Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boomerang
#17
Hari masih pagi, tapi Ayu dan Giana sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka. Untuk para Asisten Giana mempersilahkan mereka memasak dengan semua bahan yang ada di pendingin, karena Giana tak ingin memaksakan seleranya dengan selera para asistennya di rumah.
Untuk sejenak Ayu harus menyisihkan masalahnya dengan Biru, karena ia tetap dituntut untuk ekstra fokus demi orang-orang yang bekerja di bawah naungan Ls Collection.
Giana memotong dan meracik sayuran untuk salad, sementara Ayu menyeduh kopi sembari mematangkan dada ayam untuk protein mereka pagi ini.
Ponsel yang berdering mengalihkan perhatiannya sejenak, “Iya, Sas?” Giana menerima telepon sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.
“Bu, sudah melihat berita pagi ini?” tanya Sasti Heboh.
“Berita apa, Sas?”
Giana meletakkan sejenak pisaunya kemudian ia mencuci tangannya.
Sepertinya ada sesuatu yang penting, maka Ayu pun menoleh dan ikut kepo.
Giana membuka Link yang dikirimkan Sasti via WA. Dan headline utama membuat mulutnya tanpa sadar menganga lebar.
Beberapa tajuk berita harian online ibukota, sungguh membuat tim Ls kelimpungan.
MASA LALU OWNER LS COLLECTION
OWNER LS COLLECTION ADALAH SEORANG MANTAN NARAPIDANA
APAKAH DEWAN JURI TIDAK SALAH PILIH?
BAGAIMANA BISA MANTAN NARAPIDANA MENJADI PEMENANG?
“Bagaimana ini, Bu? Official Store Ls dibanjiri komentar buruk netizen,” ujar Sasti resah, setelah membaca komentar buruk yang kini membanjiri Official Store Ls.
“Untuk, sementara kita diamkan dulu, selama penjualan di Official Store tetap aman, aku rasa tak masalah.”
“Saya belum berkoordinasi kembali, dengan admin Ls.”
“Laporkan terus perkembangannya padaku.”
“Baik, Bu.”
Brak!
Giana membanting ponselnya diatas meja dapur, sementara Ayu tak tahu harus merespon seperti apa, karena pada kenyataannya dirinya memang pernah mendekam di penjara.
“Anjani benar-benar mencari masalah dengan kita,” desis Giana murka.
“Kak, kita bisa membalas wanita itu, bukankah kita menyimpan rekaman pengakuan orang-orang yang karyanya pernah di akui oleh Anjani?” cetus Ayu.
“Kau benar, kita tak boleh tinggal diam, jalang murahan itu harus kita balas, sebelum dia sempat merasakan bahagia setelah membuat kita seperti ini,” ucap Giana berang.
“Aku akan menghubungi wartawan, kau telepon Mahar, dan katakan padanya untuk menyiapkan semua yang kita butuhkan.”
“Baik, Kak.” Ayu mematikan kompor, kemudian melakukan apa yang Giana instruksikan.
Bersyukur sekali, karena Giana sudah menyiapkan senjata untuk membalas setiap perbuatan Anjani.
“Halo, Mahar?”
“Aku baru saja hendak menghubungi kalian.”
“Kak Giana ingin kau menyiapkan sesuatu.”
“Hmm, katakan—”
•••
Satu jam kemudian Giana dan Ayu sudah tiba di kantor, dan mereka segera menghampiri admin. “Gimana?”
“Hampir 50% orderan yang belum kita proses, masuk dalam daftar cancel. Sisanya tak terpengaruh dengan pemberitaan,” jawab Mbak Admin.
“Syukurlah, itu masih angka yang aman, artinya masih banyak yang menghargai hasil karya tanpa melihat latar belakang pembuatnya,” hibur Giana.
“Kalaupun pemberitaan ini akan tetap mempengaruhi turunnya omset penjualan kita, aku tak apa-apa, Kak. Sungguh.” Senyum di wajah Ayu terlihat getir.
“Di saat begini, aku justru bersyukur, bahwa publik tak mengetahui bahwa Biru adalah putraku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kelanjutan karirnya nanti, bila publik mengetahui bahwa dia adalah putraku.”
Giana tak tahu harus bagaimana lagi membangkitkan semangat Ayu, agaknya sikap Biru belakangan ini, adalah hal yang paling membuat mental Ayu semakin down. Ditambah dengan semua pemberitaan pagi ini, ah, semoga Ayu tak terlalu terpengaruh.
“Jangan berkecil hati dulu, Dek. Kau harus tetap bersemangat melanjutkan apa yang sudah kau bangun dengan susah payah sejak di dalam sel tahanan. Ingat, kita masih punya Allah yang maha segalanya, tak ada yang tak mungkin. Apalagi, kau adalah pihak yang terdzolimi.”
“Aku akan berusaha, Kak,” sahut Ayu.
“Bukan hanya berusaha, kau harus haqqul yaqin pada pertolongan Allah.” Ayu mengangguk mantap.
“Bu, Ketua panitia lomba menghubungi,” lapor Vina dengan langkah cepat dari luar ruangan.
“Baiklah, aku terima dari sini, Giana segera berjalan cepat menghampiri meja kerjanya. “Huda Tex, selamat pagi,” sapa Giana ramah, selanjutnya wanita itu pun terdengar berbicara serius, Ayu tak lagi fokus mendengarkan.
Wanita itu sibuk scroll pemberitaan di sosial media, sejujurnya membaca banyaknya jejak komentar yang lebih banyak menghujat dari pada memberi dukung cukup membuat semangat Ayu sedikit redup.
Tapi seperti ucapan Giana, Ayu tak boleh berhenti bersemangat, karena ada yang lebih maha segalanya dibandingkan semua yang ada di permukaan dunia. Yakni pertolongan Allah yang sangat dekat.
Untunglah, Giana memiliki tim yang tangguh dan cukup solid, hingga beberapa saat kemudian—
•••
Sementara itu, di tempat Anjani, wanita itu tengah sarapan bersama sang suami. “Pap, masih ingat dengan kasus 20 tahun yang lalu?”
Gunawan menghentikan pergerakan tangannya, ingatannya langsung tertuju pada peristiwa tersebut, awal mula Gunawan yang jujur berubah menjadi Gunawan yang saat ini. Dan suka atau tidak, wajah teduh Giana kembali melintas.
“Pap, kok, diam saja, sih?” gerutu Anjani sedikit merengek.
“Ada apa?”
“Wanita itu sudah bebas,” jawab Anjani tak sabar menanti reaksi Gunawan selanjutnya.
Gunawan mendongak menatap Anjani yang masih berbicara dengan ekspresi serius. “Aku sudah menghilangkan semua berkas dan bukti-buktinya. Jika itu yang ingin kau tanyakan.”
Jawaban Gunawan membuat Anjani menghembuskan nafas lega, kemudian menggenggam tangan kanan suaminya. “Syukurlah, aku takut jika masalah 20 tahun lalu, menjadi sandungan karir Papi di masa depan.”
Gunawan segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan istrinya.
Deg!
Anjani tak lagi bisa menyembunyikan kekhawatirannya, serta ketakutannya, karena lagi-lagi Gunawan mengelak melakukan skin touch dengannya. Pria itu segera menyudahi sarapannya, “Kamu meragukanku?!” tuding Gunawan dengan nada geram bercampur kesal.
Lebih tepatnya kesal pada kebodohannya sendiri, tapi melampiaskan kekesalannya pada Anjani yang dulu merayunya, hingga mereka melakukan hal yang tidak seharusnya. Dan bagian terburuknya adalah kehilangan wanita paling berharga dalam hidupnya. Giana.
“Kok, Mas marah, sih? Aku cuma bertanya, loh.”
Gunawan membanting serbet makannya, kemudian berlalu pergi begitu saja, tanpa pamit, atau tanpa sentuhan mesra. Memang tidak pernah ada hal semacam itu sepanjang pernikahan mereka yang ternyata cukup langgeng.
Sekali lagi, Anjani ditinggal pergi dalam keadaan kesal. Untunglah, hari ini ia tak menyambangi butik, sekaligus kantor pusat MiJa
Setelah sarapan, Anjani duduk di sofa ruang tamu sambil membuka ponselnya, sejenak menghibur diri dengan pemberitaan tentang Ayu yang kini berseliweran di sosial Media.
Namun, Anjani bak pohon besar yang tersambar petir, karena angan-angan indahnya berbalik menjadi boomerang yang menghantam dirinya sendiri.
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan