Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.
Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.
Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.
Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Ujian di Gudang Tua
Hua’er berjalan di depan tanpa menoleh. Langkahnya lurus karena baginya lorong-lorong gelap Hongluo hanyalah jalur kosong tanpa ancaman. Jubah tipisnya berkibar pelan diterpa angin malam, tapi dingin tak pernah sampai ke kulit. Ada yang jauh lebih mengganggu di dalam dirinya, yaitu Qi.
Sejak Li Shen pergi ke Hutan Batu Hitam, aliran qi di tubuhnya terasa seperti sungai yang tertahan endapan. Tidak berhenti, hanya saja terasa lambat, berat, dan melelahkan. Setiap tarikan napas seakan harus didorong. Setiap sirkulasi meridian terasa dipaksa. Misi-misi yang dulu ia selesaikan tanpa banyak berpikir kini meninggalkan sisa nyeri di dada, racun yang tak sepenuhnya luruh, malam-malam tanpa kemajuan kultivasi.
Ia sudah mencoba segalanya. Meditasi di tepi sungai dingin. Pil qi murahan dari pasar gelap. Latihan brutal sendirian sampai tangan gemetar dan lantai gudang belakang Selendang Merah berlumur darah beserta keringatnya sendiri. Tidak ada yang berubah. Qi tetap lambat. Tetap bocor. Seolah tubuhnya menunggu sesuatu yang tidak bisa ia paksa datang.
Madam Luo menyebutnya kelemahan bawaan.
Teknik kultivasi keluarganya, sisa warisan sebelum mandat menghapus nama mereka memang cacat. Qi tumbuh perlahan dan selalu mencari celah untuk keluar. Selama ini Hua’er menahannya dengan satu hal seperti tekanan yang tumbuh dari dendam, misi, dan darah penjajah. Selama ada tujuan, qi masih mau bergerak.
Sampai Li Shen muncul. Berada di dekat pemuda itu, qi-nya mengalir lebih lancar. Napasnya ringan. Pikiran lebih jernih. Belati dan setangkup jarum di tangannya terasa patuh, seperti mengenali pemiliknya kembali. Ia ingat sensasi itu pertama kali, saat Li Shen datang ke Selendang Merah, aliran qi seolah menemukan poros baru. Ia mengabaikannya, menyebutnya sebagai kebetulan belaka.
Lalu setelah Li Shen pergi. Qi-nya kembali lemah.
Hari-hari setelahnya diisi amarah tanpa arah. Misi diambil terlalu keras, bukan untuk hasil, tapi untuk melampiaskan kegagalan. Ia mengurung diri, bukan karena takut mati, melainkan takut terlihat lemah.
Sekarang Li Shen kembali. Dan tanpa usaha apa pun, qi-nya stabil lagi. Bukan pulih. Itu yang paling ia benci.
Hua’er mengepalkan tangan di balik lengan baju. Ketergantungan adalah aib. Ia pembunuh. Bukan perempuan manja yang butuh jangkar. Madam Luo boleh berbisik tentang “butuh seseorang di dekatnya”, tapi Hua’er menolak memberi nama pada hal itu.
Malam ini, ia akan menguji. Menguji dirinya. Menguji Li Shen. Menguji kebenaran yang terlalu mudah untuk disangkal.
Gudang tua itu berdiri di pinggir Hongluo, bangunan kosong yang dibiarkan membusuk. Pintu kayunya setengah runtuh, lantai dipenuhi debu tebal, langit-langit tinggi membiarkan bayangan menggantung bersama jaring laba-laba. Ruang luas, cukup untuk membunuh tanpa saksi.
Li Shen berhenti beberapa langkah setelah masuk. Pandangannya menyapu gelap. “Kenapa mengajakku ke sini?”
Hua’er berbalik. Tidak ada jawaban. Belati sudah ada di tangannya, bilah tipis berkilau. Qi beredar dan seperti dugaan, alirannya terasa lebih lancar di jarak sedekat ini. Bukan marah yang naik di dadanya, melainkan kebutuhan akan bukti.
“Lawan aku.”
Li Shen terdiam sesaat. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Pedang Langit keluar dari sarungnya, cahaya kilauan nampak dingin menebas kegelapan. “Baiklah, jika itu maumu.”
Hua’er bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat lincah, belati mengarah ke dada Li Shen. Qi yang berada di tingkat Pembentuk Jiwa awal melonjak, racun hijau menyelimuti bilah seperti kabut tipis. Serangannya cepat, lurus, mematikan.
Li Shen menghindar ke samping. Geraknya bersih, tanpa panik. Kehendak murni menekan balik, menolak qi Hua’er, cukup untuk menggeser lintasan belati. Debu beterbangan saat kaki mereka menghantam lantai.
Belati datang lagi. Leher. Dada. Paha. Menjadi target-targetnya.
Hua’er menyerang beruntun, setiap tebasan lebih cepat dari sebelumnya. Qi-nya naik, merespons kedekatan Li Shen seperti api mendapat udara. Racun menguar lebih pekat, bilah terasa ringan di tangannya.
Benturan logam menggema saat Pedang Langit menangkis. Gudang bergetar. Serpihan kayu jatuh dari balok tua.
Li Shen tidak membalas. Ia mundur setengah langkah, mata mengamati, menimbang. “Kau lebih cepat.”
Hua’er tidak peduli. Qi didorong lebih dalam. Teknik rahasia mengalir di meridian, Bayangan Racun.
Tiga bayangan belati muncul, menyerang dari sudut berbeda. Racun hijau memenuhi udara, menekan ruang gerak.
Kehendak Murni Li Shen menekan keras. Udara bergetar, dua bayangan pecah. Tapi belati asli lolos, menggesek lengan atasnya. Kain robek. Kulit nyaris terbelah.
Ia menarik napas pendek. Fokusnya terbelah, sepotong kalimat Madam Luo melintas di pikirannya. “Hua’er aneh sejak kau pergi. Qi-nya tidak stabil.”
Hua’er melihat keraguan itu. “Kenapa terus saja menghindar?”
Li Shen tidak menjawab.
Qi Hua’er melonjak lagi, kali ini tanpa kendali halus. Ia ingin bukti, dan tubuhnya merespons keinginan itu. Belati menusuk lurus, tanpa tipu daya. Benturan keras terjadi.
Kali ini Li Shen terdorong mundur. Kehendaknya menahan, tapi tekanannya melemah. Bukan karena kalah, melainkan karena pikirannya terpecah.
Apakah qi-nya benar-benar bergantung padaku?
Keraguan itu cukup.
Hua’er menekan. Serangan bertubi-tubi memaksa Li Shen mundur hingga punggungnya menghantam lantai. Pedang Langit terlepas dari garis pertahanan sesaat. Ia jatuh terlentang, napasnya berat. “Kau menang.”
Hua’er berhenti dengan berjongkok tepat di atasnya. Belati terangkat, siap mengakhiri atau lebih tepatnya membuktikan apa pun yang tersisa. “Kau kalah karena ragu.”
Kata-kata itu keluar begitu dingin, tapi napasnya sendiri tersengal. Qi di tubuhnya melonjak tajam, lalu, tanpa peringatan, terjadi kebocoran besar. Rasa sakit menghantam dadanya. Aliran qi tersendat, lalu ambyar. Dunia lantas berputar. Hua’er tersedak, lututnya melemas. Belati terlepas dari genggaman, jatuh berdenting di atas lantai.
Sementara tubuh rampingnya jatuh ke depan. Kegelapan menelan pandangannya saat dirinya pingsan, beralaskan dada Li Shen.