Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Firasat buruk dan rencana jahat
Hari itu meskipun ia baru tiba di Regina, tapi Serah gak bisa bersantai untuk menikmati waktunya sendiri, banyak hal yang harus urus sekaligus.
Ia langsung menutup diri di ruangan kamarnya dan fokus menulis sesuatu di buku. Itu akan menjadi catatan penting mengenai pengeluaran untuk bahan pangan yang akan mereka kirimkan ke wilayah Duncan dan sekitarnya.
Bantuan itu rencananya akan dia kirimkan dalam kurun waktu 2 bulan dan ia menulis semua keperluan dan yang lain secara rinci di catatan buku tersebut.
"Yang mulia...." Suara seorang perempuan terdengar dari depan pintu kamarnya.
"Masuklah, Florentia," balas Serah dengan pandangan yang tak lepas dari buku tulisnya.
Wanita itu masuk ke dalam, membuka pintu ruangan dan menutupnya kembali.
"Ini adalah buku perhitungan semua bahan pangan Kerajaan Regina dari Tuan Albert." Ia menyerahkan sebuah buku berukuran cukup besar dan tebal kepada Serah.
"Ya, terimakasih." Serah menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis. Ia berbalik lalu mengambil buku itu dari Florentia. "Kau boleh pergi," ucapnya kemudian dan mencoba untuk kembali fokus sambil membuka buku besar di tangannya.
"Maaf, Yang mulia apa anda memang harus langsung mengerjakan semua sekarang juga...?" Tanya Florentia saat Serah kembali melanjutkan aktivitasnya. Karena, sang Ratu baru saja sampai, tapi dia sudah harus sibuk seperti ini. Seakan tak ada ruang istirahat baginya. Ia menjadi khawatir dengan kesehatan sang Ratu.
"Ya, karena waktuku tak banyak, Raja Louis tak ingin aku terlalu lama di Regina," jawab Serah yang sedang membaca halaman demi halaman buku catatan di tangannya itu.
"Kalau begitu, bagaimana saya membawakan makan siang untuk anda?" Ujar Florentia yang benar-benar mengkhawatirkan kesehatan sang Ratu. Ia tak mau wanita itu kelelahan dan jatuh sakit karena terlalu memforsir tenaga.
"Yah, kurasa...," balas Serah menerima tawaran baik dari sang kepala pelayan istana.
"Segera saya siapkan, Yang mulia." Florentia membungkuk lalu kembali berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Oh ya, tunggu dulu sebentar," ujar Serah kemudian meletakkan buku catatan itu di atas meja.
"Ada yang lain, Yang mulia?" Florentia berhenti di ambang pintu menunggu perintah lain.
"Jangan lupa siapkan makan siang untuk para pelayan ku dan bawa mereka berkeliling taman Regina, aku ingin mereka dapat mengenali kerjaan kecil ini meski hanya sebentar...," ujarnya masih bisa memikirkan orang lain. Ia tak ingin perjalanan para gadis itu menjadi sia-sia kalau hanya berdiam di kamar.
"Ah, saya mengerti. Mereka akan saya bawa berkeliling setelah makan siang." Florentia tersenyum lebar dan dalam hati merasa bangga atas kepedulian sang Ratu pada orang lain.
"Pergilah...." Serah pun mengangguk dan mengijinkan Florentina untuk undur diri.
.
.
Di sisi lain, di kerajaan Mathilda, ruangan kerja miliknya, Louis terlihat sedang berdiskusi dengan William dan beberapa orang pejabat lainnya.
Pria itu sedang membicarakan masalah gerakan yang dilakukan Serah untuk membantu wilayah lain di sekitar Duncan. Karena jelas keputusan Serah telah membuat Louis gagal untuk mendapatkan ambisinya, padahal tinggal sedikit lagi ia dapat membuat Raja muda itu tunduk dan menjadikannya sebagai mesin perang.
"Yang mulia, kalau saya ada usul, bagaimana kalau pasokan itu kita serang?" Ujar seorang menteri setelah menimbang-nimbang.
"Saya setuju, Yang mulia, dengan begitu mereka akan kesulitan, ditambah prajurit Regina tidak ada yang berbasis militer," timpal pria di sebelahnya sependapat.
"Apa ada ide lain?" Louis sepertinya tidak merasa puas dengan usulan tersebut.
Semua orang di ruangan saling memandang dan berdiskusi dalam suara pelan. Menurut mereka rencana yang sudah diutarakan oleh para menteri sudah cukup efektif.
"Yang mulia, apa yang membuat anda tidak berkenan dengan usulan itu?" Ucap William bertanya dengan penuh kerendahan hati.
"Itu trik klasik yang mudah dipatahkan dengan mereka pindah jalur dari jalur utama," jelas Louis sambil melihat ke arah peta. "Regina dan Duncan memiliki beberapa jalur, akan terlihat mencurigakan kalau kita memasang beberapa kelompok orang di tiap jalur yang dilewati kereta makanan Regina dan yang lain. Itu akan sangat terlihat jelas dan mereka bisa cepat menuduh Mathilda." Louis memaparkan kalau usulan itu bisa memicu kecurigaan langsung ke pihak Mathilda.
Para menteri termasuk William saling terdiam, berpikir mengenai kelemahan yang baru saja dijabarkan oleh Louis.
"Bagaimana kalau kita menyewa bandit gunung di kawasan itu?" Ucap salah seorang menteri lain.
"Ya, kita gunakan mereka untuk mengurangi kecurigaan," timpal lainnya langsung setuju.
"Hmm...." Louis terdiam sambil berpikir.
"Kita bisa mencoba itu tapi hanya sementara, karena semenjak kepemimpinan Grenseal, para bandit itu mulai bisa ditertibkan dan mereka tidak berani memasuki kawasan Duncan," ujar Louis lagi.
"Kalau begitu, saya bisa langsung memerintahkan prajurit untuk pergi ke sana dan mencari para bandit gunung tersebut."
"Pergilah, Tuan Peter." Louis mengangkat sebelah tangannya sebagai kode.
"Baik, Yang mulia." Pria itu membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan untuk segera melaksanakan perintah Louis.
"Tuan William, apa anda tau bagaimana silsilah Raja Duncan?" Tanya Louis yang sepertinya ia sudah memiliki rencana lain.
"Grenseal adalah Putra kedua dari Istri kedua Raja Baldric yang mengambil alih pimpinan karena Putra pertama memiliki fisik yang lemah, dan sebelum Grenseal, Raja Baldric memiliki anak perempuan bernama Laurent Baldric dari pernikahan pertamanya," jawab William yang memiliki cukup banyak pengetahuannya tentang keluarga kerajaan Duncan itu.
"Hmm, menarik...." Entah apa yang dipikirkan oleh sang Raja. Ia tiba-tiba menyeringai. "Apa kau tau di mana keberadaan Putri itu?"
"Menurut yang saya dengar dia sudah menikah dengan Raja dari kerjaan lain dan sudah memiliki seorang Putra."
Mendengar penjelasan dari sang penasehat membuat senyuman Louis semakin lebar. Sepertinya ia sudah tau apa yang harus dilakukannya.
"William, segera suruh orang untuk mencari Putri Laurent dan membawanya kemari," tegasnya tiba-tiba menurunkan sebuah perintah. "Katakan pada Putri itu aku punya penawaran yang menarik untuknya," imbuhnya sembari menyeringai dengan tatapan yang berkilat tajam.
"Siap, Yang mulia!" William pun kemudian bergegas meninggalkan ruangan setelah mendapat perintah langsung.
"Yang mulia, apa yang sebenarnya ada rencanakan?" Tanya seorang menteri dengan tatapan bingung.
"Hmm...." Louis tersenyum santai dan duduk di kursinya. "Kalian lihat saja nanti, aku akan memastikan Grenseal dan Duncan akan tunduk di bawah kaki ku," ujarnya penuh dengan rasa keyakinan tinggi dan memicu rasa penasaran yang lainnya. Rencana apa yang akan dilakukan oleh Louis? Kenapa dia tampak begitu yakin.
Sementara itu, Serah yang masih sibuk menulis catatan tanpa sengaja merobek kertas yang sedang ia tulis, karena terlalu menekan pulpen yang sedang digunakannya hingga menembus kertas dari buku tersebut.
Sreek....
Kertas itu langsung bolong dan robek pada bagian bawahnya. Serah sempat melamun. Ia seperti mendapat sebuah firasat yang membuat perasaannya jadi tak enak. Apa akan terjadi sesuatu? Pikirnya mulai agak cemas.
fix bakalan di kudeta dah ini.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib