Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapatkan Pekerjaan
"Mama tinggal dulu ya, kamu disini tunggu mama pulang." pinta Rose yang membuat Noah kebingungan, dari mana mama nya tahu panti tempatnya hidup selama ini.
karena Rose tidak punya uang, dia terpaksa harus membawa anaknya kembali ke panti tempatnya tidur semalam, semoga Vira mengijinkannya membawa Noah tinggal di disini, nanti kalau dia sudah punya uang, dia akan menyewa kos an untuk dirinya dan Noah.
Setelah berpamitan dengan anaknya, Rose langsung pergi ke sebuah restoran yang semalam dia lihat, karena dia melihat ada lowongan pekerjaan di sana.
tidak lama dia berjalan, akhirnya sampai.
Klek....
"Permisi." Rose langsung masuk, tidak banyak orang di dalam.
"Iya, mau pesan apa?" seorang wanita yang usianya seperti ibunya datang menghampirinya.
Wanita itu membulatkan matanya saat menatap Rose.
"Semalam saya melihat ada lowongan pekerjaan di sini, apa masih ada?" tanya Rose cukup sopan yang membuat pemilik restoran tertegun.
"Siapa sayang?" tanya suami pemilik restoran dan saat pria itu sampai di belakang sang istri, sama seperti istrinya, pria itu terkejut saat melihat kedatangan Rose.
"I.. Ini yah ada yang cari pekerjaan, A..apa masih ada?" wanita itu bertanya kepada sang suami dengan suara tergagap.
"Ah masih masih, apa kamu bisa cuci piring?"
Rose tersenyum lebar. "Bisa."
Dan kedua pasangan itu saling bertatapan.
"Baiklah, kamu bisa bekerja sekarang."
Rose segera berterimakasih kepada dua orang didepannya.. setidaknya dia sudah memiliki pekerjaan untuk menyambung hidupnya setelah ini.
"Terimakasih banyak emh pak..."
"Saya Hary dan ini istri saya Sarah." ucap pria tua itu memperkenalkan diri.
"Ah iya pak Hary dan Bu Sarah, terimakasih banyak sudah menerimaku bekerja disini, nama saya Rose."
....
"JADI DIMANA KAU MELIHAT ADIKMU TERAKHIR KALI." teriak Daniel yang kesal karena mereka kehilangan jejak Rose.
Nathan menggosok telinganya yang berdengung karena teriakan sang ayah.
Isabella terus menyeka air matanya yang terus-terusan mengalir, dia takut kehilangan Rose,. meskipun tingkah anak itu menyebalkan dan sering membuatnya kecewa, tapi tidak menghilangkan fakta bahwa dia menyayangi anak itu.
"Semalam dia duduk disana sambil makan somai." tunjuk Nathan pada tempat dimana Rose duduk membaur bersama orang-orang yang menikmati kehidupan malam.
"Yah, ibu tidak mau tahu, kita harus menemukan Rose." Isabella terisak keras, dan Camila langsung memeluk mertuanya itu. meskipun tingkah Rose menyebalkan tapi dia tidak pernah benar-benar membencinya.
Mau bagaimana pun, wanita itu tetap adik iparnya.
"Kue.. Kue..."
Nathan menoleh ke arah seorang anak yang membawa barang jualannya.
Entah kenapa dia ingin sekali bertanya kepada anak itu. "Dek sini." panggilnya yang membuat Camila bingung.
Anak itu dengan semangat menghampiri Nathan.
"Beli kue om?" tanya anak itu. Nathan tersenyum lalu mengangguk. Dengan cepat dia mengambil beberapa kue lalu membayarnya.
tapi sebelum anak itu pergi. "Dek, om minta tolong, kalau adek melihat orang ini." Nathan memberikan sebuah foto pada anak itu.
"Hubungi nomor dibelakangnya ya." Nathan membalik foto Rose dan belakangnya sudah dia tulis nomor ponselnya.
"Nanti om beri uang banyak." tawar Nathan yang membuat anak itu terdiam.
Vira memandang lekat gambar seseorang di foto itu. Bukannya itu Tante yang semalam dia bawa ke panti.
"Tolong ya dek, karena orang yang ada di foto itu adik kandung om." wajah Nathan berubah sendu yang membuat Vira tidak tega. Anak itu mengangguk meskipun dia tidak yakin apakah Tante itu masih di panti nya.
....
Sarah menyenggol lengan suaminya. "Kau tidak asing kan dengan wajahnya?" tanyanya basa-basi.
Hary mengangguk. "Aku sering melihatnya, bukannya dia anak si Daniel yang suka bertingkah seenaknya itu."
Sarah mengangguk. "Seingatku saat anak itu kepergok menjebak Marcus, si Daniel dan Isabella sudah tidak mengakuinya sebagai anak." masih teringat jelas dibenaknya, bagaimana jahatnya Rose karena menjebak Marcus yang sudah memiliki tunangan, dan mau tidak mau pria itu meninggalkan tunangannya demi menikahi Rose.
"Padahal dulu aku juga membencinya, tapi melihatnya yang sedang mencuci piring membuat hatiku sakit." ucap Sarah yang menatap punggung rapuh itu tidak tega. Dia dan suaminya jelas tahu bagaimana kehidupan Rose yang dulu. Anak manja yang selalu mendapatkan apa yang dia suka.
"Apa Marcus mengusirnya?" jujur Hary bertanya-tanya, meskipun dia tahu Marcus tidak menyukai Rose, tapi yang dia lihat selama ini, hubungan mereka terlihat baik-baik saja yaa walaupun wajah Marcus terlihat tidak berekspresi saat bersama istrinya.
"Tidak mungkin yah, bisa-bisa Marcus di tendang si Daniel." komen Sarah.
Keduanya mengobrol sampai tidak sadar pekerjaan Rose sudah selesai, wanita itu melepaskan sarung tangan cuci itu di samping tempat cuci piring.
"Akhirnya selesai juga?" Rose menyeka keringatnya sendiri dengan tangannya. Pekerjaan seperti ini dulu sering dia lakukan bahkan tidak sebanyak dulu, jadi dia tidak terlalu lelah.
Sarah dengan ragu menghampiri anak itu. "Sudah?" tanyanya basa-basi.
Rose menoleh lalu tersenyum. "Sudah Bu, apa masih ada pekerjaan lagi yang bisa di kerjakan?"
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, pekerjaan mu sudah selesai." sesekali dia memeriksa hasil pekerjaan wanita itu dan dia cukup puas karena piringnya tidak ada yang pecah seolah Rose sudah biasa mencuci piring.
"Kamu bisa istirahat nanti aku ambilkan kontrak kerja." sambung Sarah yang membuat Rose melongo.
Bekerja seperti ini ada kontraknya juga?
"Duduklah di sana." pinta Sarah yang langsung diangguki wanita itu.
Rose dengan ragu duduk dihadapan Hary yang menatapnya lekat. "Kau sudah berkeluarga?" tanyanya penasaran.
Wanita itu mengangguk dengan ragu. "Sudah pak, tapi sebentar lagi akan berakhir." jawabnya jujur.
Kening Hary mengerut. "Apa kau bertengkar dengan suamimu?" tanyanya lagi.
"Tidak pak, hanya saja saya baru sadar jika selama ini suamiku tidak pernah menerimaku juga ada banyak hal yang terjadi di sana yang membuatku lelah, karena kakak iparku ternyata menukar putraku dengan putrinya." tanpa sadar Rose menceritakan semua beban yang dia simpan selama ini di hadapan Hary.
pria itu dengan cepat mengambil tissue di meja sebelah lalu memberikannya pada Rose yang sedang menahan tangisnya.
Tidak elit sekali menangis di depan orang yang baru saja dia kenal.
Sarah yang ada disana ikut merasa sedih. Dia tidak menyangka jika kehidupan Rose akan se tragis itu.
"Ini kontraknya." Sarah menghampiri Rose dan memberikan kertas kontrak itu pada wanita itu.
Mata Rose membola, dia beralih menatap Sarah dan Hary bergantian. "Maaf pak, Bu, apa benar gajinya segini?" tanyanya sambil menunjuk angka yang tertera di kertas itu. Gaji sepuluh juta untuk cuci piring.
Yang benar saja.