Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Kenapa kamu berpikir begitu?” suara Romeo terdengar pelan namun tegas. “Tidak ada yang salah. Siapa pun yang mengatakan kamu salah, mereka keliru.” Romeo menatapnya dalam-dalam, alisnya sedikit berkerut karena heran.
“Kehadiranmu adalah hadiah paling berharga dalam hidupku dan anak-anak. Tidak ada satu pun yang perlu kamu sesali.”
Mata Alya tampak berkaca-kaca, seakan doa yang ia panjatkan benar-benar dijawab tanpa menunggu lama. Walau semua ini terlihat seperti yang selama ini ia harapkan, tetap saja ada kegelisahan yang perlahan merambat di sudut hatinya. Sebuah rasa takut yang samar, tak berbentuk, namun cukup kuat untuk membuat dadanya terasa sesak. Alya sendiri tak mampu menjelaskan ketakutan macam apa yang kini menguasai perasaannya.
“Jangan menangis, sayang. Air matamu terlalu berharga untuk jatuh sia-sia.” ucap Romeo pelan sambil mengusap lembut pipi Alya dengan ibu jarinya.
“Terima kasih, sayang. Aku benar-benar bahagia… rasanya hangat sekali akhirnya kita sampai di titik ini.” balas Alya lirih, dengan suara yang sarat perasaan.
“Semua yang terjadi sudah digariskan dengan jalannya masing-masing. Aku menyesal, karena di awal pernikahan kita justru aku yang melukaimu. Maafkan kebodohanku saat itu.” ucap Romeo dengan suara sarat sesal.
“Semua yang terjadi sudah digariskan dengan jalannya masing-masing. Aku menyesal, karena di awal pernikahan kita justru aku yang melukaimu. Maafkan kebodohanku saat itu.” ucap Romeo dengan suara sarat sesal.
“Ya, Papa memang keterlaluan.” gumam Serena nyaris tak bersuara, nada sinis menyelip di antara kata-katanya. “Bisa-bisanya terpikat perempuan menyebalkan seperti itu.” Meski lirih, ucapan itu tetap sampai ke telinga Romeo.
Romeo memicingkan mata, menatap Serena dengan rasa jengkel yang tak bisa ia sembunyikan. Syukurlah Alya tidak mendengar percakapan itu, jika sampai iya, harga dirinya pasti tercoreng.
Serena tetap bersikap dingin dan tak menunjukkan kepedulian ketika menangkap perubahan raut wajah ayahnya, baginya, ia hanya menyampaikan kebenaran apa adanya.
“Kenapa dari tadi kamu memperhatikan Serena seperti itu?” tanyanya pelan, lalu beralih menatap sang putri. “Dan kamu juga, Sayang. Kenapa menatap Papa aneh begitu?” Kecurigaan-kecurigaan jelas terdengar dalam suara Alya, membuat suasana mendadak terasa canggung.
“Masalahnya Papa—eh…” Ucapan Serena terputus ketika tangan Romeo tiba-tiba menutup mulutnya. Gerakannya cepat, nyaris refleks, matanya melirik waspada ke arah Alya. Ia tak ingin gadis itu menangkap sedikit pun kebenaran yang hampir saja terlepas dari bibir Serena.
Alya menatap Romeo tajam, sorot matanya penuh protes. Ia tak habis pikir bagaimana pria itu bisa setega itu menutup mulut putrinya sendiri. Berbeda dengan Selina, Selina justru terkekeh geli, menikmati tingkah jahil sang papa yang sukses membuat kembarannya terdiam seketika.
“Enggak ada apa-apa, sayang. Serena itu memang suka bicara sembarangan.” ujar Romeo sambil menyunggingkan senyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya. Ia berusaha terlihat santai, meski di dalam hati ada rasa cemas kalau Alya mulai menaruh curiga padanya.
“Sayang, rasanya aku lebih nyaman kalau memanggilmu mas. Kedengarannya lebih hangat, sopan, dan entah kenapa terasa lebih dekat. Boleh, ya?” pinta Alya sambil tersenyum ragu.
Alya merasa dirinya jauh lebih nyaman memanggil Romeo dengan sebutan itu. Di telinganya, panggilan tersebut terdengar lebih sopan, hangat, sekaligus sarat nuansa romantis, seolah menghadirkan kedekatan yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
“Aku ikut maunya kamu.” goda Romeo ringan.
“Selama itu dari kamu, panggilan apa pun rasanya tetap istimewa. Tapi khusus kamu saja, ya.”
“Iya, Mas Romeo,” jawab Alya sambil menunduk. Ada rasa canggung yang tiba-tiba muncul, membuatnya tersenyum malu atas permintaannya sendiri.
**********
Sementara itu, kabar tentang Tania dan Akram seolah lenyap ditelan waktu. Kini Tania menjalani hari-harinya seperti burung dalam kurungan. Ia tak pernah benar-benar bebas meninggalkan penthouse milik Akram. Meski perlakuan pria itu terbilang baik, kenyataannya hati Tania tak pernah merasa tenang. Setiap hari kemarahannya meledak, jerit dan makian terus terlontar, menyalahkan Akram atas kehamilan yang mengikat hidupnya dalam keadaan yang tak pernah ia inginkan.
“Sudahlah, Tania… tenang, sayang.” lirih Akram sambil mengelus rambut Tania. “Kalau terus berteriak, suaramu bisa benar-benar habis. Jangan begitu, aku kasihan pada anak aku yang masih ada di dalam kandunganmu.” Wajahnya tampak penuh iba, seolah ia adalah suami yang paling peduli. Namun di balik tatapan sendu itu, ada kepuasan gelap yang tak bisa ia sembunyikan, entah mengapa, melihat Tania terpuruk justru membuat hatinya berdenyut senang.
“Sudahlah, aku tak peduli apa pun lagi! Kalau memang harus, anak itu sebaiknya mati saja. Aku sama sekali tidak peduli padanya!” jerit Tania sambil terisak histeris, emosinya meledak tanpa sisa.
Akram mengepalkan tangannya hingga terasa nyeri. Ucapan Tania barusan benar-benar membuat darahnya mendidih. Hasrat untuk menampar perempuan itu nyaris tak terbendung, namun niatnya terhenti saat mengingat Tania tengah mengandung. Andai saja tidak, mungkin Akram sudah melakukan sesuatu yang jauh lebih kejam kepadanya.
Tania dapat menangkap jelas bagaimana Akram berusaha keras menahan amarahnya. Alih-alih takut, ia justru merasa puas melihat perubahan raut wajah Akram yang kini dipenuhi emosi tertahan.
“Percaya saja padaku. Aku tidak akan membiarkannya hadir ke dunia ini dengan sempurna. Kalaupun dia terlahir, hidupnya takkan pernah sama seperti anak-anak lain. Bukankah kau menginginkan seorang anak? Maka bersiaplah menerima konsekuensinya,” ancam Tania dengan senyum tipis yang membuat bulu kuduk merinding.
Tania tampak seperti perempuan tanpa nurani, ibu macam apa yang sanggup melontarkan kata-kata setega itu pada calon darah dagingnya sendiri? Sepertinya, hanya Tania yang mampu bersikap sedingin itu.
“Cukup! Jangan pernah menghina anakku dalam ucapan kotormu. Kesabaranku ada batasnya, Tania. Jangan paksa aku melakukan sesuatu yang akan kau sesali.” hardik Akram dengan suara menggelegar.
Akram sampai membanting gelas di tangannya ke arah dinding. Baginya, hinaan dan sumpah serapah Tania yang ditujukan kepadanya bukanlah masalah. Namun, begitu ucapan itu menyentuh anaknya, kesabarannya runtuh. Bahkan sebelum bayi itu sempat melihat dunia, ia sudah menjadi sasaran kebencian ibu kandungnya sendiri. Sungguh tragis nasib anak itu, batin Akram perih.
Melihat amarah Akram yang meledak-ledak, tubuh Tania seketika bergetar. Untuk pertama kalinya, rasa takut benar-benar merayapi dirinya. Belum pernah sekalipun ia menyaksikan Akram semurka ini, terutama saat tatapan pria itu tertuju padanya tanpa sisa kelembutan.
Dengan ayunan langkah yang tegas dan panjang, Akram langsung menghampiri Tania yang masih terbaring di ranjang, lalu menjepit dagunya keras hingga wajah wanita itu terangkat.
“Jangan memaksaku bertindak kasar, Tania.” ucap Akram dengan suara rendah namun mengandung ancaman. “Ingat baik-baik, peranmu hanya satu, mengandung, melahirkan, lalu menyusui anak-anakku sampai mereka berusia dua tahun. Jika sampai aku tahu kau berniat mencelakai mereka sejak masih di rahimmu, aku bersumpah hidupmu akan dihabiskan untuk terus mengandung keturunanku, lebih banyak dari yang pernah bisa kau bayangkan.” Akram mendekat, menajamkan tatapannya. “Paham maksudku?”
Tania diliputi rasa takut, keberanian dan tenaga yang tadi sempat ia miliki kini menguap begitu saja. Pada akhirnya, tanpa pilihan lain, ia pun menuruti setiap kata yang keluar dari mulut Akram.
“Selama empat bulan, tempatmu hanya di ranjang ini.” ujar Akram dengan suara datar namun tegas.
“Aku sudah menyiapkan dokter kandungan terbaik khusus untukmu. Kau tak boleh kelelahan sedikit pun. Setelah masuk bulan kelima nanti, barulah aku izinkan kau bergerak, itu pun hanya di dalam penthouse ini. Pahami itu baik-baik, Tania.” lanjutnya, menyebut nama wanita itu dengan nada seolah penuh perhatian, namun sarat penekanan.
“Ba-baik… aku paham.” jawabnya lirih. Suaranya bergetar, menandakan kegugupan yang tak mampu ia sembunyikan. “Bagus. Habiskan makanan dan vitaminmu.” ucap Akram lembut namun tegas. “Aku keluar sebentar untuk membelikan susu kehamilan buatmu. Diamlah di sini dan jaga dirimu baik-baik, sayang.”
Tania memilih terdiam, lalu mengangguk kecil dengan rasa gentar. Untuk sementara waktu, ia memutuskan menuruti keinginan Akram terlebih dahulu.
Begitu Akram pergi, Tania langsung terisak tanpa suara. Dengan tangan bergetar, ia tetap memaksa menyuapkan makanan yang telah lama dingin ke mulutnya, air mata jatuh tanpa henti.
“Aku harus kuat dan segera keluar dari tempat ini. Tunggu saja, semua yang dia lakukan padaku akan kubalas suatu hari nanti.” tekadnya bergema dalam hati.
**********
Empat hari berselang, Alya akhirnya diperbolehkan pulang. Kedua anak kembar itu tampak begitu bahagia menyambut kepulangannya. Kini Alya kembali berada di rumah, sementara Romeo menunjukkan sikap yang jauh lebih perhatian, memperlakukannya dengan kelembutan dan penuh kasih.
“Besok aku harus kembali ke Singapura. Kebetulan anak-anak juga sedang libur, jadi untuk sementara waktu kalian tetap di rumah saja. Jangan ke mana-mana dulu, ya.” ujar Romeo.
“Memangnya kenapa? Aku harus ke kampus . Masih ada beberapa keperluan pribadi yang perlu kubeli di luar.” ujar Alya heran, alisnya berkerut bingung.
“Banyak hal yang belum bisa aku jelaskan sekarang.” ucap Romeo pelan. “Tapi percayalah, semua yang aku lakukan ini demi melindungimu dan anak-anak. Untuk sementara, tetaplah di rumah sampai aku kembali.” Romeo memilih menyimpan kebenaran itu rapat-rapat, karena ia tahu Alya belum siap mendengarnya.
“Mas akan pergi berapa lama?” tanya Alya lirih.
"Tiga hari saja, aku hanya akan mengurus beberapa urusan penting di sana. Setelah itu, aku akan segera kembali, aku janji."
"Baiklah, kalau begitu. Tapi bagaimana dengan urusan kuliahku dan beberapa hal pribadi yang harus aku beli?"
"Jangan khawatir, Satria yang akan mengurus semuanya dan mengurus keperluan pribadimu. Kalau perlu, cukup pesan lewat online, lebih aman begitu." ujar Romeo sambil menenangkan Alya.
"Ini ada kaitannya dengan mama Dinda, kan?" tanyanya pelan namun tegas.
Romeo terasa tegang, pikirannya berputar mencari jawaban untuk pertanyaan Alya. Jika ia memilih berkata jujur, perasaan bersalah Alya pasti akan kembali menghantuinya.
"Tidak ada apa-apa, hanya situasinya memang berbahaya. Aku minta, tolong mengerti, sayang." pinta Romeo sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut namun tegas."
"Baik, Mas. Aku akan tetap di rumah. Pulanglah cepat, aku dan anak-anak menunggumu."
**********
Keesokan harinya, Romeo dan Satria sudah bersiap untuk terbang dengan pesawat pertama menuju Singapura. Sesuai permintaan Romeo, Alya tetap berada di rumah bersama anak-anak. Semua urusan kampusnya telah diselesaikan oleh Satria. Hidup Alya terasa begitu nyaman dan aman, Romeo kini semakin memperketat penjagaan. Tak hanya itu, beberapa pengawal tambahan juga ditempatkan di sekeliling rumah, memastikan keamanan keluarga mereka.
"Bu, kita ke kedai kakao, yuk." pinta Selina dengan suara lembut.
"Maaf sayang, kita nggak boleh keluar dulu. Papa bilang harus di rumah. Tunggu Papa pulang, ya." ujar Alya dengan lembut, mencoba menenangkan Selina.
"Selina, jangan bikin ibu pusing. Ikuti saja apa kata ibu dan papa, ya." tegur Serena dengan nada tegas tapi penuh perhatian.
Romeo sebenarnya sudah memperingatkan kedua anaknya sebelumnya, tapi entah kenapa Selina tampak ingin menentang aturan kali ini.
"Ah, kita cuma ke kedai kakao, Kak. Lagipula, Pak Bima ikut, kok." ujar Selina sambil protes.
Pada usianya yang baru enam tahun, ia tak pernah membayangkan ada hal yang bisa membahayakan dirinya.
"Tapi tetap, kita tidak boleh keluar pagar. Apalagi kalau jauh-jauh. Coba bilang ke Ibu, Selina mau makan apa? Ibu bisa bikinkan." bujuk Alya lembut.
Selina menahan kecewanya, semakin terasa karena Alya seakan tidak memberinya dukungan. Ingatannya melayang pada kue cokelat yang selalu menjadi ciri khas kedai kakao itu. Ia menundukkan kepala, menghindari tatapan Alya maupun Serena.
"Aku capek, aku mau istirahat." ucap Selina pelan.
Selina segera meninggalkan ruang keluarga dan melangkah ke kamarnya, hatinya mendambakan kue itu saat ini juga. Namun, dia menahan diri, bukan karena menolak tawaran ibunya, melainkan karena tak ingin Alya kelelahan setelah repot membuat kue tersebut. Akhirnya, ia mengusulkan agar mereka membeli saja.
Alya memperhatikan punggung kecil Selina dari jauh. Bukan karena dia enggan menenangkan, melainkan ingin memberi ruang bagi Selina untuk mengendalikan emosinya sendiri terlebih dahulu. Jika Alya langsung mencoba membujuk, itu justru bisa membuat Selina tumbuh dengan rasa ego yang berlebihan, selalu percaya bahwa semua keinginannya pasti terpenuhi, sesuatu yang Alya tak ingin terjadi.
“Ibu, maafkan Selina… dia kan masih kecil.” kata Serena dengan wajah polos.
Alya tersenyum begitu mendengar ucapan itu. Bagaimana mungkin Serena berani bersikap seperti itu padahal jaraknya dengan Selina hanya terpaut sepuluh menit? Namun, Serena tampak yakin dirinya lebih dewasa dan berpengaruh.
"Kamu ini masih kecil juga." Alya menyentuh hidung mungil Serena dengan jari telunjuknya, tak bisa menahan tawa melihat ekspresi polos Selina saat ini.
"Tapi Selina kan masih sangat kecil, Bu." ujar Serena, menolak keras kata kecil itu meski kenyataannya memang begitu.
"Iya, Serena memang lebih besar, ibu paham kalau Selina pasti kecewa. Tapi Selina juga harus menghormati aturan Papa." ujar Alya dengan suara lembut, menenangkan suasana.
"Iya, Bu. Serena mau naik dulu, ingin lihat Selina." kata Serena sambil membelai wajah Alya dengan lembut, meninggalkan ciuman di setiap sudut pipi dan dahinya.
"Pelan-pelan saja ya naik nya, sayang." ucapnya sambil menatap penuh perhatian.
Baru saja Serena melangkah menuju tangga, suara gaduh dari halaman depan memecah kesunyian. Terdengar benturan keras, seakan baku hantam terjadi, disertai jeritan para pengawal yang menusuk telinga, membuat udara di sekitarnya terasa tegang dan mencekam.
Alya yang tengah duduk di ruang keluarga mendadak terperangah, wajahnya seketika memucat dan tubuhnya bergetar tak menentu. Ia tak mengerti apa yang baru saja terjadi, namun instingnya menolak, hal itu jelas bukan pertanda baik.
"Alya, keluar sekarang juga!' Dinda terdengar berteriak dari luar rumah.
Dinda menyadari bahwa Romeo sedang tidak ada di rumah, kesempatan itu pun terbuka lebar baginya untuk menyerang Alya sekaligus membawa kedua cucunya.
Serena yang berdiri di ujung tangga tampak cemas, tanpa ragu dia berlari ke arah Alya dan memeluknya dengan kuat.
"Ibu… itu suara nenek. Serena jadi takut." gumam dengan wajah cemas.
Alya merasakan kekhawatiran yang sama, tapi bagaimana mungkin ia bisa mengutamakan rasa takutnya sendiri saat si kembar pasti membutuhkan perlindungan darinya.
"Iya, ibu mendengar itu suara nenek. Ayo, cepat kita ke kamar kalian, kita harus bersembunyi." ujar Alya panik. Entah kenapa, pikiran itu terus muncul di benaknya, seolah tak ada hal lain yang bisa ia pikirkan saat itu.
Keduanya langsung naik ke atas dengan tergesa-gesa, beberapa kali Alya terjatuh, tapi untungnya dia tidak terluka.
Suara keributan di luar rumah membuat Bi Dewi tersentak ketakutan. Dia pun tak lepas dari rasa cemas, membayangkan kondisi Pak Bima yang mungkin sudah babak belur menghadapi kekacauan itu. Dalam kepanikan yang mendera, satu nama terus berulang di pikirannya. Edgar. Sahabat Romeo itu, dengan kekuatan yang dimilikinya, rasanya mampu menghadapi semua orang yang berada di balik keributan ini, pikir Bi Dewi dalam hati.
Dinda sengaja menunggu momen yang tepat untuk menyerang, mengetahui Romeo sedang dalam perjalanan. Dengan begitu, Alya tidak akan punya kesempatan untuk menghubungi anaknya itu.
Brak!
Pintu depan akhirnya terbuka paksa, memungkinkan Dinda masuk ke rumah anaknya dengan leluasa. Tidak heran, lima belas pengawal yang disediakan Romeo harus menghadapi perlawanan dari tiga puluh orang pengikut Dinda.
“Alya, keluar sekarang juga! Jangan paksa aku menarikmu keluar dengan tanganku sendiri!” bentak Dinda dengan suara menggema.
Alya membawa kedua si kembar bergegas ke ruang kerja Romeo. Awalnya, dia berniat menyembunyikan mereka di kamar anak-anak, tapi sesuatu dalam hatinya mengatakan itu terlalu berisiko. Ruang kerja Romeo, meski biasanya sepi dan dingin, terasa lebih aman untuk saat ini.
Si kembar menjerit ketakutan, air mata membasahi pipi mereka. Alya berusaha menenangkan, memohon agar mereka diam. Rasa takut yang sama merayapi tubuhnya, jika Dinda berani bertindak di hadapan Romeo, apalagi saat suaminya tidak ada, siapa yang tahu apa yang bisa terjadi. Alya merinding membayangkan kemungkinan itu.
"Ibu… aku takut." bisik Selina, matanya berkaca-kaca.
"Tenang, sayang. Tetap diam, jangan menangis. Nanti mereka bisa menemukan kita." ucap Alya menenangkan.
Serena merapatkan tubuhnya, menggenggam diri sendiri sambil gemetar. Rasa takut mencekamnya, tapi tak satu pun air mata menetes. Bayangan Dinda yang menariknya kemarin masih menghantui pikirannya, membuatnya semakin cemas.
Sementara itu, Dinda menyisir setiap sudut di lantai bawah. Amarahnya sudah memuncak, tak terkendali. Bi Dewi menjadi sasaran pertama, begitu pula Hana, pengasuh si kembar. Keduanya dipaksa memberi jawaban tentang keberadaan Alya dan si kembar, namun tak satupun yang mereka ketahui. Setiap tamparan yang dilemparkan Dinda hanya menambah frustrasinya, sementara jawaban yang diharapkan tetap tak kunjung muncul.
Dinda merasakan darahnya mendidih. Tanpa menunggu lama, ia melangkah cepat menaiki tangga ke lantai dua. Yakin bahwa Alya dan si kembar pasti berada di sana, pikirannya tak memberi celah keraguan. Semua kamar diperiksa, membuka lemari, menyingkirkan tumpukan barang, rumah itu kini tampak seperti korban perampokan, berantakan dan kacau. Hingga matanya tertumbuk pada sebuah pintu yang tertutup rapat, dikabarkan terkunci oleh anak buahnya, seakan menantang kesabarannya.
Dinda menekuk bibirnya dalam senyum sinis, keyakinannya semakin bulat, mangsanya pasti tersembunyi di balik pintu itu. Dengan suara tegas, ia memerintahkan anak buahnya, membuka pintu itu, paksa dengan cara apapun. Matanya menyala penuh amarah, tak sabar menunggu rahasia yang tersembunyi di dalam terbongkar.
Suara pintu yang didorong keras dan dentuman yang menghentak membuat Alya hampir gemetar ketakutan. Ia dan si kembar segera menunduk dan bersembunyi di bawah meja kerja Romeo. Dengan sekuat tenaga, Alya menggigit ujung bajunya agar tangisnya tak terdengar oleh Dinda, sementara si kembar meniru langkah itu dengan ketakutan yang sama.
Brak!
Pintu ruang kerja Romeo terbuka perlahan, suara langkah pengawalnya membuat Alya hanya bisa menunduk pasrah. Matanya menelusuri wajah kedua anak kembarnya, bertanya-tanya apakah ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka.
Dinda tersenyum sinis, menyadari keberadaan Alya di dalam ruangan. Ia melangkah pelan, memberi isyarat pada anak buahnya untuk tetap diam, sehingga bisa mengecoh Alya tanpa ketahuan.
"Alya, keluarlah. Atau aku pastikan pengalamanmu kali ini akan lebih menyakitkan dari sebelumnya." Tawa sinis Dinda menggema di ruangan.
Selina hampir saja maju untuk menghadapi neneknya, tapi Alya menahan kepalanya dengan tegas. Ia sadar, sekarang bukan waktunya Selina bertindak. Alya hanya menundukkan kepala sejenak, memusatkan pikirannya, dan diam-diam berdoa agar Dinda segera pergi.
Namun sayang, nasib seakan tidak memihaknya. Saat Alya masih berusaha menenangkan Selina agar tetap tersembunyi, tiba-tiba…
"Halo, menantuku tercinta."
Deg!