NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TRANSISI KE BAB 21: Beban yang Makin Berat

#

Pagi itu, Mahira duduk di ruang makan dengan mata sembab. Tidak ada yang bicara. Papa membaca koran tapi jelas tidak fokus—matanya tidak bergerak. Mama mengaduk kopi yang sudah dingin. Raesha main-main dengan sendoknya.

"Aku harus ketemu Khaerul hari ini," ucap Mahira tiba-tiba, memecah keheningan yang menyesakkan.

Semua menoleh padanya.

"Untuk apa?" tanya Papa dengan nada hati-hati.

"Untuk... untuk jelasin sesuatu yang penting. Sesuatu yang dia harus tahu." Mahira tidak bisa bilang detailnya. Belum. "Dia di mana sekarang?"

"Di rumah sakit jiwa," jawab Mama pelan. "Setelah ruqyah, dokter bilang dia butuh observasi psikiatri. Pastikan dia... stabil."

Mahira mengangguk. "Aku mau kesana. Sekarang."

"Aku ikut," Raesha langsung berdiri.

"Aku juga," Papa menutup korannya. "Ini keluarga kita. Kita hadapi bareng."

***

Rumah sakit jiwa Permata Hati terletak di pinggiran Jakarta—bangunan putih yang ironisnya terlihat suram. Khaerul ada di ruang isolasi khusus—bukan karena berbahaya, tapi karena dia minta sendiri. Bilang dia tidak mau bertemu banyak orang dulu.

Saat Mahira masuk dengan didampingi Raesha dan Papa, Khaerul duduk di tepi tempat tidur dengan tatapan kosong ke jendela. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya pucat. Tapi matanya—matanya normal. Tidak ada kehitaman lagi.

"Khaerul," panggil Mahira pelan.

Pria itu menoleh—dan langsung berdiri. "Mahira... aku... maafin aku. Aku nggak—"

"Sudah." Mahira mengangkat tangan. "Aku nggak kesini untuk bahas permintaan maaf. Aku kesini karena ada sesuatu yang kamu harus tahu. Tentang kutukan. Tentang... cara memutuskannya."

Khaerul duduk kembali—perlahan. "Aku dengerin."

Dan Mahira menceritakan semuanya. Tentang Alzena. Tentang syarat terakhir untuk putuskan kutukan. Tentang... darah yang harus ditumpahkan.

Saat dia selesai, keheningan mengisi ruangan seperti kabut tebal yang menyesakkan.

"Jadi..." suara Khaerul serak, "...aku harus... mengiris tanganku sendiri? Numpahkan darahku di atas keris itu? Baru kutukan bisa putus?"

"Bukan harus," Mahira langsung memotong. "Kamu boleh nolak, Khaerul. Aku nggak akan paksa kamu. Aku cuma—aku cuma jelasin apa yang Alzena bilang. Keputusannya tetap di tanganmu."

"Dan kalau aku nolak? Kalian bakal bereinkarnasi lagi?"

"Iya. Tapi itu nggak masalah. Kami—"

"Bohong." Khaerul menatapnya tajam. "Itu masalah. Masalah besar. Karena artinya kamu akan hidup dengan kutukan ini selamanya. Akan terus ketakutan. Akan terus dibayang-bayangi masa lalu. Dan aku—" suaranya bergetar, "—aku yang nyebabin semua ini."

"Bukan kamu! Itu Khalil—"

"AKU ADALAH KHALIL!" teriak Khaerul—dan semua orang tersentak. "Aku membawa jiwanya! Aku yang jadi wadah reinkarnasi dia! Jadi mau nggak mau, aku harus tanggung jawab!"

Mahira menggeleng keras—air mata mulai turun. "Kamu nggak harus—"

"Aku harus, Mahira." Khaerul berdiri, melangkah ke arahnya. "Karena kalau nggak, aku nggak akan pernah bisa hidup dengan tenang. Akan selalu merasa bersalah. Akan selalu mikir bahwa aku nyebabin penderitaan orang lain."

"Tapi ini... ini numpahkan darah, Khaerul! Ini—"

"Cuma luka kecil, kan?" Khaerul tersenyum—senyum pertama sejak dia masuk rumah sakit ini. Senyum yang pahit tapi juga... lega. "Bukan bunuh diri. Cuma ritual. Dan kalau dengan itu kutukan bisa putus—kalau dengan itu kamu dan Zarvan bisa hidup bahagia—maka aku akan lakukan. Dengan senang hati."

---

# BAB 19: Kutukan yang Mengancam

Malam itu, Alzena muncul lagi. Kali ini bukan di perpustakaan, tapi di kamar Mahira. Sosok transparan itu berdiri di sudut ruangan—kabut yang berbentuk wanita dengan mata sedih.

"Putri," bisiknya, "waktu semakin menipis."

Mahira terbangun—tidak kaget lagi melihat roh ini. "Apa maksudmu?"

"Kutukan semakin kuat. Karena kalian semakin dekat dengan momen pemutusannya, kekuatan gelap yang tidak mau kutukan putus juga semakin aktif." Alzena melayang lebih dekat. "Dan ada sesuatu yang belum aku ceritakan kemarin. Sesuatu yang... berbahaya."

Mahira duduk tegak. "Apa itu?"

"Kalau ritual penebusan gagal—kalau Khaerul menumpahkan darah tapi tidak dengan keikhlasan penuh—maka kutukan tidak akan putus. Malah akan... makin kuat. Akan menyebar ke generasi berikutnya dengan efek yang lebih brutal."

"Apa?!" Mahira hampir berteriak tapi ingat Raesha tidur di sampingnya. "Kenapa kamu nggak bilang ini dari awal?!"

"Karena aku tidak mau membuatmu takut. Tapi sekarang aku harus bilang. Karena aku lihat... ada yang mencoba sabotase. Ada yang bisikkan keraguan ke Khaerul. Bisikkan bahwa dia tidak perlu melakukan ini. Bahwa ini semua tipuan."

"Siapa?"

"Danial. Atau lebih tepatnya, jiwa Danial di dalam Damian." Alzena wajahnya mengeras. "Dia belum sepenuhnya lepas dari possession. Dan dia... dia tidak mau kakaknya—Khalil—ditebus. Karena kalau Khalil ditebus, Danial juga harus tanggung jawab atas dosanya sendiri."

Mahira meremas selimutnya. "Jadi Damian akan coba hentikan ritual?"

"Lebih dari itu. Dia akan coba bunuh Khaerul sebelum ritual terjadi. Karena kalau Khaerul mati sebelum menebus—maka tidak ada yang bisa putuskan kutukan di generasi ini. Dan kalian semua harus menunggu reinkarnasi berikutnya."

"Aku harus lindungi Khaerul—"

"Dan kamu juga harus temukan pusaka-pusaka yang dibutuhkan untuk ritual." Alzena mengulurkan tangannya—kabut itu membentuk sesuatu. Sebuah peta. Peta yang terbuat dari cahaya. "Ada tiga pusaka yang harus dikumpulkan. Keris Sulaiman yang sekarang di museum—itu yang pertama. Tapi ada dua lagi."

Mahira menatap peta cahaya itu. "Apa saja?"

"Tasbih Cahaya yang sekarang kamu pegang—itu yang kedua. Tasbih itu bukan sekadar pelindung. Tapi juga... penunjuk jalan. Kalau kamu pegang tasbih itu sambil berdoa dengan ikhlas, tasbih akan bercahaya dan menunjukkan arah ke pusaka ketiga."

"Dan pusaka ketiga itu apa?"

"Mahkota Cahaya. Mahkota yang dulu dipakai Sultan Mahmud saat menobatkan Putri Aisyara sebagai putri kesayangan. Mahkota itu punya energi spiritual yang sangat kuat—energi cinta seorang ayah pada anaknya. Dan energi itulah yang dibutuhkan untuk... untuk menyeimbangkan energi dendam yang ada di kutukan."

Mahira mengingat—mahkota yang mereka lihat di museum. "Mahkota Sultan Mahmud masih ada di museum kan?"

"Bukan itu." Alzena menggeleng. "Mahkota yang di museum itu palsu. Replika. Mahkota asli disembunyikan oleh Sultan sebelum dia meninggal. Dia tahu mahkota itu punya kekuatan—dan dia tidak mau kekuatan itu disalahgunakan. Jadi dia sembunyikan di tempat yang hanya keturunan langsung Aisyara yang bisa temukan."

"Di mana?"

"Tasbih akan tunjukkan. Tapi kamu harus pergi besok. Secepatnya. Karena Damian juga tahu soal mahkota ini. Dan dia akan coba ambil duluan. Atau lebih buruk—dia akan coba hancurkan mahkota itu biar ritual tidak bisa dilakukan."

Mahira menelan ludah. "Kalau mahkota hancur?"

"Maka tidak ada cara lain untuk putuskan kutukan. Kalian akan terjebak selamanya."

Alzena mulai memudar lagi—cahayanya berkurang drastis.

"Tunggu! Masih ada yang mau aku tanyakan—"

"Tidak ada waktu lagi, Putri. Yang aku bisa bilang sekarang: percaya pada Zarvan. Percaya pada Khaerul. Dan percaya pada dirimu sendiri. Karena kalian bertiga—korban dari kutukan 300 tahun lalu—adalah kunci untuk memutuskannya sekarang."

"Tapi bagaimana kalau kami gagal—"

"Maka tragedi akan terulang. Darah akan tumpah lagi. Nyawa akan hilang lagi. Dan kali ini—" suaranya nyaris tidak terdengar, "—mungkin tidak akan ada reinkarnasi lagi. Karena jiwa yang terlalu rusak oleh dendam... tidak bisa kembali. Akan hilang selamanya di kegelapan."

Dan dia menghilang. Meninggalkan Mahira dengan ketakutan yang membeku di dadanya dan beban yang semakin berat di pundaknya.

***

Pagi harinya, Mahira, Zarvan, Raesha, dan Ustadz Hariz berkumpul di ruang tamu rumah nenek. Papa dan Mama juga ada—duduk dengan wajah tegang.

"Jadi kita harus cari Mahkota Cahaya itu," kata Zarvan sambil melihat catatan yang Mahira tulis semalam. "Dan kita cuma punya waktu... berapa lama?"

"Alzena bilang secepat mungkin. Sebelum Damian nemuin duluan." Mahira menggenggam Tasbih Cahaya yang di tangannya. "Dan tasbih ini akan tunjukkan jalan."

"Baik." Ustadz Hariz berdiri. "Kita mulai sekarang. Mahira, pegang tasbih itu dan berdoa. Minta petunjuk Allah untuk tunjukkan jalan ke mahkota."

Mahira mengangguk. Dia menutup mata, menggenggam tasbih erat, dan berbisik doa yang diajarkan Ustadz Hariz.

"Ya Allah, tunjukkan hambaMu jalan menuju Mahkota Cahaya. Tunjukkan jalan untuk memutuskan kutukan yang mengikat kami. Demi ridho-Mu. Amin."

Tasbih di tangannya mulai hangat. Lalu panas. Lalu... bercahaya.

Cahaya hijau terang yang menyilaukan. Dan di dalam cahaya itu—muncul gambar. Gambar sebuah tempat. Tempat yang Mahira kenal.

"Istana Terakhir," bisiknya. "Reruntuhan di Condet. Di sana mahkota disembunyikan."

Zarvan langsung berdiri. "Kita berangkat sekarang."

"Tunggu." Papa mengangkat tangan. "Kalau Damian juga tahu tempat itu, kalian harus siap. Dia mungkin sudah ada di sana. Atau dia sudah pasang jebakan."

"Maka kita bawa bantuan." Ustadz Hariz mengeluarkan ponselnya. "Aku akan hubungi beberapa ustadz lain. Kita pergi beramai-ramai. Dengan perlindungan spiritual yang kuat."

"Dan aku akan bawa security," tambah Zarvan. "Perlindungan fisik juga penting."

Mahira menatap mereka semua—keluarganya, Zarvan, Ustadz Hariz—dan merasakan dadanya sesak. Bukan karena takut. Tapi karena... bersyukur. Karena dia tidak sendirian dalam pertarungan ini.

"Terima kasih," ucapnya dengan suara bergetar. "Terima kasih sudah percaya sama aku. Sudah berdiri di sampingku."

"Kita keluarga," kata Papa dengan senyum hangat. "Dan keluarga tidak pernah ninggalin keluarga."

---

**BERSAMBUNG KE BAB 23: PUSAKA PERTAMA - KERIS SULAIMAN**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!