NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Bone Marrow

Suara statis dari radio butut di kedai kopi pinggiran Desa Sunyi terdengar seperti desis ular yang merayap di antara tumpukan kayu bakar. Arkananta berdiri di depan rumah pengasingan, mengancingkan kemeja putihnya yang kini tampak kontras dengan latar belakang dinding bata merah berlumut. Di kejauhan, frekuensi radio itu menyiarkan narasi dingin yang dikirim langsung dari pusat kendali media Erlangga di Astinapura.

"Kabar duka menyelimuti High Tower pagi ini. Nayara, istri dari politisi Arkananta, dikabarkan telah mengembuskan napas terakhirnya di wilayah pengasingan akibat komplikasi penyakit menular yang parah. Arkananta sendiri dikabarkan mengalami gangguan kejiwaan akibat kehilangan ini dan menolak menyerahkan jenazah..."

Arkan mengatupkan giginya begitu keras hingga ia merasakan sensasi pahit dan bau besi dari darah yang merembes di gusinya. Ia menatap ke arah Bayu yang sedang memegang tablet digital dengan sinyal satelit yang timbul tenggelam.

"Mereka sudah membunuh Nayara di layar televisi, Bayu. Sebelum racun di sumur itu berhasil, mereka sudah menggali liang lahat di pikiran publik menggunakan narasi busuk," suara Arkan terdengar rendah, namun ada getaran baja di setiap katanya.

"Tim buzzer Erlangga bergerak dengan skenario yang sistematis, Tuan. Jalur logistik medis dari panti asuhan diblokade total. Mereka ingin narasi kematian ini menjadi fakta administratif secepat mungkin," jawab Bayu, wajahnya tampak mengeras di bawah topi pet yang ia kenakan.

"Biarkan mereka merayakan kebohongan itu sejenak. Sekarang, kumpulkan warga. Kita selesaikan instalasi katrol sumur utama sebelum sore. Aku tidak akan membiarkan rakyat di sini meminum racun arsenik kiriman High Council satu hari lagi."

Arkan melangkah menuju area sumur utama desa. Di sana, sebuah konstruksi kayu besar dengan katrol besi berat telah disiapkan. Warga desa yang sebelumnya menyerang Arkan dengan bensin, kini menatapnya dengan pandangan antara hormat dan cemas. Mereka melihat Arkan bukan lagi sebagai pangeran manja dari High Tower, melainkan sebagai pria yang menanggung penderitaan istrinya di punggungnya sendiri.

Di dalam kamar, Nayara terbangun dengan napas yang tertahan. Ia merasakan sensasi logam yang dingin merambat di sepanjang tulang belakangnya—sebuah resonansi dari keteguhan tulang Arkan. Meskipun tubuhnya masih sangat lemah setelah kolaps semalam, Nayara memaksakan diri untuk duduk. Ia menggenggam tasbih kayunya yang kini memiliki retakan halus baru akibat tekanan energi gelap Kyai Hitam.

"Arkan sedang memikul beban yang melampaui batas fisiknya..." bisik Nayara pada dirinya sendiri. Ia merasakan sumsum tulangnya menghangat, seolah-olah integritas Arkan sedang memompa kekuatan baru ke dalam sel darahnya.

Di lokasi sumur, Arkan memegang tali tambang kasar yang menghubungkan beban besi katrol. Tiba-tiba, suara derit kayu yang tidak alami terdengar. Seseorang telah menggergaji tiang penyangga utama—sebuah sabotase mikro untuk mematahkan fisik Arkan di depan rakyatnya.

"Tuan! Struktur penyangga retak! Segera menjauh dari area jatuh!" teriak Bayu.

Beban seberat ratusan kilogram itu mulai miring ke arah Arkan. Alih-alih melompat menyelamatkan diri, Arkananta justru menapakkan kakinya lebih dalam ke tanah merah yang becek. Ia menyandarkan bahunya pada tiang yang akan tumbang, menahan beban itu dengan seluruh kekuatan kerangkanya. Buku-buku jarinya memutih, dan otot pipinya berkedut hebat.

"Apa yang Anda lakukan? Struktur itu akan menghancurkan tulang Anda!" teriak pemimpin preman desa sambil berlari mencoba membantu.

"Tetap di tempat! Jika pilar ini jatuh, sumur ini akan tertutup selamanya dan kalian akan tetap meminum racun!" Arkan berteriak, suaranya menggelegar meski napasnya manual dan berat.

Pada saat itulah, Arkan merasakan prinsip Iron Bone Marrow aktif sepenuhnya. Ia tidak lagi merasakan nyeri; ia merasa tulang-tulangnya berubah menjadi pilar besi yang tidak bisa dipatahkan oleh hukum gravitasi sekalipun. Di kejauhan, seorang pria dengan kamera tersembunyi—mata-mata media yang menyusup—terpaku melihat pemandangan itu. Ia tidak melihat pria yang gila karena duka, melainkan seorang komandan yang sedang menaklukkan maut.

"Kalian melihat ini?" Arkan menatap mata-mata itu sambil tetap menahan beban raksasa tersebut. "Katakan pada mereka di High Tower. Tulangku tidak dibuat dari marmer yang rapuh. Tulangku ditempa dari tanah yang kalian injak!"

"Bantu dia sekarang! Pasang pasak penyeimbang di sisi kiri!" perintah pemimpin preman pada anak buahnya.

Dalam hitungan detik, warga desa bergerak serentak. Mereka tidak lagi hanya menonton; mereka bahu-membahu memasang pasak baru di bawah komando fisik Arkan. Saat beban itu akhirnya berhasil disangga oleh struktur baru, Arkan melepaskan bahunya. Kemeja putihnya robek di bagian bahu, memperlihatkan kulit yang memerah namun tulang yang tetap tegak.

"Tuan, Anda mengalami pendarahan jaringan di bahu," Bayu mendekat dengan napas tersengal.

"Darah ini adalah validasi bahwa aku masih berdiri, Bayu. Dan Nayara pun tetap bernapas di sampingku," Arkan menyeka tetesan darah di sudut bibirnya dengan sapu tangan kasar.

Seorang wartawan gadungan yang tadi bersembunyi akhirnya memberanikan diri maju. "Tuan Arkananta! Otoritas pusat menyatakan istri Anda telah wafat dan Anda kehilangan stabilitas mental. Bagaimana Anda merespons fakta bahwa Anda di sini bekerja seperti buruh kasar?"

Arkan menatap wartawan itu dengan tatapan yang begitu dingin hingga pria itu mundur dua langkah. "Radio Anda hanya menyiarkan gema dari kuburan nurani Erlangga. Jika Anda mencari fakta, ikut aku ke rumah itu sekarang. Tapi bersiaplah, karena kebenaran ini akan menghancurkan narasi palsu majikan Anda."

"Tapi, Nyonya Besar secara resmi telah mengonfirmasi berita duka tersebut..." wartawan itu mencoba bertahan.

"Ibu saya mungkin memegang kendali atas gedung elit itu, tapi dia tidak memiliki hak atas napas istri saya," Arkan melangkah membelah kerumunan warga, diikuti oleh mata-mata media yang kini gemetar ketakutan.

Setiap langkah Arkan di atas tanah basah itu terasa berat dan berwibawa. Ia merasakan resonansi dari dalam rumah; Nayara telah berdiri di ambang pintu, mengenakan gamis sederhana dengan tasbih yang melingkar di pergelangan tangannya. Pemandangan itu adalah tamparan keras bagi siapa pun yang datang untuk mendokumentasikan kematian.

Nayara berdiri di ambang pintu rumah tua itu seperti sebuah menara cahaya di tengah kabut kelabu Desa Sunyi. Wajahnya memang masih menyiratkan sisa-sisa pucat akibat kolaps semalam, namun matanya—abu-abu yang tajam dan jernih—menatap langsung ke arah lensa kamera tersembunyi yang dibawa sang wartawan. Arkananta berhenti tepat di samping istrinya, meletakkan tangannya yang kasar dan penuh luka sayatan tali di bahu Nayara.

"Ambil gambarnya sekarang," perintah Arkananta dengan nada suara yang begitu rendah namun menggetarkan udara. "Tunjukkan pada publik apakah wanita di depanmu ini adalah mayat yang kalian siarkan di radio satu jam yang lalu."

Wartawan itu menelan ludah dengan susah payah, tangannya yang memegang alat perekam gemetar hebat. "Nyonya... Nyonya Nayara... tapi kami menerima salinan dokumen medis resmi dari dewan keluarga..."

"Dokumen medis hanyalah tinta di atas kertas yang bisa dibeli dengan kekuasaan, Tuan," suara Nayara memotong, tenang namun memiliki wibawa yang melumpuhkan. "Namun, kehidupan yang dijaga oleh Tuhan tidak bisa dihentikan oleh tanda tangan penguasa. Katakan pada mereka, saya masih menggenggam tasbih ini, dan saya tetap berdiri di sisi suami saya."

Arkan merasakan resonansi yang hangat mengalir dari bahu Nayara menuju tulang-tulangnya yang tadi terasa seperti akan hancur menahan katrol. Rasa sakit yang ia serap melalui Shared Scar perlahan meluruh, digantikan oleh kekuatan purba yang disebut integritas. Di hadapan warga desa, Arkananta tidak lagi tampak sebagai politisi buangan; ia adalah martir yang hidup.

"Tuan-tuan," Arkan berbalik menatap kerumunan warga desa dan mata-mata media. "Kalian telah menjadi saksi sabotase air desa ini, kalian melihat upaya pembunuhan melalui narasi palsu, dan hari ini kalian melihat pilar sumur kalian dirusak demi menjatuhkanku. Jika mereka sanggup melakukan ini pada putra kandung mereka sendiri, apa yang akan mereka perbuat pada tanah dan air kalian jika aku tidak ada di sini untuk melawan?"

Pemimpin preman itu maju ke depan, membuang balok kayu yang tadi ia pegang. "Kami telah keliru menilai integritas Anda, Tuan Arkan. Orang yang memiliki tulang sekuat baja ini tidak mungkin datang untuk menindas kami."

"Bayu, siapkan transmisi sekarang," panggil Arkan tanpa mengalihkan pandangan.

"Intersepsi frekuensi sudah siap, Tuan."

"Sambungkan frekuensi ini ke pusat penyiaran Astinapura secara paksa. Aku akan memberikan pernyataan langsung kepada Ibu saya dan Erlangga," perintah Arkan, rahangnya mengeras dengan martabat sunyi yang mematikan.

Bayu bergerak cepat, memasang antena portabel di atas atap rumah. Dalam hitungan menit, statis di radio-radio warga berubah menjadi dengungan frekuensi tinggi sebelum akhirnya suara Arkananta membelah udara Astinapura, memutus narasi duka yang sedang dibacakan di pusat kota.

"Ibu," suara Arkan bergema, dingin dan tanpa ampun. "Aku tahu Ibu sedang merayakan jamuan kemenangan atas kematian menantumu. Namun, kabarkan pada dunia bahwa tulang menantumu tidak hancur oleh sihirmu, dan sumsum tulangku tidak retak oleh beban yang Ibu kirimkan. Simpan peti mati itu baik-baik, karena suatu saat nanti, Ibu sendiri yang akan membutuhkannya untuk menyimpan sisa harga diri keluarga ini."

Keheningan seketika melanda seluruh desa, bahkan mungkin hingga ke lorong-lorong High Tower yang jauh di sana. Di kamar pengasingan, Nayara menggenggam tangan Arkan. Ia merasakan keringat dingin suaminya, namun ia juga merasakan detak jantung yang stabil seperti detak jam perak yang kini kembali berputar normal di pergelangan tangan Arkan.

"Arkan... baju Anda rusak parah," bisik Nayara pelan, matanya berkaca-kaca melihat luka di bahu suaminya.

"Ini hanya kain pembungkus, Nayara. Selama prinsip di dalamnya tidak ikut robek, aku akan tetap berdiri," jawab Arkan sambil tersenyum tipis, sebuah senyum manusiawi yang jarang ia tunjukkan di masa kehidupan sebelumnya.

Malam itu, Desa Sunyi tidak lagi terasa mengancam. Warga desa secara sukarela berjaga di sekeliling rumah, bukan sebagai penjaga bayaran, melainkan sebagai tameng hidup bagi pemimpin yang telah memenangkan hati mereka melalui pembuktian fisik dan batin. Arkananta duduk di teras, membersihkan luka di tangannya dengan air sumur baru yang akhirnya berhasil ditarik ke permukaan—air yang murni, tanpa bau logam, tanpa jejak arsenik.

"Anda telah membakar jembatan terakhir dengan High Tower malam ini, Arkan," ucap Nayara yang kini duduk di sampingnya, memberikan sapu tangan bersih untuk membalut luka suaminya.

"Apa maksudmu?"

"Integritas mutlak. High Council tidak bisa lagi menyerang kita dengan fitnah, karena cahaya dari kejujuran Anda di desa ini justru akan membakar balik setiap kebohongan mereka," Nayara menatap ke arah kegelapan hutan jati, di mana ia melihat energi hitam Kyai Hitam perlahan memudar, kalah oleh cahaya batin yang mereka bangun bersama.

Arkan mengangguk, ia merasakan sumsum tulangnya berdenyut dengan energi yang baru. Ia tahu, langkah selanjutnya bukan lagi sekadar bertahan hidup. Ia akan mendeklarasikan perang terbuka terhadap sistem yang busuk di High Tower. Di bawah langit Desa Sunyi yang kini bertabur bintang, sang Komandan telah lahir kembali dari rahim penderitaan, siap memimpin legiun Terra menuju gerbang emas Astinapura.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!