matanya sejenak, meremas pinggiran meja kerjanya hingga buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan emosi yang bergejolak.
Otak cerdas Akbar langsung menyusun kepingan puzzle kejadian ini dengan cepat dan menyakitkan.
Hannah datang membawa bekal kejutan. Hannah sampai di depan ruangan ini. Pintu ruangan sedikit terbuka (Akbar ingat ia memang tidak menutupnya rapat agar sirkulasi udara lancar). Hannah pasti melihat ke dalam.
Dan apa yang Hannah lihat?
Akbar menoleh ke arah meja tamu. Di sana, masih ada sisa-sisa jamuan makan siangnya. Aroma Nasi Liwet masih tercium kuat. Dan di sana berdiri Annisa.
Ya Allah, Dek...
Hannah pasti melihatnya makan masakan Annisa dengan lahap. Hannah pasti melihat tawa mereka. Dan dengan rasa insecure yang masih menghantui Hannah, pemandangan itu pasti diterjemahkan sebagai sebuah penolakan. Istrinya pasti berpikir bekalnya tidak dibutuhkan lagi, atau masakannya kalah saing.
Rasa bersalah menghantam dada Akbar lebih keras daripada palu godam. Rasa kenyang di perutnya mendadak berubah menjadi rasa mual yang menyiksa karena penyesalan.
Akbar membuka tutup kotak bekal itu dengan tangan sedikit gemetar.
Di tingkat pertama: Nasi putih hangat yang ditaburi bawang goreng membentuk lambang "Love" yang sedikit berantakan.
Di tingkat kedua: Cumi Asin Cabe Ijo yang berminyak menggoda dan Tumis Kangkung Belacan.
Itu makanan favorit Akbar. Makanan yang pernah ia sebutkan sekilas saat ngobrol santai di mobil minggu lalu. Hannah mengingatnya. Hannah memasaknya khusus untuknya, mungkin bangun pagi-pagi sekali.
Mata Akbar memanas melihat cumi asin itu. Ia bisa membayangkan Hannah di dapur tadi pagi, berkutat dengan bau amis cumi dan pedasnya cabai, tersenyum membayangkan suaminya makan. Namun senyum itu dihancurkan oleh pemandangan Nasi Liwet Annisa.
"Pak?" panggil Annisa pelan, menyadari perubahan atmosfer yang drastis. Ia melihat isi kotak bekal itu. Masakan rumahan sederhana. "Itu... dari Dek Hannah?"
Akbar tidak menjawab Annisa. Ia menatap kotak bekal itu seolah benda paling berharga di dunia.
"Yuni, kamu boleh kembali. Terima kasih sudah jujur," perintah Akbar datar tanpa menoleh.
Yuni mengangguk cepat dan langsung kabur dari ruangan yang mencekam itu, bersyukur tidak kena marah lebih lanjut.
Kini tinggal Akbar dan Annisa.
Annisa merasa sangat canggung. Ia wanita cerdas, ia bisa membaca situasi. Kedatangan Hannah, kebohongan soal kurir, dan wajah terpukul Akbar... Annisa sadar ia baru saja—secara tidak sengaja—menjadi pemicu masalah rumah tangga orang lain.
"Pak, maaf kalau kedatangan saya bawa makanan malah bikin salah paham..." Annisa mencoba meminta maaf, suaranya pelan.
Akbar mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Annisa diam sebentar. Ia mengambil sendok yang diselipkan Hannah di samping kotak bekal.
Meskipun perutnya sudah penuh sesak oleh Nasi Liwet, meskipun ia merasa tidak sanggup menelan satu butir nasi pun lagi karena kenyang, Akbar menyendok nasi dan cumi asin buatan Hannah.
Ia menyuapkannya ke mulut.
Rasanya asin, pedas, dan gurih. Cumi-nya sedikit alot, mungkin karena Hannah terlalu lama menumisnya. Kangkungnya sedikit layu karena sudah dingin. Secara teknis, masakan ini kalah jauh dari Nasi Liwet Annisa yang sempurna.
Tapi bagi Akbar, saat kunyahan pertama itu mendarat di lidahnya, rasanya adalah rasa cinta yang tulus. Rasa usaha. Rasa ingin membahagiakan.
Akbar menelan suapan itu dengan susah payah karena tenggorokannya tercekat emosi.
"Nis," panggil Akbar akhirnya, suaranya tenang namun ada ketegasan yang membuat Annisa merinding.
"Ya, Pak?"
"Terima kasih Nasi Liwetnya tadi. Enak," ucap Akbar. Ia menatap bekal Hannah lamat-lamat, lalu menatap Annisa. "Tapi mulai besok dan seterusnya, tolong jangan bawakan saya makanan lagi. Dalam bentuk apapun. Mau syukuran, mau sisa, mau apapun. Jangan."
Annisa tertegun. "Baik, Pak. Saya mengerti."
"Lidah saya..." Akbar jeda sejenak, lalu menatap Annisa dengan sorot mata yang tidak ingin dibantah. "Lidah saya harus terbiasa sama masakan istri saya. Mau asin, mau gosong, mau alot... itu masakan yang harus masuk ke perut saya. Karena di setiap butir nasinya ada doa istri saya. Saya nggak mau istri saya merasa masakannya nggak berharga cuma karena saya kekenyangan masakan orang lain."
Kalimat itu menampar Annisa dengan telak. Itu adalah penolakan paling halus namun paling menyakitkan yang pernah ia dengar. Akbar tidak hanya menolak masakannya, tapi juga menegaskan batas tembok kesetiaan yang tak bisa ditembus.
"Saya permisi, Pak," Annisa pamit dengan suara lirih, lalu keluar membawa piring kotornya dengan perasaan malu yang luar biasa.
Sepeninggal Annisa, Akbar langsung menyambar ponselnya di meja. Ia mendial nomor Hannah.
Tuuut... Tuuut...
Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Hannah mematikan ponselnya.
Akbar mengusap wajahnya kasar. "Bodoh kamu, Akbar.
Ia menatap kotak bekal peach itu lagi. Masih penuh. Akbar mengambil sendoknya lagi. Ia memaksakan diri makan. Suap demi suap.
Perutnya sakit karena kekenyangan, tapi hatinya lebih sakit membayangkan Hannah pulang sendirian sambil menangis. Ia menghabiskan cumi asin itu sambil mengetik pesan WhatsApp, berharap Hannah membacanya nanti saat ponselnya nyala.
Mas Akbar:
Dek, Mas lagi makan cumi asin buatan kamu. Enak banget. Pedesnya pas, jauh lebih enak dari makanan manapun. Maaf Mas nggak tau kamu datang. Yuni baru bilang. Tolong angkat telepon Mas, Sayang.
Siang itu, di kursi direktur yang empuk, Akbar belajar bahwa rasa kenyang fisik tidak ada artinya jika hati merasa lapar akan kehadiran orang yang dicintai. Dan kotak bekal sederhana itu kini menjadi saksi bisu penyesalannya.