Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Cyan bangun tepat pukul lima tiga puluh, menyiapkan diri tanpa tergesa, memilih blazer kerja favoritnya, lalu turun ke parkiran apartemen dengan rencana hari ini yang harus tuntas tanpa sisa. Tidak ada yang berbeda sampai suara mesin mobilnya tidak menyala.
Sekali, dua kali, tidak ada reaksi sama sekali. Cyan menghela napas gusar, lalu mencoba lagi dan hasilnya sama saja. Mesin sempat bergetar sebentar, lalu mati total.
“Ah! Kenapa, sih?!” gumamnya pelan.
Ia memeriksa dashboard dan lampu indikator menyala tidak wajar. Cyan bersandar sebentar, menutup mata selama lima detik, cukup untuk menahan kekesalan agar tidak berubah menjadi panik.
Untungnya, bengkel sederhana di ujung jalan sudah siap melayani. Tempat langganan teman sekampus Cyan dulu ketika ada masalah di kendaraannya. Cyan ingat betul siapa pemilik dengan ciri khas rambut gondrong hingga sebahu itu. Cyan melangkah ke sana dengan langkah terburu-buru, lalu menyapa montir yang sedang membereskan peralatan.
“Mas, boleh minta tolong sebentar? Mobil saya tiba-tiba gak mau nyala,” ujarnya to the point, sangat malas berbasa-basi.
“Oh, boleh, Mbak. Di mana mobilnya?”
“Itu di sana. Ikut saya aja, Mas.”
Montir itu mengangguk dan mengikuti Cyan kembali ke mobil. Kap mesin dibuka dan beberapa kabel diperiksa. Setelah pengecekan singkat, montir itu menutup kap mobil dan menggeleng pelan.
“Waduh… ini kelistrikannya yang bermasalah, Mbak. Butuh waktu buat diperbaikin supaya bisa normal lagi. Paling cepat kayaknya sore baru kelar,” katanya.
“Ooohhh gitu toh.” Cyan manggut-manggut paham usai mendengar vonis itu. Tanpa banyak bicara lagi, ia membuka ponselnya dan memesan taksi online.
“Maaf banget, ya, Mas. Sekarang saya lagi buru-buru jadi gak bisa tungguin. Tolong diperbaikin aja mobil saya secepatnya. Ntar kirim tagihan sama detail di japri aja ya,” ucapnya yang meski terdengar menekan, tapi tetap halus.
“Siap, Mbak. Nanti saya kabari kalau sudah selesai,” jawab sang montir.
Sementara itu di parkiran kantor, Magenta menghentikan langkahnya setelah turun dari kendaraan. Ia celingukan seperti mencari sesuatu yang hilang. Baru sadar masih ada satu slot parkir kosong di kiri gedung. Ia pun menoleh, memastikan tidak salah lihat. Biasanya mobil Cyan sudah terparkir sempurna di sana, bahkan jauh sebelum ia tiba.
“Bu Cyan mana? Dia cuti kah?” gumamnya.
Ia mengeluarkan ponsel, berniat mengirim pesan, tapi Magenta ia menahan jari urung. Dengan kedua alis bertaut sempurna, pria itu memilih jalan langsung ke gedung kantor dengan pertanyaan memenuhi benaknya.
“Apa sakit perut gara-gara sate taichan kmaren, ya? Tapi nggak ah, gue aja baik-baik aja,” batinnya lagi.
Ia terus melangkah hingga tiba di meja kerjanya. Namun, seketika ia melambat ketika tanpa sadar melirik ke arah salah satu meja. Ya, sosok Cyan duduk di sana dengan rambut panjang terikat rapi, make-up natural dengan lipstik oranye muda. Sempurna sekali penampilan Cyan kali ini.
“Oh, ada deh, hufftt itu dia.” Ia mengembuskan napas lega, seolah apa yang hilang telah ditemukan.
“Kenapa? Apaan yang ada? Nyari apa?” tanya Cyan refleks mendongak.
“Saya kira Bu Cyantik gak masuk,” jawab Magenta jujur.
“Kenapa gitu?"
“Abisnya mobil kamu enggak ada sih,” balasnya menujuk parkiran luar.
“Oh, iya. Mobilku tuh tiba-tiba mogok. Jadi aku titip di bengkel.”
“Kenapa tetep masuk?”
“Gapapa. Emang knapa sih? Kepo bener!"
“Naik apa?"
“Grab.”
“Ck, haha. Pantesan auranya beda.”
“Kamu kebanyakan ngomong, Genta.”
“Lho, aku kan netizen Syan, komentar ajaa sama kesialan kamu itu,” jawab Magenta santai.
***
Hari itu berjalan normal seperti biasa tanpa kendala. Cyan yang berkutat berjam-jam di depan layar hingga lupa makan siang. Untung saja Alya datang membawakan makanan yang sengaja dipesan lebih dari satu. Jaga-jaga siapa tahu Cyan belum makan dan benar tebakannya. Saat Cyan membereskan meja selesai makan, Magenta berdiri santai di sampingnya.
“Pulang naik apa?”
“Grab,” jawab Cyan singkat.
“Lagi? Gak usah. Aku bawa mobil.”
Cyan terperangah, menatap pria itu cukup lama. Hampir tidak berkedip, membuat Magenta hampir salah tingkah.
“Kalau kamu mau, aku bisa anter,” katanya menawarkan.
“Enggak usah. Aku bisa naik grab.”
“Syan.” Magenta memanggil namanya pelan.
“Aku nggak mau ngerepotin.” Cyan menambahkan, kali ini sambil membuka ponselnya hendak memesan taksi online.
Sontak saja Magenta mendengkus kasar, langsung menyambar ponsel gadis itu dan diletakkan di meja.
“Ngerepotin apaan sih, Syan? Nggak ngerepotin sama sekali.”
“Ya, kamunya jadi harus muter, Genta. Buang-buang waktu kamu. Macet dijalan.”
“Gak efisien, Syan. Kalau naik grab, kamu malah keluar uang,” potong Magenta cepat.
Cyan membuka mulut hendak menjawab, tapi Magenta sudah melanjutkan, seolah tak memberi celah.
“Kamu harus pesan dulu, terus nunggu drivernya datang. Syukur-syukur datangnya cepet, kalo lama gimana?”
“Duh...” Cyan menggumam, menatap ke arah lain.
“Ah, itu kelamaan, Syan. Nunggu itu gak enak. Kalau sama aku, sekarang juga kita bisa langsung berangkat tanpa nungguin abang sopir."
Cyan menimbang-nimbang. Kali ini lebih lama. Mungkin ia takut dilihat anak-anak kantor, terutama Raka dan Alya. Ataukah karena hal lain?
“Aku gamau ah, nggak enak banget,” lanjutnya lagi.
“Enggak ada yang gak enak. Anggap aja aku lagi mau pulang bareng.”
“Yaudah kalau gak ngerepotin. Kamu yang maksa dan jangan komplen ya, bukan aku yang nyuruh loh,” ucap Cyan akhirnya mengalah.
“Yailah, cewek mah gitu, gengsinya setinggi langit banget.”
***
“Pagi, Mbak Sunny. Mau ke mana buru-buru banget?” sapa ramah Cyan kepada tetangganya yang kebetulan berpapasan.
“Walah, nggeh, Bu Cyan. Ini lho si bocil pengen jalan-jalan ke mall. Bosen makan di rumah,” jawab ibu-ibu muda beranak satu itu.
“Oalah, iya. Dedek makan apa biasanya, Bu?” tanya Cyan basa-basi.
“Bubur aja sama abon sapi kesukaan dia, Mbak. Eh, BTW kapan nyusul, Mbak? Masa’ iya seumur hidup kerja terus jadi babu bos? Mending nikah aja biar dinafkahin suami,” celetuk Sunny membuat suasana hati Cyan runtuh seketika. Atas dasar apa ia membahas sesuatu yang menjadi sumber depresinya belakangan ini?
“Iya, Mbak, nanti-nanti aja. Masih menikmati masa muda,” kilah Cyan, “pamit dulu, Mbak, mau kerja soalnya.”
“Nggeh, Mbak, hati-hati.”
Ketika bayangan wanita itu hilang dari pandangan, Cyan langsung masuk lift dan turun ke lantai bawah. Karena suasana hatinya agak kurang baik, ia bahkan hampir tidak menyadari ada seseorang yang menunggu di kursi depan.
“Genta, kamu ngapain pagi-pagi di sini?” Cyan terkejut, hampir menjatuhkan tasnya.
“Jemput kamu.”
“Gak usah. Mobilku udah bener kok.”
“Tapi aku udah jauh-jauh ke sini, masak nggak jadi ke kantor bareng? Kamu tega banget Syan, liat aku nih yang tampan dan baik hati luntang lantung nggak jelas? Kamu mau aku nangis dan bikin ribut semua orang satu apartemen kamu? Gitu? Iya?!” Magenta menyandarkan punggung ke kursi.
“Ish, drama banget! Yaudah aku ikut kamu aja nih!” balas Cyan akhirnya menyerah.
“Sip, gitu dong. Ayo buru.” Magenta girang, sampai-sampai hampir meraih tangan Cyan untuk digenggam. Untung saja perempuan itu langsung menatapnya tajam, menjadi ancaman besar sepagi ini.
Sepanjang perjalanan ke kantor, mereka hanya berbicara ringan, tak ada yang merasa canggung. Sesekali celetukan khas seorang Magenta membuat mood Cyan sedikit membaik.
Sejak hari itu, rutinitas baru itu terus berlanjut. Menjelang sore Magenta mulai menghampiri meja Cyan, menawarkan untuk pulang bersama. Cyan biasanya hanya tersenyum, mengangguk tanpa kata, lalu berjalan keluar kantor menuju parkiran bersama Magenta. Seperti sudah menjadi kebiasaan.
Hingga di suatu hari, kebiasaan itu perlahan jadi perhatian beberapa orang. Raka yang kebetulan baru selesai membereskan kerjaannya langsung menghampiri Magenta. Dengan gaya slenge’an dan senyum kuda, ia menepuk bahu pria itu, lalu mengangkat sebelah alisnya.
“Waduh, sekarang jadi kebiasaan, ya, Mas?” sindir Raka.
“Apaan?"
“Kebiasaan pulang bareng, sama Bu Bos.”
“Halah, cuma kebetulan aja itu,” balas Magenta mengedikkan bahu.
“Kebetulan? Selama lima hari berturut-turut? Itu kebetulan yang terencana banget dan long time ya?”
“Mobil Bu Cyan mogok. Kalo dia naik grab, harus keluar uang, nunggu drivernya dateng, malah ntar jadi lama banget kan kasian. Kalo pulang bareng gue kan easy tinggal meluncur. Ini namanya efesiensi, Raka, hemat energi!” sahut Magenta sambil terkekeh.
“Kayaknya sih benerin mobil mogok gak mungkin sampe lima hari deh, Mas. Sparepartnya inden di Antartika kah?”
Magenta tak menjawab. Ia hanya menyeringai, cukup untuk membuat maksudnya tersirat. Cyan, yang sudah lebih dulu masuk ke mobil Magenta, tiba-tiba bersuara, membuat keduanya menoleh bersamaan.
“Kalian berisik banget kayak anak SD.”
“Terus nih ya biasanya cinta itu muncul karena hal-hal kecil juga loh, Bu Cyan. Saya pringatin aja, Mas Maag ini seneng menggatal, dia ada maunya tuh Bu.”
“RAKA!” Sebuah bantal kursi mobil mendarat sempurna di wajah pria itu.
Raka terkekeh geli, “Lho tapi bener kan? Liat aja Bu Bos, nanti Mas Maag ini ujung-ujungnya nembak. Itu prediksi saya. Kalau nanti bener jadian pokonya pajak traktir ya?”